Batasan Mencampuri Rumahtangga Anak

27 12 2008

Tak pernah diduga bahwa Tina, anak kedua Pak Darma dan Bu Darma, mengalami badai besar dalam rumahtangganya. Hal ini baru diketahui  sejak Tina lari ke rumah mereka. Sampai seberapa jauh orangtua boleh mencampuri rumahtangga anaknya?

Tina sempat tinggal tiga hari bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil di rumah orangtuanya, dan baru kembali ke rumahnya sendiri setelah dijemput Rico, suaminya. Dalam keluhannya tersirat adanya  keinginan untuk bercerai dari Rico.

Tina sudah tidak dapat lagi mentolerir kelakuan suaminya itu. Rico yang selama ini dinilai sudah berubah menjadi lebih dewasa, ternyata masih melakukan perbuatan-perbuatan yang menyiksa dan menyakitkan bagi Tina.

Bukan hanya itu. Pengorbanan Tina yang ikut membanting tulang bekerja dengan meninggalkan dua anak yang masih kecil-kecil, membuat Rico makin berfoya-foya memanfaatkan hasil keringat Tina.

Pak dan Bu Darma sangat terpukul, dan sebagai orangtua tidak dapat tinggal diam. Belum pernah terjadi di lingkungan keluarga besar mereka isteri sampai harus lari pulang ke rumah orangtuanya karena bertengkar. Kejadian ini dinilai sangat serius dan memukul perasaan Pak dan Bu Darma.

Selama berhari-hari Bu Darma tidak dapat tidur nyenyak. Dan asma yang tidak pernah muncul lagi selama bertahun-tahun, sejak itu kambuh kembali. Derry, kakak Tina, berusaha menenteramkan ibunya dengan berbagai nasihat. Tapi Bu Darma tidak terhibur, karena ia tahu bahwa mereka tidak dapat berbuat banyak walaupun ingin sekali agar Tina bisa lepas dari suaminya.

Boleh khawatir

Tina bukan anak yang suka dicampuri dalam urusan pribadinya, apalagi kehidupan rumahtangganya. Pak dan Bu Darma sangat prihatin memikirkan nasib kedua cucu mereka. Mereka khawatir kedua anak itu akan terganggu perkembangannya kalau terus menerus berada di lingkungan orangtua seperti Tina dan Rico.

Itu sebabnya dalam membahas masalah Tina, Pak dan Bu Darma selalu tiba pada kesimpulan bahwa mereka harus mencari seorang ahli yang dapat membantu mencarikan jalan keluar yang menguatkan perceraian Tina dan Rico.

Ingin rasanya Bu Darma mengorbankan apa pun untuk memisahkan Tina dari Rico. Anak perempuan yang sejak kecilnya begitu lincah dan sangat cerdas harus menghadapi kehidupan yang begitu menyedihkan di dalam rumahtangganya. Tetapi apa yang dapat diharapkan dari penderitaan Bu dan Pak Darma?

Betapa pun cemas dan sedihnya mereka, kemungkinan untuk membujuk, menasihati, apalagi menganjurkan sesuatu agar Tina dapat keluar dari penderitaannya, agak mustahil. Tina akan mencoba bertahan dan menolak untuk dikasihani, karena pada dasarnya Tina masih mencintai Rico.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan Pak dan Bu Darma untuk mengurangi penderitaan Tina agar dengan begitu mengurangi pula penderitaan mereka?

Tidak Berhak

Orangtua di mana pun tak pernah rela menyaksikan anaknya menderita, meskipun anak telah menjadi ‘milik’ orang lain karena menikah dan memiliki kehidupannya sendiri. Kebahagiaan anak menjadi kebahagiaan dan kebanggaan orangtua, dan sebaliknya. Demikian pula perasaan Pak dan Bu Darma.

Kalau anak-anak masih kecil dan semua kebutuhannya harus dipenuhi oleh orangtua, maka orangtua masih berhak mengatur dan mengarahkan anak-anaknya. Tetapi kalau orangtua sudah melepaskan anaknya untuk membangun kehidupan bersama pasangannya, orangtua harus mampu menerima kenyataan bahwa mereka sudah tidak berhak mengatur seluruh aspek kehidupan anaknya.

Membantu mengatur, apalagi ikut campur (meski dengan maksud baik), justru seringkali mendatangkan kekecewaan pada orangtua, karena anak belum tentu dapat menerimanya dengan baik. Kebanyakan anak yang sudah berumahtangga tidak ingin dicampuri oleh orangtuanya dalam menghadapi masalah, apalagi menyangkut hubungan suami isteri.

Hanya Menampung Keluhan

Mengatasi penderitaan orangtua akibat ikut merasakan penderitaan anaknya, bukanlah dengan cara ikut menyelesaikan masalah anaknya. Jika mendatangi orang ‘pintar’ atau orang yang profesional, mestinya bukan untuk membicarakan masalah anaknya dan meminta orang-orang itu menyelesaikan masalah anak.

Kunjungannya kepada seorang ahli mestinya justru untuk mendapatkan bantuan bagaimana mengatasi persoalan mereka sebagai orangtua. Keinginan membantu anak menyelesaikan persoalannya sebetulnya lebih didorong oleh keinginan orangtua untuk mengatasi masalah emosional orangtua sendiri.

Artinya, kunjungan Pak dan Bu Darma ke psikolog seharusnya dimanfaatkan untuk mengatasi masalah emosional mereka sendiri, bukan untuk menyelesaikan masalah Tina dan Rico. Kalau pun anak dan menantunya memerlukan bantuan ahli (konselor perkawinan), kesadaran dan kebutuhan itu harus muncul dari mereka berdua.

Tanpa kesadaran bahwa ada masalah dalam perkawinan mereka, tanpa tekad untuk menyelesaikannya dengan cara yang baik dan benar, tak ada orang lain yang dapat menyelesaikan persoalan ini. Termasuk  Pak Darma dan Bu Darma.

Memang menyakitkan, tetapi itulah kenyataan. Betapa bahagianya seandainya Tina membuka diri dan meminta bantuan atau nasihat orangtuanya. Itu pun Pak dan B Darma hanya boleh menampung keluhan dan menganjurkan Tina dan Rico mengunjungi orang yang tepat. Jadi, bukan memberi anjuran, saran atau jalan keluar menurut versi Pak Darma dan Bu Darma sendiri, karena jelas sudah sangat emosional.





10 Sinyal Suami Tengah Mendua

1 11 2008

Menjaga keutuhan rumah tangga memang bukan hal mudah. Banyak gangguan dan cobaan yang bisa mengganjal, salah satunya suami menjalin hubungan dengan wanita lain. Bagaimana cara mengendus “affair” suami?

Hobi bersolek, sering pulang telat dari kantor dengan alasan meeting, atau mendadak cuek adalah beberapa sinyal yang biasanya muncul manakala seorang suami tengah “lupa diri” dan bersikap mendua. Beberapa hal di bawah ini sebaiknya Anda waspadai sebagai sinyal suami tengah berhubungan dengan wanita lain.

1. Mendadak acuh
Suami mendadak acuh dan tak lagi memerhatikan Anda. Ia lebih mementingkan diri sendiri, akhir pekan pun ia habiskan untuk urusan lain yang bahkan anggota keluarga pun tak boleh tahu. Ia seolah tak lagi peduli pada istri dan keluarga. Komunikasi terhambat, omongan Anda sebagai istri pun tak pernah ia gubris. Bila ini terjadi, hati-hati. Biasanya, suami yang mendadak bersikap seperti ini tengah mencurahkan perhatiannya pada wanita lain, sehingga keberadaan Anda sebagai istri seolah seperti angin lalu saja.

2. Jadi romantis
Yang ini kebalikan dari yang di atas. Bila selama ini suami bersikap biasa-biasa saja, mendadak ia jadi sangat romantis. Jangan senang dulu. Sebaliknya, Anda selayaknya curiga. Siapa tahu ini hanya untuk menutupi perbuatannya di luar dengan wanita lain agar tidak tercium oleh Anda. Coba amati tingkah lakunya sehari-hari. Lambat laun pasti akan terlihat, apakah romantisme yang ia tunjukkan itu memang keluar dari lubuk hatinya atau sekadar kedok belaka.

3. Malas berhubungan intim
Hubungan intim bagi pasangan suami-istri tentu sangat penting. Anda patut curiga jika suami belakangan malas berhubungan intim dengan Anda lagi tanpa alasan jelas. Padahal, selama ini suami tidak punya keluhan dan rutin melakukannya. Bagaimana pun hubungan biologis merupakan kebutuhan utama pasangan suami-istri. Jadi, bila suami tidak lagi pernah mengajak Anda berhubungan intim lagi, jangan anggap sepele. Siapa tahu ada wanita lain, sehingga ia tidak lagi tertarik pada Anda.

4. Selalu ceria
Jatuh cinta berjuta rasanya, begitu bunyi sepenggal syair lagu. Biasanya, orang yang tengah jatuh cinta memang akan selalu tampak bahagia. Tak ada asap tak ada api, ia berdendang, padahal biasanya bersiul pun enggak. Apalagi kalau setiap hari lagu yang ia dendangkan lagu bernapaskan cinta. Sebaiknya Anda curiga. Dari gerak-geriknya, Anda akan bisa membaca bahwa ia rupanya sedang kasmaran alias jatuh cinta.

5. Jadi pesolek
Mendadak, suami hobi memakai parfum berlebih. Ia juga rajin mematut-matut diri di depan cermin setiap saat, padahal sebelumnya boleh dibilang ia sangat abai pada penampilannya. Pokoknya, ia berubah jadi pria pesolek, genit. Sikap ini bisa Anda cermati sebagai kemungkinan adanya hubungan lain yang tengah dijalin suami. Tak ada salahnya Anda menanyakan apa yang sebetulnya sedang terjadi.

6. Penampilan berubah
Biasanya, pria yang sedang jatuh cinta sangat suka mengubah penampilannya, mulai penampilan rambut, bentuk tubuh, baju, dan sebagainya. Pokoknya apa saja, yang penting ia bisa menarik perhatian wanita yang ia taksir. Nah, bila perubahan ini muncul pada suami, sebaiknya berhati-hati. Bisa jadi, ini merupakan pertanda ia sedang dimabuk cinta.

7. Suka Bohong
“Benar Ma, Papa ada meeting di kantor,” begitu selalu alasan suami setiap kali ia pulang telat. Dan jika belakangan suami hobi pulang telat dengan alasan yang tidak masuk akal atau yang itu-itu saja, bersiap-siaplah. Sangat mungkin ada sesuatu yang tengah terjadi pada suami, dan kemungkinan itu bisa saja wanita kedua. Nah, bila suami belakangan banyak berbohong dengan alasan yang dibuat-buat dan tidak masuk akal, bisa jadi ini sinyal bahwa suami tengah mendua.

8. Jauhkan ponsel
Yang akan makin memperkuat kecurigaan adalah mendadak suami melakukan banyak perubahan, dari sikap hingga kebiasaan. Jika biasanya ponsel ia letakkan di mana saja, belakangan ia selalu menjauhkannya dari jangkauan Anda. Jika ponsel berdering, buru-buru ia mengangkatnya. Jika kebetulan Anda yang mengangkat, ia memasang muka tak senang atau malah marah. Begitu pun dengan dompet. Benda ini biasanya ia geletakkan di sembarang tempat, tetapi kini sepertinya ada sesuatu yang disimpan di dalamnya. Perubahan-perubahan di atas itulah yang perlu Anda cermati pada suami.

9. Hobi melamun
Seseorang yang sedang jatuh cinta biasanya suka melamun. Membayangkan seseorang di seberang sana. Tidak kenal waktu dan tidak peduli orang di sekelilingnya. Ia tidak menyadari, sudah 2 jam melamun di depan televisi sambil tersenyum-senyum. Bila ini terjadi sekali dua kali sih mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau ini dilakukan hampir setiap hari, sebaiknya Anda minta ia berterus-terang apa yang sebetulnya tengah terjadi. Bisa jadi, ia tengah melamunkan seseorang.

10. Gampang marah
Hal lain yang menguatkan kecurigaan bahwa suami tengah menjalin hubungan dengan wanita lain adalah jika suami mudah sekali emosi. Masalah kecil saja bisa menjadi besar. Ia juga jadi sulit diajak berdamai, maunya ribut terus. Yang lebih mengejutkan, bila marah, tak cuma suaranya yang keras, namun juga mulai kasar. Padahal, sebelumnya tak pernah ia lakukan. Jangankan memukul, marah saja jarang, kok.





Rumah Tangga Harmonis Berkat Komunikasi Efektif

30 10 2008

Alasan kurang komunikasi seringkali dituding sebagai alasan dari banyak kasus perceraian yang terjadi antara pasangan suami istri (pasutri).

Kedua belah pihak pasangan saling berebut sibuk diluar rumah tanpa perduli dengan keadaan didalam rumah. Mereka juga tak lagi perduli dengan kehangatan situasi pernikahan mereka. Padahal salah satu tujuan dari pernikahan ialah kebahagiaan didalamnya.

Psikolog Klinis asal Amerika Serikat Neil Clark Warren dalam buku Learning To Live With the Love Of Your Life mengungkapkan, untuk memiliki komunikasi yang baik dalam pernikahan ialah fokuskan perhatian pada pasangan saat tengah barbincang.

Sebenarnya, waktu singkat sekitar lima menit dapat digunakan dengan efektif untuk menunjukkan perhatian dengan menanyakan keadaan masing-masing pada pasangan suami istri.

“Apabila Anda bertemu dengan pasangan, tanyakan keadaannya hari itu dan berfokuslah pada jawaban itu,” ujar Neil.

Neil juga mengungkapkan, pasutri bisa mengusahakan agar komunikasi mengalir lancar dengan dengan melakukan suatu kegiatan bersama-sama. Hal itu diyakini dapat digunakan pasutri untuk berbagi dalam menggali suatu pokok permasalahan secara mendalam yang biasanya tidak diperhatikan.

Psikolog Ratih Ibrahim mengakui, salah satu masalah klasik yang sering dihadapi oleh pasutri ialah kurang efektif waktu berkomunikasi. Bisa saja terjadi pasutri memiliki waktu berbincang yang cukup, namun pesan yang disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik. Hal tersebut mungkin terjadi apabila salah satu atau kedua pihak perhatiannya terbagi dengan hal lain.

Dia mengharapkan, setiap pasutri memiliki rasa tanggung jawab untuk mempertahankan pernikahannya. Sehingga setiap permasalahan bisa dihadapi bersama melalui proses. Bisa dengan memilih cara dari suami atau istri, atau saling menyesuaikan.(berbagai sumber/ri)

Tips

Psikolog Neil Clark Warren yang telah berpengalaman sebagai konseling perkawinan memberikan lima tips berikut untuk memperbaiki komunikasi dalam pernikahan:

  • Saat bertemu dengan pasangan, tanyakan keadaannya danfokus pada jawaban itu. Berdasarkan inti jawabannya, ajukan dua hingga tiga pertanyaan lain selama kurang lebih lima menit. Tunjukkan Anda sungguh-sungguh menaruh perhatian.
  • Di sore hari, ketika Anda lelah karena tugas sehari-hari, beristirahatlah sejenak dan kemudian ambil waktu untuk menyegarkan hubungan kembali.Suami istri perlu bersama-sama meluangkan waktu setengah jam setiap petang untuk membuat mereka lebih dekat. Dengancara ini mereka dapat saling memperhatikan dan mendiskusikan banyak hal untuk menjauhi semua tekanan maupun tuntutan dunia.
  • Kirimkan sepucuk surat atau berikan hadiah kecil kendati tidak ada alasan khusus. Kadang-kadang komunikasi timbul melalui tulisan singkat atau hadiah kecil yang menunjukkan perhatian pada sesuatu yang penting.Yang dibutuhkan hanyalah setangkai bunga mawar, sebatang coklat atau sebuah memo kecil, atau apa saja yang bisa menyertai bisikan yangkeluar dari lubuk hati yang dalam.
  • Upayakan komunikasi itu mengalir. Buatlah jadwal dan lakukan aktivitas yang melibatkan waktu bersama-sama, misalnya kegiatan olah raga.Gunakan waktu itu untuk menggali secara mendalam suatu pokok persoalanyang pada umumnya tidak mendapat perhatian.
  • Jika pasangan tengah bermasalah, Anda harus memberi perhatian yang seksama. Tatkala terjadi masalah, itulah waktu yang tepat untuk menjadi sahabat dari orang yang paling Anda kasihi. Pada saat-saat seperti itu, pikiran dan perasaan muncul ke permukaan dan perlu diungkapkan.

Sumber : Republika





Seperti Apa Perkawinan Anda Kelak?

8 10 2008

Seperti apa perkawinan Anda kelak? Semua bisa dilihat sejak dini, antara lain dari kedekatan calon suami dengan orangtuanya.

Seberapa dekat pasangan Anda dengan orangtuanya? Apakah dia selalu membicarakan mereka dengan kehangatan atau hampir tak pernah bercerita? Apa pun jawabannya, penting Anda ketahui. Menurut Rebecca Ward M.S.W., dalam bukunya How to Stay Married Without Crazy, hubungan calon suami dengan orangtuanya merupakan salah satu pengaruh paling besar dalam perkawinan nanti. Bahkan, hal itu bisa memberi petunjuk seberapa baik dia beradaptasi dalam perkawinan.

Menurut para psikolog, 85% lelaki jatuh cinta pada 1 dari 2 tipe ekstrim ini, yaitu perempuan dengan karakter mirip orangtua si lelaki atau jauh berbeda dari orang tuanya. Jika pasangan Anda tidak berada di dua tipe tersebut, carilah yang paling dekat.

Persatuan Dua Tradisi
Kalau pasangan:

– Sering menelepon ibunya tanpa perlu Anda ingatkan.
– Tersenyum ketika cerita tentang ibunya.
– Membela sang ibu jika Anda menjelekkannya.

Artinya: Pasangan memiliki hubungan istimewa dengan ibunya. Namun, ia tak keberatan punya hubungan spesial dengan perempuan lain, yaitu Anda. Pengertian Anda akan hubungan istimewa mereka bisa membuat calon ibu mertua merasa Anda adalah perempuan yang cocok mendampingi anaknya.

Perkawinan Anda kelak: Akan jadi sebuah persatuan tradisi (tradisi sang ibu mertua dan tradisi Anda sendiri). Konflik pasti ada. Namun, Anda akan bahagia jika menyadari dan siap bahwa sesekali pasangan akan membandingkan Anda dengan sang ibu. Tenang saja! Setelah beberapa tahun rumah tangga berjalan, perbandingan itu akan pudar dan akhirnya hilang sama sekali. Lagipula, lelaki yang sayang dan hormat pada ibunya, tentu akan menghargai perempuan lain dalam hidupnya.
Patriarki
Kalau pasangan:

– Selalu bercerita tentang ayahnya dengan bangga.
– Sering meminta saran ayah.
– Mencoba bersikap seperti sang ayah.

Artinya: Pasangan akan menjadi suami dan ayah yang baik. Memang ia akan banyak meniru sang ayah bagaimana memperlakukan istri dan anak-anaknya. Namun, jika calon ayah mertua Anda memiliki perkawinan yang bahagia, Anda tentu beruntung. Pasangan pasti juga ingin memperlakukan Anda seperti sang ayah membahagiakan ibunya.

Perkawinan Anda kelak: Kadang diwarnai pertengkaran, meski Anda dan pasangan saling mencintai. Terlebih, jika pengaruh si ayah sangat kuat. Memang tidak menyenangkan jika ayah mertua selalu ikut campur, termasuk dalam urusan rumahtannga Anda. Namun, jangan khawatir! Dalam hubungan jenis ini, akhirnya keinginan istrilah yang akan menang dan dituruti.
Anda Adalah Bos
Kalau pasangan:

– Jarang bicara tentang ibunya.
– Baru akan menelepon sang ibu setelah Anda suruh
– Membiarkan Anda bicara banyak saat bersama ibunya.

Artinya: Anda tak perlu cemas akan bersaing dengan ibunya. Pengaruh sang ibu tidak dominan dalam kehidupan pasangan. Bahkan, dia mungkin senang karena Anda tak bersikap seperti ibunya.

Perkawinan Anda kelak: Seperti partnership. Memang kadang Anda tidak setuju dengan pasangan. Namun, secara keseluruhan Anda dan dia akan saling menyenangkan. Hindari bersikap seperti sang ibu memperlakukan pasangan. Sebab, dia bisa marah pada Anda.
Tim Kompak
Kalau pasangan:

– Jarang menyinggung soal ayahnya.
– Tidak bisa mengobrol banyak dengan sang ayah.
– Baru mengunjungi ayahnya jika Anda menyarankan acara kumpul bersama keluarga.

Artinya: Anda berada pada posisi setara dengan pasangan. Apalagi jika dia juga tidak dekat dengan ibunya. Dia akan respek pada pendapat Anda melebihi opini siapa pun.

Perkawinan Anda kelak: Seperti sebuah tim. Lelaki yang bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam perkawinan adalah yang dapat mengatur hidupnya tanpa campur tangan ayah atau ibunya. Nilai plusnya, pasangan mungkin akan ingat semua sifat ayahnya yang tidak ia sukai dan berusaha melakukan kebalikannya. Jika ayah cenderung jauh dari anak, maka dia akan berusaha menjadi ayah yang terlibat dalam hidup anaknya. Yang harus Anda lakukan adalah manjakan pasangan dan biarkan dia memanjakan Anda. Anda berdua sangat mandiri hingga kadang lupa betapa menyenangkan jalan bersama.

Sumber : Kompas





10 Resep Membuat Suami Betah di Rumah

16 09 2008

Membuat suami betah di rumah memang harapan setiap isteri. Kalau tak tahu resepnya, maka suami akan lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang bersama isteri dan anak-anaknya. Nah, setelah mendengar pendapat dari para suami, inilah ringkasannya:

  • Rumah bersih
    Para suami sepakat ketika pulang kantor dan mendapatkan rumah dalam keadaan bersih, maka suasana hati pun menjadi nyaman. Beda jika melihat keadaan rumah porak poranda seperti kapal pecah, maka kepala jadi pusing dan memicu kemarahan.
  • Isteri bersih dan menarik
    Akan lebih baik kalau isteri berpenampilan menarik. Tidak menor tetapi juga tidak memakai daster atau baby doll melulu. Anak-anak juga perlu dijaga penampilannya, tidak kusut dan awut-awutan.
  • Makanan enak
    Alasan ini disepakati oleh para suami. Kalau makanan tak enak, maka suami cenderung makan diluar. Makanan enak tak harus mahal tetapi bisa juga murah asal sesuai dengan selera suami.
  • Tidak ada ketakutan & kecemburuan
    Tidak adanya ketakutan pada isteri ketika telat pulang ke rumah atau isteri yang mengomel ketika suami pulang dari kantor akan membuat suami merasa “welcome” di rumah mereka sendiri.
  • Tidak ada pertengkaran
    Para suami juga sepakat jika ada masalah dengan isteri harus diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hal ini menghindari efek buruk di hari-hari berikutnya yang membuat suami malas berlama-lama di rumah.
  • Isteri peduli
    Di balik kekuatan seorang pria, mereka membutuhkan perhatian dari pasangannya. Suami akan merasa senang jika sesekali isterinya bertanya tentang pekerjaannya di kantor dan memuji keputusan-keputusan yang diambilnya.
  • Cinta isteri
    Yang pasti alasan inilah yang membuat para suami betah di rumah, isteri yang selalu menyenangkan suaminya akan semakin cinta dan membuat para suami ingin selalu berada di dekat isteri dan keluarganya sepanjang hari.
  • Tidak dibebani dengan tugas-tugas rumah tangga
    Para suami juga sepakat untuk membagi tugas rumah tangga dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Bayangkan saja, bagaimana jika setiap hari sepulang kantor, suami masih dituntut untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, atau mencuci pakaian karena tidak ada yang melakukannya di rumah. Wah…bisa pusing tuh…







Follow

Get every new post delivered to your Inbox.