Sensasi Seks Wanita

24 09 2008

Setiap perempuan memang memiliki puncak seksual yang berbeda-beda, beberapa di antaranya merasa nyaman dan ada juga yang cenderung liar namun beberapa tidak merasa sangat tertarik pada seks sama sekali. Kenyataan inilah yang perlu diperhatikan oleh kaum lelaki.

Survey menunjukan bahwa keterbukaan yang menerpa kaum perempuan pada era modern ini ternyata tak bisa disamaratakan dalam persoalan seks dan hubungan intim sebab masih diperlukan waktu untuk belajar bagaimana melakukannya.

Berbeda dengan rasa, seorang perempuan merespon rangsangan seksual pertama kali biasanya cukup senang, hangat terasa hampir di sekujur tubuh. Pada saat yang sama nadi mulai berdenyut kencang dan biji mata mulai membesar. Pada saat biji mata bertambah lebar pada saat itu pula perempuan terlihat lebih aktraktif secara seksual.

Ketika perempuan mulai memikirkan ketertarikannya pada seks, alat genital pun mulai basah (kondisi ini sama seperti ereksi pada lelaki). Hal ini sebabkan alat genital perempuan mengeluarkan semacam cairan sebagai tanda siap bagi aktivitas seksual. Keadaan ini juga dibarengi dengan membesarnya klitoris sebagai bagian tubuh perempuan yang paling sensitif dan bibir vagina (labia). Efeknya vaginapun mulai terbuka dan keadaan ini akan sangat mempermudah masuknya penis ke dalamnya.

Rangsangan yang hebat membawa pengaruh lain terhadap payudara yang akan membesar perlahan-lahan dan puting akan lebih menonjol. Payudara yang mengeras tentu dapat menjadi tanda yang sangat nyata bagi lelaki mengenai keadaan pasangannya yang mulai terbuai dalam permainan seksual. Apalagi disertai napas berhembus lebih cepat hingga megap-megap dengan mata yang semakin sayu sehingga semakin atraktif bagi pasangan.

Akhirnya tiba saat dimana wanita mencapai puncak yakni klimaks. Umumnya apa yang terjadi sini adalah wanita mengalami serangkaian gelombang kesenangan hingga akhirnya tubuh terasa terbawa terbang ke sebuah puncak kenikmatan. Tidak sedikit pada saat ini perempuan menangis. Seluruh otot muka dan tubuh berkontraksi sangat keras tapi sangat nyaman dan berakhir dengan rasa relaks pada seluruh bagian tubuh.

Sumber : Doktertomi





Makan Sambil Berbicara

24 09 2008

Makan dan berbicara adalah satu aktivitas yang mirip, sejenis, tapi sungguh sangat berbeda satu sama lainnya. Pada saat makan dan berbicara ini kita sama-sama melakukan kegiatan membuka dan mengatupkan (rongga) mulut dengan irama tertentu. Sementara saat makan, di dalam rongga mulut kita terisi makanan, dan dengan bantuan air liur kita mengunyah dan melumat makanan agar menjadi lunak sehingga nantinya akan mudah dicerna dalam lambung dan usus kita. Dan saat menelan makanan saluran pencernaan akan terbuka sementara saluran pernapasan untuk sementara tertutup. Sementara itu, saat berbicara kita membuka dan mengatupkan rongga mulut dengan tujuan melafalkan sebuah bunyi yang membentuk sebuah kata lalu akan menjadi sebuah kalimat, dan normalnya saluran pencernaan akan tertutup.

Yup, jika kita mendengarkan petuah-petuah dari orang tua jaman dulu, apalagi anda yang mengaku sebagai orang jawa, aktivitas berbicara sambil makan ini adalah sebuah hal yang konon tabu dilakukan… Oleh karena itu, jangan biasakan makan sambil berbicara, karena selain tidak sedap dipandang mata, juga salah-salah bisa menyebabkan sariawan karena tanpa sengaja lidah atau bagian rongga mulut kita tergigit saat kita mengunyah sambil berbicara ini. Atau konyolnya akan ada air liur dan makanan yang melompat saat kita melakukan dua kegiatan secara bersama-sama ini, makan dan ngobrol. Tentu bukan suatu hal yang lucu jika air liur atau makanan yang sedang kita makan meluncur ke muka orang yang kita ajak ngobrol tadi hahahahaha.  Bisa jadi aktivitas berbicara ini malah mengganggu sakralnya kegiatan makan dan menyebabkan kita tidak bisa menguyah makanan dengan sempurna karena kita harus berbagi aktivitas dengan mulut yang sedang sibuk melafalkan kata per kata tadi.

Jika aktivitas makan itu dilakukan bersamaan dengan aktivitas bicara atau bahkan tertawa terbahak-bahak dapat menyebabkan makanan masuk ke saluran pernapasan sehingga kita tersedak saat makan. Karena wajarnya sih saat kita menelan makanan, saluran pernapasan ke paru-paru akan tertutup dengan otomatis. Namun jika saat menelan makanan itu diselingi dengan acara ngobrol sana ngobrol sini, maka saluran pernapasan pun tidak akan tertutup secara sempurna, sehingga menyebabkan sebagian makanan kita tersesat dan selonongboy di tenggorokan hehehehe….

Makanya, biar tidak tersedak, lain kali kalau mulut sedang penuh dengan makanan… Jangan bicara dulu!! Tunggu deh sampai mulut sudah kosong dan makanan sudah tertelan masuk ke lambung…Baru deh lanjutkan bicaranya…. Ok???