Kurus Bisa Redam Resiko Kanker

1 01 2009

Mengurangi berat badan, menjauhi daging merah (sapi, kambing dan babi), mengurangi memakan daging babi olahan serta konsumsi alkohol menekan resiko kanker, kata suatu laporan internasional.

Dana Penelitian Kanker Dunia (WCRF) melakukan penyelidikan terbesar sejauh ini terhadap gaya hidup dan kanker, dan mengeluarkan beberapa rekomendasi yang tegas.

Rekomendasi itu termasuk tidak kelebihan berat badan, menghindari minuman bergula dan alkohol serta tidak makan daging olahan dalam bentuk bacon atau ham.

Setiap orang harus berniat untuk sekurus mungkin tanpa menjadi terlalu kurus.

Orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), rumus yang memperhitungkan tinggi dan berat badan, antara 18,5 dan 25, dipandang berada dalam rentang berat yang “sehat”.

Namun penelitian ini mengatakan, resiko meningkat begitu orang mendekati angka 25 dan setiap orang harus sedekat mungkin dengan batas bawah.

Paling Komprehensif

Dokumen ini tidak menyertakan riset baru. Panel mengkaji 7.000 penelitian yang ada selama lima tahun.

Menurut mereka, hasil ini merupakan investigasi yang paling komprehensif terhadap resiko pilihan-pilihan gaya hidup tertentu.

Mereka melihat lemak tubuh sebagai faktor kunci dalam perkembangan kanker, dan memperkirakan lemak memiliki arti penting yang lebih besar daripada dugaan sebelumnya.

Para penyusun laporan mengatakan, mereka mengajukan satu daftar anjuran, bukannya “firman”.

“Namun, kalau orang berminat untuk mengurangi resiko kanker, maka mengikuti anjuran itu merupakan cara untuk melakukannya,” kata Profesor Martin Wiseman, yang ikut menyusun laporan tersebut.

Kanker bukan nasib, itu masalah resiko, dan Anda bisa menyesuaikan dengan resiko tadi dengan perilaku Anda. Sangat penting bahwa orang merasakan mereka memegang kendali atas apa yang mereka perbuat,” tambah Profesor Martin Wiseman, penyusun laporan tersebut.

Namun, dua pertiga kasus kanker diduga tidak terkait dengan gaya hidup, dan tidak banyak yang bisa ditempuh orang untuk mencegah kanker dalam kondisi semacam itu.

“Meski demikian, lebih dari tiga juta dari 10 juta kanker yang didiagnosis di seluruh dunia setiap tahun bisa dicegah jika rekomendasi itu dipenuhi,” kata Profesor Wiseman.

Sumber : BBC Indonesia

Advertisements

Actions

Information

One response

19 01 2009
4lifetransferfactorindonesia

Perawatan Kanker dengan Transfer Factor [ TF ]

Dalam rangka penyusunan dan pembangunan kembali sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik pada penderita kanker, maka belakangan ini banyak dokter yang mengkombinasikan pengobatan medis konvensional dengan beragam pengobatan komplementer yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh memerangi penyakit yang sedang dialami oleh tubuhnya serta meringankan beban efek samping dari pengobatan konvensional.

Diantara beragam cara pengobatan komplementer, termasuk pengaturan diet dan nutrisi yang baik dan lengkap, penggunaan beragam vitamin yang sudah terbukti bekerja sebagai antioksidan untuk membersihkan radikal bebas sebagai suatu pemicu timbulnya kanker, beragam jenis herbal yang juga sudah terbukti mengandung sifat-sifat antioksidan dan anti-kanker serta dapat memodulasi sistem kekebalan tubuh (immunomodulators), penggunaan bioenergi, dan belakangan ini telah pula ditemukan suatu bahan yang disebut dengan Transfer factor (TF) yang di produksi dari colostrums sapi dengan penggunaan teknologi canggih yang sudah dipatenkan.

Berdasarkan penelitian multicenter, transfer factor (TF) telah terbukti menunjukkan manfaat yang besar dalam memerangi penyakit kanker, terutama kanker yang dipicu oleh infeksi virus, dan untuk kanker yang lain digunakan sebagai terapi pendukung.

Penelitian menunjukkan bahwa TF mempunyai 3 fraksi yaitu inducer, antigen specific, dan suppressor yang masing-masing bertugas memicu kesiagaan umum, membantu pelabelan antigen untuk mengidentifikasi musuh, dan membantu mengendalikan overeaksi dari sistem kekebalan untuk menjaga keseimbangan.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa TF tidak bekerja secara langsung seperti kerjanya obat-obat, tetapi ia memperkuat kemampuan sel-sel NK (Natural Killer cells) untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Transfer Factor [ TF ] adalah molekul-molekul kecil pembawa pesan / informasi kekebalan, dan bukan agen-agen anti-kanker yang bekerja secara langsung. Dalam hubungan ini, kalau dikatakan bahwa “TF menyembuhkan kanker saya” ini sama dengan mengatakan bahwa “buku panduan / instruksi telah memperbaiki mobil saya”. Tentu yang dapat memperbaiki mobil adalah seorang mekanik, bukan bukunya, tetapi mekanik harus belajar dari buku panduan tersebut.

Memang ada sebagian mekanik yang sudah pintar dan trampil yang tidak lagi memerlukan buku panduan dalam memperbaiki mobil. Seperti juga halnya dengan mekanik, memang ada beberapa sistem kekebalan yang cukup kuat dan pintar yang bisa menangani tugasnya sendiri tanpa bantuan. Namun kebanyakan kita, memerlukan semua bantuan yang mungkin kita dapatkan untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik.

Dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh menggunakan beragam unsur dan cara yang telah disebutkan diatas, terutama dengan penggunaan Transfer Factor [ TF ], maka saat ini telah tercipta dimensi baru dalam penatalaksanaan penyakit kanker.

Blog : http://4lifetransferfactorindonesia.wordpress.com

Member of, Winners 4Life Indonesia
Ryan & Kenny
0818.07183888
021.94675666

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: