Komputer bisa bikin mati rasa

1 09 2008

Komputer memang sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat modern. Bahkan fungsi multimedia yang banyak memberikan kemudahan, membuat orang tidak bisa berlama-lama jauh darinya.

Keyboard dan mouse adalah perangkat yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari komputer dan keseharian penggunanya. Namun, ternyata jika mouse memiliki potensi bahaya yang perlu diwaspadai.

Setiap hari, frekuensi pergerakan tangan dengan salah satu hardware komputer ini terus bertambah. Pengaruhnya terhadap pergelangan tangan memang tak terasa dalam hitungan menit. Namun untuk orang yang seharian harus menekan tuts dan menggerakkan mouse, Repetitive Strain Injury (RSI) menjadi ancaman serius.

Bukan hanya Computer Vision Syndrome saja yang sering muncul, melainkan juga risiko-risiko lain pun dapat mengganggu kesehatan anda. Salah satunya adalah nyeri pada pergelangan tangan maupun pada jari-jari tangan. Jika terjadi, berhati-hatilah dan segera periksakan diri ke dokter. Kemungkinan anda terkena penyakit Repetitive Strain Injury.

Menurut dr Grace Tumbelaka SpKO, Repetitive Strain Injury adalah cedera atau kerusakan yang terjadi pada otot atau jaringan syaraf tubuh lainnya karena melakukan sesuatu secara berulang-ulang dan berlangsung selama bertahun-tahun. Hal ini dapat menyebabkan nyeri pada otot dan jaringan syaraf yang berawal dari suatu perobekan. Sebagian orang mungkin mengenal Repetitive Strain Injury itu sebagai Carpal Tunnel Syndrome (CTS).

“Dalam istilah medisnya biasa disebut dengan gejala mati rasa, ngilu dan lemah akibat iritasi pada bagian tengah otot di sekitar pergelangan tangan,” terangnya.

Cukup beragam pekerjaan yang memungkinkan terjadinya Repetitive Strain Injury. Salah satunya adalah meningkatnya penggunaan sarana komputer. Kegiatan yang selalu melibatkan keyboard dan mouse ini dapat menimbulkan cedera urat tangan, lengan, dan bahu.

Sebenarnya, semua risiko yang dialami para pekerja kantoran bukan semata-mata faktor kecerobohan, seperti kurang memperhatikan posisi duduk yang benar. Selama delapan jam dalam sehari, pekerjaan dilakukan dengan posisi duduk, sementara jari-jari tangan sibuk memencet tuts keyboard dan mouse. “Seharusnya sarana penunjang kerja perlu mendapatkan perhatian, tidak hanya dari segi keselamatan, tapi juga kenyamanan dan kesehatan,” ungkapnya.

Seseorang dapat terkena Repetitive Strain Injury karena saat menekan tuts dan mouse, bahu dan lengan bagian atas cenderung tertahan. Keadaan seperti itu dapat menghambat sirkulasi darah ke lengan bagian bawah. Padahal lengan bagian bawah membutuhkan aliran darah yang lebih banyak dari keadaan normal ketika jempol dan jari lainnya melakukan gerakan kecil dan teliti. Ditambah lagi dengan sikap duduk yang salah dan penempatan ruang kerja yang membuat orang tidak nyaman. Keadaan itu membuat sakit pada otot-otot tendon, saraf-saraf di sekitar tangan, pergelangan, jari, bahkan pundak dan leher sebagai akumulasi dari pekerjaan dalam kurun waktu yang lama.

Repetitive Strain Injury adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan berbagai macam cedera pada otot tendon dan saraf. Cedera ini biasanya disebabkan oleh aktivitas yang membutuhkan gerakan yang berulang-ulang. Salah satunya adalah mengetik atau menekan dan menggerakan mouse. Gejala Repentitive Strain Injury dapat muncul di berbagai tempat dari pangkal lengan hingga ujung tangan.

Repetitive Strain Injury yang biasa disebut Cumulative Trauma Disorder ini bisa terjadi karena posisi tubuh kurang rileks. Ada tekanan terhadap urat dan saraf tangan, pergelangan tangan, lengan dan pundak, serta leher. Kurang istirahat menggunakan komputer dapat menyebabkan otot tangan terasa kaku dan kesulitan dalam melakukan sesuatu. Kesulitan tersebut bisa berupa kesulitan membalik halaman buku, memutar tombol atau memegang gelas.

Gejala lain yang juga dirasakan adalah saat bangun timbul rasa sakit di pergelangan tangan atau mati rasa di seluruh tangan. Di pagi hari tangan juga sering terasa canggung.

Dianjurkan agar pada saat mengetik, pergelangan tangan hendaknya tidak ditekuk di atas, ke bawah atau ke samping. Begitu pun untuk ukuran huruf di monitor. Sebaiknya tidak terlalu kecil sehingga mudah dibaca dan tidak perlu membungkukkan badan ke depan monitor setiap kali membaca teks.

Cara mengatasi Repetitive Strain Injury, tambah dr Grace adalah dengan memijat langsung otot dan serabut saraf yang mengalami ketegangan. Cara lain adalah melakukan olahraga ringan dan berulang kali setiap 30 menit sebelum mulai bekerja. Pencegahan yang cukup manjur untuk RSI ini adalah memperhatikan posisi tubuh saat bekerja, seperti kaki harus didatarkan di atas lantai, lutut harus lurus terhadap kaki dan membungkuk pada sudut yang pas.

Untuk menopang punggung bawah, gunakan bentuk kursi yang baik atau dengan gulungan handuk. Sedangkan untuk punggung atas, lakukan gerakan melengkung secara natural. Berpikirlah terlebih dahulu sebelum mengetik untuk menghindari pengetikan secara berulang dan pengeditan. Sebaiknya menggunakan sentuhan ringan saat mengetik dan jangan menekan tombol terlalu keras.

Repetitive Strain Injury tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Bahkan pada anak-anak, penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan. Anak-anak terhalang untuk melakukan kegiatan yang sederhana seperti, memegang sikat gigi, mengangkat tas sekolah atau bahkan mengancingkan baju. Secara psikologis, kondisi ini jelas sangat berpengaruh.

Dalam sebuah artikel, Dr Deepak Sharan, orthopaedic surgeon and rehabilitation specialist, Recoup Neuro Musculoskeletal Rehabilitation Centre (RNMRC), mengatakan bahwa pergerakan tangan yang berulang-ulang dengan cepat dapat menyebabkan ketegangan pada otot dan tendon pada bagian atas dan bawah lengan, siku, pergelangan tangan, dan pundak. Cedera pada otot cenderung bertahan lama, menyebabkan penurunan jangkauan pergerakan yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan biasa. Pada keadaan yang lebih buruk, Pergerakan tangan yang sedikit saja dapat menimbulkan sakit.

Pada kasus RSI yang berat, anak-anak berhenti sekolah atau menghindari kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Kondisi ini juga menghalangi anak-anak untuk dapat melakukan kegiatan sederhana seperti memegang sikat gigi, mengangkat tas sekolah atau mengkancingkan baju. Hal ini akan berdampak juga pada psikologi mereka.

Menurut Dr Sharan, banyak anak-anak memperlihatkan gejala awal RSI, tetapi hal itu tidak terdeteksi, hanya disebutkan sakit biasa atau kram. Orang tua harus melatih dan mengawasi anak-anaknya dalam hal posisi dan teknik mengetik yang benar untuk menghindari cedera.

RSI memerlukan suatu bentuk perawatan khusus. Hal tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan tergantung pada tingkat keparahannya.

Dari berbagai sumber

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: