oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
Nats: 2Kor. 6:11-18; 7:8-16; 1Kor. 5:9
Dari 1Kor. 5:9 kita bisa melihat probabilitas dari satu kronologi yang mungkin mengenai bagaimana sebenarnya surat Paulus ini. Jelas sekali surat 1 Korintus BUKAN merupakan surat pertama Paulus kepada jemaat Korintus, tetapi ada surat lain yang sebelumnya sehingga kita ingin mencoba merekonstruksi surat-surat Paulus tsb. Dalam 1Kor. 5:9 ini Paulus mengaku pernah menulis satu surat terlebih dahulu sebelum surat 1 Korintus, “…dalam suratku telah kutuliskan kepadamu supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul…” Jelas sebelum surat 1 Korintus, sudah ada satu surat lain. Dimanakah surat itu? Banyak penafsir mencoba merekonstruksikan surat-surat ini. Saudara harus menaruh hal ini di dalam pikiran saudara bahwa surat-surat Paulus tidak ditulis dalam bentuk seperti Alkitab yang kita pegang sekarang ini, tetapi ditulis dan dikirim berupa “scrolls.” Kita percaya scroll-scroll itu diberikan secara terpisah-pisah, karena kalau surat itu ditulis di dalam satu scroll, panjangnya bisa mencapai belasan meter. Maka bisa jadi ada scroll-scroll yang terselip urutannya, sehingga kemungkinan surat yang seharusnya adalah surat yang pertama, kemudian berada di surat yang kedua. Kira-kira demikian pemikiran para penafsir sehingga ada penafsir yang menafsir kemungkinan besar 2Kor. 6:11 ini adalah surat yang dimaksud Paulus tadi. ‘Dalam suratku yang sebelumnya’ aku mengatakan jangan hidup bersama-sama dengan immoral people.
Jelas sekali dalam bagian ini, khususnya di 2Kor. 6:14 Paulus katakan “jangan hidup menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya.” kemungkinan besar ini surat yang pertama. Mengapa? Sebab memang nadanya berbeda. Saudara lihat di ayat 11 Paulus memulainya dengan kalimat “hai orang Korintus…” dengan nada yang keras, saudara bandingkan dengan 2Kor. 6:1 dia menyebut mereka sebagai “teman-teman sekerja”, dalam 2Kor. 7:1 dan dalam 2Kor. 8:1 dia menyebut mereka “saudara-saudara yang kekasih…” Mengapa di tengah-tengah sapaan yang intim dan akrab itu, Paulus tiba-tiba menyebut “hai orang-orang Korintus” sebagai satu nada marah dan berbeda? Saudara bisa saja menafsir Paulus kan menulis surat tidak langsung, pertama-tama dia senang, lalu tiba-tiba dia marah, habis itu dia senang lagi. Bisa saja saudara menafsir seperti itu karena kita mencoba merekonstruksi dan menafsirkannya. Tetapi intinya adalah di pasal 6:11 Paulus mengatakan “hai orang Korintus” lalu di pasal 7:8 Paulus bilang “suratku yang dulu itu kalimatnya keras, saya menyesal mengeluarkan kalimat seperti ini, tetapi sekarang saya tidak menyesal sebab terjadi perubahan dalam hidupmu…” sehingga banyak penafsir mengatakan sangat besar kemungkinan surat yang dia maksud itu sebenarnya surat yang ini (2Kor. 6:11-18), yang pada waktu dikumpulkan, surat ini bersatu dengan surat 2 Korintus yang membuat bagian yang nampaknya sedikit punya nada berbeda ini sebetulnya surat yang pertama. Melalui rekonstruksi ini kita menemukan problemanya selesai dijawab oleh Paulus.
Sekarang yang ingin kita tahu apa sebenarnya problema yang dialami jemaat Korintus dalam bagian ini? Surat yang pertama adalah surat Paulus yang sangat keras. Paulus bilang jangan hidup bergaul dengan immoral people. Apakah maksud Paulus di sini melarang jemaat mempunyai teman orang yang tidak percaya? Apakah Paulus melarang orang Kristen memiliki hubungan dagang dengan orang yang tidak percaya? Sama sekali tidak. Kata yang Paulus pakai, “Do not be yoked together with unbelievers” menaruh kuk bersama, di sini adalah dalam pengertian asosiasi hubungan yang sangat erat di dalam satu pernikahan, ataupun suatu pertemanan yang akhirnya seperti yang terjadi pada jemaat Korintus di mana mereka ikut ke kuil dan ikut menyembah berhala di sana. Jadi Paulus tidak melarang orang Kristen berteman dengan orang tidak percaya, tetapi Paulus mengingatkan jangan sampai asosiasi yang terjadi di antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya menyebabkan identitas mereka sebagai orang percaya akhirnya hilang. Kata yang dipakai di sini “jangan menaruh kuk bersama…” Paulus menggunakan satu lukisan yang dipakai di dalam Ul. 22:10 “janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.” Jadi bukan dalam pengertian tidak boleh berteman dan bergaul dengan orang yang tidak percaya melainkan satu asosiasi yang mendatangkan hubungan yang sangat dekat dalam 2 hal yang saya tafsirkan, yaitu bicara mengenai relationship yang terjadi di dalam pernikahan dan relationship yang timbul di dalam pertemanan di antara orang Kristen di Korintus yang tidak sensitif mengenai dosa.
Dalam surat 1Kor. Paulus menyelesaikan problema itu yakni mereka tidak sensitif di dalam hal makan makanan dari penyembahan berhala, khususnya mereka makan di kuil berhala.
Kalau ada kasus seseorang menyembah berhala di kuil dan sesudahnya dia datang membawa sebagian daging hasil penyembahan itu sebagai penghormatan kepada teman yang Kristen, apakah dia boleh makan daging itu? Buat saya, dia boleh makan daging itu. Tetapi kalau waktu dia sedang makan, kemudian ada anggota keluarganya yang tidak setuju, berikan penjelasan bahwa dia tidak ikut menyembah berhala. Tetapi kata Paulus katakan kalau ada orang yang lemah imannya, tidak usah makan. Namun yang terjadi pada jemaat Korintus ialah mereka datang ke kuil dan makan sama-sama dengan orang tidak percaya. Artinya, mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah orang Kristen dan mereka dijebak dengan konsep bahwa berhala itu tidak ada apa-apanya. Dengan konsep ini maka mereka telah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan yang kedua Paulus memberi prinsip: makan tidak untung apa-apa, tidak makan juga tidak rugi apa-apa. Tetapi akibat tindakan mereka, orang Kristen di Korintus telah memberi kesan bahwa anak-anak terang bisa hidup berasosiasi dengan mentolerir kehidupan di dalam kegelapan orang itu sehingga perbedaan kita sebagai anak Tuhan menjadi kabur. Itu adalah hal yang pertama.
Sekarang saya akan bicara lebih dalam mengenai hal yang kedua, bagaimana pandangan kita mengenai pernikahan antara orang percaya dan yang tidak percaya. Apakah Alkitab melarang orang percaya menikah dengan orang tidak percaya? Ini menjadi kesulitan yang luar biasa besarSebelumnya mari kita lihat 2 ayat terlebih dahulu.
Pertama, di dalam 2Kor. 6:14, di sini Paulus memang tidak bicara soal pernikahan, tetapi hampir seluruh penafsir mengatakan, dengan menggunakan kata “yoke” itu sebagai kuk yang dipasangkan kepada 2 ekor hewan yang hendak membajak, maka yang Paulus maksudkan adalah hubungan yang bukan sekadar hubungan biasa, tetapi satu hubungan yang diikatkan dengan sesuatu. Karena itu para penafsir kaum Injili setuju Paulus di sini sedang bicara melarang pernikahan antara orang percaya dengan tidak percaya.
Kemudian satu ayat lagi dalam 1Kor. 7:12. Paulus berbicara mengenai satu realita yang terjadi di dalam jemaat Korintus. Semua yang Paulus bicarakan dalam bagian ini apakah di dalam konteks di mana Paulus sudah melarang mereka tidak boleh menikah dengan orang tidak percaya, tetapi kemudian ada di antara mereka yang tidak taat, ataukah ini dalam konteks dua orang tidak percaya menikah lalu salah satu di antaranya kemudian menjadi Kristenkah? Saya lebih setuju dengan konteks yang kedua ini. Tadinya waktu menikah dua-dua bukan orang Kristen, lalu kemudian melalui pemberitaan Injil salah satu kemudian menjadi Kristen. Setelah dia menjadi Kristen, terjadi persoalan dillema etis dan moral. Bagaimana decision making-nya? Apakah dia tetap stay dengan pasangannya yang tidak percaya? Maka menghadapi kebingungan ini Paulus bilang tidak perlu bercerai. Bagaimana dengan anak-anak hasil pernikahan mereka? Di ayat 14 Paulus bilang anak-anaknya langsung dikuduskan oleh Tuhan. Selama masing-masing masih mau tetap hidup bersama, jangan menceraikannya. Jadi sekali lagi ini di dalam konteks tadinya sewaktu menikah dua-dua belum Kristen, tetapi setelah itu salah satu menjadi percaya. Dalam hal ini Paulus mengatakan orang percaya itu harus tetap stay dengan pasangannya yang tidak percaya.
Tetapi bagaimana dengan pasangan yang belum menikah? Saya harap saudara melihat ayat-ayat ini dengan baik-baik. Pada waktu Tuhan mengatakan tidak boleh menaruh kuk di atas keledai dan sapi, saudara dan saya harus mengakui dan setuju bahwa nilai-nilai kepercayaan dan konsep agama, dsb tetap merupakan nilai yang harus kita hargai dan hormati. Dan kita harus terima fakta dengan jujur bahwa ini merupakan nilai-nilai yang begitu penting di dalam hidup saudara. Tuhan bilang jangan mempersatukan keledai dan sapi dengan kuk yang sama, kenapa? Karena dari naturnya kita sendiri tahu ada hal-hal yang tidak compatible dan tidak cocok.
Istri dari Arief Budiman, yaitu Leila Ch. Budiman, pengasuh kolom tanya-jawab di Kompas, saya pernah baca ada seorang wanita Kristen mengatakan kenapa banyak orang mempersoalkan perbedaan agama menjadi penyebab kericuhan di dalam keluarga? Saya sudah menikah dengan suami saya yang berbeda agama selama 5 tahun tetapi kami hidup baik-baik saja. Saya tidak merasakan bahwa perbedaan agama itu merupakan hal yang perlu dibicarakan di dalam keluarga. Bagaimana jawaban Leila? Leila sendiri beragama Islam. Dia menjawab bagus sekali, tidak ada persoalan perbedaan agama di dalam keluargamu sebab engkau tidak pernah membahas dan membicarakannya. Tetapi pada waktu membicarakannya, barulah kalian menyadari memang ada perbedaan.
Kalau saudara bertanya kepada saya, bolehkah saya berpacaran dengan orang tidak percaya dengan tujuan penginjilan? Ada agama lain juga menggunakan cara seperti itu, bukan? Saya akan menjawab beberapa hal. Saudara dan saya harus mengakui dan setuju cinta itu tidak bisa dipaksakan. Saudara jatuh cinta dengan seseorang, terjadi begitu saja sebelum terpikir si dia itu agamanya apa. Kemudian saudara juga bisa merasionalisasi, bahwa chance untuk mendapat pasangan di gereja itu begitu kecil dan jumlahnya tidak balance.
Saya hari ini berbicara sebagai gembalamu memberi beberapa prinsip. Pertama, Tuhan melarang orang percaya untuk menikah dengan orang yang tidak percaya. Gereja-gereja Injili tidak akan menikahkan pasangan seperti ini di depan altar memberkati pernikahan yang berbeda agama. Itu juga tidak akan saya lakukan di sini, sebab pada waktu dua orang menikah di depan altar, mereka sedang mengaku dipersatukan oleh Tuhan yang sama. Jadi saya mengambil pemikiran ini, entah saudara setuju dengan saya atau tidak, Tuhan memang melarang kita menikah dengan orang percaya tetapi Tuhan tidak melarang kita berpacaran dengan orang yang tidak percaya. Tetapi di dalam proses pacaran itu, saudara pasti berbicara mengenai feeling, mengenai value dan mau tidak mau juga bicara mengenai imanmu. Coba melalui relasi itu bikin dia mengerti mengenai iman kepercayaanmu kepada Kristus, bawa dia ke gereja, dsb. Maka sebelum saudara mengambil keputusan untuk menikah dengan dia, saudara harus yakin sungguh-sungguh dia sudah menjadi orang percaya juga. Dan yang terpenting saudara harus menaruh Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidupmu. Kalau akhirnya setelah beberapa lama dia tetap tidak terbuka hatinya untuk Tuhan, jangan berpikir setelah menikah suatu waktu mungkin dia akan menjadi percaya karena sulit untuk gambling seperti itu. Saudara harus terima fakta realita mungkin relationship itu tidak bisa jalan. Intinya pada waktu saudara memutuskan mau menikah, saudara yakin dan percaya pasanganmu sudah menjadi milik Tuhan. Kenapa hal itu penting? Saudara dan saya akhirnya harus mengakui – seperti yang Tuhan katakan- begitu kita masuk ke dalam satu pernikahan kita bersatu di dalam satu relasi yang begitu close, nilai-nilai kesamaan prinsip, agama, kepercayaan, itu merupakan faktor yang penting sekali. Kembali lagi saya ingatkan kalimat dari Leila Budiman, itu semua tidak menjadi persoalan selama tidak dibicarakan. Banyak orang mengambil sikap seperti itu. Melempar batu bukan lempar ke belakang tetapi lempar ke depan, dan someday dia akan menghadapi problem itu. Saudara dan dia punya problem di dalam pernikahan, istri pergi berdoa kepada Tuhan, suami pergi berdoa kepada dewanya. Saudara akan mengalami kesulitan-kesulitan bagaimana menyelesaikan problema di dalam kehidupan keluargamu. Saudara akan setuju bahwa cinta saja belum terlalu cukup untuk men-sustain relasi di dalam satu pernikahan. Tetapi kebanyakan orang waktu pacaran berpikir cinta romantik itu adalah hal yang terpenting. Tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, tidak masalah. Makan nasi dengan garampun cukup, tidur beralaskan koran tak apa asal cinta yang menaungi kita berdua. Saudara dan saya akan setuju, belajarlah dari orang-orang yang sudah menikah, mereka akan mengatakan begitu banyak aspek yang lain selain cinta. Salah satunya adalah sistem nilai kepercayaan kita merupakan faktor penopang yang penting. Itu sebab saya sangat rindu dan sangat mengharapkan mulai dari pacaran jangan lupa selalu bagaimana mempersiapkan diri memiliki kesamaan di dalam value. Pergi berbakti bersama, menyelesaikan persoalan dengan melihat prinsip kebenaran firman Tuhan merupakan faktor yang penting sekali.
Maka Paulus bicara keras di sini sebab banyak di antara jemaat Korintus yang tidak sensitif di dalam hal seperti ini. Jadi ini adalah section yang penting sekali. Kadang ada orang yang tidak taat, ini adalah fakta di dalam realita hidup. Cinta mungkin lebih besar dan kalau sampai tidak jadi dengan dia, tidak bisa dapat yang lain.
Banyak saudara yang di gereja juga tidak mau membuka kesempatan untuk satu relationship dengan sesama orang percaya. Kenapa? Kurang ganteng, kurang cantik? Saya meng-encourage saudara untuk membuka kesempatan itu. Kecantikan dan kegantengan itu sesuatu hal yang sangat relatif sekali. Kembali kepada firman Tuhan, saudara akan menemukan inner beauty kecantikan rohani itu yang lebih indah daripada kecantikan lahiriah. Bukankah suami istri yang menikah lebih dari 20 tahun akan mengakui bahwa pasangannya lebih cantik dan lebih ganteng daripada waktu baru kenal dulu? Tetapi bukankah itu melawan realita alam? Tetapi itulah kebenaran paradoks. Karena sering lihat, makin dilihat makin indah. Saudara melihat waktu dia melayani di gereja, waktu dia menmbimbing anak-anak sekolah minggu, saudara menemukan the other aspect of beauty. Jadi jangan terlalu cepat mematok sesuatu di dalam pikiran, cuma mau yang seperti apa, akhirnya tidak melihat yang lain. Lihat aspek tanggung jawabnya, kesungguhannya, dari cara berbicaranya, saudara akan menemukan keindahan yang luar biasa di dalam diri seseorang.
Yang kedua, jujur jawab pertanyaan saya ini, cantik itu sebenarnya ada di mana? Cantik itu ada di mata seseorang. Mata yang bersinar, mata yagn memancarkan semangat, mata yang memancarkan keteduhan, itu semua adalah kecantikan yang sangat menarik. Intinya, kecantikan itu punya aspek yang beragam. Alkitab mengatakan betapa indahnya wanita yang takut akan Tuhan, dia lebih berharga daripada permata. Setelah menikah lihat istri atau suami makin dekat bergaul kita akan menemukan aspek beauty yang lain di situ. Itu akan menjadi satu perekat dalam relasi sampai tua. Saudara akan menemukan kecantikan dan kegantengan itu merupakan aspek yang begitu kompleks. Pada waktu saudara ingin memulai satu hubungan yang serius di dalam pernikahan, kita taruh kriteria ini menjadi prinsip yang penting, Tuhan, aku mau mencari orang yang takut akan Tuhan, yagn mencintai Tuhan, yang melayani Tuhan dengan lebih baik, yang mengutamakan Tuhan lebih dari segala-galanya di dalam hidup ini. Saya percaya kalau saudara meletakkan prinsip ini lebih utama daripada yang lain, saudara akan menemukan keindahan dan kebahagiaan.
Maka Paulus menyadari hal ini dan memberikan firman Tuhan ini sebagai satu bijaksana alam, jangan menaruh kuk yang sama karena memang tidak compatible. Maka Paulus agak keras berbicara akan hal ini: bagaimana terang bisa bersatu dengan gelap? Bagaimana bait Allah bersatu dengan Belial? Saya percaya ini bagian yang sangat keras dari Paulus. Tetapi kita melihat aspek selanjutnya di pasal 7 Paulus mengatakan dia bersyukur melalui tegurannya yang sangat keras ini, jemaat Korintus akhirnya menjadi sadar.
Maka saya sebagai gembalamu berharap saudara berpikir seperti ini. Bagi para wanita, saudari mungkin takut untuk memulai untuk memperoleh pria yang serius, karena banyak wanita memiliki pria ideal di dalam pikirannya. Idealnya, you mau yang punya tanggung jawab, lucu, ganteng, dsb. Tetapi kalau saudara lihat di gereja ini ada pria yang mencintai Tuhan, rajin melayani, dsb, belajarlah untuk membuka relationship itu. Bagi orang tua yang karena di dalam masyarakat konsep wanita tidak menikah itu menjadi sesuatu yang tidak baik atau membuat malu, akhirnya memaksakan anaknya untuk menikah dengan siapa saja, saya harap jangan lagi menaruh konsep seperti ini. Prinsip yang harus kita pegang, Tuhan adalah yang terutama di dalam hidup kita. Kalau akhirnya tidak dapat dan tidak bisa ketemu dengan yang seiman, saudara akhirnya memutuskan tidak menikah, saya menghargai keputusan itu, daripada saudara akhirnya menikah dengan siapa saja. Menikah atau tidak menikah itu merupakan keputusan yang sangat penting. Tetapi sekali lagi melalui prinsip-prinsip ini saya harap saudara mencari yang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi Tuhan dan menjadikan dalam relasi saudara Tuhan menjadi yang terutama dan terpenting di dalam hidup ini
Sumber : http://www.griisydney.org