Positif-Negatif Teman Khayalan

30 10 2008

Pernahkah Anda melihat anak usia bawah lima tahun (balita) bermain petak umpet sendirian? Namun, dia bersikap seolah-olah memiliki teman bermain.

Anak-anak memang memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi. Terkadang hal tersebut dapat mempengaruhi prilakunya secara berlebihan. Salah satu bentuk dari daya imajinasi anak yang sering ditemui adalah teman khayalan. Bagi anak balita, teman tersebut bisa jadi sangat nyata sama dengan dirinya.

Laura Davis dan Janis Keyser dalam buku Becoming the Parent You Want to Be: A Sourcebook of Strategies for the First Five Years mengatakan, teman khayalan biasa dialami oleh anak usia 3-6 tahun.

Teman khayalan itu sangat nyata sehingga terkadang harus mendapatkan tempat makan di meja, menggunakan sabuk pengaman di mobil dan diberikan kesempatan untuk berbicara pada pertemuan keluarga yang sama dengannya.

“Biasanya teman khayalan ini memiliki nama yang diciptakannya sendiri. Nama tersebut bisa diambil dari nama yang familiar. Teman khayalan mungkin saja dialami anak-anak untuk beberapa waktu,” terang Laura.

Terkadang teman khayalan pada anak, dapat bertindak sebagai orang yang disalahkan atau alter ego. Bisa juga anak menyalahkan temannya itu atas mainan yang hilang atau ketika dia mengatakan kata-kata yang dilarang.

“Yang perlu diingat, terkadang teman khayalan merupakan teman bermain yang menyenangkan,” tegas Laura.

Penelitian yang dilakukan oleh Marjorie Taylor dari Fakultas Psikologi University of Oregon dan Stephanie M. Carlson dari Fakultas Psikologi University of Washington menyimpulkan, dua dari tiga anak usia tujuh tahun pernah memiliki setidaknya satu teman khayalan.

Ternyata teman khayalan tidak hanya muncul pada anak usia 3-4 tahun, namun juga hingga anak-anak mencapai usia sekolah.

“Ketika kami memulai penelitian ini sekitar 10 tahun yang lalu, kami memperkirakan hanya sekitar satu dari tiga anak usia prasekolah yang memiliki teman khayalan,” ujar Taylor dalam artikelnya The Characteristics and Correlates of Fantasy in School-Age Children: Imaginary Companions, Impersonation, and Social Understanding.

Awalnya, tujuan penelitian yang dilakukan Taylor dan Carlson yaitu untuk mempelajari hingga beberapa tahun kemudian, bagaimana teman khayalan tersebut mempengaruhi kehidupan sang anak.

Anak-anak mengakui bahwa beberapa teman khayalan mereka kadang-kadang juga berlaku tidak baik dan mengganggu. Bahkan, memukul mereka atau tidak mau pergi ketika anak-anak tersebut sedang membaca. Cepat atau lambat, anak-anak menyadari bahwa teman-teman khayalannya tidak nyata.

Carlson menuturkan, beberapa anak yang ikut dalam penelitian sempat mengajaknya bicara secara pribadi dan berkata “Anda tahu bahwa ini hanya pura-pura kan?”.

Clinical Assistant Professor New York University, School of Medicine Anita Gurian PhD menjelaskan, untuk para orangtua yang melihat anaknya memiliki teman khayalan untuk memperhatikan lebih lanjut. Lihat intensitas dan durasi dari hubungan anak dengan teman khayalannya.

“Orangtua harus mulai khawatir jika anak-anak menghindari interaksi dengan anak-anak lain dan lebih memilih bermain dengan teman khayalannya. Kemungkinan, anak sedang mengalami tekanan psikologis,” kata Anita.

Orangtua juga harus waspada jika anak hanya terfokus pada kehadiran teman khayalannya tersebut. Orangtua dapat meminta bantuan dari konsultan professional untuk mengetahui apakah anak memiliki ketegangan pada alam bawah sadar.

“Secara umum, seorang teman khayalan adalah sebuah tanda anak sedang berhadapan dengan hal kompleks, ketika dia sedang berusaha berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Jangan merendahkan hubungan anak dengan teman khayalan tapi jangan terlalu terlibat,” saran Anita kepada para orangtua. (berbagai sumber/ri)

Tips

  • Jangan remehkan hubungan anak dengan teman khayalannya, tapi jangan juga terlalu terlibat. Ikuti saja skenario anak tapi tetap dengan batas-batas tertentu. Sesekali, Ada boleh mengingatkan anak teman khayalannya tidak nyata. Misalnya, dengan mengatakan “Wah, senang sekali ya pura-pura main dengan Lanni”.
  • Pandanglah kehadiran teman khayalan anak Anda dari sisi positifnya. Teman khayalan merupakan hasil dari keingintahuan dan kreativitas anak dalam usahanya mencoba menalar apa yang terjadi disekitarnya. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi orang yang penuh rasa ingin tahu dan kreatif.
  • Orangtua seringkali memandang bahwa anak benar-benar mempercayai kehadiran teman khayalannya. Anak-anak juga cenderung mempertahankan pendapat kehadiran temannya tersebut. Namun, pada umumnya anak-anak sebenarnya menyadari mereka sedang berpura-pura. Kenyataannya, teman khayalan akan cepat pergi menghilang ketika hadir orang asing atau teman lain yang menganggap teman khayalannya tidak nyata.
  • Biasanya anak akan segera mengatakan selamat tinggal kepada teman khayalannya jika merasa mampu untuk menghadapi sendiri ketakutan dan perasaan negatifnya.
  • Orangtua harus mulai mewaspadai anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicaradan bermain dengan teman khayalannya. Hal itu bisa berarti adanya perasaan tidak aman pada anak. Jika perlu, konsultasi dengan ahli perkembangan anak.

Sumber : republika

Advertisements

Actions

Information

3 responses

6 11 2009
rera

agaimana jika seorang anak memiliki teman khayalan sampai dia dewasa?
dalam hal ini si anak cenderung lebih senang sendiran bersama teman hayalannya dan seperti memiliki dunia sendiri? terimakasih.

6 11 2009
qiqi

ummm…kalo boleh tanya??
aku sampai sekarang masih punya teman khayalan.
usiaku sudah 21th. mereka selalu ada disaat aku sendiri atau bahkan ramai. mereka yang selalu baut aku tertawa dan semangats. apa itu baik untukku???
thnx

16 09 2010
kailla ozora fernandez

Jujur aku juga masih punya teman hayalan, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan teman hayalanku dari pada dengan teman-temanku. Aku hanya bisa mengungkapkan perasaanku pada mereka. Bahkan aku tidak pernah bercerita ataupun share dengan orang tuaku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: