Kepala dan Pertandingan

4 11 2008
Kepala dan Pertandingan

Seorang sahabat menderita penyakit kurang percaya diri setelah melalui proses perceraian yang melelahkan. Ia sedikit enggan kembali ke dunia perkencanan, risau bahwa ia telah “kehilangan sentuhannya” dengan kaum wanita.

Celakanya, segera setelah mengakhiri hubungannya yang terahulu, ia mulai kehilangan rambutnya, dan ia melihat ini sebagai isyarat dari surga bahwa ia ditakdirkan untuk membujang selamanya. “Siapa yang mau berkencan dengan orang botak?” katanya kepadaku pada salah satu malam sewaktu kami saling mengeluh sambil minum bercangkir-cangkir cappuccino yang enak. Sebagai orang bijak abadi, ia yakin bahwa rambut yang bagus adalah karcis masuk menuju suatu hubungan yang sukses. “Apa yang bisa dielus-elus dengan jari seorang cewek sekarang?” serunya sambil berkecil hati. “Kulit kepalaku?”.

Ketika ia mulai mengajak para wanita untuk pergi keluar, ia hanya membawa mereka ke tempat-tempat di mana topi bisbol dapat diterima – bermain Frisbee di taman, membawa anjing berjalan-jalan, pertandingan bisbol, atau peristiwa lain yang sedikit bernada olahraga dimana ia dapat menyembunyikan kepalanya yang menipis. Ia berhasil baik sementara waktu, tetapi hanya ada sebegitu banyak peristiwa olahraga yang dapat dikunjungi, dan hanya ada sedikit hari-hari cerah untuk melemparkan Frisbee dan membawa anjing berjalan-jalan.

Juga, salah satu segi besar kepribadian sahabatku itu adalah bahwa ia sama sekali senang pergi keluar untuk santap malam yang enak. Kami telah menikmati banyak malam dikuliah dengan menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli berbotol-botol anggur, makanan-makanan pembangkit selera, dan kudapan coklat hangat di restoran-restoran yang paling bergengsi. Celakanya, tak ada satupun dari restoran ini yang mengijinkan pelanggannya menggenakan topi bisbol, tanpa menghiraukan betapa indahnya topi itu barangkali. Ini mulai menghambatnya dan sekali lagi loyo, sampai ia menerima pemberitahuan di kotak surat bahwa ia memenangkan sebuah makan malam gratis untuk dua orang di sebuah restoran eksklusif di pusat kota.

“Selamat!” bunyi surat itu. “Anda dan seorang tamu telah terpilih untuk mencicipi dan menikmati masakan dan suasana tempat kami yang istimewa. Dapatkanlah sertifikat hadiah terlampir seharga lima puluh dolar!” Ia berjingkrak-jingkrak kesenangan dengan bersemangat. Ia berpikir sungguh-sungguh mengenai apa yang harus dikenakannya, apa yang akan dipesannya, kapan mau perginya, dan… siapa yang akan diajaknya. Ia tidak mengenakan sebuah topi ke restoran baru ini. Tetapi siapa yang akan diajaknya yang tidak akan terkesiap oleh kepalanya yang hamper-hampir gundul itu?

Keningnya mengeryit karena kecewa dan ia terkulai disofa di dekatnya. Setelah beberapa menit diam, ia berteriak “Aw, wuih. Aku akan pergi.” Sambil melompat dari tempat duduknya, wajahnya menampilkan perangai ceria yang sudah teramat biasa itu dan ia dengan segera melarik daftar kencan yang mungkin. Akhirnya ia memilih Sarah—wanita yang telah berbulan-bulan dikaguminya dari jauh. Ia duduk di kursi kesukaannya, menekan nomor telepon dengan penuh keyakinan dan meminta Sarah menerima dengan rasa syukur. Beberapa malam kemudian, dengan mengenakan pakaian yang sangat dendi dan kepala botak yang indah, ia dan Sarah menghabiskan petang yang sempurna dan sejak saat itu jatuh cinta dengan asyiknya.

Dan aku mau mengatakan ini kepada Anda: Itulah lima puluh dolar terbaik yang pernah kukeluarkan

Katie Mauro
From Chicken Soup for The Single’s Soul


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: