Sudahkah Kita Memaafkan ?

31 12 2008

“Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: cintailah musuh-musuhmu, dan
doakanlah orang-orang yang menganiaya kalian,” (Mat 5 :44)

Kita sering menemukan kejadian demi kejadian yang diakibatkan dengan
perasaan terluka, pengkhianatan dan kebencian para pengikut Kristus saat ini, mulai merajalela dari dalam Rumah Tangga sampai ke gereja2, bahkan sdh dianggap sebagai perilaku normal, kita tidak akan terkejut lagi bila pasangan suami istri Kristen saling menggugat utk bercerai, Perpecahan Gereja kita anggap sudah hal yg biasa bahkan disamarkan karena”Kehendak Tuhan”, Politik dalam gereja dimainkan dengan dalih demi “kepentingan Jemaat”, bahkan secara terang2an kita ikut meng”amin”kan jika seorang Pendeta menyerang men-jelek2-kan Pendeta lain saat Khotbah, kadang kita ikut mendukung Gembala Sidang & Para Pendeta dalam memainkan Manuver-Manuver Rohani utk menarik Jemaat, begitu mudahnya ber-pindah2 gereja hanya karena masalah2 sepele, sudah mati-rasa kah kita ?

Walaupun kita sering sering menghadiri seminar & sekolah2 Alkitab, berapapun banyaknya buku2 yg telah kita baca bahkan betapa lamanya kita berdoa dan mengadakan penyelidikan Alkitab, jika kita masih merasa terluka dan merasa enggan utk memaafkan dan menolak utk bertobat dari dosa itu, maka kita jelas belum sampai kepada pengenalan akan kebenaran ( kok jadi serius begini sih..)

Petrus bertanya, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika dia berbuat dosa terhadap aku..?, sampai Tujuh kali…?, Petrus anggap bahwa tujuh kali itu sudah termasuk kemurahan hati banget, tapi Yesus membuyarkan & mengejutkan dugaan kemurahan hati Petrus, dengan berkata :” Bukan ! aku berkata kepadamu: bukan sampai Tujuh kali, melainkan sampai Tujuh Puluh kali tujuh kali, (Mat.18:21-22) dengan kata lain kita harus mengampuni seperti Tuhan mengampuni yaitu : Tanpa Batas.

Tuhan Yesus telah menjelaskan : jika kita tidak mengampuni maka kita tidak akan diampuni-Nya dan jelas tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah sama halnya dengan melakukan dosa Homoseksual, Perzinahan, Pencurian, membunuh, mabuk dan sebagainya,

Yesus menasehati kita utk berdamai dan memaafkan walaupun pelanggaran itu bukan kesalahan kita, dibutuhkan kedewasaan utk berjalan dalam kerendahan hati demi perdamaian, memulai langkah pertama lebih sulit bagi orang yg dilukai perasaannya, kesombongan selalu bersikap membela diri, kerendahan hati selalu setuju dan
berkata : “Kamu benar, Saya-lah yg telah berbuat begini, Maafkan saya ya”, Haleluya. Amin





Mengapa Orang Batak Jago Nyanyi?

30 12 2008

Orang Batak jago nyanyi, wah itu sih sudah seantero Nusantara sudah tau. Indonesia Idol pada season pertama pernah merasakan kemegahan suara seorang Joy Tobing, selain itu ada banyak penyanyi top di negeri ini yang merupakan etnis Batak. Orang Batak, Manado, dan Ambon memang terkenal akan manisnya suara mereka.

Saya sendiri baru benar-benar percaya hal tersebut setelah bercokol di Medan. Ada satu hal yang saya rasakan sedikit berbeda antara misa di gereja saat di Jakarta dengan di Medan. Di Jakarta umatnya sangat banyak tapi suaranya cukup lantang setiap kali menyanyi. Sedangkan selama misa di Medan, saya kira umatnya jauh lebih sedikit setiap misa tapi suaranya itu loh…menggelegar! Bahkan tidak heran jika sebagian umat, yang kebanyakan memang orang Batak, masih terus bernyanyi atau bersenandung usai misa, saat melangkah keluar dari lapangan parkir atau menunggu angkot.

Saya menjadi cukup penasaran akan hal tersebut, apa sih yang bisa membuat suara orang Batak itu kencang-kencang, entah memang merdu atau lumayan merdu. Sebagai seseorang yang bergerak di bidang science, maka saya tertarik untuk melakukan observasi kecil-kecilan. Ketika sedang memiliki waktu luang di kamar ICU maka saya seringkali main ke unit radiology di rumah sakit kami. Disana saya mencari foto-foto rongten kepala yang dilakukan sepanjang hari. Sambil bertanya dengan spesialis radiologinya, saya mencoba mengumpulkan dan menyimpulkan foto-foto kepala pasien yang orang Batak. Dan tebak apa yang dapat kami (saya dan dokter radiology) simpulkan dari observasi amatir tersebut ? Ternyata orang-orang Batak kebanyakan memiliki rongga sinus wajah yang relative lebih besar daripada orang-orang pada umumnya.

Sebagai penjelasan, tulang wajah kita diciptakan oleh yang diatas tidak berupa tulang yang padat 100% melainkan di beberapa lokasi terdapat rongga kosong yang disebut sinus. Secara umum ada 4 pasang sinus di wajah kita yaitu sinus frontalis (dahi), maksilaris (pipi), ethmoidalis (hidung) dan sphenoidalis (dasar otak). Sudah lama hal tersebut diketahui di dunia medis tapi sudah lama pula kami tidak mengetahui dengan pasti apa fungsi rongga-rongga aneg tersebut, karena prinsipnya apa yang dibuat Tuhan tidak pernah tanpa penjelasan yang mengagumkan. Salah satu teori mengatakan bahwa sinus-sinus tersebut berperan penting dalam resonansi saat bersuara atau bernyanyi.

Dalam dunia tarik suara saya kira ada 3 hal dasar yang penting dimiliki oleh seorang penyanyi yaitu segi teknik menyanyi termasuk teknik pernapasan, timbre (warna suara) yang mungkin berupa bakat bawaan dan resonansi (segi organik atau anatomik). Resonansi ini sudah lama diduga berkaitan dengan suara-suara yang berdentang di dalam rongga-rongga sinus. Dan bisa jadi rongga sinus yang besar-besar dari rekan-rekan kita yang orang Batak membuat resonansi mereka jauh lebih baik sehingga suara mereka lebih menggelegar saat menyanyi. Tapi tentunya untuk benar-benar menjadi penyanyi kita tidak harus membutuhkan resonansi yang besar semata melainkan juga segi teknis dan juga timbre yang khas.





Benarkah Kita Sdh Mengenal Diri Sendiri

29 12 2008

Dalam pergaulan kerap ditemui orang yang persepsi tentang dirinya sendiri tidak klop dengan kenyataan. Tapi umumnya orang mengatakan, saya paham betul siapa dirinya.

Semakin tua orang diharapkan semakin matang. Bisa diibaratkan seperti bawang, yang terkelupas kulitnya satu per satu, sehingga tidak perlu membentengi dirinya dengan segala macam kebohongan atau kepura-puraan. Ia tak perlu topeng, sehingga hidupnya lebih enak, lebih ringan, karena menjadi diri sendiri.

Tapi tidak demikian dengan Bu Intan. Ia tak pernah menampilkan diri apa adanya. Wanita pintar berambut lebat ini lebih suka menarik diri dari pergaulan karena tidak bisa berbahasa Inggris.

“Dibanding teman-teman, saya bukan apa-apa,” katanya. Ia minder, merasa dirinya tidak pantas diperhitungkan dan tempatnya di belakang, karena tidak pernah bisa berkomunikasi jika ada tamu bule. Maka Bu Intan selalu menyingkir atau pura-pura sakit jika harus bertemu orang dari negara lain.

Padahal teman-temannya tidak pernah menganggapnya remeh. Bu Intan bahkan sangat disukai dan dihormati, karena ia orang yang paling teliti dalam pekerjaan. Ia juga pendengar yang baik, sehingga menjadi tempat curhat teman-temannya.

Sayangnya hal-hal positif itu tidak dianggapnya penting, dan dia lebih menampilkan dirinya sebagai orang yang nilainya lebih rendah. Padahal, banyak orang lain yang tidak bisa bahasa Inggris tetap sukses dalam pekerjaan dan pergaulan.
Ini berkebalikan dengan Pak Badu, sebutlah begitu. Anak muda yang belum lama masuk dunia politik ini, menilai dirinya terlalu besar. Dengan posisi politik dan kedudukannya sebagai anggota DPR, ia mengira bisa mengatur negara dan menentukan ini itu seperti yang diinginkannya.

Di hadapan rekan-rekannya dalam suatu acara reuni misalnya, dia bisa berkata, “Oh, gampang itu. Saya akan atur nanti supaya si Itu dilepaskan dari kabinet dan diganti dengan si Ini.”

Dalam acara dengar pendapat dengan seorang penegak hukum yang reputasi, integritas, dan moralnya sangat bagus dia berkata, “Saya ingin menguji Saudara….,” atau bahkan, “Saya ingin menasihati Saudara….”

Mendengar itu semua, teman yang mengenal Pak Badu terheran-heran. “Dia itu siapa, kok, berani-beraninya bicara begitu kepada orang tua yang sangat disegani itu.” Temannya yang lain berkomentar, “Kasihan betul Badu ini, dia sudah tidak kenal lagi siapa dirinya.”

Kenyataan dan Asumsi

Mengapa orang bisa seperti itu? Mengapa harus membohong terus? Mungkin mereka dan bahkan kita sendiri mencoba tampil seperti yang kita kira bagus, tapi sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan diri kita.

Lalu, siapa diri kita sebenarnya? Apa yang kita tahu betul tentang diri kita? Apakah kita tahu tentang kelemahan dan kekuatan kita? Dan apa yang kita kira kita tahu tentang diri sendiri itu lantas terbukti atau sesuai dengan kenyataan? Kalau itu kelebihan, apakah orang lain juga mengakuinya? Dan kalau itu kita kira sebagai kekurangan, apakah orang lain juga mengakui itu kekurangan kita?

Semakin mendekati jarak antara kenyataan dengan apa yang kita asumsikan tentang diri kita, itu berarti baik karena kita mengenal diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Semakin jauh jarak antara kenyatan dengan apa yang kita perkirakan tentang diri sendiri, artinya buruk sekali pengenalan diri kita.

Apa akibatnya jika orang tidak kenal dirinya, sehingga jarak antara asumsi dan kenyataan tentang diri sendiri begitu jauh? Tak bisa lain, orang itu harus terus berusaha mengingkari kenyataan tentang dirinya.  Barangkali dalam kenyataan sehari-hari muncul dan sering kita temui dalam bentuk over compensation, membual, melebih-lebihkan, atau bahkan mengecilkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri, berbohong dan seterusnya jika merasa dirinya paling hebat. Ia tidak berpijak pada kenyataan, sehingga dalam bekerja biasanya hanya omong doang.

Begitu pula sebaliknya orang yang mengira diri sendiri negatif, akan sangat minder, menarik diri dari pergaulan, mengurung diri, tidak mau melakukan apa pun. “Apalah artinya saya, siapa yang mau mendengarkan saya,” adalah contoh ungkapan yang sering diucapkan orang dengan persepsi diri negatif. Orang ini sebetulnya sangat tertekan pada kelemahan dirinya.

Baik yang menilai dirinya terlalu tinggi maupun terlalu rendah, keduanya tidak sesuai kenyataan dan itu berarti jelek. Hal ini secara mental atau psikologis tidak sehat. Orang yang selalu pakai kedok akan capek, lalu memberikan stres yang besar pada diri sendiri.

Solusi
Dalam psikologi ada konsep yang disebut Johari Window atau Jendela Johari, yang menggambarkan pengenalan diri kita. Ada empat jendela dalam Jendela Johari.

(1) Jendela terbuka. Hal-hal yang kita tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain pun tahu. Misalnya keadaan fisik, profesi, asal daerah, dan lain-lain.

(2) Jendela tertutup. Hal-hal mengenai diri kita yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu. Misalnya isi perasaan, pendapat, kebiasaan tidur, dan sebagainya.

(3) Jendela buta. Hal-hal yang kita tidak tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain tahu. Misalnya hal-hal yang bernilai positif dan negatif pada kepribadian kita.

(4) Jendela gelap. Hal-hal mengenai diri kita, tapi kita sendiri maupun orang lain tidak tahu. Ini adalah wilayah misteri dalam kehidupan.

Semakin besar daerah/jendela terbuka kita akan semakin baik, karena berarti kita mengenal diri secara baik. Orang yang memiliki daerah tertutup lebih besar akan mengalami kesulitan dalam pergaulan. Adapun mereka yang memiliki daerah buta sangat besar, bisanya akan membuat orang lain merasa kasihan.

Kepada orang yang kita kenal dekat, jendela itu harus dibuka semakin besar, juga bila kita ingin bekerjasama dengan orang lain. Bagaimana membuka jendela? Bagaimana kita bisa kenal diri sendiri? Bagaimana kita memiliki jendela terbuka yang semakin besar?

1. Bersedia menerima umpan balik, secara verbal maupun non-verbal.

a. Bersedialah untuk menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain tentang diri kita. Kalau ada orang yang memberikan kritik sangat pedas, ada baiknya dikaji. Jika merasa tidak benar, tanyakan, mengapa dia mengungkapkan hal itu, cari klarifikasi, dan bukan membalas menghajarnya atau mengkritik balik. Kritik adalah bentuk umpan balik yang berisi informasi negatif tentang diri kita, yang mungkin kita anggap kelemahan. Harusnya kritik itu berisi saran, karena kritik itu berarti menunjukkan kesalahan dan harus bisa memberitahu bagaimana jalan keluarnya

b. Kita juga harus mau lebih membuka diri. Ungkapkan kalau ada uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan dan sebagainya. Bisa lisan bisa tertulis harus diungkapkan terus terang. Bisa juga kita membuka  kekuatan atau kelemahan diri kita,dibagi kalau berupa kekuatan. Ini cara supaya orang lain lebih mengenali diri kita, dan kita pun makin tahu tentang diri sendiri. Kita tidak mungkin mengenali diri sendiri hanya dari muka cermin, tapi juga melalui orang lain supaya kita mendapat gema atau echo dari orang lain.

2. Bagaimana cara kita membuka diri? Banyak bergaul, berteman baik, memperluas hubungan interpersonal dan berkomunikasi. Dengan cara ini kita akan mendapat masukan dari banyak orang. Semakin luas pergaulan akan mendapat masukan lebih banyak mengenai diri kita.





Pahami Lawan Jenis Dari Ketakutannya

29 12 2008

Walau hidup berdampingan, sumber ketakutan pria dan wanita tidak sama. Dengan mengenali sumbernya, mungkin Anda jadi lebih paham jika si dia uring-uringan.

Ratna tak habis mengerti, mengapa ayahnya yang belum genap 100 hari ditinggal ibunya, sudah  mulai menjalin hubungan istimewa dengan wanita lain. “Kok segitunya. Padahal waktu ibu meninggal nangisnya seperti anak kecil,” cerita Ratna bernada jengkel.

Mungkin ia tidak tahu bahwa ada pria lain yang (sesuai pemahaman Ratna) ‘lebih keterlaluan’  dibanding ayahnya. Yaitu menikah lagi sehari setelah selamatan 40 hari meninggalnya sang isteri.

Keheranan atau kejengkelan seperti yang dirasakan Ratna itu wajar terjadi, karena menurut anggapan umum laki-laki memang lebih kuat dan tegar ketimbang wanita. Mereka mungkin tidak pernah memperhatikan secara serius bahwa di belahan dunia mana pun, lebih banyak janda ketimbang duda.

Fakta ini mengacu pada dua hal. Yang pertama, mungkin karena wanita lebih kuat hidup sendiri tanpa pasangan, dan kedua mungkin karena wanita hidup lebih lama ketimbang pria. Kedua-duanya menunjukkan bahwa wanita sebenarnya lebih kuat (secara psikologis) dan lebih mandiri daripada pria, meskipun selama ini wanita dianggap (atau menganggap diri) lebih lemah dan tidak mandiri.

Lepas dari itu, persoalan Ratna dan ayahnya itu sesungguhnya mencerminkan adanya wilayah tertutup atau daerah gelap yang tidak dipahami, karena perbedaan jenis kelamin. Faktor inilah yang biasanya menimbulkan salah paham dan kecurigaan dalam berkomunikasi di antara pasangan atau lawan jenis.

Yang Ditakuti Pria

Salah satu yang ada dalam daerah gelap atau tertutup itu adalah hal-hal yang paling ditakuti. Apa yang paling ditakuti pria? Simak daftar yang dibuat oleh  Sandra Sedgbeer dalam bukunya Sex, Lies & Love.

Perceraian, baik cerai karena kematian maupun pisah. Karena itu inisiatif cerai biasanya datang dari perempuan. Apa yang membuat pria akhirnya sanggup menerima perceraian adalah dua hal, yaitu keyakinan bahwa ia akan mendapat wanita lebih menarik, dan bahwa ia akan kehilangan muka jika menolaknya.

Wanita. Pria takut jauh dari wanita, lebih dari yang dapat mereka akui. Pada dasarnya karena pria tidak tahu apa yang menggerakkan wanita. Ketakutan itu tercermin antara lain ketika mereka membuat lelucon atau berbicara di antara mereka sendiri, yang cenderung merendahkan perempuan.

Penolakan. Pria sangat takut dikalahkan atau disingkirkan, karena sangat memalukan. Maka tak peduli seberapa bagus pun alasan penolakannya, ego pria mengartikan bahwa dirinya ‘tidak cukup baik’.

Tidak masuk hitungan. Semua pria merasa harus menjadi pemimpin. Jika hal itu tidak tercapai, setidaknya mereka ingin mendapat pengakuan dari lingkungan terdekatnya.

Mudah diserang. Benar, pria memang sangat takut terikat dan kehilangan kebebasannya. Hal ini membuat pria menjadi sangat mudah diserang. Wanita yang cerdik tak akan memikat pria melalui perutnya, tapi dengan menghormati kebutuhannya akan kebebasan dan pilihan hidupnya.

Mempercayakan rahasia. Pria tidak suka tampak bodoh. Itu sebabnya mereka sangat sulit mempercayai orang, terutama wanita. Mereka khawatir dikhianati dan dikecewakan.

Menjadi ayah. Meskipun pria sangat bangga menjadi seorang ayah, tapi hal itu sekaligus menjadi sumber ketakutannya. Menjadi ayah, bagi mereka merupakan pertanda tak bisa lagi main-main tanpa tanggungjawab seperti bujangan. Dan lagi, kalau isteri telah punya anak sendiri, siapa yang akan mengurusnya?

Yang Ditakuti Wanita

Bukan rahasia lagi. Wanita yang kuat menjadi ancaman bagi pria, dan wanita pintar menakutkan mereka. Tapi ironisnya, ketika pada wanita dibuka daerah gelap atau wilayah tertutupnya, pria akan tahu bahwa mereka tak perlu takut sama sekali. Simak saja sumber ketakutan wanita:

Membuat pria takut. Wanita sangat takut membuat pria ketakutan padanya. Karena itu di kantor, organisasi, maupun dalam rumahtangga banyak wanita cenderung mengerem ambisi dan potensinya, semata demi tidak membuat pria merasa terancam dan takut padanya.

Disakiti dan dimanfatkan pria. Wanita selalu berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa seandainya ia wanita yang lebih langsing, lebih baik, lebih seksi, dan lebih menarik, pasti pria akan tergila-gila padanya dan membiarkannya memperbaiki penampilan pria tersebut. Hal itu merupakan refleksi dari ketakutannya akan disakiti dan dimanfaatkan pria.

Semua mantan pacarnya. Tak ada bedanya siapa yang mengakhiri hubungan di masa lalu, atau mengapa; seorang wanita yang jatuh cinta selalu bertanya-tanya apakah pria yang dicintainya masih merindukan  para mantan pacarnya setelah mereka putus cinta.

Semua teman wanitanya. Kerena tidak percaya pada hubungan platonik (cinta yang bersifat persaudaraan) antar-jenis kelamin, wanita selalu menaruh kecurigaan besar terhadap semua teman wanita kekasihnya. Walaupun dia sendiri memiliki banyak hubungan platonik dengan teman-teman prianya.

Wanita yang tak ada. Wanita percaya bahwa tak ada yang lebih menarik bagi pria kekasihnya itu, selain bayangan seorang wanita yang selalu diangankannya,  walau tak pernah ada wujudnya.

Ibunya. Tak peduli betapa bagusnya hubungan antara sang pria dengan ibunya, wanita cenderung berpikir bahwa ada yang dirahasiakan dan pada suatu hari keburukannya akan menimpa dirinya. Tapi jika sang pria mengagumi ibunya, dia akan menuduhnya ‘anak mami’.

Hamil. Wanita selalu khawatir bahwa tubuhnya yang menggemuk dan tidak menarik akan membuat pasangannya berhenti memperhatikannya. Dengan begitu dikiranya pria akan mudah tertarik pada wanita lain yang ditemuinya.

Tampak sederhana, sepele atau tidak masuk akal bagi Anda? Tapi memang begitulah lawan jenis kita.





Pacaran Kristen

28 12 2008

Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen.

Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:

1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”

“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.

2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”

“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.

Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.

3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”

“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:

- apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?

- apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?

- apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?

Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.

4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”

Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.

5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”

Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.

Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.

Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:

a. Imannya.

Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?

b. Kematangan Pribadinya.

Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?

c. Temperamennya.

Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?

d. Tanggung-jawabnya.

Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?

Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.

Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:

1.Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.

2.Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar … atau kami ingin selalu bercumbuan saja.

3.Saya rasa “dia akan meninggalkan saya” kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.

4. Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.