Sebuah Berkat Dari Perkataan “Tidak”

9 04 2010

Saya bertanya pada Tuhan untuk mengambil kesombonganku. Tuhan bilang “tidak”, bukan bagian Aku yang mengambil, tapi kamu yang harus menyerahkannya.

Saya bertanya padaNya untuk mengambil semua cacat fisikku, Tuhan bilang “tidak”. Roh yang ada padamu utuh, tubuh hanya bersifat sementara.

Saya minta Tuhan untuk mengaruniai kesabaran untukku. Tuhan bilang “tidak”. Kesabaran adalah hasil dari ketekunan, bukan dikaruniakan tapi harus diusahakan.

Saya minta kebahagiaan pada Tuhan, Tuhan bilang “tidak”. Aku memberimu berkat, jadi hidupmu bahagia/tidak adalah tergantung kamu.

Saya bertanya pada Tuhan untuk membuang rasa sakitku, Tuhan bilang “tidak”. Penderitaan membuat kamu saling peduli, dan membawamu lebih dekat lagi padaKu.

Saya minta Tuhan untuk membuat rohku bertumbuh, Tuhan bilang “tidak”. Kamu harus bertumbuh sendiri, tetapi Aku akan menjagamu supaya kau berbuah.

Saya minta semua hal yang membuat saya dapat menikmati hidup, Tuhan bilang “tidak”.. Aku sudah memberimu kehidupan sehingga kamu dapat menikmat semua hal.

Saya minta Tuhan untuk menolong saya mengasihi sesama seperti Dia mengasihiku. Tuhan berkata….Ahhhh, akhirnya kamu mengerti.

Bagaimana jika, Tuhan tidak punya waktu untuk memberkati kita hari ini karena kita tidak punya waktu untuk bersyukur padaNya kemarin?

Bagaimana jika, Tuhan memutuskan berhenti untuk memimpin kita esok hari karena kita tidak mengikuti Dia hari ini?

Bagaimana jika, kita tidak pernah melihat bunga bersemi lagi karena kita selalu bersungut-sungut kalau Tuhan member hujan?

Bagaimana jika, Tuhan tidak berjalan bersama kita hari ini karena kita tidak mengerti bahwa ini adalah hariNya Tuhan?

Bagaimana jika, pintu surga tertutup karena kita tidak mau buka hati kita?

Bagaimana jika, Tuhan berhenti mengasihi dan peduli pada kita karena kita tidak pernah mengasihi dan peduli sesama?

Bagaimana jika, Tuhan tidak mau mendengar doa-doa kita hari ini karena kita tidak mau mendengarNya kemarin?

Bagaimana jika, Tuhan menjawab doa-doa kita dengan cara seperti kita menjawab panggilanNya untuk melayani yang notabene tidak sungguh-sungguh, sering terpaksa, bahkan sering tidak meresponi panggilanNya?

Tuhan tidak selalu menjawab doa kita dengan “ya”, tapi Dia selalu memberi yang terbaik untuk kita.

Advertisements




Telur Paskah

4 04 2010

Ketika menyambut hari Paskah, seringkali kita melihat banyak telur-telur yang dihias dengan indah. Namun kadang timbul pertanyaan, mengapa harus telur? Apa hubungannya dengan Paskah? Dan bagaimana asal usulnya? Kita akan bahas sedikit tentang itu.

Mengapa telur ?

Telur dianggap sebagai simbol dari kesuburan oleh masyarakat Indo-Eropa. Karena Paskah biasanya terjadi tepat pada saat awal musim semi, maka telur merupakan tanda dimana tanah dan pepohonan mulai kembali bertumbuh dan berbuah setelah melewati masa musim dingin.

Apakah ada hubungan antara telur dengan umat Kristiani ?

Jelas ada hubungannya. Di Eropa Utara berkembang makna religius, dimana telur dianggap sebagai simbol makam batu dimana Yesus keluar untuk menyonsong hidup yang baru melalui kebangkitan-Nya.

Apakah telur-telur Paskah di setiap negara berbeda-beda ?

Iya tentu saja berbeda. Contohnya :

– Warna merah : di kalangan orang Chaldean, Syria dan Yunani, kaum beriman saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus

– Warna hijau : digunakan pada haris kamis sebelum hari Paskah oleh negara Jerman dan Austria

– Warna emas dan perak : digunakan khusus oleh orang-orang di Slavic

Berbagai Sumber





Sudahkah Kita Memaafkan ?

31 12 2008

“Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: cintailah musuh-musuhmu, dan
doakanlah orang-orang yang menganiaya kalian,” (Mat 5 :44)

Kita sering menemukan kejadian demi kejadian yang diakibatkan dengan
perasaan terluka, pengkhianatan dan kebencian para pengikut Kristus saat ini, mulai merajalela dari dalam Rumah Tangga sampai ke gereja2, bahkan sdh dianggap sebagai perilaku normal, kita tidak akan terkejut lagi bila pasangan suami istri Kristen saling menggugat utk bercerai, Perpecahan Gereja kita anggap sudah hal yg biasa bahkan disamarkan karena”Kehendak Tuhan”, Politik dalam gereja dimainkan dengan dalih demi “kepentingan Jemaat”, bahkan secara terang2an kita ikut meng”amin”kan jika seorang Pendeta menyerang men-jelek2-kan Pendeta lain saat Khotbah, kadang kita ikut mendukung Gembala Sidang & Para Pendeta dalam memainkan Manuver-Manuver Rohani utk menarik Jemaat, begitu mudahnya ber-pindah2 gereja hanya karena masalah2 sepele, sudah mati-rasa kah kita ?

Walaupun kita sering sering menghadiri seminar & sekolah2 Alkitab, berapapun banyaknya buku2 yg telah kita baca bahkan betapa lamanya kita berdoa dan mengadakan penyelidikan Alkitab, jika kita masih merasa terluka dan merasa enggan utk memaafkan dan menolak utk bertobat dari dosa itu, maka kita jelas belum sampai kepada pengenalan akan kebenaran ( kok jadi serius begini sih..)

Petrus bertanya, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika dia berbuat dosa terhadap aku..?, sampai Tujuh kali…?, Petrus anggap bahwa tujuh kali itu sudah termasuk kemurahan hati banget, tapi Yesus membuyarkan & mengejutkan dugaan kemurahan hati Petrus, dengan berkata :” Bukan ! aku berkata kepadamu: bukan sampai Tujuh kali, melainkan sampai Tujuh Puluh kali tujuh kali, (Mat.18:21-22) dengan kata lain kita harus mengampuni seperti Tuhan mengampuni yaitu : Tanpa Batas.

Tuhan Yesus telah menjelaskan : jika kita tidak mengampuni maka kita tidak akan diampuni-Nya dan jelas tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah sama halnya dengan melakukan dosa Homoseksual, Perzinahan, Pencurian, membunuh, mabuk dan sebagainya,

Yesus menasehati kita utk berdamai dan memaafkan walaupun pelanggaran itu bukan kesalahan kita, dibutuhkan kedewasaan utk berjalan dalam kerendahan hati demi perdamaian, memulai langkah pertama lebih sulit bagi orang yg dilukai perasaannya, kesombongan selalu bersikap membela diri, kerendahan hati selalu setuju dan
berkata : “Kamu benar, Saya-lah yg telah berbuat begini, Maafkan saya ya”, Haleluya. Amin





Pacaran Kristen

28 12 2008

Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen.

Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:

1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”

“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.

2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”

“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.

Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.

3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”

“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:

– apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?

– apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?

– apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?

Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.

4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”

Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.

5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”

Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.

Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.

Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:

a. Imannya.

Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?

b. Kematangan Pribadinya.

Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?

c. Temperamennya.

Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?

d. Tanggung-jawabnya.

Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?

Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.

Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:

1.Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.

2.Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar … atau kami ingin selalu bercumbuan saja.

3.Saya rasa “dia akan meninggalkan saya” kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.

4. Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.





Apa pengaruh hati yg gembira terhadap kesehatan kita ?

28 12 2008

Beberapa tahun yang lampau, Norman Cousins, seorang warga Amerika, menderita suatu penyakit yang serius sehingga membutuhkan perawatan rumah sakit yang intensif. Dalam masa yang sulit itu, ia menghabiskan waktunya hari lepas hari menonton video film-film lucu yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Suatu hal yang aneh terjadi. Perlahan-lahan ia pun pulih dari penyakitnya yang serius itu hingga akhirnya ia sembuh secara total. Kesembuhannya itu, ia percaya, adalah sebagai akibat atau pengaruh dari film-film lucu yang ditontonnya yang sangat menghibur hatinya. Norman Cousins pun mengabdikan sisa hidupnya menyelidiki pengaruh hati yang gembira terhadap kesehatan tubuh manusia.

Beberapa ribu tahun yang lalu, firman Tuhan sudah mengungkapkan butir kebenaran yang diamati oleh Norman Cousins tersebut. Perhatikanlah baik-baik. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams.17:22). Ada satu lagi yang juga mencuatkan kebenaran sorgawi yang kekal. ” Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat” (Ams. 15:13). Semua ini menunjukkan kaitan yang erat antara hati yang gembira dengan kesejahteraan jasmani kita.

Di Amerika Serikat, jam berkunjung di rumah sakit biasanya sangat fleksibel (kecuali untuk perawatan intensif dan khusus). Saya dapat mengunjungi istri saya dan menengok bayi kami kapan saja tanpa dibatasi jam berkunjung. Gagasan yang melatarbelakangi kebijakan ini tidak terlepas dari pemahaman bahwa orang yang sakit membutuhkan perhatian dari orang-orang yang dekat dengannya. Sanak keluarga dan orang-orang yang dikasihi si sakit, sesungguhnya adalah rekan para dokter dan perawat yang dapat berpartisipasi dalam proses pemulihannya.

Hati yang gembira dan pandangan yang positif menaikkan daya tahan tubuh kita. Sebaliknya, semangat yang patah menurunkan daya tahan tubuh.





Menghadapi Kematian

28 12 2008

Tidak ada seorangpun di antara kita yang ingin menghadapi atau mengalami kepahitan dalam hidup ini. Namun kenyataan memberitahu kita bahwa kepahitan sering singgah dalam hidup kita sekalipun tanpa diundang atau dicari seperti yang dialami oleh umat Israel dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian. Demikian tercatat dalam Kitab Keluaran 15:22-27:

“Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan- peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.”

Kepahitan dalam hidup ini dapat berbentuk sakit penyakit yang parah dan mematikan yang tidak hanya diderita oleh anggota keluarga yang kita kasihi tetapi juga pada diri kita sendiri. Kematian anggota keluarga yang kita anggap belum waktunya ataupun yang belum dipastikan keselamatan jiwa-rohnya. Musibah yang mengakibatkan kerugian materi yang menyebabkan kita kehilangan segala-galanya ataupun cacat fisik yang tak tersembuhkan. Kepahitan dapat juga berupa masa depan yang tidak menentu seperti yang banyak dialami oleh WNI pria yang berusia diatas 16 tahun dan saat ini ´over stay´ di Amerika Serikat. Tinggal tanpa melapor sulit, melapor juga sulit, bagaikan makan buah simalakama — dimakan ayah mati tidak dimakan ibu mati. Khususnya bagi mereka yang telah belasan tahun di Amerika dan mempunyai anak.

Kalau harus kembali ke Indonesia, di Indonesia pun keadaan ekonomi tidak lebih baik daripada Amerika kalau tidak mau dikatakan lebih parah. Pengangguran yang terus meningkat, keamanan yang tidak menentu, politik yang tidak stabil khususnya menjelang Pemilu, dan diskriminasi terhadap kaum minoritas yang masih dipertahankan. Selain itu merajelalanya korupsi telah merasuk ke tulang sumsum bangsa yang tidak terobati dan penanganan hak azasi manusia yang masih amburadul. Semua itu hanya sebagian kecil dari kondisi di Indonesia dimana sangat sulit bagi orang-orang percaya untuk membesarkan anak-anak mereka di dalam iman dan moral kristiani jika tidak mau berkompromi. Menghadapi semuanya itu bagaimanakah seharusnya kita bersikap sebagai orang-orang percaya?

Dunia yang Tidak Ideal.

Kita tahu bahwa kepahitan yang dihadapi oleh umat Israel dengan mata air Mara tersebut bukanlah sesuatu yang direncanakan ataupun yang sengaja ingin ditemukan oleh mereka. Kita juga tahu bahwa mereka dipimpin oleh Musa, seorang pemimpin yang beriman dan dekat dengan Allah. Kita percaya bahwa tentu dalam memimpin umat Israel Musa juga sudah berdoa dan memohon pimpinan Allah agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak menggembirakan. Sudah pasti Musa tidak meminta untuk melewati mata air yang pahit atau merencanakan untuk memimpin bangsanya ke dalam situasi yang pahit sebab ia tahu betul tipe yang bagaimana umat Israel itu, yaitu bangsa yang tegar tengkuknya: kalau senang, tidak tahu berterima kasih; kalau susah sedikit saja langsung memaki-maki.

Semua itu terjadi bukan karena Musa salah memimpin mereka dan bukan pula karena Allah tidak tahu apa yang akan mereka tempuh atau Allah tidak sanggup menghindarkan mereka dari kepahitan tersebut. Semua itu terjadi karena memang dunia ini bukan dunia yang ideal. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa, dunia yang sudah terkutuk dan dikutuk. Sekalipun kita beriman, percaya bahkan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, setia, dan tulus, tidak menjamin bahwa kita terluput dari kepahitan sebab kepahitan itu tidak pandang bulu.

Sehingga tidak heran ada yang bertanya “Why good people suffer?” bahkan pemazmurpun bisa berkata:

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sia-sia sama sekali Aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari, aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:1-2, 13-14)

Dalam Mazmur tersebut si pemazmur mengakui bahwa sekalipun ia tahu bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya, ini adalah pengetahuan yang benar tentang Allah, namun tidak menjamin bahwa ia terhindar dari penderitaan dan kepahitan yang membuatnya kecewa bahkan hampir tergelincir imannya. Ini adalah suatu akibat yang wajar dan normal. Janganlah kita langsung menunjuk jari bahwa pemazmur adalah orang yang lemah imannya. Karena tanpa sadar tiga jari kita menunjuk kepada diri kita sendiri.

Adakah saudara saat ini dalam kepahitan? Ketahuilah bahwa semua itu adalah wajar dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini. Dunia ini memang tidak ideal. Melalui kepahitan ini iman kita kepada Allah yang kita percaya diuji. Reaksi kita terhadap kepahitan tersebut akan merefleksikan iman kita kepada Allah yang kita percayai, yaitu Allah yang telah menyelamatkan kita dari dosa.

Jangan bersungut-sungut

Menghadapi mata air yang pahit di Mara, kita melihat ada dua reaksi yang berbeda sebagai refleksi iman. Pertama adalah bersungut-sungut, “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa”. Siapakah mereka yang bersungut-sungut itu? Mereka adalah umat Israel yang telah mengalami berbagai macam kuat kuasa Allah. Mereka yang dahulunya menjadi budak dan menderita di Mesir dengan kuat kuasa Allah melalui berbagai mujizat telah dilepaskan dari perbudakan. Kuat kuasa Allah yang terakhir adalah kelepasan mereka dari malaikat maut melalui pengorbanan anak domba yang disembelih dan yang darahnya dibubuhkan di kedua ambang pintu serta terbelahnya Laut Merah sehingga mereka selamat dari kejaran Firaun serta bala-tentaranya. Mujizat-mujizat yang mereka alami sungguh luar biasa. Namun demikian mujizat-mujizat yang luar biasa tersebut tidak menjamin untuk mencegah mereka tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan. Banyak orang kristen yang gandrung akan mujizat dan menganggap mujizat itu dapat menguatkan iman mereka. Tetapi kenyataan memberitahu bahwa mujizat bukan jaminan untuk iman yang teguh. Iman kita tidak boleh dilandaskan pada pengalaman akan mujizat karena mujizat adalah landasan yang sangat lemah. Landasan iman kita haruslah Firman Kristus,

“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Mereka bukan saja mempunyai pengalaman luar biasa dengan mujizat, mereka juga mempunyai pengenalan yang benar tentang Allah atau boleh dikatakan teologia yang benar tentang Allah. Seperti yang terungkap ketika mereka memuji Allah setelah dilepaskan dari kejaran Firaun:

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban? … Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus” (Keluaran 15:11,l3).

Namun semua itu tak dapat mencegah mereka untuk tidak bersungut- sungut!

Untuk tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan baiklah kita mengikuti teladan Daud yang berkata,

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:1-2)

Itulah kiat mujarab agar kita tidak bersungut-sungut bahkan sanggup memuji TUHAN dalam segala keadaan. Menghitung semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, terutama keselamatan yang dianugerahkan kepada kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib di Golgota.

Berseru-seru kepada TUHAN.

Berbeda dengan umat Israel yang bersungut-sungut, maka reaksi Musa terhadap kepahitan itu adalah “berseru-seru kepada TUHAN”. Inilah refleksi iman yang harus ada pada kita tatkala menghadapi kepahitan dalam hidup ini. Berseru-seru kepada TUHAN adalah pernyataan iman Musa yang percaya bahwa TUHAN mempunyai cara-Nya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan juga iman yang mau melakukan apa yang diperintahkan TUHAN, iman yang ´trust and obey´. Dengan tanpa bertanya apa jenis kayu tersebut dan ragu bagaimana hal itu bisa terjadi “Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis.”

Apakah Anda saat ini dalam kepahitan hidup? Berdoalah, berseru- serulah kepada TUHAN, dan nantikanlah jawaban-Nya. Pekalah terhadap jawaban TUHAN. Memang ada yang mengatakan bahwa jawaban doa kita biasanya “Ya”, “Tidak”, atau “Tunggu”; namun jangan kita tertutup dengan jawaban lainnya dari TUHAN. Yakinlah jika dengan sungguh- sungguh kita mau ´trust and obey´, maka pada waktunya — karena segala sesuatu ada waktunya — kepahitan itu akan berubah menjadi manis. TUHAN sanggup “membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkotbah 3:11) dan percayalah semua kepahitan itu akan berlalu oleh kuasa TUHAN. Semoga TUHAN menolong kita semua menghadapi kepahitan hidup ini dengan sikap yang benar, merefleksikan iman kita kepada TUHAN agar mereka yang belum percaya mau mengenal-Nya.

Setelah semuanya itu berlalu mereka melanjutkan perjalanan dan “Sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma” suatu tempat yang kontras dengan Mara, suatu tempat yang lebih nyaman daripada Mara yang pahit itu. Namun mereka tidak boleh berkemah seterusnya di sana sebab tujuan akhir mereka bukanlah Elim, tetapi tanah perjanjian. Demikian juga dalam perjalanan iman kita. Kepahitan dan kenyamanan bukanlah tujuan akhir dari hidup kita. Oleh karena itu apapun yang kita hadapi dalam hidup ini janganlah kita berhenti tetapi teruskanlah perjalanan iman kita.

Viktor Frankl, seorang ahli ilmu jiwa asal Austria yang dipenjara oleh Nazi pada Perang Dunia II, setelah dibebaskan, menulis buku berjudul ´Man´s Search For Meaning´ (Pencarian Manusia akan Makna Hidup), yang menjadi buku laris sepanjang masa. Dalam buku ini, Frankl membagikan semua pelajaran penting yang ia petik dari penderitaannya:

“Saya berani berkata bahwa di dunia ini tak ada yang dapat benar- benar menolong seseorang untuk terus bertahan hidup, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, selain pemahaman bahwa sesungguhnya hidup seseorang itu berarti.”

Semoga dalam kepahitan hidup, Tuhan menguatkan kita untuk terus mempertahankan hidup ini. Karena hidup yang telah ditebus Kristus ini sangat berarti untuk memuliakan TUHAN. Amin..





Asal Usul Lagu “Malam Kudus”

25 12 2008

Umat Kristiani tentu akan merasa ada sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal tanpa menyanyikan “Malam Kudus,”

Terjemahan-terjemahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa- bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menterjemahkannya.

“Malam Kudus” sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikidungkan di seluruh dunia. Bahkan para musikus ternama rela memasukkannya lagu “Malam Kudus” pada acara konser dan piringan hitam mereka. Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria. Inilah ceritanya…

Malam itu, langit di lereng pegunungan Alpen, Austria, terlihat cerah. Joseph Mohr berjalan menulusuri jalan setapak, usai menonton pertunjukan drama Natal yang dipentaskan oleh sekelompok aktor keliling. Menurut rencana, sebenarnya drama itu akan dipentaskan di gereja St. Nicholas, tetapi karena organ/orgel gereja rusak akibat digigiti tikus, maka pentas itu terpaksa dialihkan ke rumah salah satu jemaat yang mempunyai rumah yang besar.

Ketika sampai di puncak bukit, Mohr berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di bawahnya. Dia begitu terpesona pada kerlap-kerlip lampu-lampu yang memancar dari dalam rumah penduduk. Suasananya sangat sunyi dan teduh. Hal itu membuat Mohr membayangkan suasana malam ketika Kristus lahir di kandang Betlehem. “Malam sunyi! Malam kudus!” Kata-kata itulah yang yang tiba-tiba terlintas di benak Mohr.

Sesampai di rumahnya, Mohr segera mengambil pena dan kertas untuk menuliskan baris-baris puisi yang meluap dari hatinya. Setelah itu, dia merencanakan untuk menyanyikan syair gubahannya itu pada malam kebaktian Natal di gerejanya. Keesokan harinya, dia segera menemui Frans Xaver Gruber, seorang guru desa dan pemain organ gereja.

Pada hari itu juga, Gruber bisa merampungkan melodi untuk syair itu. Maka jadilah lagu “Malam Kudus” ( Stille Nacht atauSilent Night) yang beberapa abad kemudian menjadi “lagu wajib” pada setiap perayaan Natal.

Siapakah Joseph Mohr? Dia dilahirkan tahun 1792 di Steingasse, di sebuah perkampungan kumuh di Austria. Seorang pastor merasa kasihan melihat Mohr kecil terpaksa mengamen di jalanan. Imam Katolik itu lalu memungutnya dari jalanan dan menyekolahkan di Salzburg. Di sana, selain belajar agama, Mohr juga belajar bermain organ, biola dan gitar. Tahun 1818, Mohr ditempatkan sebagai asisten pastor di gereja St. Nicholas.

Sesuai dengan rencananya, pada malam Natal di tahun 1818, Mohr menyanyikan lagu ciptaanya itu dengan iringan gitar Gruber (karena organ gereja masih rusak). Lagu yang masih fresh from the oven itu ternyata menyentuh hati jemaat yang datang beribadah.

Meski terbilang sukses, namun mereka tidak pernah punya niat untuk menyebarkan lagu itu ke luar desa. Seminggu kemudian, Karl Maurachen, tukang servis organ kenamaan dari Zillerthal datang untuk memperbaiki alat musik di gereja itu. Ketika sudah beres, Grüber dipersilakan mencoba memainkan organ itu. Pada kesempatan itu, Grüber memainkan lagu yang baru diciptakan itu. Maurachen sangat terkesan mendengar lagu itu. Dia minta salinan komposisi lagu itu dan membawanya pulang.

Di tangan Maurachen, lagu itu mulai menyebar dan menjadi lagu rakyat di wilayah Tyrol. Lagu ini menjadi semakin populer ketika kuartet Strasser,–empat wanita bersaudara– , menyanyikan lagu ini berkeliling di seluruh Austria. Tahun 1838, lagu ini sudah dikenal di Jerman sebagai “lagu tidak jelas asal-usulnya. “

Di Amerika, lagu ini diperkenalkan oleh Rainers, sebuah keluarga penyanyi dari Tyrol dalam sebuah tur konser, tahun 1839. Tahun 1863 kemudian, John Freeman Young menterjemahkan syairnya ke dalam bahasa Inggris. Tahun 1980, Yayasan Musik Gereja (Yamuger) menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Syairnya sebagai berikut:

“Malam kudus, sunyi senyap.

Dunia terlelap.

Hanya dua berjaga terus.

Ayah Bunda mesra dan kudus.

Anak tidur tenang.”(2x)

Selamat Natal .!!!!!!

Lagu : Stille Nacht, Franz Xaver Gruber, 1818

Syair : Jerman, Joseph Mohr, 1818, Silent Night, John Freeman Young 1863.

Sumber : Dari berbagai Sumber