Apakah Jiwa itu Eksis?

25 11 2008

Pagi-pagi sekali pada tanggal 28 Juli 1976, gempa bumi paling mematikan di Abad ke-20 dan ketiga terbesar dalam catatan sejarah telah mengguncang Tangshan, China. Sekitar seperlima dari kota tersebut binasa dalam malapetaka itu, dan ribuan orang telah tertolong dari kuasa kematian.

Suatu survei sosiologis telah dilakukan terhadap orang-orang yang telah kembali dari kondisi hampir meninggal untuk mencari tahu apa yang mereka alami pada saat-saat yang paling kritis dalam hidup mereka.

Anehnya, banyak yang menjawab bahwa saat ambang kematian, mereka tidak merasakan sakit ataupun penyesalan, namun mengalami semacam kegembiraan, seolah-olah mereka telah terbebas dari tubuh fisik mereka. Beberapa mengatakan bahwa mereka telah melihat suatu terowongan cahaya dan sebagian mengatakan telah melihat makhluk lain.

Mungkin banyak orang terbiasa dengan cerita semacam ini, yang dikenal oleh para ahli sebagai Pengalaman Hampir Meninggal (Near Death Experiences – NDE).

Keberadaan NDE menimbulkan suatu masalah bagi pemahaman kontemporer mengenai pikiran, dimana ilmu pengetahuan modern bertahan bahwa pikiran merupakan suatu produk dari reaksi neurochemical (syaraf), daripada suatu kesatuan independen dari otak dan kadang-kadang terpisah dari tubuh fisik. Fenomena NDE memberi kesan bahwa suatu makhluk hidup tidak hanya memiliki tubuh tetapi juga memiliki jiwa. Secara alami, para ilmuwan punya pendapat berbeda mengenai keberadaan jiwa sebagai suatu kesatuan individual.

Suatu studi yang menyelidiki hal ini telah diselenggarakan oleh dokter medis Duncan MacDougall dari Haverhill, Massachusetts, pada tahun 1907. MacDougall bekerja dengan enam pasien yang semuanya berada dalam kondisi kritis. Ia menimbang berat mereka sesaat sebelum kematian, dan kemudian seketika mengikuti kepergian mereka.

Hasilnya, diterbitkan dalam jurnal medis kontemporer, ditemukan bahwa para pasien tersebut rata-rata kehilangan berat 21 gram persis saat kematian mereka. Dr MacDougall menarik kesimpulan bahwa perbedaan ini merupakan berat dari jiwa manusia, suatu fakta ganjil yang menjadi terkenal dalam film di tahun 2003, “21 grams.”

Sekarang studi ini mendapat sedikit perhatian, menghilang seakan tak lebih hanya sebagai anekdot dalam lingkungan ilmiah, sejak para pemfitnah mengatakan bahwa kesalahan pengukuran bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor. Namun, sejauh ini tak ada seorangpun yang mengulang eksperimen itu baik untuk menguatkan ataupun menolaknya.

Si “penyangkal” itu secara alami skeptis terhadap keberadaan dari kemungkinan suatu kesadaran independen. Ilmuwan Francis Crick–yang berbagi Hadiah Nobel bersama James Watson di tahun 1962 karena menemukan struktur pilihan ganda dari DNA–barangkali adalah perwakilan kontemporer paling terkenal untuk sudut pandang ini.

Dalam sebuah studi yang dilaksanakan selama beberapa tahun, Profesor Crick menyatakan bahwa: “jiwa kita-perilaku dari otak kita-dapat dijelaskan dengan interaksi dari sel-sel syaraf (serta sel lainnya) dan molekul-molekul yang terhubung dengannya.”

Akan tetapi, beberapa ilmuwan membantah bahwa Profesor Crick berpegang teguh pada suatu sudut pandang yang ekstrem. “Ini seperti mengatakan bahwa katedral adalah seonggok batu dan kaca. Ini benar, namun sangat sederhana dan itu pemahaman keliru,” kata Michael Reiss, profesor pada University of London, seorang pendeta yang sekaligus ilmuwan.

Studi terlengkap tentang NDE hingga saat ini telah dilakukan oleh Pim van Lommel dan sebuah tim dokter dari Belanda terhadap 344 pasien dari 10 rumah sakit. Para pasien telah tersadarkan setelah cardiac arrest (aktivitas jantung terhenti total).

Studi itu, dilaporkan di Lancet pada tahun 2001, ditemukan bahwa 62 dari pasien (18 persen) memiliki beberapa ingatan tentang pengalaman hampir meninggal (NDE), sedangkan 41 dari mereka menjelaskan telah mengalam suatu pengalaman yang “mendalam” atau “sangat mendalam.”

Sebagian dari mereka yang melaporkan pengalaman NDE mengatakan bahwa mereka sadar sedang meninggal, sedangkan 56 persen mengatakan mereka mengalami emosi positif. 50 orang (24 persen) mengatakan punya pengalaman di luar tubuh, sementara 31 persen mengalami bergerak menelusuri sebuah lorong. Delapanbelas mengatakan mereka melihat suatu “pemandangan surgawi.” Sepertiganya mengatakan mereka bertemu dengan keluarga yang telah meninggal, dan delapan mengatakan bahwa mereka telah melihat ringkasan ulang hidup mereka.

“Konsep tersebut hingga sekarang diterima, tapi tidak pernah dibuktikan secara ilmiah, bahwa kesadaran dan ingatan terletak di dalam otak,” demikian ditulis Profesor Van Lommel dalam “About the Continuity of Our Consciousness” (Mengenai Kesinambungan Kesadaran Kami, red).

“Bagaimana bisa suatu kesadaran jernih di luar tubuh seseorang dialami pada saat otak tidak lagi berfungsi selama suatu masa kematian klinis dengan EEG* datar?” tanya Van Lommel. “Lagi pula, orang buta telah menggambarkan (persepsi bahwa setuju dengan realitas) selama pengalaman di luar tubuh pada pengalaman ini.” Van Lommel mengatakan pengalaman hampir meninggal telah menyentuh batas-batas pemahaman medis mengenai jangkauan kesadaran manusia dan hubungan pikiran-otak.
Sementara persoalan itu sepertinya menyisakan isu perdebatan di dalam lingkungan ilmiah, studi-studi lebih lanjut mungkin diperlukan untuk membuktikan pertanyaan abadi: Adakah kehidupan setelah kematian?

Sumber : Erabaru

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: