Kritikan

22 04 2010

Suatu kali pemusik muda mengadakan konser perdana namun setelah konser ia dicela habis-habisan oleh banyak kritikus. Rasa depresi segera melanda pemuda itu. Hingga Jean Sibelius, komposer Finlandia yang terkenal menghiburnya, ”Ingat nak, tidak ada satupun kota di seluruh dunia yang mendirikan patung penghargaan untuk kritikus.”

Mungkin kita juga pernah dicela dan dikritik oleh orang disekitar kita. Apapun yang kita perbuat, sang kritikus siap ”bernyanyi” dengan nada-nada sumbang. Tapi saya teringat pada Elvis Presley yang pernah dipecat oleh manajer Grand ole Opry. Clint Eastwood yang pernah dipecah dari Universal Pictures hanya karena giginya cuwil.

Decca Records pernah menolak 4 pemuda yang gugup ketika bermain untuk rekaman pertamanya. Keempat pemuda itu adalah The Beatles. Itulah contoh dari orang-orang yang pernah dikritik, dicela bahkan ditolak. Tetapi dari kritik itu, mereka bangkit sehingga hari ini, kita pasti mengenal nama-nama diatas sebagai legenda dalam bidangnya.

Mungkin saat ini sebagai karyawan atau usahawan yang baru dalam perintisan, Anda sudah mendapat kritikan, ”Teruslah maju mencari peluang!” Percayalah Tuahn sedang mengerjakan rencana hebat untuk pekerjaan anda. Saatnya kita melihat kritik sebagai dorongan orang lain agar kita tetap bersemangat dan mengembangkan potensi diri. Dari kritikan kita bisa melihat kelemahan-kelemahan yang mungkin belum kita sadari.

Kritik juga melatih kita menjadi bermental unggul. Kritikan adalah satu rahasia kesuksesan. Jangan bunuh suara-suara kritikan tetapi peliharalah demi keberhasilan pekerjaan anda. Tetaplah optimis!





Revolusi Cara Belajar (Dorothy Law Nolte)

16 04 2010

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran





Takut Mengambil Resiko

27 02 2010

Oleh DR.Jakoep Ezra

Setiap tujuan yang ingin dicapai pasti mempunyai resiko. Mungkin kita akan berkata, jika demikian lebih baik tidak melakukan sesuatu hal yang baru daripada harus menerima resiko yang tidak diharapkan. Tetapi kenyataannya, bukan banyak hal yang baru tapi bahkan semua perkara yang kita lakukan ternyata mempunyai resiko. Saat melangkah dan menyeberangi jalan kita pun punya resiko ditabrak, untuk memulai bisnis ada resiko mengalami kerugian, bahkan untuk mencintai pun kita ternyata punya resiko untuk ditolak. Jadi mengapa kita takut untuk mengambil resiko ?

Penyebab:

–         Tidak punya prediksi

Jika mengingat pengalaman masa kecil, ternyata kita tidak menyadari resiko terjatuh saat mulai belajar berjalan, namun kita toh tetap bersemangat untuk belajar berjalan. Pengalaman kemudian membentuk kita untuk selalu berusaha melindungi diri, memberi rasa aman agar tidak mengalami hal-hal yang merugikan dan tidak terduga sebelumnya. Tidak adanya gambaran/prediksi dapat membuat kita takut untuk mengambil resiko.

–         Tidak yakin pada kemampuan diri sendiri

Meragukan diri sendiri akan melumpuhkan semua tindakan dan reaksi kita dalam menghadapi berbagai kemungkinan dan akibat sehingga kita akan menganggap bahwa mengambil resiko adalah suatu tindakan yang nekad.

–         Tidak melihat keuntungan di balik resiko

Pandangan pesimis hanya dapat melihat kegagalan, kerugian, kekurangan, bahaya, krisis dan semua hal-hal negatif, tetapi tidak dapat melihat buah dan keuntungan yang diperoleh saat kita memutuskan untuk mengambil resiko.

Tips Solusi :

–         Pelajari kondisi dan masalahnya

Ketika kita mengetahui masalah dengan cermat, maka kita akan dapat memperkirakan, mengantisipasi kemungkinan resikonya

–         Melatih kapasitas pribadi

Seorang pemain bulu tangkis mungkin tidak menduga datanya setiap bola yang dikembalikan oleh lawannya, namun hal terbaik yang dapat dilakukan adalah melatih dirinya untuk dapat menerima bola dari segala arah. Kesiapan kita menerima resiko lebih baik daripada setiap usaha untuk menolak resiko

–         Melakukan hal-hal baru adalah warna kehidupan

Semua yang rutin terasa membosankan dan kebosanan juga dapat membuat hidup kita lebih buruk daripada mengambil resiko dengan tantangan baru.





Tepat Janji

23 02 2010

Berbicara tentang janji, entah berapa kali kita mengalami kekecewaan karena janji yang diucapkan oleh orang lain kepada kita, tidak ditepati (atau kita sendiri yang melakukan ingkar janji).

Contoh, seorang ayah yang telah berjanji akan mengajak jalan-jalan anaknya ternyata tidak menepati janjinya. Seorang manajer yang menjanjikan kenaikan gaji kepada staffnya ternyata tidak tepat janji. Bahkan janji yang tertulis pada poin dalam surat kontrak pun, serba tidak tepat dari apa yang dijanjikan. Dan yang lebih mengecewakan adalah ketidaktepatan itu dibiarkan saja terjadi tanpa penjelasan apapun.

Sepertinya ketidaktepatan memenuhi janji memang sudah biasa dilakukan oleh manusia. Padahal jika ingin dianggap berintegritas, dapat dipercaya, profesional, setiap pribadi/organisasi, haruslah tepat janji.

Pilihan ada ditangan setiap kita, apakah kita ingin dianggap sebagai tukang ingkar janji/si tepat janji? Konsekuensi dari yang pertama adalah tidak dipercaya, dianggap tidak punya integritas, perusahaan abal-abal dan sebutan negatif lainnya. Sedangkan konsekuensi dari yang kedua kebalikan dari yang pertama. Pilih mana?

Sumber : J-Hop





Kebiasaan Negatif Yang Harus Dihindari

22 02 2010

–         Mengeluh

Mengeluh seperti membuang sampah kekecewaan pada orang lain. Menceritakan kekecewaan, kekhawatiran, kesusahan, seakan-akan dirinya cukup sial. Orang seperti ini akan akan mengeluh hanya karena teriknya matahari mengganggu kulitnya. Biasanya ia akan selalu minta dikasihani, butuh perhatian/ingin didengarkan. Hentikan kebiasaan mengeluh karena tidak semua orang mau dijadikan keranjang sampah. Tips : Tidak hanya anda yang sedang mempunyai masalah, mungkin orang lain mempunyai masalah yang lebih berat dari anda.

–         Tidak tahu diri

Orang yang tidak tahu diri biasanya melakukan sesuatu seenaknya sendiri. Orang seperti ini selalu berpikir ”Semau gue”. Tips : Seandainya anda sebagai dirinya, bagaimana perasaan anda? Untuk itu mulailah untuk mengerti perasaan orang lain.

–         Membual

Orang yang suka ”omong besar” biasanya mempunyai cerita-cerita yang menakjubkan mengenai dirinya. Ia suka membanggakan tentang kehebatan dirinya. Ia juga mempunyai ide-ide yang kedengaran ”wah”, suka mengobral janji-janji namun tidak pernah menepatinya. Tips : Bila bertemu orang seperti ini, lebih baik anda tidak terpancing oleh cerita-ceritanya. Mendengarkan menunjukkan anda perhatian dengan ceritanya, dengan demikian anda akan lebih disukai.

–         Tidak peka

Tidak hanya sekedar ingin tahu permasalahan orang lain saja, orang yang seperti ini mempunyai kebiasaan berbicara ”ceplas ceplos” tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kadang ia suka bercanda dengan hal yang sama sekali tidak lucu tetapi dapat menyakiti perasaan orang lain. Anehnya orang yang seperti ini selalu menggangap dirinya humoris dan perhatian terhadap orang lain. Tips : Seandainya anda diejek orang lain, apakah anda sanggup menerima hinaan itu? Berbicara seperlunya saja dan mendengarkan pembicaraan orang lain sampai selesai akan membuat anda lebih dihargai oleh orang lain.

–         Menjelekkan orang lain

Gosip bareng teman-teman memang asyik apalagi ada seseorang yang pintar membuat pembicaraan menjadi seru. Tidak semua orang menyukai cerita-cerita miring tentang orang lain, kadang gosip tidaklah selalu benar, hal-hal kecil dapat menjadi besar.

–         Keras kepala

Orang yang keras kepala selalu berpikir untuk menang dalam hal sekecil apapun, ia akan tetap mempertahankan prinsipnya tanpa mau mendengarkan orang lain. Ia akan tetap ngotot dalam hal sepele. Ia tidak tertarik untuk mendengarkan/memperhatikan hal-hal menyangkut kegiatan orang lain. Egonya tertuju pada dirinya sendiri sehingga sangat sulit menerima kesalahan/nasihat orang lain.

–         Pelit

Orang pelit biasanya lebih senang dibagi daripada berbagi. Ia akan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai uang ketika temannya membutuhkan pertolongan padahal ia mempunyai uang tabungan lebih. Biasanya orang pelit tidak hanya pelit kepada orang lain saja, melainkan kadang pelit terhadap dirinya sendiri. Tips : Berbagi kebahagiaan  dengan orang lain mempunyai nilai yang lebih berarti yang tidak dapat dinilai dengan uang seberapa pun jumlahnya. Bersikap tulus ketika memberi dengan merasakan kebahagiaan dan berbagi kesenangan dengan orang lain akan membuat anda sendiri merasa bahagia dan akrab dengannya.

–         Berbohong

Orang yang suka berbohong menciptakan kebohongan secara spontan, kreatif dan tampak wajar sehingga mudah dipercaya oleh orang lain. Orang seperti ini akan terus berbohong secara terus-menerus untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang sebelumnya. Tips : Tidak perlu berbohong, belajarlah untuk berkata jujur dan menanggung konsekuensi dengan berjiwa besar. Berbohong sekali maka anda akan berbohong untuk seterusnya dan sewaktu-waktu bisa saja anda lupa dengan kebohongan yang anda ciptakan sendiri.

–         Tidak mempunyai pendirian

Orang yang tidak mempunyai pendirian sering merasa kebingungan dengan sikap yang harus diambil, hal-hal yang menjadi prinsipil dapat tergoyahkan hanya karena rayuan/bujukan orang lain. Keyakinan dapat juga berubah setiap saat sehingga orang semakin susah untuk percaya kepadanya. Tips : Anda harus menentukan sikap tertentu mana yang terbaik untuk diri anda dan berguna untuk orang lain. Pertegas pada diri anda setiap kali anda menemukan hal yang dapat menggoyahkan prinsip anda sebelumnya, pisahkan mana yang boleh anda lakukan dan mana yang tidak boleh.

–         Sombong

Orang sombong merasa dirinya superior, mempunyai ego yang kuat. Ia merasa dirinya lebih hebat dibandingkan orang lain, cenderung meremehkan, mencela dan mengkritik orang lain. Tips : Ubah cara berpikir anda dalam memandang orang lain. Tidak ada orang yang mempunyai kelebihan kalau bukan dari kebaikannya. Anda dapat menjadi orang besar hanya karena kebaikan hati kepada orang lain, dan orang lainlah yang akan menilai diri anda, bukan anda sendiri

–         Sensitif

Mudah tersinggung, pemarah, suka menilai sikap orang lain yang ia anggap menyerang perasaannya, merupakan ciri-ciri orang yang sensitif. Biasanya ia juga bersikap hati-hati dengan sikap dan perkataannya sendiri karena ia berharap orang lain bersikap yang sama pula terhadapnya. Tips : Orang sensitif akan dijauhi orang karena mereka takut kepada anda, takut anda tersinggung/marah karenanya. Menerima orang lain dengan berpikir positif akan menghambat perasaan-perasaan negatif yang dapat merusak suasana hati anda. Jangan mudah tersinggung..

–         Pemalas

Orang malas biasanya terbentuk dari kebiasaan sehari-hari. Orang malas sangat tergantung pada orang lain. Ia akan mencari alasan tertentu untuk mengelak dari tugas yang seharusnya ia lakukan. Akhirnya orang seperti ini juga menghindari dari tanggung jawab. Tips : Saatnya anda untuk melakukan hal-hal yang berguna untuk diri anda. Apa yang anda kerjakan akan memberi makna pada diri anda sendiri. Hasil jerih payah sendiri lebih berharga daripada penilaian orang lain.





Masih Adakah Dedikasi Disaat Kantor Sepi?

5 01 2010

Masih ingat pepatah ’Kucing pergi, tikus menari’ ? Jaman sekarang tubuh tikus hampir seukuran kucing, sehingga kucing tidak lagi berselera mengganggu tikus. Tapi, pepatah itu masih relevan hingga kini. Terlebih lagi, jika dikaitkan dengan prinsip kepemimpinan atau leadership, dan kinerja atau performance. Dalam konteks ini, kita bisa menguji kedua hal diatas ketika Umat Islam merayakan Iedul Fitri, atau saat Kaum Kristiani merayakan Natal. Tahukah anda mengapa demikian? Karena, itu adalah saat-saat dimana para atasan dan kolega pergi liburan. Walhasil, suasana kantor menjadi sunyi senyap. Lantas, apakah disaat senyap seperti itu kinerja anda naik dan menjadi lebih baik, atau malah turun menukik?

Seorang karyawan terlihat sibuk didepan komputernya dengan tampang yang serius. Mungkinkah dia termasuk karyawan yang sungguh-sungguh dalam bekerja? Kelihatannya sih demikian. Namun, ketika karyawan itu menyadari bahwa atasannya  berdiri tepat dibelakangnya, dan melihat seluruh tampilan dilayar komputernya; mendadak wajah karyawan itu berubah menjadi pucat pasi. Pada kesempatan lain, seorang karyawan buru-buru menutup layar monitor laptopnya ketika boss besar memasuki ruang rapat. Kita tentu mafhum; mengapa seseorang tidak ingin atasannya mengetahui apa yang sedang dilakukannya.

Kedua peristiwa yang saya ceritakan diatas bukan kisah rekaan semata. Dan itu sudah cukup menggambarkan betapa banyak orang yang tidak sungguh-sungguh bekerja pada saat seharusnya mereka bekerja. Jika saat para atasan berada dikantor saja banyak karyawan yang tidak sungguh-sungguh bekerja, maka bisa dibayangkan betapa banyak karyawan yang  menyia-nyiakan amanah seperti itu disaat musim libur panjang tiba?

Padahal, salah satu ciri karyawan yang baik adalah; bekerja dengan sungguh-sungguh meski tidak seorangpun mengawasinya. Oleh karena itu, kita bisa mengukur apakah kita ini karyawan yang baik atau bukan justru pada saat atasan kita tidak berada di tempat. Dengan kata lain, musim libur panjang seperti Iedul Fitri dan Natal adalah saat yang tepat untuk membuktikan kualitas diri kita sebagai seorang profesional.

Sewaktu saya masih kecil, guru mengaji saya menceritakan kisah tentang seorang anak yang tengah menggembalakan kambing yang jumlahnya banyak sekali. Suatu hari seorang lelaki tak dikenal menghampirinya, dan berkata; ”Nak, jual satu ekor kambingmu itu kepadaku.” Sambil dikeluarkannya uang dari dalam saku.

”Maaf  Tuan, kambing-kambing ini bukan milik saya. Jadi tidak akan saya jual.” sahut anak itu.

”Sudahlah, Nak. Jumlah kambing itu sangat banyak. Majikanmu tidak akan tahu kalau berkurang satu.” Orang itu meyakinkan.

Benar Tuan. Majikanku tidak akan tahu kalau beberapa ekor kambing yang kugembalakan ini hilang.” Sahutnya. ”Tetapi Tuan,” lanjutnya. ”Tuhanku Yang Maha Melihat senantiasa memperhatikan semua yang aku lakukan ketika menggembalakan kambing-kambing ini.”

Lelaki pendatang itu tertegun sesaat. Lalu memeluknya erat. Dan berkata;”Kamu benar anakku. Tidak ada satu tempatpun dimuka bumi ini yang tidak terlihat oleh Tuhan.”  Guru ngaji saya mengatakan bahwa lelaki asing itu bernama Umar Bin Khatab. Seorang Khalifah yang gemar menyamar.

Hari ini, kita mendapatkan anugerah yang tak ternilai dalam bentuk pekerjaan yang dipercayakan oleh perusahaan. Dan hari ini, kita mendapatkan pengingat dari gembala kecil itu. Karena, bekerja bukan semata-mata untuk menyenangkan majikan. Bekerja adalah sarana pengabdian kepada Tuhan. Sebab, Tuhan telah menganugerahkan begitu banyak potensi melalui kesempurnaan penciptaan diri kita. Sehingga, menyia-nyiakan amanah dari perusahaan, pada hakekatnya menyia-nyiakan anugerah Tuhan.

Malu kita seandainya diusia yang sudah dewasa seperti ini masih berprinsip untuk bekerja dengan baik hanya jika ada atasan. Bukan malu karena takut ketahuan atasan. Tapi malu bahwa kita selalu diperhatikan oleh Tuhan. Padahal, Tuhan menyediakan pahala untuk  setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Artinya, jika kita bekerja dengan baik, maka bukan hanya gaji dari perusahaan yang kita dapatkan. Melainkan sesuatu yang nilainya lebih tinggi dari itu. Mengapa? Karena, setinggi apapun gaji yang anda terima; belum tentu sepadan dengan pengorbanan yang anda berikan. Sedangkan imbalan dari Tuhan? Tidak pernah lebih sedikit dari usaha yang kita upayakan. Bahkan, karena Tuhan itu Maha Pemurah; maka Dia menyediakan pahala yang berlipat-lipat. Bagi hamba-hambanya yang bekerja dengan tulus ikhlas. Yaitu, orang-orang yang bekerja bukan karena pengawasan orang lain. Melainkan mereka yang mempersembahkan setiap pekerjaan yang dilakukannya sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan.





10 Kekuatan Manusia

14 12 2009

He who stops being better stops being good. – Siapa yang tidak menjadi lebih baik berarti ia berhenti menjadi baik.” Oliver Cromwell, Politikus Inggris (1599-1658)

Tak cukup hanya menjadi baik, karena kita harus berusaha untuk selalu lebih baik dari sebelumnya. Terus belajar dan segera menjalankan langkah-langkah perbaikan adalah cara untuk selalu lebih baik. Belajar tak harus selalu dari bangku sekolah elit atau buku-buku mahal, melainkan belajar dari kehidupan sehari-hari, pengalaman diri sendiri maupun orang lain, dan lain sebagainya.

Saya senang belajar dari buku, entah buku kuno ataupun terbitan baru, karena dari sanalah saya memetik banyak pelajaran hidup berharga. Salah satu falsafah hidup yang memperluas wawasan hidup saya adalah catatan surat-surat, konon ditulis oleh Zhuge Liang (181-234) untuk anaknya. Zhuge Liang adalah seorang pakar perang dan kemiliteran ternama pada masa San Guo (Sam Kok) di jaman Tiongkok Purba.

Zhuge Liang alias Kong Ming gemar membaca, dan menguasai bermacam ilmu pengetahuan diantaranya ilmu geologi, sejarah, sampai strategi perang. Di usia 27 tahun ia diangkat Raja Shu (Liu Bei) sebagai penasihat kerajaan. Selama menjadi penasihat, Zhuge Liang pernah menulis sebuah surat kepada anaknya. Isi surat yang ditulis 1.800 tahun yang lalu itu sarat dengan dengan kebijakan yang tak lekang oleh waktu dan perubahan, di antaranya berisi tentang 10 kekuatan manusia, yaitu;

Kekuatan Keheningan

Keheningan membantu kita menenangkan diri untuk menjernihkan pikiran. Ia menjelaskan bahwa suasana hening membantu kita melakukan introspeksi diri, mengevaluasi segala tindakan, dan menumbuhkan tekad untuk memperbaiki diri. Ia juga menegaskan bahwa kunci keberhasilan dalam belajar adalah keheningan, sebab dalam keheningan kita dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup kita.

Kekuatan Hidup Hemat

Zhuge Liang memberikan petunjuk bahwa hidup bersahaja akan menyelamatkan diri kita agar tidak diperbudak oleh materi. Hidup sederhana menurut sang penasehat ini membentuk diri kita menjadi manusia yang lebih bermoral. Jangan terseret dalam pola hidup boros, sebab pola hidup boros suatu saat dapat mengubur kita kedalam tumpukan hutang dan puing-puing kehancuran.

Kekuatan Membuat Perencanaan

Dalam surat-surat itu Zhuge Liang menegaskan tentang pentingnya merencanakan hidup. Fail to plan means plan to fail – Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Dengan melakukan perencanaan yang baik, maka kita akan dapat menempatkan prioritas dengan baik pula. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang baik akan selalu membuat kita gagal menyelesaikan apapun yang kita kerjakan.

Kekuatan Belajar

Zhuge Liang dalam suratnya menyebutkan bahwa keheningan memaksimalkan pencapaian hasil dari tujuan belajar. Ia meyakini bahwa kemampuan manusia bukan berasal dari pembawaan sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan dengan konsisten. Oleh sebab itu ia menyarankan agar kita tak pernah berhenti belajar sampai kapanpun. Sementara dalam proses pembelajaran, kerendahan hati akan sangat membantu kita menyerap dengan mudah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.

Kekuatan Nilai Tambah

Nasihatnya ini menekankan kita agar lebih banyak memberi, karena hal itu akan membuat kita lebih banyak menerima. Oleh sebab itu kita harus berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, diantaranya kepada keluarga, kerabat, teman, konsumen, mitra bisnis, dan lain sebagainya. Bila kita mampu memberikan sesuatu yang ekstra atau nilai tambah terhadap apa yang dibutuhkan orang lain, tentu saja mereka akan senang, merasa tersanjung dan terpesona. Tak heran jika selanjutnya mereka ingin selalu menjalin hubungan yang menguntungkan bagi Anda.

Kekuatan Kecepatan

Beliau menesehat anaknya agar tidak menunda-nunda pekerjaan karena penundaan artinya menghambat usaha kita mencapai visi dan misi secepat mungkin. Ia menandaskan agar kita menjalankan segala sesuatu dengan efektif dan efisien waktu. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan memanajemen waktu. Jika perlu, satu hal dilakukan bersama-sama dengan tim agar lebih cepat terselesaikan, “Alone we can do so little; together we can do so much. – Sendiri kita menyelesaikan sedikit pekerjaan; bersama kita kerjakan sangat banyak pekerjaan,” kata Hellen Keller.

Kekuatan Karakter

Zhuge Liang menasihati anaknya agar membiasakan diri tidak bersikap tergesa-gesa, sebab segala sesuatu memerlukan proses. Kehati-hatian dalam bersikap dapat membentuk sebuah karakter yang utuh. Dalam pepatah bangsa Tionghoa dikatakan, “Diperlukan waktu hanya sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah watak yang utuh.”

Kekuatan Waktu

Dalam suratnya Zhuge Liang menginginkan anaknya menghargai waktu. Sebab waktu berlalu sangat cepat, tak jarang ikut mengikis semangat dan cita-cita kita. Oleh sebab itu manajemen waktu dengan baik, jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan melakukan aktifitas yang kurang bermanfaat.

Kekuatan Imajinasi

Zhuge Liang memberikan nasehat supaya kita berpikir jauh ke depan, agar kita tidak tertinggal oleh jaman yang terus berkembang. Imajinasi tentang masa depan dikatakannya lebih kuat dari pengetahuan. Hal ini juga pernah diucapkan oleh Albert Einstein, “Imagination is everything. It is the preview of life’s coming attractions. – Imajinasi adalah segalanya. Imajinasi adalah penarik realitas yang akan datang.”

Kekuatan Kesederhanaan

Sang penasehat ini mencontohkan kekuatan kesederhanaan dalam setiap surat-suratnya yang singkat dan mudah dimengerti tetapi sarat tuntunan hidup positif. Tidak ada teori atau tuntunan hidup yang muluk-muluk, melainkan kebijaksanaan hidup yang sederhana. Begitupun jika kita ingin menghasilkan prestasi hidup yang luar biasa, tak perlu menggunakan teori yang rumit. Sekalipun tindakan atau langkah-langkah yang kita lakukan sederhana tetapi jika dilakukan dengan konsisten maka kita akan mudah meraih visi dan misi.

Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out. – Sukses merupakan kumpulan dari tindakan-tindakan sederhana, diulang terus setiap hari.” Kata Robert Collier, penulis buku terlaris.

Itulah beberapa inti pesan dalam surat-surat Zhuge Liang, yang ditujukan untuk anaknya agar ia mampu berpikir, bersikap dan bertindak lebih baik dari hari ke hari. Kita dapat menyerap pemikirannya untuk menjadi yang terbaik. Jika kita berhasil melakukan yang terbaik artinya kita akan semakin dekat dengan kehidupan yang kita inginkan, kehidupan yang indah.