Stroke

18 09 2008

Dulu penyakit stroke hanya menyerang kaum lanjut usia (lansia). Seiring dengan berjalannya waktu, kini ada kecenderungan bahwa stroke mengancam usia produktif bahkan di bawah usia 45 tahun. Penyakit stroke pun ternyata bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jabatan ataupun tingkatan sosial ekonomi.

Stroke, Pembunuh No.3 di Indonesia

Kasus stroke meningkat di negara maju seperti Amerika dimana kegemukan dan junk food telah mewabah. Berdasarkan data statistik di Amerika, setiap tahun terjadi 750.000 kasus stroke baru di Amerika. Dari data tersebut menunjukkan bahwa setiap 45 menit, ada satu orang di Amerika yang terkena serangan stroke.

Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah kegemukan akibat pola makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.

Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur.

Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.

Mengenali Jenis-jenis Stroke

Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik. Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.

Pada stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.

Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung.

Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.

Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).

Emboli lemak jarang menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri.

Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke.

Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

Ketahui Faktor Risiko Stroke

Penyakit atau keadaan yang menyebabkan atau memperparah stroke disebut dengan Faktor Risiko Stroke. Penyakit tersebut di atas antara lain Hipertensi, Penyakit Jantung, Diabetes Mellitus, Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Keadaan yang dapat menyebabkan stroke adalah usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa (negro/spanyol), jenis kelamin (pria), kurang olah raga.

Membaca Gejala Stroke

Sebagian besar kasus stroke terjadi secara mendadak, sangat cepat dan menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Kemudian stroke menjadi bertambah buruk dalam beberapa jam sampai 1-2 hari akibat bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution).

Perkembangan penyakit biasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, dimana perluasan jaringan yang mati berhenti sementara atau terjadi beberapa perbaikan. Gejala stroke yang muncul pun tergantung dari bagian otak yang terkena.

Membaca isyarat stroke dapat dilakukan dengan mengamati beberapa gejala stroke berikut:

- Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh.

- Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran.

- Penglihatan ganda.

- Pusing.

- Bicara tidak jelas (rero).

- Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat.

- Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh.

- Pergerakan yang tidak biasa.

- Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.

- Ketidakseimbangan dan terjatuh.

- Pingsan.

Kelainan neurologis yang terjadi akibat serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas, berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi.

Stroke juga bisa menyebabkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya karena ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas.

Mendiagnosis Stroke

Diagnosis stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat membantu menentukan lokasi kerusakan pada otak. Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging (pencitraan) untuk mengevaluasi kasus stroke atau penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus stroke hiperakut.

Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI. Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan penyebab dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi.

Penanganan Stroke

Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.

Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.

Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan.

Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.

Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan).

Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.

Masih Ada Harapan Untuk Sembuh

Ada sekitar 30%-40% penderita stroke yang masih dapat sembuh secara sempurna asalkan ditangani dalam jangka waktu 6 jam atau kurang dari itu. Hal ini penting agar penderita tidak mengalami kecacatan. Kalaupun ada gejala sisa seperti jalannya pincang atau berbicaranya pelo, namun gejala sisa ini masih bisa disembuhkan.

Sayangnya, sebagian besar penderita stroke baru datang ke rumah sakit 48-72 jam setelah terjadinya serangan. Bila demikian, tindakan yang perlu dilakukan adalah pemulihan. Tindakan pemulihan ini penting untuk mengurangi komplikasi akibat stroke dan berupaya mengembalikan keadaan penderita kembali normal seperti sebelum serangan stroke.

Upaya untuk memulihkan kondisi kesehatan penderita stroke sebaiknya dilakukan secepat mungkin, idealnya dimulai 4-5 hari setelah kondisi pasien stabil. Tiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 bulan.

Life style, Pencetus Stroke Usia Produktif

Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan narkoba (walau belum memiliki angka yang pasti).

Life style alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol tapi rendah serat.

Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang untuk mampu berkiprah dan bersaing dengan sumber daya manusia lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akibat serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Selagi stroke masih bisa dicegah, kenapa tidak mencoba?

Pertama, dengan menjalankan perilaku hidup sehat sejak dini. Kedua, pengendalian faktor-faktor risiko secara optimal harus dijalankan. Ketiga, melakukan medical check up secara rutin dan berkala dan si pasien harus mengenali tanda-tanda dini stroke.

Untuk mencegah “the silent killer” ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melakukan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan.

Expert Review

Prof. Dr. H. Jusuf Misbach, SpS (K), FAAN yang kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) menjelaskan bahwa serangan stroke timbulnya mendadak tanpa peringatan. Namun, sebenarnya ada yang bisa dijadikan tanda yaitu penyakit-penyakit dan kondisi tertentu yang termasuk ke dalam faktor risiko stroke.

Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam risiko stroke adalah hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa termasuk dalam kondisi tertentu yang merupakan risiko stroke.

“Kadar kolesterol yang tinggi (hiperkolesterol) memang merupakan faktor risiko stroke karena memperburuk proses arteriosklerotik, yaitu mempertebal dan merusak dinding pembuluh darah secara berangsur-angsur,” ungkap Prof. Jusuf Misbach. Jadi, makanan-makanan yang kaya kolesterol seperti junk food dapat membahayakan dan mempercepat kemungkinan timbulnya stroke.

Usia merupakan faktor risiko stroke karena proses penuaan terjadi pada semua organ tubuh termasuk pembuluh darah otak yang menjadi rapuh. Di Indonesia ternyata stroke timbul banyak pada usia di bawah 45 tahun, dimana karir sedang menanjak.

Demikian pula pada usia 45-60 tahun dimana seseorang sedang berada pada puncak karirnya. “Jika terkena stroke, penyakit dengan angka presentasi kecacatan terbesar, maka habislah karirnya,” tambah Prof Jusuf Misbach.

Masyarakat tidak menyadari bahwa angka kematian stroke di Indonesia sangat tinggi, dimana sekitar seperempatnya meninggal dunia. Untuk mencegah kecacatan atau kelumpuhan pada serangan stroke, disuntikan recombinant tissue plasminogen activator kurang dari 3 jam.

Prof. Jusuf Misbach mengatakan bahwa menurut data dari seluruh dunia termasuk Indonesia, perawatan di Unit Stroke dapat menurunkan angka kematian, memperpendek masa perawatan di Rumah Sakit, dan memperbaiki kualitas hidup. Unit Stroke terdiri dari berbagai dokter ahli (multidisipliner) seperti spesialis saraf, spesialis penyakit dalam (diabetes mellitus, jantung), spesialis bedah, dan psikiater.

Penderita stroke akan menjalani tahap neuro restorasi setelah fase akut dan sub akut stroke terlewati. Dalam tahap ini penderita harus minum obat untuk mengendalikan faktor risiko dan menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan tubuh seperti semula.

Bahaya yang menghantui penderita stroke adalah serangan stroke berulang yang dapat fatal atau kwalitas hidup yang lebih buruk dari serangan pertama. Bahkan ada pasien Prof Jusuf Misbach yang mengalami serangan stroke sebanyak 6-7 kali. Hal ini disebabkan pasien tersebut tidak mengendalikan faktor risiko stroke.

Disamping itu beban pengobatan dan rawat jalan sangat memberatkan ekonomi keluarga karena kepala keluarga tak mampu bekerja lagi. Apalagi pengobatan faktor risiko harus diteruskan seumur hidup.

Jangan tunggu sampai terjadi serangan stroke, lebih baik melakukan deteksi dini akan faktor risiko stroke untuk menghindari stroke. Memeriksakan diri ke dokter untuk mendeteksi adanya faktor-faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan misalnya hipertensi, diabetes, merokok, penyakit jantung, kolesterol dan trigliserida yang tinggi, kegemukan. Semua faktor risiko dapat dikendalikan kecuali usia, suku bangsa dan gender.

Prof. Jusuf Misbach juga menyebutkan bahwa olahraga dan kehidupan beragama yang sungguh-sungguh juga tak kalah pentingnya, karena selain menghilangkan stres juga menyehatkan lahir-batin.

Ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Prof. Dr. Harmani Kalim, MPH, SpJP (K), FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa penyakit jantung erat kaitannya dengan stroke karena memiliki penyebab yang sama yaitu hiperkolesterol. Pada penderita jantung, risiko stroke akan meningkat. Demikian sebaliknya, penderita stroke memiliki risiko penyakit jantung yang meningkat pula.

Kendalikan faktor risiko penyakit seperti kadar kolesterol, kadar gula, kadar lemak agar tidak berkembang menjadi stroke. Biasanya diberikan obat pengencer darah yaitu asetosal, obat penurun kadar kolesterol dari golongan statin seperti simvastatin, atorvastatin, lovastatin, dll.

Hiperkolesterol menyebabkan terjadinya gangguan pembuluh darah yang paling umum yaitu aterosklerosis. Gejala aterosklerosis adalah bentuk arteriosklerosis dengan timbunan zat lemak di dalam dan di bawah lapisan intima dinding pembuluh arteri besar dan sedang, yaitu pembuluh serebral, vetebral, koroner, renal, aorta dan pembuluh di tungkai.

Prof. Harmani Kalim memberitahukan bahwa ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit jantung koroner dan stroke. Upaya pencegahan dibagi menjadi primer dan sekunder. Pencegahan primer dapat dilakukan pada orang yang belum pernah mengalami aterosklerosis. Caranya dengan cara ubah gaya hidup, olahraga, kurangi stres, tambah serta kurangi kolesterol dan berhenti merokok.

Pencegahan sekunder dapat dilakukan bila sudah terjadi gejala klinik aterosklerosis disebut dengan singkatan ABCDEFG yaitu:

A Asetosal, ace-inhibitor, antikoagulan: minum obat-obatan untuk kendalikan penyakit faktor risiko.

B Beta blocker, body weight reduction: minum obat dan menurunkan berat badan.

C Cholesterol control & cigarette smoking cessation: kendalikan kolesterol & berhenti merokok.

D Diabetes control & diet: kendalikan diabetes dan makanan.

E Exercise & education: olahraga dan menambah pengetahuan.

F Family support: dukungan keluarga.

G Glucose oxidation preservation: memelihara oksidasi glukosa tubuh.

Sesibuk apa pun kita pada usia produktif, tetap harus menjaga kesehatan. Jika hanya berjuang mengejar karir tanpa memperhatikan kesehatan, maka usaha tersebut akan sia-sia bila kemudian di puncak karir terkena serangan stroke.

Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Jadi, jangan tidak peduli akan ancaman stroke, melainkan hadapi dengan mulai menjalankan gaya hidup yang sehat.

Sumber : medicastore.com





Lama Pacaran Tak Jamin Awetnya Pernikahan

18 09 2008

HUBUNGAN asmara yang telah terjalin sekian lama ternyata tak dapat memastikan ikatan pernikahan berjalan selaras.

Banyak kasus yang menunjukkan kondisi tersebut lantaran pasangan yang telah lama berpacaran itu saling memaksakan ketidakcocokan di antara keduanya. Mengenai hal itu, psikolog Rudangta Arianti Sembiring membenarkannya.

“Banyak kasus pasangan yang telah lama berpacaran setelah menikah tidak dapat mempertahankan hubungan. Dari beberapa kasus yang terjadi, pada dasarnya mereka sudah menyadari bahwa saat keduanya pacaran telah merasakan tidak adanya ketidaksesuaian antara satu sama lain,” papar Rudangta kepada okezone saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (17/9/2008).

Menurut psikolog yang concern dengan psikologi anak ini, kondisi memaksakan untuk menikah saat keduanya saling tidak cocok dilandasi alasan terbentur keluarga besar.

“Hubungan yang sudah lama tentu melibatkan keluarga, jadi sulit sekali bagi mereka menolak untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Akhirnya mereka jalan terus, tetapi justru setelah menikah semakin intensif dan membuat satu sama lain semakin tak dapat mengelak bahwa di antara keduanya sudah tidak ada ketidakcocokan. Dengan demikian, perpisahan (perceraian) adalah jalan terbaiknya,” papar psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu.

Tak hanya itu saja, menurut psikolog dari Universitas Kristen Satya Wacana ini alasan lain yang membuat mereka memutuskan untuk menikah ialah karena keduanya malas untuk memulai hubungan yang baru dan harus beradaptasi dengan pasangan barunya itu.

Nah sebelum memutuskan untuk segera menikah kendati tidak ada kecocokan, maka Anda dan pasangan harus segera mengkaji kembali tujuan hidup. Bila pernikahan memang dirasa memang jalan terbaik, maka cara terbaik yang harus ditempuh ialah saling belajar.

“Inti dalam sebuah hubungan adalah saling belajar. Melalui belajar Anda dan pasangan dapat saling beradaptasi. Dengan begitu adanya keanehan atau ketidakcocokan itu dapat diatasi,” beber ibu satu anak ini.

Menurutnya lagi, setelah dapat saling menyesuaikan diri, Anda dan pasangan harus dapat pula mengikuti perubahan yang terjadi dengan berusaha untuk selalu saling berbagi waktu.

“Tak ketinggalan ialah komunikasi. Suatu hubungan tak akan berjalan mulus tanpa adanya komunikasi yang baik. Untuk itu, saat dirasa perlu untuk memperbaiki hubungan dengan melakukan perbaikan komunikasi, maka lakukanlah untuk mendapat jalan terbaik,” pungkasnya.

Sumber : okezone





Asma

18 09 2008

Asma adalah suatu peradangan kronis dari tabung bronchial (saluran udara) yang menyebabkan pembengkakkan dan penyempitan (constriction) dari saluran-saluran udara. Akibatnya adalah kesulitan bernapas. Penyempitan bronchial umunya dapat dibalikkan baik secara total atau paling sedikit sebagian dengan perawatan-perawatan.

Tabung-tabung bronchial yang beradang kronis mungkin dapat menjadi sangat sensitif pada alergen-alergen (pemicu-pemicu spesifik) atau pengganggu-pengganggu/irritants (pemicu-pemicu nonspesifik). Saluran-saluran dapat menjadi “gugup” dan menetap dalam suatu keadaan kepekaan (sensitivity) yang tinggi. Ini disebut “Bronchial Hyperreactivity” (BHR). Kemungkinan besar ada suatu spektrum dari hiper kereaktifan brochial didalam semua individu-individu. Bagaimanapun, adalah jelas bahwa individu-individu yang menderita asma dan alergi (tanpa asma yang terlihat) mempunyai suatu derajat yang lebih besar dari hiperkereaktifan bronchial dari pada orang-orang yang bukan penderita asma dan alergi. Pada individu-individu yang peka (sensitif), tabung-tabung bronchial lebih mungkin membengkak dan menyempit ketika diskspose pada pemicu-pemicu seperti alergen-alergen (penyebab-penyebab alergi), asap rokok, atau latihan. Diantara penderita-penderita asma, beberapa orang mungkin mempunyai BHR yang ringan dan tidak ada gejala-gejala sedangkan yang lain-lain mungkin mempunyai BHR yang berat dan gejala-gejala kronis.

Asma mempengaruhi orang-orang secara berbeda-beda. Setiap individu adalah unik didalam derajat kereaktifannya pada pemicu-pemicu lingkungan. Ini secara alamiah mempengaruhi tipe dan dosis dari obat-obatan yang diresepkan, yang dapat berbeda-beda dari satu individu ke individu lainnya.

Lingkup Persoalan

Sekarang asma adalah penyakit kronis yang paling umum pada anak-anak, mempengaruhi satu dari setiap 15 anak. Di Amerika utara, 5% dari orang dewasa juga dirundung oleh asma. Keseluruhannya, kira-kira 1 juta orang Kanada dan 15 juta orang Amerika yang menderita dari penyakit ini.

Angka dari kasus-kasus baru dan angka tahunan dari opname rumah sakit untuk asma telah meningkat 30% selama 20 tahun belakangan ini. Bahkan dengan kemajuan dalam perawatan, kematian-kematian karena asma diantara orang-orang muda sudah lebih dari berlipat ganda.

Tabung Bronchial Yang Normal

Sebelum kita dapat menilai bagaimana asma mempengaruhi saluran-saluran udara bronchial, kita perlu pertama-tama melihat dengan singkat pada struktur dan fungsi dari tabung-tabung bronchial yang normal.

Udara yang kita napas kedalam melaui hidung dan mulut masuk melalui pita suara/vocal cords (larynx) dan kedalam pipa udara/windpipe (trachea). Kemudian udara masuk ke paru-paru melalui dua saluran udara yang besar (bronchi), satu untuk setiap paru-paru. Didalam setiap paru-paru bronchi membagi kedalam saluran-saluran udara yang lebih kecil dan lebih kecil lagi (bronchioles), jadi seperti cabang-cabang dari suatu pohon yang dibalikkan. Udara yang dihirup dibawa melalui saluran-saluran udara ini kepada jutaan kantung-kantung udara kecil (alveoli) yang dikandung didalam paru-paru. Oksigen (O2) melewati kantung-kantung udara kedalam aliran darah melalui pembuluh-pembuluh darah yang banyak yang disebut kapiler-kapiler. Dengan cara yang sama, limbah tubuh, carbon dioxide (CO2), dibalikkan ke kantung-kantung udara dan kemudian dihilangkan pada setiap pembuangan napas.

Tabung-tabung bronchial yang normal mengizinkan lewatnya udara yang cepat kedalam dan keluar paru-paru untuk memastikan bahwa tingkat-tingkat dari O2 dan CO2 tetap konstan didalam aliran darah. Dinding-dinding bagian luar dari tabung-tabung bronchial dikellingi oleh otot-otot halus yang mengkerut dan mengendur secara otomatis pada setiap pernapasan. Ini mengizinkan jumlah udara yang diperlukan untuk masuk dan keluar paru-paru untuk mencapai pertukaran yang normal ini dari O2 dan CO2. Pengkerutan dan pengenduran otot-otot halus bronchial dikontrol oleh dua sistim syaraf yang berbeda yang bekerja secara harmonis untuk menjaga supaya saluran-saluran udara ini tetap terbuka.

Lapisan dalam dari tabung-tabung bronchial, disebut bronchial mucosa, mengandung: (1) kelenjar-kelenjar lendir (mucus glands) yang memproduksi hanya secukupnya lendir untuk melumasi saluran-saluran udara dengan baik; dan (2) suatu variasi dari yang disebut sel-sel peradangan, seperti sel-sel eosinophils, lymphocytes, dan mast. Sel-sel ini dirancang untuk melindungi mukosa bronchial (bronchial mucosa) dari mikroorganisme-mikroorganisme, alergen-alergen, dan penggangu-penggangu (irritants) yang kita hirup, dan yang dapat menyebabkan jaringan bronchial membengkak. Ingat, bagaimanapun, bahwa sel-sel yang meradang ini juga adalah pemain penting dalam reaksi alergi. Oleh karenanya, kehadiran dari sel-sel ini didalam tabung-tabung bronchial menyebabkan mereka menjadi target utama untuk peradangan alergi.

Asma Mempengaruhi Pernapasan

Asma menyebabkan suatu penyempitan saluran-saluran udara pernapasan, yang bertentangan dengan pergerakan normal udara yang masuk dan keluar paru-paru. Asma melibatkan hanya tabung-tabung bronchial dan tidak mempengaruhi kantung-kantung udara atau jaringan paru-paru. Penyempitan yang terjadi pada asma disebabkan oleh tiga faktor utama: peradangan (inflammation), kejang broncho (bronchospasm), dan hiperreaktivitas (hyperreactivity).

Peradangan (Inflammations)

Faktor pertama dan paling penting yang menyebabkan penyempitan tabung-tabung bronchial adalah peradangan. Tabung-tabung bronchial menjadi merah, teriritasi, dan bengkak. Peradangan terjadi sebagai tanggapan pada suatu alergen atau pengganggu (irritant) dan berakibat dari aksi penengah-penengah kimia (histamine, leukotrienes, dan lain-lain). Jaringan-jaringan yang meradang menghasilkan suatu jumlah yang berlebihan dari lendir yang kental kedalam tabung-tabung. Lendir dapat menggumpal bersama dan membentuk “sumbatan” yang dapat menyumbat saluran-saluran udara yang lebih kecil. Sel-sel khusus alergi dan peradangan (eosinophils dan sel-sel darah putih), yang terkumpul ditempat, menyebabkan kerusakan jaringan. Sel-sel yang rusak ini ditumpahkan kedalam saluran-saluran udara, dengan demikian mengkontribusi pada penyempitan.

Bronchospasm

Otot-otot disekeliling tabung-tabung bronchial mengetat selama suatu serangan asma. Penyempitan otot saluran udara ini disebut bronchospasm. Bronchospasm menyebabkan saluran-saluraan udara menyempit lebih jauh. Penengah-penengah kimia (Chemical mediators) dan syaraf-syaraf didalam tabung-tabung bronchial menyebabkan otot-otot menyempit.

Hyperreactivity (Hypersensitivity)

Pada pasien-pasien dengan asma, saluran-saluran udara yang menyempit dan meradang kronis menjadi sangat peka (sensitif), atau reaktif, pada pemicu-pemicu seperti alergen-alergen, irritants, dan infksi-infeksi. Ekspose pada pemicu-pemicu ini dapat berakibat pada semakin peradangan dan penyempitannya.

Kombinasi dari ketiga faktor ini berakibat pada kesulitan pembuangan napas (breathing out, or exhaling). Hasilnya, udara perlu dikeluarkan dengan paksa untuk mengatasi penyempitan, dengan demikian menyebabkan suara khas mencuit-cuit (wheezing sound). Orang-orang dengan asma juga seringkali batuk dalam suatu usaha untuk mengeluarkan sumbatan lendir yang tebal. Mengurangi aliran udara dapat berakibat pada lebih sedikit oksigen yang lewat kedalam aliran darah dan jika sangat berat, karbon dioksida dapat berbahaya terakumulasi didalam darah.

Asma Mempengaruhi Pernapasan

Asma menyebabkan suatu penyempitan saluran-saluran udara pernapasan, yang bertentangan dengan pergerakan normal udara yang masuk dan keluar paru-paru. Asma melibatkan hanya tabung-tabung bronchial dan tidak mempengaruhi kantung-kantung udara atau jaringan paru-paru. Penyempitan yang terjadi pada asma disebabkan oleh tiga faktor utama: peradangan (inflammation), kejang broncho (bronchospasm), dan hiperreaktivitas (hyperreactivity).

Peradangan (Inflammations)

Faktor pertama dan paling penting yang menyebabkan penyempitan tabung-tabung bronchial adalah peradangan. Tabung-tabung bronchial menjadi merah, teriritasi, dan bengkak. Peradangan terjadi sebagai tanggapan pada suatu alergen atau pengganggu (irritant) dan berakibat dari aksi penengah-penengah kimia (histamine, leukotrienes, dan lain-lain). Jaringan-jaringan yang meradang menghasilkan suatu jumlah yang berlebihan dari lendir yang kental kedalam tabung-tabung. Lendir dapat menggumpal bersama dan membentuk “sumbatan” yang dapat menyumbat saluran-saluran udara yang lebih kecil. Sel-sel khusus alergi dan peradangan (eosinophils dan sel-sel darah putih), yang terkumpul ditempat, menyebabkan kerusakan jaringan. Sel-sel yang rusak ini ditumpahkan kedalam saluran-saluran udara, dengan demikian mengkontribusi pada penyempitan.

Bronchospasm

Otot-otot disekeliling tabung-tabung bronchial mengetat selama suatu serangan asma. Penyempitan otot saluran udara ini disebut bronchospasm. Bronchospasm menyebabkan saluran-saluraan udara menyempit lebih jauh. Penengah-penengah kimia (Chemical mediators) dan syaraf-syaraf didalam tabung-tabung bronchial menyebabkan otot-otot menyempit.

Hyperreactivity (Hypersensitivity)

Pada pasien-pasien dengan asma, saluran-saluran udara yang menyempit dan meradang kronis menjadi sangat peka (sensitif), atau reaktif, pada pemicu-pemicu seperti alergen-alergen, irritants, dan infksi-infeksi. Ekspose pada pemicu-pemicu ini dapat berakibat pada semakin peradangan dan penyempitannya.

Kombinasi dari ketiga faktor ini berakibat pada kesulitan pembuangan napas (breathing out, or exhaling). Hasilnya, udara perlu dikeluarkan dengan paksa untuk mengatasi penyempitan, dengan demikian menyebabkan suara khas mencuit-cuit (wheezing sound). Orang-orang dengan asma juga seringkali batuk dalam suatu usaha untuk mengeluarkan sumbatan lendir yang tebal. Mengurangi aliran udara dapat berakibat pada lebih sedikit oksigen yang lewat kedalam aliran darah dan jika sangat berat, karbon dioksida dapat berbahaya terakumulasi didalam darah.

Tipe-Tipe: Asma alergi (extrinsic) dan Asma nonalergi (intrinsic)

Dokter anda mungkin merujuk ke asma sebagai “extrinsic” atau “intrinsic”. Suatu pengertian yang lebih baik dari sifat asma dapat membantu menerangkan perbedaan-perbedaan antara mereka. Extrinsic, atau asma alergi (allergic asthma), adalah jauh lebih umum (90% dari semua kasus-kasus) dan secara khas berkembang pada masa kanak-kanak. Kira-kira 80% dari anak-anak dengan asma mempunyai alergi-alergi yang terdokumentasi. Secara khas, ada suatu sejarah alergi-alergi keluarga. Apalagi, kondisi-kondisi alergi lainnya, seperti alergi-alergi hidung atau ekzema (eczema), seringkali juga hadir. Asma alergi seringkali menghilang (go into remission) pada awal kedewasaan. Bagaimanapun, pada 75% dari kasus-kasus, asma kemudian timbul kembali.

Asma Intrinsic mewakili kira-kira 10% dari semua kasus-kasus. Dia umumnya berkembang setelah umur 30 tahun dan secara khas tidak berhubungan dengan alergi-alergi. Wanita-wanita lebih sering terlibat dan banyak kasus-kasus kelihatannya mengikuti suatu infeksi saluran pernapasan. Kondisinya dapat menjadi sulit dirawat dan gejala-gejalanya seringkali kronis dan sepanjang tahun.

Gejala-Gejala dan Tanda-Tanda Khas Asma

Gejala-gejala asma berbeda dari orang ke orang dan didalam individu dari waktu ke waktu. Adalah sangat penting untuk mengingat bahwa banyak dari gejala-gejala ini dapat menjadi tidak kentara dan mirip dengan yang terlihat pada kondisi-kondisi lain. Semua gejala-gejala yang disebut dibawah dapat hadir pada kondisi-kondisi lain pernapasan, dan kadangkala, jantung. Kebingungan yang berpotensi ini membuat identifikasi terjadinya gejala-gejala dan tes-tes diagnostik, menjadi sangat penting untuk mengenali kelainan-kelainan ini.

Empat gejala-gejala utama yang dikenali:

Napas yang pendek – terutama dengan pengerahan tenaga atau waktu malam

Mencuit-cuit (wheezing) – suatu suara bersiul atau berdesis ketika mengeluarkan napas

Batuk – mungkin kronis; umumnya memburuk waktu malam dan waktu awal pagi; dan dapat terjadi setelah latihan atau ekspose pada udara dingin dan kering

Dada Sesak – bisa terjadi dengan atau tanpa gejala-gejala diatas

Fakta-Fakta Asma

Asma dikelompokkan berdasarkan pada frekwensi dan beratnya gejala-gejala, atau “serangan-serangan”, dan hasil-hasil dari tes-tes fungsi paru-paru.

30% dari pasien-pasien mempunayi gejala-gejala asma yang ringan, sebentar-sebentar (kurang dari dua episode setiap minggu) dengan tes-tes pernapasan yang normal

30% mempunyai gejala-gejala asma yang ringan, gigih (dua atau lebih episode-episode setiap minggu) dengan tes-tes pernapasan yang normal atau abnormal

40% mempunyai gejala-gejala asma yang sedang atau berat, gigih (setiap hari atau terus menerus) dengan tes-tes pernapasan abnormal

Serangan Asma Akut

Suatu serangan asma akut, atau tiba-tiba, umumnya disebabkan oleh suatu ekspose pada alergen-alergen atau suatu infeksi pernapasan bagian atas. Beratnya dari serangan tergantung dari berapa baiknya asma anda yang mendasarinya dikontrol (merefleksikan berapa baiknya peradangan saluran udara dikontrol). Suatu serangan akut berpotensi membahayakan nyawa karena itu dapat tetap berlangsung walaupun telah digunakan obat-obatan yang biasa digunakan untuk cepat melegakan (inhaled bronchodilators). Asma yang tidak responsif terhadap perawatan dengan suatu inhaler harus mendorong anda untuk segera mencari bantuan medis pada UGD dari rumah sakit terdekat atau tempat praktek spesialis asma, tergantung dari keadaan dan waktu. Serangan-serangan asma tidak berhenti dengan sendirinya tanpa perawatan. Jika anda mengabaikan tanda-tanda peringatan awal, anda membahayakan diri anda pada pengembangan “status asthmaticus”.

Fakta Alergi

Serangan-serangan asma yang diperpanjang yang tidak merespon pada perawatan dengan bronchodilators adalah suatu keadaan darurat medis. Dokter-dokter menyebut serangan-serangan berat ini “status asthmaticus,” dan mereka memerlukan perawatan darurat segera.

Gejala-gejala dari asma berat adalah batuk yang gigih dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan kalimat-kalimat penuh atau berjalan tanpa kehabisan napas. Dada anda mungkin terasa sesak dan bibir-bibir anda mungkin mempunyai warna kebiru-biruan. Sebagai tambahan, anda mungkin merasa peradangan, kebingungan, atau suatu ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Anda mungkin membungkukkan pundak-pundak anda, duduk atau berdiri untuk bernapas lebih mudah, dan menegangkan otot-otot perut dan leher anda. Ini adalah tanda-tanda gagalnya sistim pernapasan yang segera terjadi. Pada titik ini, kelihatannya obat-obatan yang dihirup tidak dapat membalikkan proses ini. Suatu ventilator mekanis diperlukan untuk membantu paru-paru dan otot-otot pernapasan. Suatu masker muka atau tabung pernapasan dimasukkan kedalam hidung atau mulut untuk perawatan ini. Bantuan-bantuan pernapasan ini adalah sementara dan dilepaskan segera sesudah serangan mereda dan paru-paru telah cukup pulih untuk memulai lagi pekerjaan pernapasan atas kemampuannya sendiri. Suatu opname singkat di ICU mungkin adalah suatu akibat dari suatu serangan berat yang tidak segera dirawat. Untuk mencegah opname seperti itu, adalah paling baik, pada waktu mulainya gejala-gejala, untuk memulai segera perawatan awal dirumah atau diruang praktek dokter anda.

Fakta Alergi

Kehadiran dari wheezing atau batuk sendirinya sebenarnya bukan suatu standar yang dapat diandalkan untuk menilai beratnya suatu serangan asma. Serangan-serangan sangat berat dapat menyumbat tabung-tabung pada suatu tingkat dimana kekurangan udara masuk dan keluar dari paru-paru anda gagal menghasilkan wheezing atau batuk.

Obat-Obatan Untuk Merawat Asma

Kebanyakan obat-obat asma bekerja dengan mengendurkan kejang broncho/bronchospasm (bronchodilators) atau mengurangi peradangan (corticosteroids). Pada perawatan asma, obat-obatan yang dihirup umumnya lebih disukai dari pada tablet atau obat cair yang ditelan (oral medications). Obat-obat yang dihirup bekerja langsung pada permukaan dan otot-otot saluran udara dimana persoalan-persoalan asma dimulai. Penyerapan obat-obat yang dihirup kedalam sisa tubuh adalah kecil. Oleh karenanya, efek-efek samping yang kurang baik lebih sedikit dibanding dengan obat-obat yang diminum (oral medications). Obat-obat yang dihirup termasuk beta-2 agonists, anticholinergics, corticosteroids, dan cromolyn sodium. Obat-obat oral termasuk aminophylline, leukotriene antagonists, dan tablet-tablet corticosteroid.

Menurut sejarah, satu dari obat-obatan pertama ynag digunakan untuk asma adalah adrenaline (epinephrine). Adrenaline mempunyai suatu tindakan awal yang cepat dalam membuka saluran-saluran udara (bronchodilation). Ia masih sering digunakan pada situasi-situasi darurat asma. Sayangnya, adrenaline mempunyai banyak efek-efek sampingan, termasuk denyut jantung yang cepat, sakit kepala, mual, muntah, keresahan, dan suatu rasa panik.

Obat-obat yang secara kimia mirip dengan adrenaline telah dikembangkan. Obat-obat ini, disebut beta-2 agonists, mempunyai keuntungan pelebaran broncho dari adrenaline tanpa banyak dari efek-efek sampinganya yang tidak dikehandaki. Beta-2 agonists adalah inhaled bronchodilators yang disebut “agonists” karena mereka mempromosikan kerja dari beta-2 receptor dari otot-otot dinding bronchial. Receptor ini bekerja dengan mengendurkan dinding yang berotot dari saluran-saluran udara (bronchi), menghasilkan pembesaran broncho (bronchodilation). Kerja pembesaran broncho dari beta- 2 agonists dimulai dalam hitungan menit setelah penghirupan dan berlangsung untuk kira-kira 4 jam. Contoh-contoh dari obat-obatan ini termasuk albuterol (Ventolin, Proventil), metaproterenol (Alupent), pirbuterol acetate (Maxair), dan terbutaline sulfate (Brethaire).

Suatu grup baru dari beta-2 agonists yang kerjanya panjang telah dikembangkan dengan suatu efek yang mendukung durasi dari 12 jam. Inhaler-inhaler ini dapat digunakan dua kali dalam sehari. Salmeterol xinafoate (Serevent) adalah suatu contoh dari kelompok obat-obatan ini. Beta-2 agonists yang bekerja panjang umumnya tidak digunakan untuk serangan-serangan akut. Beta-2 agonists dapat mempunyai efek-efek sampingan, seperti ketakutan, gemetar (tremor), palpitasi atau denyut jantung yang cepat, dan penurunan potassium darah

Sama halnya dengan beta-2 agonists dapat memperbesar saluran-saluran udara, obat-obat beta blocker menghalangi pengenduran dari otot-otot bronchial oleh beta-2 receptors dan dapat menyebabkan penyempitan saluran-saluran udara, memberatkan asma. Oleh karenanya, beta blockers, seperti obat-obat tekanan darah propanolol (Inderal), dan atenolol (Tenormin), harus dihindari oleh pasien-pasien asma jika dimungkinkan.

Anticholinergic agents bekerja pada tipe-tipe syaraf yang berbeda dari beta-2 agonists untuk mencapai suatu pengenduran dan pembukaan dari jalan lintas saluran udara yang serupa. Kedua grup dari bronchodilator inhalers ini jika digunakan bersama dapat menghasilkan suatu peningkatan efek pembesaran bronchi. Suatu contoh dari anticholinergic agent yang umum dipakai adalah ipratropium bromide (Atrovent). Ipratropium memakan waktu lebih lama untuk bekerja dibandingkan dengan beta-2 agonists, dengan keefektifan puncaknya terjadi dua jam setelah masukan dan bertahan selama enam jam. Anticholinergic agents dapat juga sebagai obat yang sangat membantu untuk pasien-pasien dengan emphysema.

Ketika gejala-gejala asma sangat sulit dikontrol dengan beta-2 agonists, corticosteroids yang dihirup (cortisone) seringkali ditambahkan. Corticosteroids dapat memperbaiki fungsi paru-paru dan mengurangi rintangan saluran udara dengan berjalannya waktu. Contoh-contoh dari corticosteroids yang dihirup termasuk beclomethasone dipropionate (Beclovent, Beconase, Vancenase, dan Vanceril), triamcinolone acetonide (Azmacort), dan flunisolide (Aerobid). Dosis yang ideal dari corticosteroids masih tetap belum diketahui. Efek-efek sampingan dari corticosteroids yang dihirup termasuk suara keparauan, kehilangan suara, dan infeksi-infeksi ragi mulut. Penggunaan awal dari corticosteroids yang dihirup dapat mencegah kerusakan yang tidak dapat dibalikkan pada saluran-saluran udara.

Cromolyn sodium (Intal) mencegah pelepasan dari kimia-kimia tertentu didalam paru-paru, seperti histamine, yang dapat menyebabkan asma. Tepatnya bagaimana cromolyn bekerja untuk mencegah asma masih perlu penelitian lebih lanjut. Cromolyn bukanlah suatu corticosteroid dan umumnya tidak berhubungan dengan efek-efek sampingan yang signifikan. Cromolyn berguna dalam pencegahan asma namun mempunyai efektivitas yang terbatas sekali asma akut mulai. Cromolyn dapat membantu mencegah asma yang dipicu oleh latihan, udara dingin, dan unsur-unsur alergi, seperti dander kucing. Cromolyn mungkin digunakan baik pada anak-anak maupun pada orang-orang dewasa.

Theophylline (Theodur, Theoair, Slo-bid, Uniphyl, Theo-24) dan aminophylline adalah contoh-contoh dari methylxanthines. Methylxanthines diberikan secara oral (melalui mulut) atau dengan suntikan melalui urat nadi (intravenously). Sebelum inhalers menjadi populer, methylxanthines adalah arus utama dari perawatan asma. Kafein yang umumnya ada didalam kopi dan minuman ringan (soft drinks) adalah juga suatu obat methylxanthine! Theophylline mengendurka otot-otot yang mengelilingi jalan lintas udara dan mencegah sel-sel tertentu yang melapisi bronchi (mast cells) dari pelepasan kimia-kimia, seperti histamine, yang dapat menyebabkan asma. Theophylline dapat juga bekerja sebagai suatu diuretic yang ringan, menyebabkan peningkatan pengeluaran air seni. Untuk asma yang sulit dikontrol, methylxanthines tetap dapat memainkan suatu peran yang penting. Tingkat-tingkat dosis dari theophylline atau aminophylline dimonitor secara ketat. Tingkat-tingkat yang berlebihan dapat menjurus pada mual, muntah, persoalan-persoalan irama jantung, dan bahkan serangan jantung. Pada kondisi-kondisi medis tertentu, seperti gagal jantung atau sirosis, dosis-dosis dari methylxanthines dikurangi untuk mencegah tingkat-tingkat darah yang berlebihan. Interaksi obat dengan obat-obat lain, seperti cimetidine (Tagamet), calcium channel blockers (Procardia), quinolones (Cipro), dan allopurinol (Xyloprim) dapat lebih jauh mempengaruhi tingkat-tingkat obat didalam darah.

Corticosteroids diberikan secara oral (melalui mulut) untuk asma berat yang tidak responsif pada obat-obatan yang lain. Sayangnya, dosis-dosis yang tinggi dari corticosteroids untuk periode waktu yang panjang dapat mempunyai efek-efek sampingan yang serius, termasuk osteoporosis, patah/retak tulang, diabetes mellitus, hipertensi, penipisan kulit dan memar-memar, insomnia (sulit tidur), perubahan-perubahan emosi, dan penambahan berat badan

Expectorants membantu mengencerkan lendir-lendir saluran udara, membuatnya lebih mudah untuk membersihkan lendir dengan cara membatuk. Potassium iodide umumnya tidak digunakan dan mempunyai efek-efek sampingan yang berpotensi untuk jerawat, peningkatan air liur, hives, dan persoalan-persoalan tiroid. Guaifenesin (Entex, Humibid) dapat meningkatkan produksi cairan didalam paru-paru dan membantu mengencerkan lendir-lendir, namun juga dapat menjadi suatu irritant saluran udara untuk beberapa orang.

Sebagai tambahan pada obat-obat bronchodilator untuk pasien-pasien dengan asma atopik (atopic asthma), menghindari alergen-alergen atau irritant-irritant lainnya bisa menjadi sangat penting. Pada pasien-pasien yang tidak dapat menghindari alergen-alergen, atau yang gejala-gejalabya tidak dapat dikontrol oleh obat-obatan, suntikan-suntikan alergi dipertimbangkan. Keuntungan-keuntungan dari suntikan-suntikan alergi (desensitization) dalam pencegahan asma masih belum ditetapkan dengan kuat. Beberapa dokter masih kuatir dengan risiko dari anaphylaxis, yang terjadi pada satu dari 2 juta dosis yang diberikan. Suntikan-suntikan alergi umumnya paling menguntungkan anak-anak yang alergi pada tungau-tungau (house dust mites). Keuntungan-keuntungan lain dapat terlihat pada serbuk-serbuk sari dan dander binatang.

Pada beberapa pasien-pasien asma, penghindaran dari aspirin, atau NSAIDs lainnya (umumnya digunakan pada perawatan peradangan arthritis) adalah penting. Pada pasien-pasien lain, perawatan yang memadai dari aliran balik dari asam lambung (esophageal reflux) mencegah iritasi dari saluran-saluran udara. Langkah-langkah untuk mencegah esophageal reflux termasuk obat-obatan, menurunkan berat badan, perubahan-perubahan diet, dan berhenti merokok, kopi, dan alkohol. Contoh-contoh dari obat-obatan yang digunakan untuk mengurangi reflux termasuk omeprazole (Prilosec) dan ranitidine (Zantac). Pasien-pasien dengan persoalan-persoalan reflux berat yang menyebabkan persoalan-persoalan paru-paru mungkin memerlukan operasi untuk memperkuat esophageal sphincter dalam rangka mencegah acid reflux (fundoplication surgery). Untuk keterangan lebih lanjut silahkan baca artikel tentang penyakit Gastroesophageal Reflux .





Dibentuk dalam Pernikahan

18 09 2008

As iron sharpens iron, so one person sharpens another (Proverbs 27:17)

Pernikahan merupakan relasi terdalam yang dapat dimiliki manusia dengan manusia lainnya. Relasi terdalam ini dapat membuat kita merasa berada di jurang yang dalam, di mana sebelumnya dengan buta kita bersedia dituntun ke pinggir jurang dan diajak untuk mencemplungkan diri ke dalamnya. Dan inilah kenyataan yang dirasakan banyak orang, bahwa mereka merasa ditipu oleh angan-angan/ impian indah yang mereka nanti-nantikan tentang pernikahan. Mereka merasa ditipu oleh janji dan rencana pasangannya bahwa mereka akan berubah menjadi orang yang lebih baik, tetapi tidak pernah dipenuhi. Mereka merasa kecewa dan putus asa melihat sifat dan perilaku buruk pasangannya yang tidak pernah berubah dan kelihatannya tidak akan berubah.

Satu hal yang mungkin mengejutkan hampir semua orang dalam pernikahan adalah perasaan diawasi sepanjang waktu, di pagi hari, di malam hari, di tempat tidur dan di kamar mandi, ketika berpakaian ataupun telanjang. Bahkan bukan hanya ketika pasangan kita muncul secara fisik, tetapi juga saat mereka tidak bersama dengan kita, tetapi hadir di dalam hati dan pikiran kita. Inilah relasi di mana satu orang hidup berdampingan dengan (dan diatur oleh) manusia lain setelah sebelumnya ia merasakan kebebasan yang dimulai ketika ia remaja. Semua perilaku kita diamati, seakan-akan ada kamera yang menyorot kehidupan kita selama 24 jam. Seluruh kata-kata kita didengar dan dikoreksi. Pernyataan kita dipertanyakan maksudnya. Seluruh keputusan pribadi harus dibicarakan terlebih dahulu. Seluruh waktu dihabiskan untuk menyenangkan pasangan kita. Bahkan cara kita melakukan sesuatu mungkin dikritik atau dianggap lucu.

Mengapa kita merasa risih dilihat dan diperhatikan sepanjang waktu adalah karena kita berdosa. Ketika Adam dan Hawa diciptakan Allah dalam keadaan tidak berdosa, “mereka berdua telanjang dan tidak merasa malu”, karena tidak ada yang perlu disembunyikan di antara mereka (Kejadian 2:25). Namun begitu mereka jatuh, mereka langsung membuat cawat untuk menutupi tubuh mereka (Kejadian 3:7). Mereka menutupi tubuh bukan karena dingin, tetapi karena mereka berdosa dan merasa malu oleh keberadaan diri yang berdosa. Satu-satunya ciptaan yang menutupi tubuhnya adalah manusia, sementara ciptaan lainnya telanjang di hadapan Tuhan dan memancarkan kemuliaanNya. Rasa malu muncul ketika kita tidak punya apa-apa lagi yang bisa kita banggakan. Di dalam dosa kita menjadi gambar Allah yang rusak, yang berubah menjadi gambar yang tidak membanggakan dan memancarkan kemuliaanNya.

Kita tidak ingin orang lain tahu apa yang kita lakukan, terlebih oleh pasangan kita. Kita tidak ingin pasangan kita tahu bahwa kita mencemooh orang lain. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita malas pergi kerja. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita malas membersihkan rumah atau bahkan tubuh kita. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita mudah sekali marah oleh hal-hal kecil atau oleh kesalahan orang lain. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita menyimpan dendam pada orang tertentu. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita belum menyelesaikan ketegangan dengan keluarga kita selama bertahun-tahun. Kita tidak ingin ia tahu apa yang kita lakukan di kamar mandi ketika tidak ada orang yang melihat. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita menyembunyikan perasaan tertentu pada lawan jenis kita yang lain.

Kita ingin dilihat sebagai orang baik yang penuh perhatian dan kasih sayang padanya. Kita ingin ia memiliki image tentang kita sebagai orang yang bertanggung jawab, berani, bersedia berkorban, dewasa, dan dapat diandalkan. Kita ingin ia menganggap bahwa kita adalah orang yang menyenangkan sepanjang waktu, konsisten dan independen. Demikian jugalah yang dirasakan oleh pasangan kita. Ia ingin kita melihatnya sebagai pasangan yang sempurna bagi kita. Ia ingin kita mengasihinya karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik bagi kita.

Namun kita harus menyadari bahwa ini bukanlah kenyataannya. Natur kita bukanlah melakukan apa yang baik. Natur kita bukanlah untuk menyenangkan orang lain, karena sebenarnya kita ingin menyenangkan diri sendiri. Kita ingin pernikahan membuat kita bahagia. Kita ingin pasangan kita berubah, bukan menjadi serupa dengan Kristus, tetapi menjadi seseorang yang serupa dengan diri kita. Kita ingin pasangan kita membahagiakan kita, berkorban untuk kita, dan memenuhi kebutuhan kita. Kita merasa malu apabila pasangan kita melakukan kesalahan di depan orang lain, sehingga kita turut menyalahkannya karena membuat kita merasa demikian. Kita merasa sebal/ kesal ketika pasangan kita tidak memenuhi janjinya atau tidak juga berubah menjadi gambaran ideal yang kita miliki tentangnya.

Inilah relasi di mana kita melawan natur kita sebagai orang berdosa, di mana setiap hari kita harus ‘mati’ untuk pasangan kita. Setiap hari kita dikikis dan dibentuk oleh pasangan kita dengan melepaskan lapisan-lapisan kesombongan dan ego yang kita kenakan, agar pasangan kita dapat melihat seutuhnya siapa kita yang sebenarnya. Kita yang sebenarnya adalah orang yang penuh dengan kelemahan dan dosa. Di sinilah, ketika kita tiap hari rela mati terhadap diri sendiri untuk hidup bagi pasangan kita, maka kita akan ditajamkan untuk menjadi makin serupa dengan Kristus. “Seperti besi menajamkan besi, demikian manusia menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Tidak ada hubungan lain selain pernikahan di mana kita benar-benar diasah dengan keras dan menyakitkan untuk menjadi makin tajam di dalam karakter yang ilahi.

Kemalasan untuk mengasihi dikikis karena setiap hari kita harus mengasihi pasangan kita, bahkan setiap detik hidup kita. Nafsu terhadap orang lain di luar pernikahan dikikis karena untuk memperhatikan pasangan kita tanpa membaginya dengan orang lain saja sudah bisa membuat kita kewalahan. Ketika kita sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan pasangan kita, maka kita tidak akan punya waktu lagi untuk melihat apakah ada orang lain yang lebih menarik di luar sana. Kesombongan diri dikikis karena pasangan bisa melihat dengan jelas kekurangan kita. Kita tidak lagi bisa mengakui bahwa kita adalah orang yang bisa segala-galanya, karena mungkin membetulkan atap yang bocor saja kita tidak mampu. Keegoisan dikikis karena pasangan kitalah yang harus menang, yang harus diperhatikan.

Pengikisan/pengasahan paling tajam adalah ketika kita harus menghadapi akibat dari dosa pasangan kita terhadap kehidupan pernikahan kita. Karena di sinilah kita merasa paling sakit. Saat inilah kita merasa diremukkan dan dihancurkan oleh pasangan kita, sementara di saat yang sama kita harus bangkit bagi pasangan kita. Satu-satunya cara untuk bertahan dan menang terhadap pembentukan ini ialah dengan kasih. Di dalam kasih, kita akan dimampukan untuk berani menghadapi dan menanggung dosa pasangan kita. Karena itulah kita tidak lagi menjadi takut atau malu terhadap pasangan kita, karena kita tahu bahwa iapun bersedia menanggung dosa kita. Cinta sejati mengalahkan segala ketakutan, termasuk ketakutan untuk masuk ke ruang paling gelap di dalam hati pasangan.

“Perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment” (1 John 4:18). Dengan cinta ilahi dari Tuhan, kita bersedia untuk masuk ke dalam kelemahan pasangan kita dan menolongnya keluar bersama Tuhan. Kita dapat menerobos keluar dari dinding-dinding keegoisan kita untuk merangkulnya dan menyatakan bahwa kita betul-betul mencintainya.

Terinspirasi dari buku The Mystery of Marriage karangan Mike Mason.





Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda

18 09 2008

Apa arti konflik bagi anda? Jikalau anda mengalami konflik dengan pasangan, apa yang anda lakukan? Apakah anda lebih senang untuk menghindari konflik? Apakah anda cenderung mengabaikan konflik? Atau mungkin anda senang “menghadirkan” konflik? Atau anda memilih jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah konflik? Pemahaman kita mengenai apa itu konflik akan membawa kita ke dalam bagaimana kita menghadapi konflik.

Konflik adalah sesuatu yang alamiah terjadi ketika dua orang yang berbeda kepribadian dan latar belakang bersatu dalam sebuah hubungan. Perbedaan kemungkinan besar akan menghasilkan konflik. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana meniadakan konflik, melainkan bagaimana mengelolanya.

Konflik harus dihadapi dan bukan untuk dihindari. Menghindari konflik berarti tidak menghayati realita dengan tepat. Jikalau kita menghindari realita maka kita akan terjebak ke dalam ilusi semu. Hubungan yang kita bangun tidak “real”. Sebuah hubungan akan menjadi real kalau kita berani menyelesaikan konflik dengan tepat dan bertumbuh melaluinya.

Konflik harus dikelola dan bukan untuk diabaikan. Ada orang yang lebih senang mencari persamaan daripada perbedaan. Mereka cenderung menutup mata terhadap berbagai perbedaan sikap, kelakuan, dan cara berpikir dari pasangan. Bagi mereka yang penting adalah kesamaan dan bukan perbedaannya. Memang benar bahwa kesamaan akan memperkuat suatu hubungan. Namun menutup mata terhadap perbedaan merupakan suatu sikap yang tidak logis. Perbedaan tidak akan hilang hanya dengan cara diabaikan. Perbedaan harus diakui, dan konflik harus dikelola agar dapat menjadi kekuatan bagi pasangan.

Konflik harus diselesaikan dengan cara yang membangun. Konflik seharusnya tidak diselesaikan dengan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam hubungan intim tidak boleh ada yang menang dan yang kalah. Masing-masing pasangan harus merendahkan diri di hadapan satu sama lain. Konflik akan menghasilkan dampak positif bila diselesaikan dengan cara-cara yang positif. Sebaliknya konflik akan menghasilkan dampak negatif bila diselesaikan dengan cara-cara yang negatif.

Konflik harus membawa pasangan ke tingkat hubungan yang lebih tinggi. Berbagai masalah dan pergumulan yang dihadapi dalam suatu hubungan seharusnya membawa kita kepada pertumbuhan hidup. Jikalau kita mampu menghadapi gelombang, maka kita akan berada di atasnya dan bukan berada di bawahya. Masalah dan konflik justru hadir dalam hidup kita untuk membuat diri kita naik satu tingkat lebih tinggi dalam hidup ini. Soren Aabye Kierkegard mengatakan, “Karena duri di kakiku, maka aku dapat melompat lebih tinggi”.

Penyebab konflik dalam hubungan

Apa saja yang mungkin menjadi penyebab konflik dalam suatu hubungan? Salah satu penyebab konflik dalam hubungan adalah kebiasaan pasangan. Masalah muncul saat kebiasaan kita berbenturan dengan kebiasaan pasangan. Konfllik akan terjadi juga saat kita tidak menyukai kebiasaan yang dimiliki oleh pasangan kita. Seorang pria tidak menyukai kebiasaan istrinya yang tidak rapih, menempatkan benda sembarangan, dan bahkan mengatur pakaian di lemaripun berantakan. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini dapat menjadi sumber konflik dalam kehidupan pasangan.

Kata-kata yang disampaikan juga dapat menjadi sumber konflik dalam hubungan. Apa yang dimaksudkan dalam pikiran seringkali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Seringkali kata-kata yang keluar justru terasa menyakitkan hati bagi pasangannya. Kata-kata pedas dibalas dengan kata-kata pedas juga. Hasil akhirnya adalah masing-masing merasa sakit hati dan mungkin akan dendam dengan pasangannya.

Pihak ketiga dapat menjadi sumber konflik dalam hubungan. Pihak ketiga bisa saja berupa orang lain, keluarga, teman, dan pihak lainnya yang terlibat dalam kehidupan kita. Seorang wanita marah besar ketika dia tahu pacarnya masih berkomunikasi dengan teman wanitanya yang adalah teman baiknya. Wanita tersebut menjadi sangat cemburu sehingga terjadilah perang mulut yang hebat di antara keduanya.

Berbagai masalah lainnya juga dapat menjadi sumber konflik, seperti kurang perhatian, masalah keuangan, cara mengasuh anak, dll.

Konflik dapat mengakibatkan berbagai hal dalam kehidupan berpasangan. Hubungan menjadi tidak harmonis, Salah satu pasangan mungkin akan mengalami merasa apatis terhadap diri pasangannya. Hubungan akan cepat putus dan bahkan perceraian akan terjadi. Salah satu pasangan mungkin akan memilih untuk melarikan diri dari pasangannya. Stres dan frustasi seringkali dirasakan dalam konflik yang berkelanjutan. Orang dapat mengalami depresi bila konflik semakin meruncing dan berat. Bahkan konflik akan berdampak bukan hanya pada kesehatan jiwa seseorang melainkan juga pada kesehatan fisiknya. Pada tingkat yang paling parah adalah salah satu pasangan mungkin memilih mengakhiri konflik dengan cara bunuh diri.

Prinsip dasar dalam menangani konflik

Salah satu prinsip penting dalam menangani konflik terletak justru bukan pada diri pasangan kita melainkan pada diri kita sendiri. Seringkali kita menginginkan pasangan kitalah yang berubah dan bukan diri kita sendiri. Perlu diingat adalah lebih mudah kalau diri kita sendiri yang berubah daripada orang lain yang berubah. Jadi mulailah menangani konflik dengan merubah diri sendiri. Salah satu hal yang perlu dirubah dari diri kita sendiri adalah untuk tidak mengkritik orang lain dan pasangan kita. Orang akan mengambil sikap bertahan terhadap kritikan. Dale Carnegie mengungkapkan “Semua orang bisa menghukum dan mendendam, namun untuk memiliki pengampunan dan pemahaman dibutuhkan karakter dan disiplin.”

Konflik harus ditangani secara pribadi dan bukan dilakukan di muka umum. Konflik jangan dihadirkan di media masa. Dalam kehidupan berpasangan, tidak ada tempat buat kehadiran orang lain dalam masalah atau konflik yang dihadapi. Pertama-tama selesaikanlah secara pribadi, kalau memang membutuhkan nasehat dan konsultasi carilah seseorang yang dapat menolong dan membantu untuk mendapatkan tuntuntan dalam menyelesaikan konflik.

Jangan menunda penyelesaian konflik. Jangan membiarkan konflik memuncak lalu kita tidak sanggup lagi menahannya. Selesaikan segera dan secepat mungkin. Hal ini lebih wajar daripada kita menunggu saja. Bicarakanlah satu persoalan pada satu kesempatan. Jangan membawa daftar belanja anda pada satu keranjang sekaligus. Hindari sikap negatif yang cenderung menjatuhkan dan memojokkan pasangan kita. Hindari sindiran kasar dan kata-kata selalu dan tidak pernah. Sampaikan kritik sebagai saran atau dalam bentuk pertanyaan dan bukan dengan kecurigaan.

Yang terlebih penting lagi adalah berikanlah pujian. Pahamilah bahwa semua orang membutuhkan penghargaan yang tulus. Temukanlah hal-hal baik dalam diri pasangan anda dan ungkapkanlah sesering mungkin. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.

Catatan: Suara Pembaruan