Anak Yang Dipercepat

24 12 2008

Sekolah telah tiba, ayo sekolah mari bergembira! Apakah kalimat ini menjadi refleksi dari wajah anak-anak kita saat mereka kembali ke sekolah? Ataukah justru sebaliknya, anak-anak merasa tertekan dan tidak bergembira saat kembali ke sekolah?

Kembali ke sekolah mungkin saja sudah tidak lagi menyenangkan dan menggembirakan bagi anak-anak. Bayangan akan berbagai tuntutan di sekolah baik dari orangtua maupun guru mereka membuat anak merasa sekolah hanya menjadi beban. Tuntutan untuk lebih cepat, paling baik, dan tidak boleh gagal mewarnai pikiran anak saat mereka kembali ke sekolah.

Anak-anak pada masa kini bertumbuh dalam tekanan untuk “lebih cepat”. Dalam banyak hal anak telah di”paksa” untuk mencapai dan mengalami pertumbuhan yang cepat. Lihat saja dari cara berpakaian anak-anak yang masih balita. Mereka berpakaian layaknya orang dewasa. Suatu kali, saya harus membeli oleh-oleh berupa pakaian bagi keponakan saya yang baru berumur 2 tahun. Saya menemukan hampir semua pakaian yang dijual bagi anak-anak usia tersebut adalah model pakaian orang dewasa yang dibuat dalam ukuran kecil. Anak-anak tampil layaknya orang dewasa. Siapakah yang paling senang melihat hal tersebut? Tentu saja orang dewasa itu sendiri.

Tekanan untuk bertumbuh lebih cepat ini terjadi dalam berbagai hal dalam kehidupan anak seperti dalam pendidikan, gaya pengasuhan, media, dan lain-lain. Dalam hal pendidikan khususnya, sistem di sekolah telah memperlihatkan bagaimana industrialisasi sekolah memberikan dampak bagi percepatan ini. Saat ini setiap sekolah sedang berlomba untuk memiliki ciri khas dalam dirinya yang dapat menjadi daya saing dalam persaingan antar sekolah saat ini. Semakin “internasional” suatu sekolah, semakin “inggris” bahasanya, semakin kompeten kurikulumnya, dan terutama tentu saja semakin mahal harganya adalah sekolah-sekolah yang paling dicari dan diinginkan. Ketika anak hendak memasuki sekolah-sekolah tersebut mereka layaknya orang yang sedang mencari pekerjaan, karena mereka harus mengalami tes dan wawancara penerimaan sekolah. Sekolah berhak menentukan apakah anak tersebut sesuai atau tidak dengan sistem sekolah mereka. Maka anak yang dianggap tidak cukup kompeten dan sesuai dengan sistem akan tersingkir.

Demikian pula dengan kurikulum sekolah yang ada sekarang di sekolah-sekolah telah berorientasi pada “produk” daripada prosesnya. Produk menentukan keberhasilan suatu sekolah. Anak-anak juara di tingkat nasional, internasional, olimpiade, telah menjadi kebanggaan bagi suatu sekolah untuk memamerkan kehebatan sekolah mereka. Maka sekolah membuat kurikulum yang mencetak anak-anak juara. Menurut David Elkind, kurikulum sekolah telah dibuat menjadi “assembly-line” atau dalam istilah bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pabrikan. Saat pabrik membuat mobil, mereka memiliki rangka kendaraan yang kemudian tinggal disatukan dan dijadikan sebuah mobil. Maka sebuah mobil dibuat berdasarkan rangka yang sudah dicetak berdasarkan modelnya.  Seperti halnya demikian, dalam kurikulum sekolah anak yang harus menyesuaikan diri dan mengikuti sistem bukan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Sampai disini kita dapat melihat bahwa tidak ada tempat bagi anak yang “terlambat”. Anak harus lebih cepat. Tidak ada tempat bagi anak yang tidak mampu, semua anak harus mampu. Tidak ada tempat bagi anak yang membutuhkan waktu, semua harus mencapai standar yang sudah ditetapkan sistem. Anak tidak boleh gagal, anak harus menjadi juara dalam dunia yang semakin cepat ini. There is no place for a loser.

Yang lebih menekan lagi bagi anak adalah ketika orangtua terpengaruh dengan sistem yang ada seperti ini. Ketika orangtua melihat dan merasakan cepatnya sistem yang ada di sekolah hanya ada satu hal yang ada di pikiran mereka yakni mereka tidak ingin anak mereka tertinggal dan kalah dalam persaingan dengan anak yang lain. Orangtua ingin anak mereka sama cepatnya dengan anak lain sehingga orangtua akan memberikan les tambahan, dan berbagai kursus singkat. Seorang anak dari teman saya pernah mengeluh kepada kakeknya, ” Kakek, aku tidak mau sekolah lagi. Capek!”. Ia membandingkan diri dengan kakeknya yang berangkat bekerja pada pukul 8 pagi dan sudah pulang pada pukul 6 sore. Anak itu sendiri berangkat sekolah pada pukul 6:30 pagi dan baru pulang pada pukul 7 malam hari setelah ia menghabiskan waktu dengan berbagai les dan kursus tambahan.

Siapakah yang paling tertekan dalam percepatan dunia seperti ini? Tentu saja jawabnya adalah anak-anak itu sendiri. Anak-anak kita berada dalam kondisi stres yang sangat tinggi. Anak-anak yang berpakaian, berpikir, dan bersikap seperti orang dewasa adalah anak yang sedang bermain peran. Mereka sedang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka sedang menjadi apa yang kita, orang dewasa inginkan mereka menjadi. Anak-anak kita sedang menutupi wajah mereka sendiri dengan berbagai topeng yang dikehendaki oleh sekolah, orangtua, dan lingkungan mereka.

Anak-anak kita mengalami dilema. Di satu sisi mereka sedang dipercepat oleh situasi yang ada di sekolah, di rumah, dan di lingkungan yang menuntut mereka untuk lebih cepat dewasa. Di sisi lain jiwa mereka adalah anak-anak.

Bagaimana sebaiknya? Yang harus diingat dan dimengerti dengan baik adalah bahwa anak membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan belajar. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita kecil kita belum mampu untuk berjalan dan kita membutuhkan waktu untuk mampu berjalan. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita belum mampu menaiki sepeda, kita membutuhkan waktu untuk belajar menaiki sepeda. Sama halnya demikian, anak-anak kita juga membutuhkan waktu untuk mempelajari berbagai hal dalam hidup mereka.

Perlakukanlah anak sebagai anak. Usahakanlah supaya kita sebagai orang dewasa dapat mengerti dan memahami kebutuhan mereka. Dalam dunia yang semakin cepat ini, bantulah mereka untuk memiliki hidup yang seimbang antara belajar dan bermain. Walaupun kita mau tidak mau harus mengikuti sistem pendidikan yang semakin cepat ini, usahakanlah mencari alternatif agar membantu anak tidak semakin tertekan untuk dipercepat.





Memilih Nama Buat Si Kecil

14 12 2008

Apa arti sebuah nama. Begitu kata pujangga besar Shakespeare. Tapi nyatanya, anak sering merasa risih dan rendah diri dengan namanya karena jadi bahan ejekan.

“Nama kamu jelek. Kampungan! Namaku, sih, keren,” ejek seorang anak pada anak lainnya. Mungkin hal demikian tidak pernah dipikirkan para orang tua saat memberi nama pada anaknya. Tapi yang terjadi kemudian, nama si anak justru jadi bahan ejekan. Bagaimana cara memilih nama yang tepat agar kasus di atas tak menimpa si anak?

Menurut Dra. Yulia S. Singgih dari UPT Pusat Bimbingan & Konsultasi Psikologi Univ. Tarumanegara, Jakarta, orang tua memilih nama anak sesuai harapannya. “Yang paling sering adalah memilih nama yang mempunyai arti sesuai harapan orang tua. Kalau tidak, mencontoh nama orang tertentu yang sukses, kaya, pintar, atau berbudi. Maksudnya, ya, agar anaknya nanti sekaya atau sepintar atau searif orang yang namanya ditiru tersebut.”

Apa pun nama yang dipilih, lanjutnya, didik atau arahkan si anak sesuai dengan namanya itu. “Jangan jomplang. Misalnya saja, si anak dikasih nama Einstein. Tapi nyatanya pendidikannya rendah, putus di tengah jalan, atau ia bodoh. Kan, jadi bahan ejekan saja nama tersebut.” Bisa saja anak itu sebenarnya pintar, tapi orang tua tidak memberi kesempatan berkembang. Akibatnya nama besarnya tadi tak sesuai dengan kondisi si anak.

Ejekan juga bisa terjadi jika namanya mencerminkan tokoh pemberani, Bima misalnya, ternyata anaknya cengeng dan penakut. “Walaupun kadang hal ini juga tidak disengaja oleh si orang tua. Tanpa sadar ia mendidik anaknya jadi penakut. Misalnya, sedikit-sedikit melarang anak hingga akhirnya anak malah jadi penakut.”

Jadi, semuanya tergantung pada pengarahan orang tua. “Bisa atau tidaknya ia meniru watak dari orang yang namanya ditiru tersebut, tergantung pada arahan orang tuanya.” Yang jelas, anak yang namanya menjadi bahan ejekan teman-temannya, akan merasa rendah diri, tak punya percaya diri, dan akhirnya tak suka dengan namanya sendiri. Tapi itu pun tak selalu demikian. Kalau ayah dan ibunya selalu mendorong, menyemangati, “Ia tak akan terpengaruh pada ejekan teman-temannya.”

Bagaimana jika ejekan itu menimpa anak kita dan si anak merasa terganggu? “Semangati anak bahwa dirinya tak seperti yang diolok temannya.” Jelaskan pula padanya, apa makna dari nama yang diberikan orang tua. Misalnya, “Namamu itu artinya bagus, lo. Ibu dan Ayah mencarinya susah payah.” Nah, dengan demikian anak pun merasa bangga dan tak malu lagi.

Persiapan Memilih Nama

Lakukan persiapan memilih nama sebelum kelahiran si kecil tiba.

* Kumpulkan sejumlah kamus, buku nama, atau kitab suci.

* Diskusikan dengan suami untuk menentukan pilihan nama yang sesuai dengan

harapan yang diinginkan pada anak. Bisa saja sang suami memilih dari kamus bahasa Sanskerta, sedangkan sang ibu memilih dari nama tokoh di kitab suci. Cocokkan pilihan tersebut agar klop.

* Jika tak terlalu yakin dengan pilihan yang dibuat, konsultasikan ke orang tua atau ahlinya, entah itu ke kyai atau pendeta/pastor.

* Tanya pula anggota keluarga lain kalau-kalau mereka ingin menyumbang nama. Misalnya, kakek-neneknya atau kakaknya. Diskusikan nama tersebut agar sesuai dengan makna yang diharapkan.

* Jangan memilih satu nama, tapi cari alternatif beberapa nama untuk mengantisipasi jika ternyata lahir anak kembar, dsb. Begitu juga untuk dua kelamin yang berbeda, nama anak lelaki dan nama anak perempuan.

* Cari nama yang sesuai jenis kelamin. Jangan sampai nama anak lelaki berbau feminin, sehingga membuka peluang untuk diejek teman-temannya kelak, serta membingungkan orang yang mendatanya.

* Saat memilih nama, tak ada salahnya sekalian memilih nama panggilannya. Misalnya untuk nama Maria dipanggil Ria, dsb.





Kisah Nyata : Berhati-hatilah Memarahi Anak!

5 12 2008

Ini adalah kisah tragis, dimana sebuah keluarga dalam satu hari kehilangan dua orang anaknya! Seorang anak mati kehabisan darah dan yang satunya mati terlindas mobil. Sebuah keluarga bahagia dengan 2 orang anak, yang bungsu adalah laki-laki berumur 3 tahun dan yang sulung adalah perempuan berumur 5 tahunan. Keluarga tersebut mempunyai seorang Pembantu/Pengasuh yang bekerja dan tinggal di rumah mereka.

Setiap keluarga didunia ini pasti mempunyai cara-cara tertentu yang menjadi kebiasaan dalam memberikan pengertian kepada anak-anak mereka entah itu dalam hal tindakan, contoh-contoh atau ucapan-ucapan saat memberikan “ancaman” agar menghentikan prilaku-prilaku yang tidak dikehendaki. Untuk keluarga ini, terlontar kata-kata: “Kalau ngompol terus, nanti dipotong tititnya!” Mungkin kata-kata tersebut sering terlontar dari mulut seorang pembantu/pengasuh (atau bahkan mungkin orang tuanya) ketika memarahi/menghukum/mengancam anak laki-laki yang masih berumur 3 tahunan.

Suatu ketika, pembantu/pengasuh tersebut pergi sebentar membeli sesuatu dan meninggalkan ke-2 anak majikannya di rumah dan anak lelaki kecil itu ditinggalkan dalam keadaan tertidur. Ketika si adik mengompol dalam tidurnya, Si kakak seketika mengambil pisau dan memotong titit si adik. Akibatnya darah segera mengucur tidak ada henti dari titit adiknya. Saat si pembantu datang, dan mengetahui hal ini maka bukan main shoknya Ia!

Ia segera melaporkan kejadian ini kepada majikannya. Sementara si kakak, karena takut dimarahi, Ia sudah lari bersembunyi. Ketika si orang tua melihat kondisi si bungsu, dengan darah berhamburan kemana-mana, maka paniklah Ia! Saat itu tidak ada satupun urusan dimuka bumi ini yang hendak dilakukannya kecuali segera membawa si bungsu ke rumah sakit! Dengan segera ia mengambil kunci mobil dan mengangkat si Bungsu kedalam mobilnya, menghidupkan mobil dan segera tancap gas untuk dibawa kerumah sakit.

Si kakak yang sangat ketakutan atas perbuatannya, saat itu, justru tengah bersembunyi di kolong mobil….terlindas dan mati seketika itu juga!. Sungguh mengenaskan!!! Makanya untuk yang menjadi orang tua sebaiknya memberikan ucapan-ucapan yang baik meskipun dalam memarahi anak seemosional-emosionalnya tetap harus diperhatikan. Apalagi didikan yang tidak baik justru menjadikan si anak salah persepsi. Semoga tidak terjadi pada anak Anda!





Trauma Masa Kecil & Masa Depan Anak

30 11 2008

Banyak perempuan bertahan dan mempertahankan perkawinannya karena pertimbangan akan masa depan anak, walaupun dari perkawinan itu sendiri perempuan tidak memperoleh haknya akan kebahagiaan diri.

 

Sampai hari ini, setelah hidup bersama sebagai istri selama 27 tahun, saya tidak pernah merasakan apa arti hidup bahagia.

 

Memang dari segi materi dapat dikatakan cukup berlimpah, tetapi dari segi mental saya benar-benar terpuruk. Kecuali perlakuannya terhadap saya, suami saya pun tidak peduli akan kebutuhan kehangatan kasih yang saya dambakan. Kalaupun saya bertahan dalam perkawinan ini hanyalah karena ketiga anak saya.

 

Suami saya memang pengusaha yang berhasil, tetapi dia sangat egois dan kalau bicara atau berkomentar seenak sendiri, sama sekali tidak memerhatikan perasaan orang lain, apalagi terhadap saya dan anak-anak. Yang amat saya sesali adalah dia begitu kejam terhadap anak laki-laki nomor satu. Sejak sekitar usia dua tahun setengah kalau anak nakal (yang sebetulnya kenakalan biasa atau agak rewel saat tidak enak badan), maka tanpa segan anak disabet dengan lidi sampai badannya bilur-bilur. Saat anak itu sekitar usia tiga tahun, tiba-tiba anak itu menjerit menangis keras dengan suara ketakutan. Waktu itu saya sedang menyusui adiknya yang baru usia tiga minggu. Saya bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi, Bu.

 

Anak itu disiram air dan sedang diangkat akan dimasukkan ke bak mandi. Hal itu terjadi pada sekitar pukul tujuh malam. Ia rewel karena mengantuk dan suami saya terganggu konsentrasinya, sementara dia sedang menyelesaikan pembukuan perusahaan kami.

 

Anak itu langsung saya rebut dari tangannya. Saya sedih, Ibu, karena sejak saat itu anak pertama saya tersebut takut sekali bila didekati ayahnya.

 

Apalagi saat anak menjelang remaja, semakin kejam pula cara ayahnya menghukum. Anak disuruh berdiri menghadap tembok dan dipukul dengan ikat pinggang beberapa kali, sambil dicaci maki dengan kata-kata kasar, seperti anak bodoh, goblok, tolol.

 

Sedih saya, Bu, bila mengingat bagaimana anak saya dihukum ayahnya. Sebenarnya saat suami saya sedang tenang, saya sering menyarankan untuk tidak menghukum anak pertamanya dengan cara kejam seperti itu, tetapi dia selalu berdalih bahwa tanpa digembleng dengan keras dan kejam seperti itu, anak itu akan manja dan tidak bisa kerja.

 

Akibat hukuman tersebut, anak saya jadi pendiam, kurang berani, kurang inisiatif. Kecuali itu, rupanya diam-diam anak tersebut juga dendam terhadap ayahnya sehingga sampai saat ini (usia 26 tahun) selalu menghindarkan diri dari komunikasi dengan ayahnya.

 

Ia pun sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan ayahnya. Saya khawatir, karena siapa lagi yang akan menggantikan ayahnya meneruskan perusahaan yang sudah sedemikian besar bila bukan anak itu. Saya bingung, tetapi tidak tahu mau berbuat apa, sementara semakin tua karakter suami saya semakin tidak menyenangkan.” Demikianlah keluhan Ny D (53).

 

Analisis

Dari ungkapan Ny D, sebenarnya ada dua masalah yang diutarakan. Yang pertama adalah masalah kehidupan perkawinannya yang sama sekali tidak membuat Ny D merasa bahagia karena cara suaminya berkomunikasi tidak membuatnya merasa nyaman, bahkan sering merasa terpojok dan terdiam seribu basa.

 

Persoalan kedua adalah masalah anak sulungnya yang sangat membenci ayahnya dan menghindari komunikasi dengan ayahnya, padahal dialah satu-satunya pewaris perusahaan keluarga di kemudian hari karena kedua anak lainnya perempuan.

 

Pola asuh yang diterapkan Tn D terhadap anaknya adalah dominan, otoriter, keras, dan kejam. Anak akan menderita pengalaman traumatis oleh perlakuan ayah dan menyisakan luka batin mendalam.

 

Ada dua kemungkinan sikap mental eksesif yang akan berkembang oleh pengalaman traumatis masa kecil anak:

(1). Bila pada dasarnya anak berwatak keras, ia pun kelak akan meniru dan menjadikan karakter ayahnya sebagai bagian dari dirinya. Ia akan menjadi orang yang berkepribadian dominan, keras, bahkan sadis-agresif dan tidak mampu berkompromi dengan lingkungan.

(2). Bila pada dasarnya dia berwatak lemah, ia akan menjadi berkepribadian submisif, cenderung menempatkan diri di bawah otoritas orang lain, tidak berani berkata ”tidak” (tidak asertif), terkesan menunggu inisiatif orang lain, bahkan tidak berani mengambil keputusan, baik bagi lingkungannya maupun bagi dirinya sendiri.

Apa pun reaksi eksesifnya, kedua peluang perkembangan kepribadian yang eksesif tersebut tetap akan menyisakan rasa dendam kesumat, kebencian yang intens terhadap ayahnya.

 

Perbedaannya, pada reaksi eksesif yang pertama, dendam kesumat dimunculkan dalam perilaku agresif-sadistis pada lingkungan. Anak akan dengan mudah terpicu mengungkap reaksi agresif yang terkadang destruktif.

 

Sementara reaksi eksesif yang kedua muncul dalam bentuk sikap tidak berani ambil inisiatif, tetapi bersifat pasif-agresif, yaitu sikap diam, tetapi bergeming, artinya bertahan pada sikap perlawanan tidak tergoyahkan, kaku, dan tidak fleksibel.

 

Makian, cercaan menyakitkan hati, dan merendahkan harga diri anak, apalagi disertai hukuman fisik yang berlebihan, hanya akan menyisakan dendam kesumat eksesif terebut di atas kemudian hari. Jadi, mengapa kita tidak mencari tahu tentang cara menghukum anak yang bersifat mendidik?

 

Sumber : Kompas





7 Jangan Bagi Lelaki Agar Bisa Punya Anak

8 11 2008

Mandi Air Panas, Sauna Dan Pakaian Ketat

Kesuburan lelaki berada dalam keadaan baik bila dijaga dalam temperatur yang tidak terlalu tinggi, beberapa derajat lebih rendah dari suhu tubuh normal. Mandi air terlalu panas dan memakai celana terlalu ketat atau sintetis akan membuat testis menjadi panas dan mempengaruhi produksi sperma.

Naik Sepeda

Penelitian dari University of Sounthern California membuktikan bahwa tekanan terus-menerus dari sadel sepeda bisa merusak arteri dan saraf yang terdapat pada penis. Pilih sadel sepeda yang ergonomis untuk menghindari tekanan seperti ini.

Stres

Studi dari Departemen Fisiologi, Medical College of Ohio menunjukkan bahwa stres kecil dapat membuat kadar testosteron lelaki dan sperma yang dihasilkan menjadi menurun.

Kecelakaan Di Tempat Kerja

Terkena radiasi dan bahan kimia dapat merusak dan menurunkan produksi sperma, serta menyebabkan kerusakan genetik pada anak-anak. Demikian hasil riset Mcgill University di Montreal, Kanada.

Pengobatan Tertentu

Tanyakan pada dokter Anda akibat pengobatan yang sedang dijalani pada fungsi seksual. Banyak pengobatan termasuk tekanan darah tinggi, kanker bahkan infeksi bakteri dapat menyebabkan masalah kesuburan dan penurunan produksi sperma.

Merokok

Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan bahwa pada lelaki perokok memproduksi sperma lebih sedikit. Lebih baik hentikan kebiasaan ini karena istri dan anak yang dikandung akan menjadi perokok pasif.

Makanan Tidak Sehat

Hindari makanan tidak sehat, ganti dengan banyak sayur, buah, biji-bijian, susu dan daging tanpa lemak. Dengan demikian Anda akan cukup sehat untuk menjadi seorang ayah.

Sumber : http://www.jawaban.com/








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.