Berserulah KepadaKu

24 11 2008

Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Yer 33:3)

Kepuasan sejati tidak tergantung dari apa yang kita pikirkan atau rasakan.

Kepuasan sejati atau kebahagiaan sejati dalam hidup ini hanya dapat ditemukan di satu tempat

Tidaklah mengherankan, apabila saat ini banyak buku-buku yang mengangkat tema mencapai kepuasaan atau kebahagiaan sejati. Salah satu yang terkenal dan mengundang kontroversi adalah “The Secret”. Sudah jutaan kopi terjual di seluruh dunia dan yang mengejutkan adalah buku ini juga menganut prinsip-prinsip alkitabiah.

Kebenaran sesungguhnya tidak terdapat pada filosofi. Rahasia atai kebenaran sesungguhnya adalah ada dia dalam Dia

Hanya di dalam Dia, kita dapat menemukan segala macam rahasia, segala jawaban terhadap masalah atau persoalan kita hari ini

Ketika masalah menghampiri, kemana kita mencari jawabannya ? Apakah kita mengandalkan Dia atau mencari cara dengan mengandalkan akal kita yang terbatas?

Mari kita belajar mengandalakan Allah kita yang tak terbatas yang menjawab doa Elia ketika ia meminta hujan turun, yang menjawab doa Paulus dan Silas dan membebaskan mereka dari penjara, dan yang membangkitkan Yesus dari kubur

Ingatlah, doa kita mengubah sesuatu, dapat mengubah situasi di sekeliling kita, bahkan mengubah sejarah, Ketika situasi dan tekanan datang, janganlah bergantung kepada diri kita yang terbatas, tetapi andalkan Dia yang tak terbatas!

Ketika kau berdoa, sabarlah dalam menunggu waktu Tuhan. Dia Allah yang berjanji akan memberi kekuatan dan damai yang kau perlukan selama masa penantianmu.

“Jangan katakan kepada Allahmu betapa besar masalahmu, tetapi katakanlah kepada masalahmu betapa besar Allahmu”





Pergaulan Pria Wanita

25 10 2008

Problema terbesar kaum muda adalah hubungan lawan jenis yang bermuara pada pernikahan. Banyak kegagalan dalam pernikahan karena diawali hubungan pranikah yang tidak benar. Oleh karena itu hubungan pranikah yang benar adalah salah satu kunci kesuksesan dalam keluarga. Prinsip apa yang Firman Tuhan ajarkan dalam hubungan dengan lawan jenis ?

Hubungan yang benar

1. Membangun persahabatan dengan hati yang murni (II Timotius 2:22)
Hati yang murni adalah memiliki motivasi yang benar yaitu tidak untuk keuntungan diri pribadi atau hawa nafsu tetapi rindu saling membangun dalam kasih Kristus. Persahabatan yang benar menentukan pernikahan yang bahagia, karena 90% orang menikah dalam lingkungan sahabat-sahabat baiknya.
2. Menemukan pasangan hidup sesuai standar Allah (II Kor 6:14-15)
Allah menetapkan pasangan hidup yang seiman dan sevisi.
Pria  memiliki visi Allah dan belajar bertanggung jawab.
Wanita  memiliki kecantikan batin yaitu roh lemah lembut dan tentram (I Petrus 3:4)
3. Hubungan pertunangan bukan pacaran duniawi (I Tes 4 : 3-8)
Pertunangan :
A. Sejak awal sudah yakin dan pasti menikah.
B. Kasih Allah / Kudus
Pacaran duniawi :
A. Coba-coba, tidak ada kepastian menikah
B. Hawa nafsu / asmara

Marilah kita memiliki standar yang tinggi dalam hubungan lawan jenis. Hubungan yang dilandasi kesucian dan tanggung jawab adalah standar yang harus dimiliki oleh setiap kita di dalam membangun hubungan dengan lawan jenis.





Hati Yang Terluka

24 10 2008

Hati yang terluka terjadi ketika seseorang atau sesuatu menyakiti perasaan. Dalam Amsal 26:22 dikatakan bahwa seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati.

Penyebab terjadinya luka hati adalah sebagai akibat dari :
1. Perbuatan dosa kita sendiri (Maz 25:8, Ams 17:19, 2 Sam 24:10)
2. Dosa keturunan (Kel 34:6-7)
3. Kebiasaan minum minuman keras (Ams 23:29-35)
4. Keterlibatan di dalam dunia gaib (Imamat 20:6)

Luka hati tidak dapat hilang begitu saja! Waktu juga tidak dapat menyembuhkan. Ketika kita mengingat peristiwa itu, kita akan merasakan luka itu. Beberapa orang bahkan mematikan pikiran sehingga mereka tidak mengingat rasa itu lagi, tetapi sebenarnya perasaan luka itu sendiri masih ada.

Gejala-gejala yang ditimbulkan :
1. Sisi fisik (Ams 17:22)
Ketegangan syaraf, alergi, masalah di pencernaan, sakit hati, insomnia.
2. Sisi mental (Ams 18:14)
Depresi, kekacauan, rendah diri, ketakutan
3. Sisi roh/spiritual (Mat 18:34)
Mimpi buruk, mendengar suara-suara, melihat hal-hal yang aneh, tidak dapat mengontrol diri sendiri.

Berbagai cara orang berespon
Menghindari dari situasi dan membiarkan waktu yang menyembuhkan. Berusaha untuk menyesuaikan hatinya yang terluka dengan kemarahan dan dendam atau berusaha menutupi diri dan membiarkan waktu yang menyembuhkan.

Cara Penyembuhan
1. Berikan hati kepata Tuhan dan biarkan Dia menjadi Tuhan (Rm 10:9)
2. Lakukan pengakuan dan minta pengampunan untuk dirimu (Mat 5:23-24)
3. Kita harus memaafkan orang yang pernah menyakiti (Mat 6:12)
4. Serahkan penghakiman kepada Tuhan dan minta Tuhan untuk memaafkan mereka (Luk 23:24)





The Act of Grace, Faithful and Fruitful

2 10 2008

Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus memuji mereka karena di dalam pelayanan firman, jemaat Korintus memiliki ketaatan. “They praise God for your confession of the gospel of Jesus Christ which is faithful…” (2 Kor. 9:13). Ini hal yang terpenting. Tetapi pelayanan hidup Kekristenan kita bukan saja perlu kesetiaan, tetapi juga perlu hidup yang berbuah. Not only faithful but also fruitful. Kita tidak hanya membuktikan kesetiaan kita, tetapi kita juga dipanggil untuk menyatakan satu hidup yang berkelimpahan. Paulus memuji jemaat Korintus di dalam pelayanan Injil, di dalam hidup mengikut Tuhan, mereka sudah menyatakan ketaatan terhadap pengakuan akan Injil Kristus. Tetapi bukan itu saja, sekarang Paulus ingin mendesak satu hal yaitu apakah mereka juga menyatakan hidup Kristen mereka adalah hidup Kristen yang berbuah dengan melimpah.

Titus diutus oleh Paulus ke Korintus untuk membereskan persoalan yang berat yang terjadi di sana. Paulus kemudian mendengar beberapa kabar melalui Titus, ada good news tetapi ada juga bad news. Kabar baiknya ialah teguran Paulus yang keras melalui suratnya telah memberikan perubahan di dalam jemaat Korintus. Maka Paulus bersyukur untuk perkembangan baik ini. Dulu dia merasa menyesal karena teguran itu telah mendukakan hati mereka. Tetapi sekarang dia bersyukur karena ada hasil yang baik melalui berita yang disampaikan oleh Titus terjadi transformasi hidup, terjadi pertobatan, terjadi perubahan hidup.

Tetapi ada kabar kurang baik yang disampaikan Titus. Kita akan melihat konteksnya terlebih dahulu di pasal 8 dan 9. Di pasal 9:1-2 kita melihat Korintus adalah ibukota dari negara bagian Akhaya, satu kota yang makmur dan jemaatnya rata-rata orang kaya. Sedangkan tidak jauh dari sana ada negara bagian Makedonia, dimana jemaatnya terdiri dari orang-orang yang sederhana. Jemaat Korintus yang kaya itu telah memulai satu proyek untuk mengirim bantuan uang kepada gereja di Yerusalem. Paulus mengatakan dengan bangga kepada jemaat di Makedonia dan daerah-daerah yang lain, “Akhaya sudah siap sejak tahun yang lalu…” Tetapi sekarang dia menjadi malu karena jemaat Korintus tidak lagi mengumpulkan uang untuk jemaat Yerusalem. Kita tidak tahu apa sebabnya. Maka dengan latar belakang ini, di pasal 8 dan 9 ini Paulus bicara mengenai konsep apa artinya kita memberi. Jadi sudah ada kerinduan, sudah ada hal yang baik untuk memulai karena mereka sadar mereka sudah mendapat berkat karena gereja Yerusalem mengutus misionari pergi sampai akhirnya mereka bangsa kafir bisa mendengar Injil. Tetapi ada perbedaan status sosial. Orang-orang Kristen non Yahudi ini jauh lebih kaya daripada orang-orang Kristen Yahudi. Maka jemaat Korintus yang merasa berhutang budi dan berhutang Injil kepada jemaat Yerusalem memutuskan untuk mengirim uang kepada mereka. Ini yang membuat Paulus begitu bangga kepada mereka. Kerinduan ini lalu Paulus sampaikan juga ke daerah-daerah yang lain. Cuma akhirnya terjadi hal ini, Makedonia gereja yang begitu sederhana dan miskin justru bereaksi dengan sukacita dan merealisasikan proyek ini dengan baik. Mereka mengumpulkan uang, tetapi gereja Korintus justru tidak melakukannya. Maka Paulus bilang kepada mereka, jangan sampai kebanggaanku kepadamu menjadi luntur. Sebagai jemaat yang begitu berlimpah dengan kekayaan dan juga telah berinisiatif untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak boleh berhenti sampai di angan-angan, cita-cita dan ide saja. Jadi seorang Kristen jangan hanya suka melontarkan ide, tetapi harus juga diselesaikan, dijalankan dan dilakukan.

Maka di pasal 8 dan 9 ini Paulus khusus bicara mengenai “persembahan kasih”, the act of grace. Jadi dari konteksnya ini bukan bicara mengenai persembahan syukur yang rutin dijalankan, tetapi persembahan bantuan kepada jemaat di Yerusalem. Paulus menyebutnya sebagai ‘the act of grace,’ istilah ini menjadi satu hal yang penting sekali. Pertama, pemberian kasih kita tidak mungkin keluar dari hidup kita kalau tidak didorong dengan satu perasaan bahwa kita terlebih dahulu sudah mendapatkan anugerah Allah. Yang kedua, semakin sadar kita betapa besar anugerah yang datang kepada kita itu maka kita akan merasa apapun yang kita beri tidak bisa melampaui anugerah yang kita sudah terima itu. Itu sebab di pasal 9:15 Paulus menutup dengan satu kalimat yang sdr dan saya harus akui sampai kapanpun tetap berhutang kepada Tuhan. Paulus mengatakan, “thanks to the Lord for His unspeakable gift…” Syukur kepada Allah oleh karena kasih karuniaNya yang tak terkatakan itu. Apakah ‘the unspeakable gift’ itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus Kristus. Dia adalah the unspeakable gift dari Allah. Paulus sadar sesungguh-sungguhnya, ini adalah anugerah Tuhan yang tidak sanggup kita ungkapkan dengan kata-kata, yang hanya bisa melahirkan rasa syukur kita kepada Tuhan. Hidup kita sebagai orang Kristen dilandasi dengan pemahaman seperti itu. Sehingga pada waktu kita memberi sesuatu, itu adalah ‘the act of grace’ karena kesanggupan untuk memberi itu bukan datang dari kita. Kita sanggup untuk memberi sebab kita terlebih dahulu sudah diberi. Dan berapa besar hati kita untuk bisa memberi itu depends on berapa besar kita menilai dan menghargai anugerah itu. Maka Paulus mengingatkan kita, that grace is the unspeakable gift.

Jemaat Korintus merupakan jemaat yang jauh berbeda dibandingkan dengan jemaat Makedonia. Paulus bukan ingin mempermalukan jemaat Korintus, tetapi dia ingin komparasi dengan jemaat Makedonia itu boleh menjadi cambukan kepada jemaat Korintus. Pertama, jemaat Korintus yang sudah memulai tetapi malah yang lain yang menyelesaikannya. Kedua, di pasal 8:7 Paulus jelas-jelas mengatakan jemaat Korintus ini adalah jemaat yang kaya dibandingkan jemaat yang lain. Mereka kaya di dalam segala sesuatu, di dalam iman, di dalam perkataan, di dalam pengetahuan, di dalam kesungguhan dan di dalam kasih. Dan sekarang hendaklah juga mereka kaya di dalam pelayanan kasih itu. Kalau kita membaca surat-surat Paulus kepada jemaat yang lain, sdr dansaya akan melihat jelas jemaat Korintus memang adalah jemaat yang penuh dengan karunia. Mereka adalah jemaat yang ‘high class,’ jemaat yang memiliki pendidikan yang tinggi. Maka sekarang Paulus katakan, mari engkau juga kaya di dalam hidup yang memiliki generosity. Hidup yang sanggup bisa memberi kepada orang lain. Paulus membandingkan mereka dengan jemaat Makedonia, yang Paulus begitu sungkan karena mereka jemaat yang sangat sederhana dan miskin. Tetapi Paulus bersaksi kepada Korintus bahwa jemaat Makedonia ini memberi melampaui apa yang mereka punya. Itu sebab di sini kita bisa belajar sebagaimana kesadaran gereja Makedonia di dalam dua hal ini. Pertama, saya bisa memberi bukan karena saya punya, tetapi karena saya sudah terlebih dahulu menerima. Kedua, saya bisa memberi berlebih karena saya menghargai anugerah itu begitu indah di dalam hidupku.

Immanuel Kant, seorang filsuf yang mengajarkan “Imperative Ethics” bagi saya merupakan salah satu etika yang tinggi sekali, mengatakan, “Kalau engkau melakukan satu kebaikan for the goodness itself, itu baru suatu kebaikan yang benar. Sebab jikalau engkau melakukan satu kebaikan “karena”, kebaikanmu itu belum merupakan satu kebaikan tertinggi.” Ini adalah konsep yang luar biasa. Kalau engkau baik kepada seseorang “karena” dia sudah baik kepadamu, itu belum merupakan kebaikan yang tertinggi. Yang lebih rendah lagi adalah kalau engkau baik kepada seseorang “supaya” dia berbuat baik kepadamu. Kalau engkau memberi karena memberi itu sendiri , itu baru satu kebaikan tertinggi. Tuhan Yesus pernah mengatakan, kalau tangan kananmu memberi, janganlah tangan kirimu mengetahuinya (Mat.6:3). Maksudnya apa? Mana ada tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri? Maksud Tuhan Yesus di sini, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh meminta balas. Jadi kalau kita memberi untuk mendapat balasan, itu bukan satu pemberian yang indah.

Maka Paulus mengatakan, pemberianmu adalah the act of grace. Kita memberi karena kita sudah mendapatkan anugerah yang kaya dan melimpah dari Tuhan. Jemaat Makedonia walaupun di dalam kesulitan dan kemiskinan bisa melakukan sesuatu melampaui apa yang ada di dalam hidup mereka. Itu adalah suatu hal yang sangat indah. Paulus memberikan beberapa prinsip dimana hidup kita adalah hidup karena sudah ditopang oleh anugerah Allah yang tak terkatakan itu, yang hanya bisa melahirkan hati yang bersyukur. Tetapi kita tidak boleh hanya sampai kepada satu sensasi syukur atas apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, tetapi kita belajar menyatakan secara nyata bagaimana menjadi orang Kristen yang lebih murah hati.

Paulus mengatakan beberapa hal yang penting. Pertama, Tuhan tidak pernah menuntut orang untuk memberi melampaui apa yang dia tidak punya. Belajar memberi dari apa yang engkau punya (8:12). Kedua, belajar memberi karena engkau rela (9:7). Kata “rela” adalah kata yang tidak mudah. Rela itu merupakan kunci yang paling penting di dalam hidup kita yang membuat segala sesuatu menjadi enteng dan ringan. Kalau tidak rela, barang 1 kilopun di tangan terasa berat bukan main. Jadi bukan berapa besar dan beratnya yang menentukan sesuatu tetapi berapa besar perasaan hati kita rela itu yang membuat keringanannya. Paulus bilang, kalau engkau punya hati yang rela, engkau memberi dengan sukacita. Kemudian Paulus memberikan prinsip bagaimana menjadi orang Kristen yang generous di pasal 9:6-15. Pertama, “camkanlah ini: orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit, orang yang menabur banyak akan menuai banyak.” Artinya apa? Artinya, orang yang memberi tidak akan pernah kehilangan daripada apa yang dia sudah beri. Jadi pada waktu sdr memberi, sdr jangan berpikir ada sesuatu yang terhilang dari hidupmu. Prinsip ini memberitahukan kita, apa yang kita beri itu tidak akan pernah terhilang dari hidupmu. Sehingga the giver is never become the loser. Seorang yang memberi tidak akan pernah menjadi loser. Barangsiapa yang menabur banyak, dia akan menuai banyak. Barangsiapa menabur sedikit, dia akan menuai sedikit. Secara prinsip sederhana, logisnya kalau sdr tabur 10 benih padi, benih itu akan mengeluarkan 10 batang padi yang akan menghasilkan lebih banyak dari 10 benih yang tadi sdr tabur. Tetapi kalau yang kita tabur itu sesuatu yang abstrak, analogi tadi akan sulit untuk kita pahami.

Banyak hamba Tuhan dari Prosperity Theology memakai ayat ini mengatakan, “Kalau sdr memberi $100, maka Tuhan akan memberkatimu $1000.” Itu penafsiran yang keliru, karena kalau kita membaca dengan teliti bagian ini Paulus tidak bicara seperti itu. Maksud ayat ini adalah apa yang engkau tabur itu tidak akan pernah hilang. Dia pasti akan menghasilkan buah. Buahnya adalah, pada waktu kita memberi sesuatu pasti akan mendapatkannya dengan berkelimpahan. Tetapi yang kita akan dapat itu tidak boleh dipersempit pengertiannya. Kalau sdr memberi perhatian dan waktu kepada orang, maka sdr mungkin akan mendapat bukan sekedar perhatian saja, tetapi hal-hal yang lain. Kalau sdr memberi bantuan uang kepada orang lain, sdr tidak hanya mendapat balik uang tetapi juga akan mendapatkan lebih daripada itu. Ayat 10, “engkau akan menghasilkan buah-buah kebenaran..” Dengan memberi sesuatu, the act of grace itu akan membuatmu lebih fruitful. Ada buah-buah kebenaran yang dihasilkan. Engkau menjadi orang yang kaya.

Rockefeller sendiri mengatakan, “Orang yang paling miskin di dalam dunia ini adalah orang yang tidak punya apa-apa selain uangnya.” Kekayaan kita tidak boleh hanya diukur dari satu aspek saja. Maka Paulus bilang, engkau akan melipat-gandakan dan menumpukkan buah-buah kebenaran. Engkau akan menjadi kaya. Dalam hal apa? Melalui the act of grace itu, melalui perhatian, waktu, doa dan pelayanan, sdr memberi uangmu untuk membantu orang, semua itu tidak pulang dengan sia-sia tetapi akan menghasilkan begitu banyak buah-buah kebenaran. Engkau akan menjadi seorang Kristen yang kaya, kaya di dalam kasih dan generosity, kaya di dalam kemurahan hati, kaya di dalam hal membangkitkan syukur kepada Allah (ayat 11). Pelayanan kasihmu itu bukan saja mencukupkan keperluan orang tetapi melimpahkan ucapan syukur orang itu kepada Tuhan. Engkau akan berlimpah dengan begitu banyak teman yang berdoa bagimu (ayat 14). Kaya dengan orang-orang yang banyak mendoakanmu. Betapa besar kekayaan ini, kalau sdr memiliki banyak teman-teman yang mendukung dan mendoakanmu, bukan? Betapa kayanya kalau sdr bukan hanya merupakan orang yang berlimpah dengan kemurahan hati memberi kepada orang lain tetapi berlimpah karena kebesaran hatimu. Betapa kayanya kalau melalui hidup yang memberi kepada orang, begitu banyak orang mengucap syukur kepada Tuhan. Apa lagi yang kita butuhkan selain hasil dan buah yang indah seperti itu?

Prinsip yang kedua, ayat 8 dan 10 “Dia yang menyediakan benih itu dan yang memberi roti untuk dimakan…” Prinsipnya, saya memberi sebab Tuhan yang provide terlebih dulu. Menjadi seorang Kristen adalah saya bersyukur kepada Tuhan. Saya memberi bukan karena saya berkelimpahan saja. Saya memberi oleh sebab Tuhan memberi dan menyediakannya kepada saya. Prinsip yang kedua, belajar menjadi seorang jurukunci yang setia terhadap apa yang Tuhan kasih kepada kita. Kenapa kita memberi? Sebab memang ini bukan punya kita, ini bukan milik saya selama-lamanya. Kita datang tidak membawa apa-apa, kita kembali kepada Tuhan kita juga tidak membawa apa yang kita punya selama di dunia. Kita datang dengan telanjang, waktu kita pergi kita hanya memakai stelan jas yang cukup baik. Paulus mengingatkan, semua yang kita punya itu Tuhan yang sediakan. Artinya, Tuhan memberi kepada kita, berarti kita hanya penatalayan Tuhan, orang yang belajar setia mengelola dan memakai apa yang sudah Tuhan beri kepada kita. Prinsip ini penting, prinsip ini menjadikan hidup orang Kristen menjadi hidup yang indah. Tuhan memberi kita anak, ini bukan anak kita. Tuhan memberi kita pekerjaan dan karir, ini bukan milik saya. Tuhan memberi kita keluarga, kita harus selalu berpikir ini semua adalah dari Tuhan dan saya mau kelak ini semua menjadi alat yang Tuhan pakai dan menjadi berkat bagi orang lain. Jiwa memberi selalu keluar dari hati seorang yang menyadari bahwa dia dipanggil Tuhan sebagai penatalayan yang setia terhadap apa yang Tuhan kasih.

Prinsip yang ketiga, ayat 8 “Allahku sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelimpahan di dalam berbagai kebajikan.” Dalam Fil.4:19 Paulus mengatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu…” Ingat akan hal ini, Allah kita itu kaya dan mulia. Artinya, Dia punya unlimited resources dan Dia sanggup mencukupkan segala keperluanmu, tetapi bukan keinginanmu. Tuhan tidak berjanji untuk mencukupkan segalanya. Orang sering bilang, bukankah Dia Allah yang kaya berarti Dia bisa memberi sebanyak yang saya mau, bukan? Sdr perhatikan, kalau Allah hanya memberimu $100, bukan berarti uangNya cekak. Tetapi Dia berjanji memberikan dan memenuhi apa yang kau perlukan. Dia Allah yang kaya, yang sanggup mencukupkan segala sesuatu, sehingga engkau hidup di dalam berkecukupan. Jadi Paulus menggabungkan dua hal, Tuhan berjanji Tuhan tidak pernah lalai di dalam mem-provide anak-anakNya yang berada di dalam pemeliharaanNya. Jangan berpikir bahwa Tuhan itu careless. Dia berjanji akan memberikan danmencukupkan apa yang kau perlukan. Itu sebab kenapa menjadi orang Kristen yang selalu kuatir dan merasa harus menyimpan sesuatu karena takut tidak punya? Tetapi muncul hal kedua, Allah juga adalah Allah memberi supaya kita berkecukupan. Kata ‘berkecukupan’ di dalam bahasa aslinya ‘autarke’, mungkin diterjemahkan: kesanggupan untuk hidup cukup dan puas dari apa yang ada. Sanggup untuk bisa hidup dari apa yang ada di tangan kita. Kita kadang-kadang sudah pikir lebih dahulu, kita tidak bisa hidup kalau tidak punya ini dan itu di tangan kita.

Berapa banyak sebenarnya yang kita rasa cukup untuk hidup satu hari? Orang sering berpikir bahwa yang dia perlu untuk hidup itu banyak sekali dan dia tidak bisa hidup kalau tidak punya semua itu. Coba kalau kita berada di dalam satu situasi dimana kita cuma punya satu potong roti untuk satu hari, kita baru sadar ternyata sepotong roti itu cukup untuk kebutuhan kita. Orang yang tersesat di hutan membuktikan dia bisa survive beberapa hari dengan dua potong permen di tasnya. Itu artinya bagaimana kita belajar hidup mencukupkan diri dengan yang kita perlu, itu artinya autarke. Tidak ada gunanya Tuhan kasih banyak kalau tidak ada hati yang berkecukupan. Hati yang berkecukupan itu membuat hati kita punya dasar dan alas. Kalau tidak, dia akan bocor terus, tidak pernah merasa cukup dikasih berapa banyakpun tidak akan penuh. Maka ayat ini menjadi indah sekali, Tuhan sanggup memenuhi segala sesuatu, namun engkau perlu belajar hidup berkecukupan. Bukan itu saja, engkau akan berlimpah di dalam kebajikan. Tanpa memiliki hati yang berkecukupan ini, maka prinsip untuk hidup menjadi berkat bagi orang lain menjadi tidak ada di dalam hidup kita. Itu sebab saya selalu mendefinisikan kata ‘cukup’ bukan kalau kita sudah mencapai satu standar tertentu sebab standar itu tidak akan pernah statis dan standar itu bersifat relatif pada setiap orang. Maka saya lebih setuju melihat cukup itu bukan berdasarkan apa yang saya bisa capai dan raih tetapi cukup itu ditandai dengan apa yang bisa keluar dari hidup seseorang. Kalau ada sesuatu mengalir dari hidup sdr, itu berarti sdr cukup dan puas dengan apa yang kau punya sehingga itu bisa mengalir keluar dari hidupmu.

Bukan Allah tidak sanggup mencukupkanmu. Dia memberi kasih karunia yang membuatmu bisa hidup berkecukupan, bahkan hidup berkelimpahan. Kelimpahan itu keluar dari kecukupan. Itu rahasianya. Kelimpahan tidak akan keluar kalau orang berpikir dia dapat yang banyak dulu baru berlimpah keluar. Kalau hatimu tidak dipenuhi dengan hati yang puas, you tidak akan pernah merasa cukup. Kelimpahan mengalir dari kecukupan. Jadilah seorang Kristen yang setia dan jadilah seorang Kristen yang berbuah. Hidup sebagai orang Kristen yang faithful dan hidup sebagai orang Kristen yang fruitful.

Sumber : http://www.griisydney.org





Memilih Pasangan Yang Seiman

2 10 2008

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

Nats: 2Kor. 6:11-18; 7:8-16; 1Kor. 5:9

Dari 1Kor. 5:9 kita bisa melihat probabilitas dari satu kronologi yang mungkin mengenai bagaimana sebenarnya surat Paulus ini. Jelas sekali surat 1 Korintus BUKAN merupakan surat pertama Paulus kepada jemaat Korintus, tetapi ada surat lain yang sebelumnya sehingga kita ingin mencoba merekonstruksi surat-surat Paulus tsb. Dalam 1Kor. 5:9 ini Paulus mengaku pernah menulis satu surat terlebih dahulu sebelum surat 1 Korintus, “…dalam suratku telah kutuliskan kepadamu supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul…” Jelas sebelum surat 1 Korintus, sudah ada satu surat lain. Dimanakah surat itu? Banyak penafsir mencoba merekonstruksikan surat-surat ini. Saudara harus menaruh hal ini di dalam pikiran saudara bahwa surat-surat Paulus tidak ditulis dalam bentuk seperti Alkitab yang kita pegang sekarang ini, tetapi ditulis dan dikirim berupa “scrolls.” Kita percaya scroll-scroll itu diberikan secara terpisah-pisah, karena kalau surat itu ditulis di dalam satu scroll, panjangnya bisa mencapai belasan meter. Maka bisa jadi ada scroll-scroll yang terselip urutannya, sehingga kemungkinan surat yang seharusnya adalah surat yang pertama, kemudian berada di surat yang kedua. Kira-kira demikian pemikiran para penafsir sehingga ada penafsir yang menafsir kemungkinan besar 2Kor. 6:11 ini adalah surat yang dimaksud Paulus tadi. ‘Dalam suratku yang sebelumnya’ aku mengatakan jangan hidup bersama-sama dengan immoral people.

Jelas sekali dalam bagian ini, khususnya di 2Kor. 6:14 Paulus katakan “jangan hidup menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya.” kemungkinan besar ini surat yang pertama. Mengapa? Sebab memang nadanya berbeda. Saudara lihat di ayat 11 Paulus memulainya dengan kalimat “hai orang Korintus…” dengan nada yang keras, saudara bandingkan dengan 2Kor. 6:1 dia menyebut mereka sebagai “teman-teman sekerja”, dalam 2Kor. 7:1 dan dalam 2Kor. 8:1 dia menyebut mereka “saudara-saudara yang kekasih…” Mengapa di tengah-tengah sapaan yang intim dan akrab itu, Paulus tiba-tiba menyebut “hai orang-orang Korintus” sebagai satu nada marah dan berbeda? Saudara bisa saja menafsir Paulus kan menulis surat tidak langsung, pertama-tama dia senang, lalu tiba-tiba dia marah, habis itu dia senang lagi. Bisa saja saudara menafsir seperti itu karena kita mencoba merekonstruksi dan menafsirkannya. Tetapi intinya adalah di pasal 6:11 Paulus mengatakan “hai orang Korintus” lalu di pasal 7:8 Paulus bilang “suratku yang dulu itu kalimatnya keras, saya menyesal mengeluarkan kalimat seperti ini, tetapi sekarang saya tidak menyesal sebab terjadi perubahan dalam hidupmu…” sehingga banyak penafsir mengatakan sangat besar kemungkinan surat yang dia maksud itu sebenarnya surat yang ini (2Kor. 6:11-18), yang pada waktu dikumpulkan, surat ini bersatu dengan surat 2 Korintus yang membuat bagian yang nampaknya sedikit punya nada berbeda ini sebetulnya surat yang pertama. Melalui rekonstruksi ini kita menemukan problemanya selesai dijawab oleh Paulus.

Sekarang yang ingin kita tahu apa sebenarnya problema yang dialami jemaat Korintus dalam bagian ini? Surat yang pertama adalah surat Paulus yang sangat keras. Paulus bilang jangan hidup bergaul dengan immoral people. Apakah maksud Paulus di sini melarang jemaat mempunyai teman orang yang tidak percaya? Apakah Paulus melarang orang Kristen memiliki hubungan dagang dengan orang yang tidak percaya? Sama sekali tidak. Kata yang Paulus pakai, “Do not be yoked together with unbelievers” menaruh kuk bersama, di sini adalah dalam pengertian asosiasi hubungan yang sangat erat di dalam satu pernikahan, ataupun suatu pertemanan yang akhirnya seperti yang terjadi pada jemaat Korintus di mana mereka ikut ke kuil dan ikut menyembah berhala di sana. Jadi Paulus tidak melarang orang Kristen berteman dengan orang tidak percaya, tetapi Paulus mengingatkan jangan sampai asosiasi yang terjadi di antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya menyebabkan identitas mereka sebagai orang percaya akhirnya hilang. Kata yang dipakai di sini “jangan menaruh kuk bersama…” Paulus menggunakan satu lukisan yang dipakai di dalam Ul. 22:10 “janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.” Jadi bukan dalam pengertian tidak boleh berteman dan bergaul dengan orang yang tidak percaya melainkan satu asosiasi yang mendatangkan hubungan yang sangat dekat dalam 2 hal yang saya tafsirkan, yaitu bicara mengenai relationship yang terjadi di dalam pernikahan dan relationship yang timbul di dalam pertemanan di antara orang Kristen di Korintus yang tidak sensitif mengenai dosa.

Dalam surat 1Kor. Paulus menyelesaikan problema itu yakni mereka tidak sensitif di dalam hal makan makanan dari penyembahan berhala, khususnya mereka makan di kuil berhala.

Kalau ada kasus seseorang menyembah berhala di kuil dan sesudahnya dia datang membawa sebagian daging hasil penyembahan itu sebagai penghormatan kepada teman yang Kristen, apakah dia boleh makan daging itu? Buat saya, dia boleh makan daging itu. Tetapi kalau waktu dia sedang makan, kemudian ada anggota keluarganya yang tidak setuju, berikan penjelasan bahwa dia tidak ikut menyembah berhala. Tetapi kata Paulus katakan kalau ada orang yang lemah imannya, tidak usah makan. Namun yang terjadi pada jemaat Korintus ialah mereka datang ke kuil dan makan sama-sama dengan orang tidak percaya. Artinya, mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah orang Kristen dan mereka dijebak dengan konsep bahwa berhala itu tidak ada apa-apanya. Dengan konsep ini maka mereka telah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan yang kedua Paulus memberi prinsip: makan tidak untung apa-apa, tidak makan juga tidak rugi apa-apa. Tetapi akibat tindakan mereka, orang Kristen di Korintus telah memberi kesan bahwa anak-anak terang bisa hidup berasosiasi dengan mentolerir kehidupan di dalam kegelapan orang itu sehingga perbedaan kita sebagai anak Tuhan menjadi kabur. Itu adalah hal yang pertama.

Sekarang saya akan bicara lebih dalam mengenai hal yang kedua, bagaimana pandangan kita mengenai pernikahan antara orang percaya dan yang tidak percaya. Apakah Alkitab melarang orang percaya menikah dengan orang tidak percaya? Ini menjadi kesulitan yang luar biasa besarSebelumnya mari kita lihat 2 ayat terlebih dahulu.

Pertama, di dalam 2Kor. 6:14, di sini Paulus memang tidak bicara soal pernikahan, tetapi hampir seluruh penafsir mengatakan, dengan menggunakan kata “yoke” itu sebagai kuk yang dipasangkan kepada 2 ekor hewan yang hendak membajak, maka yang Paulus maksudkan adalah hubungan yang bukan sekadar hubungan biasa, tetapi satu hubungan yang diikatkan dengan sesuatu. Karena itu para penafsir kaum Injili setuju Paulus di sini sedang bicara melarang pernikahan antara orang percaya dengan tidak percaya.

Kemudian satu ayat lagi dalam 1Kor. 7:12. Paulus berbicara mengenai satu realita yang terjadi di dalam jemaat Korintus. Semua yang Paulus bicarakan dalam bagian ini apakah di dalam konteks di mana Paulus sudah melarang mereka tidak boleh menikah dengan orang tidak percaya, tetapi kemudian ada di antara mereka yang tidak taat, ataukah ini dalam konteks dua orang tidak percaya menikah lalu salah satu di antaranya kemudian menjadi Kristenkah? Saya lebih setuju dengan konteks yang kedua ini. Tadinya waktu menikah dua-dua bukan orang Kristen, lalu kemudian melalui pemberitaan Injil salah satu kemudian menjadi Kristen. Setelah dia menjadi Kristen, terjadi persoalan dillema etis dan moral. Bagaimana decision making-nya? Apakah dia tetap stay dengan pasangannya yang tidak percaya? Maka menghadapi kebingungan ini Paulus bilang tidak perlu bercerai. Bagaimana dengan anak-anak hasil pernikahan mereka? Di ayat 14 Paulus bilang anak-anaknya langsung dikuduskan oleh Tuhan. Selama masing-masing masih mau tetap hidup bersama, jangan menceraikannya. Jadi sekali lagi ini di dalam konteks tadinya sewaktu menikah dua-dua belum Kristen, tetapi setelah itu salah satu menjadi percaya. Dalam hal ini Paulus mengatakan orang percaya itu harus tetap stay dengan pasangannya yang tidak percaya.

Tetapi bagaimana dengan pasangan yang belum menikah? Saya harap saudara melihat ayat-ayat ini dengan baik-baik. Pada waktu Tuhan mengatakan tidak boleh menaruh kuk di atas keledai dan sapi, saudara dan saya harus mengakui dan setuju bahwa nilai-nilai kepercayaan dan konsep agama, dsb tetap merupakan nilai yang harus kita hargai dan hormati. Dan kita harus terima fakta dengan jujur bahwa ini merupakan nilai-nilai yang begitu penting di dalam hidup saudara. Tuhan bilang jangan mempersatukan keledai dan sapi dengan kuk yang sama, kenapa? Karena dari naturnya kita sendiri tahu ada hal-hal yang tidak compatible dan tidak cocok.

Istri dari Arief Budiman, yaitu Leila Ch. Budiman, pengasuh kolom tanya-jawab di Kompas, saya pernah baca ada seorang wanita Kristen mengatakan kenapa banyak orang mempersoalkan perbedaan agama menjadi penyebab kericuhan di dalam keluarga? Saya sudah menikah dengan suami saya yang berbeda agama selama 5 tahun tetapi kami hidup baik-baik saja. Saya tidak merasakan bahwa perbedaan agama itu merupakan hal yang perlu dibicarakan di dalam keluarga. Bagaimana jawaban Leila? Leila sendiri beragama Islam. Dia menjawab bagus sekali, tidak ada persoalan perbedaan agama di dalam keluargamu sebab engkau tidak pernah membahas dan membicarakannya. Tetapi pada waktu membicarakannya, barulah kalian menyadari memang ada perbedaan.

Kalau saudara bertanya kepada saya, bolehkah saya berpacaran dengan orang tidak percaya dengan tujuan penginjilan? Ada agama lain juga menggunakan cara seperti itu, bukan? Saya akan menjawab beberapa hal. Saudara dan saya harus mengakui dan setuju cinta itu tidak bisa dipaksakan. Saudara jatuh cinta dengan seseorang, terjadi begitu saja sebelum terpikir si dia itu agamanya apa. Kemudian saudara juga bisa merasionalisasi, bahwa chance untuk mendapat pasangan di gereja itu begitu kecil dan jumlahnya tidak balance.

Saya hari ini berbicara sebagai gembalamu memberi beberapa prinsip. Pertama, Tuhan melarang orang percaya untuk menikah dengan orang yang tidak percaya. Gereja-gereja Injili tidak akan menikahkan pasangan seperti ini di depan altar memberkati pernikahan yang berbeda agama. Itu juga tidak akan saya lakukan di sini, sebab pada waktu dua orang menikah di depan altar, mereka sedang mengaku dipersatukan oleh Tuhan yang sama. Jadi saya mengambil pemikiran ini, entah saudara setuju dengan saya atau tidak, Tuhan memang melarang kita menikah dengan orang percaya tetapi Tuhan tidak melarang kita berpacaran dengan orang yang tidak percaya. Tetapi di dalam proses pacaran itu, saudara pasti berbicara mengenai feeling, mengenai value dan mau tidak mau juga bicara mengenai imanmu. Coba melalui relasi itu bikin dia mengerti mengenai iman kepercayaanmu kepada Kristus, bawa dia ke gereja, dsb. Maka sebelum saudara mengambil keputusan untuk menikah dengan dia, saudara harus yakin sungguh-sungguh dia sudah menjadi orang percaya juga. Dan yang terpenting saudara harus menaruh Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidupmu. Kalau akhirnya setelah beberapa lama dia tetap tidak terbuka hatinya untuk Tuhan, jangan berpikir setelah menikah suatu waktu mungkin dia akan menjadi percaya karena sulit untuk gambling seperti itu. Saudara harus terima fakta realita mungkin relationship itu tidak bisa jalan. Intinya pada waktu saudara memutuskan mau menikah, saudara yakin dan percaya pasanganmu sudah menjadi milik Tuhan. Kenapa hal itu penting? Saudara dan saya akhirnya harus mengakui – seperti yang Tuhan katakan- begitu kita masuk ke dalam satu pernikahan kita bersatu di dalam satu relasi yang begitu close, nilai-nilai kesamaan prinsip, agama, kepercayaan, itu merupakan faktor yang penting sekali. Kembali lagi saya ingatkan kalimat dari Leila Budiman, itu semua tidak menjadi persoalan selama tidak dibicarakan. Banyak orang mengambil sikap seperti itu. Melempar batu bukan lempar ke belakang tetapi lempar ke depan, dan someday dia akan menghadapi problem itu. Saudara dan dia punya problem di dalam pernikahan, istri pergi berdoa kepada Tuhan, suami pergi berdoa kepada dewanya. Saudara akan mengalami kesulitan-kesulitan bagaimana menyelesaikan problema di dalam kehidupan keluargamu. Saudara akan setuju bahwa cinta saja belum terlalu cukup untuk men-sustain relasi di dalam satu pernikahan. Tetapi kebanyakan orang waktu pacaran berpikir cinta romantik itu adalah hal yang terpenting. Tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, tidak masalah. Makan nasi dengan garampun cukup, tidur beralaskan koran tak apa asal cinta yang menaungi kita berdua. Saudara dan saya akan setuju, belajarlah dari orang-orang yang sudah menikah, mereka akan mengatakan begitu banyak aspek yang lain selain cinta. Salah satunya adalah sistem nilai kepercayaan kita merupakan faktor penopang yang penting. Itu sebab saya sangat rindu dan sangat mengharapkan mulai dari pacaran jangan lupa selalu bagaimana mempersiapkan diri memiliki kesamaan di dalam value. Pergi berbakti bersama, menyelesaikan persoalan dengan melihat prinsip kebenaran firman Tuhan merupakan faktor yang penting sekali.

Maka Paulus bicara keras di sini sebab banyak di antara jemaat Korintus yang tidak sensitif di dalam hal seperti ini. Jadi ini adalah section yang penting sekali. Kadang ada orang yang tidak taat, ini adalah fakta di dalam realita hidup. Cinta mungkin lebih besar dan kalau sampai tidak jadi dengan dia, tidak bisa dapat yang lain.

Banyak saudara yang di gereja juga tidak mau membuka kesempatan untuk satu relationship dengan sesama orang percaya. Kenapa? Kurang ganteng, kurang cantik? Saya meng-encourage saudara untuk membuka kesempatan itu. Kecantikan dan kegantengan itu sesuatu hal yang sangat relatif sekali. Kembali kepada firman Tuhan, saudara akan menemukan inner beauty kecantikan rohani itu yang lebih indah daripada kecantikan lahiriah. Bukankah suami istri yang menikah lebih dari 20 tahun akan mengakui bahwa pasangannya lebih cantik dan lebih ganteng daripada waktu baru kenal dulu? Tetapi bukankah itu melawan realita alam? Tetapi itulah kebenaran paradoks. Karena sering lihat, makin dilihat makin indah. Saudara melihat waktu dia melayani di gereja, waktu dia menmbimbing anak-anak sekolah minggu, saudara menemukan the other aspect of beauty. Jadi jangan terlalu cepat mematok sesuatu di dalam pikiran, cuma mau yang seperti apa, akhirnya tidak melihat yang lain. Lihat aspek tanggung jawabnya, kesungguhannya, dari cara berbicaranya, saudara akan menemukan keindahan yang luar biasa di dalam diri seseorang.

Yang kedua, jujur jawab pertanyaan saya ini, cantik itu sebenarnya ada di mana? Cantik itu ada di mata seseorang. Mata yang bersinar, mata yagn memancarkan semangat, mata yang memancarkan keteduhan, itu semua adalah kecantikan yang sangat menarik. Intinya, kecantikan itu punya aspek yang beragam. Alkitab mengatakan betapa indahnya wanita yang takut akan Tuhan, dia lebih berharga daripada permata. Setelah menikah lihat istri atau suami makin dekat bergaul kita akan menemukan aspek beauty yang lain di situ. Itu akan menjadi satu perekat dalam relasi sampai tua. Saudara akan menemukan kecantikan dan kegantengan itu merupakan aspek yang begitu kompleks. Pada waktu saudara ingin memulai satu hubungan yang serius di dalam pernikahan, kita taruh kriteria ini menjadi prinsip yang penting, Tuhan, aku mau mencari orang yang takut akan Tuhan, yagn mencintai Tuhan, yang melayani Tuhan dengan lebih baik, yang mengutamakan Tuhan lebih dari segala-galanya di dalam hidup ini. Saya percaya kalau saudara meletakkan prinsip ini lebih utama daripada yang lain, saudara akan menemukan keindahan dan kebahagiaan.

Maka Paulus menyadari hal ini dan memberikan firman Tuhan ini sebagai satu bijaksana alam, jangan menaruh kuk yang sama karena memang tidak compatible. Maka Paulus agak keras berbicara akan hal ini: bagaimana terang bisa bersatu dengan gelap? Bagaimana bait Allah bersatu dengan Belial? Saya percaya ini bagian yang sangat keras dari Paulus. Tetapi kita melihat aspek selanjutnya di pasal 7 Paulus mengatakan dia bersyukur melalui tegurannya yang sangat keras ini, jemaat Korintus akhirnya menjadi sadar.

Maka saya sebagai gembalamu berharap saudara berpikir seperti ini. Bagi para wanita, saudari mungkin takut untuk memulai untuk memperoleh pria yang serius, karena banyak wanita memiliki pria ideal di dalam pikirannya. Idealnya, you mau yang punya tanggung jawab, lucu, ganteng, dsb. Tetapi kalau saudara lihat di gereja ini ada pria yang mencintai Tuhan, rajin melayani, dsb, belajarlah untuk membuka relationship itu. Bagi orang tua yang karena di dalam masyarakat konsep wanita tidak menikah itu menjadi sesuatu yang tidak baik atau membuat malu, akhirnya memaksakan anaknya untuk menikah dengan siapa saja, saya harap jangan lagi menaruh konsep seperti ini. Prinsip yang harus kita pegang, Tuhan adalah yang terutama di dalam hidup kita. Kalau akhirnya tidak dapat dan tidak bisa ketemu dengan yang seiman, saudara akhirnya memutuskan tidak menikah, saya menghargai keputusan itu, daripada saudara akhirnya menikah dengan siapa saja. Menikah atau tidak menikah itu merupakan keputusan yang sangat penting. Tetapi sekali lagi melalui prinsip-prinsip ini saya harap saudara mencari yang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi Tuhan dan menjadikan dalam relasi saudara Tuhan menjadi yang terutama dan terpenting di dalam hidup ini

Sumber : http://www.griisydney.org





The Real Secret

1 10 2008

Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Yer 33:3)

Kepuasan sejati tidak tergantung dari apa yang kita pikirkan atau rasakan.
Kepuasan sejati atau kebahagiaan sejati dalam hidup ini hanya dapat ditemukan di satu tempat

Tidaklah mengherankan, apabila saat ini banyak buku-buku yang mengangkat tema mencapai kepuasaan atau kebahagiaan sejati. Salah satu yang terkenal dan mengundang kontroversi adalah “The Secret”. Sudah jutaan kopi terjual di seluruh dunia dan yang mengejutkan adalah buku ini juga menganut prinsip-prinsip alkitabiah.

Kebenaran sesungguhnya tidak terdapat pada filosofi. Rahasia atai kebenaran sesungguhnya adalah ada dia dalam Dia

Hanya di dalam Dia, kita dapat menemukan segala macam rahasia, segala jawaban terhadap masalah atau persoalan kita hari ini

Ketika masalah menghampiri, kemana kita mencari jawabannya ? Apakah kita mengandalkan Dia atau mencari cara dengan mengandalkan akal kita yang terbatas?

Mari kita belajar mengandalakan Allah kita yang tak terbatas yang menjawab doa Elia ketika ia meminta hujan turun, yang menjawab doa Paulus dan Silas dan membebaskan mereka dari penjara, dan yang membangkitkan Yesus dari kubur

Ingatlah, doa kita mengubah sesuatu, dapat mengubah situasi di sekeliling kita, bahkan mengubah sejarah, Ketika situasi dan tekanan datang, janganlah bergantung kepada diri kita yang terbatas, tetapi andalkan Dia yang tak terbatas!

Ketika kau berdoa, sabarlah dalam menunggu waktu Tuhan. Dia Allah yang berjanji akan memberi kekuatan dan damai yang kau perlukan selama masa penantianmu.

“Jangan katakan kepada Allahmu betapa besar masalahmu, tetapi katakanlah kepada masalahmu betapa besar Allahmu”





Lima Kriteria Jodoh Pilihan Tuhan

22 09 2008

Rasanya janggal kalau sebagai orang kristen kita masih mempertanyakan bagaimana menentukan bahwa jodoh itu adalah pilihan hati atau pilihan Tuhan. Apa memang ada yang seperti itu? Bukti pertanyaan diatas memang ada, diketahui dari banyaknya perkawinan yang kandas di tengah jalan, terjadinya ketidakharmonisan, atau perceraian. Kenyataan-kenyataan seperti ini yang seringkali kita pakai untuk mencetuskan pertanyaan di atas. Yang bertengkar terus menerus dan bercerai merupakan pasangan yang bukan merupakan pilihan Tuhan. Sedangkan yang harmonis dan bahagia hidupnya adalah mereka yang memang telah disatukan oleh Tuhan.

Yang jelek pasti bukan dari Tuhan dan yang baik pastilah jodoh yang dikehendaki-Nya. Kita sendiri tidak punya resep bagaimana caranya menentukan antara jodoh pilihan hati atau pilihan Tuhan. Namun yang bisa kita lakukan dengan mencermati kriteria-kriteria yang baik untk membentuk sebuah keluarga. Ada kriteria yang bisa kita pakai sebagai dasar untuk mengetahui siapa jodoh kita.

1. Anda berdua harus memiliki minat yang banyak

Dalam usaha mencari pasangan hidup, carilah orang yang telah hidup dalam kehidupan yang menarik, seorang yang mempunyai banyak saluran dan yang telah banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Anda tidak perlu mempunyai yang disukai dan tak disukai yang sama kalau Anda berdua adalah orang yang mudah menyesuaikan diri, tetapi lebih disukai adalah orang yang secara jelas bisa mendemonstrasikan bahwa dia memiliki energi, imaginasi, dan konfiden.

Dengan berkata demikian, maka kita mengenali bahwa “batu kebosanan akan bisa menenggelamkan bahtera perkawinan”. Dalam usaha mencari jodoh, tambahkan kekuatan kepada kekuatan, bukan kelemahan kepada kekuatan. Dengan kata lain, Anda akan berusaha menambahkan kekuatan Anda kepada kekuatannya. Bukan kekuatanmu kepada kelemahannya.

Formula ini berlaku juga bagi setiap orang yang memikirkan jenjang relasi perkawinan.

Dengan demikian merupakan hal yang sangat penting bahwa Anda sendiri mengalami kehidupan yang sangat menarik sebelum Anda menikah, sesuatu yang dipenuhi dengan suatu variasi keprihatinan dan ketrampilan. Tujuan perkawinan memang membuka pandangan pengalaman baru yang luas, persahabatan baru dan kesuka-citaan baru. Perkawinan tidak dirancang untuk memperbesar beban-beban dan rintangan-rintangan baru. Seorang yang menikah hanya sekedar menghilangkan kejenuhan mengalami kesulitan bercumbu.

Kalau seorang tidak mempunyai baik semacam ketrampilan, maupun minat yang besar, dia akan bisa memberikan sumbangan yang kecil saja kepada suatu kehidupan perkawinan yang diharapkan untuk berlangsung bertahun-tahun. Otot-otot yang kuat seorang lelaki dan tubuh seksi seorang perempuan masih belum cukup.

Karena apa yang akan terjadi kalau otot dan tubuh itu mulai layu dan kendor setelah usia 40 tahun?

Hidup berpasangan melibatkan berbagai rasa-perasaan, melakukan pekerjaan bersama, berbagi-rasa dalam percakapan yang mencakup banyak pokok, dan pencarian bersama minat-minat yang lebih besar.

2. Anda berdua harus mampu tertawa bersama

Bisakah calon pasangan Anda tertawa bersama dengan Anda? tertawa menyatakan sifat lentur/fleksibel yang merupakan lawan dari sifat kaku. Seorang yang memiliki sifat humor yang sungguh akan mampu untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi. Yang di luar kendali orang untuk mengaturnya, dan banyak situasi yang demikian itu terjadi di dalam kehidupan perkawinan.

Dengan bisa tertawa bersama, anda bisa lebih siap untuk menerima keterbatasan dan kekurangan satu sama lain dan bisa membangun kenikmatan mutualistis yang menjadikan kehidupan memuaskan dan sekaligus bermakna. Tanpa tawa perkawinan itu membosankan dan monoton. Perlu diingat bahwa tertawa itu mutualistis. Kalau Anda menjadi cemburu dan defensif ketika dia bercerita tentang gadis cantik atau pria ganteng, Anda bermasalah.

Barangkali percintaan itu seharusnya dimulai dengan tertawa seperti yang berlaku pada banyak orang, daripada ketertarikan fisikal kekaguman, atau kesepian. Kemampuan untuk bisa tertawa menyatakan toleransi. Ada para ahli mengatakan bahwa “ada kekejaman di semua humor”.

Kalau hal itu benar, bagaimana percintaan itu memancar melalui tawa? Rata-rata pada awal relasi antara seorang gadis dengan seorang pemuda, seorang perempuan dengan laki-laki, sendiri atau kelompok. Ada masa kesedihan, kesendirian itu sedih, malu itu sedih, rasa tidak nyaman itu pun sedih, khawatir juga sedih.

3. Anda berdua harus memiliki perasaan secara fisik yang kuat

Tidak usah berpretensi, sebagai orang kristen sekalipun seorang mau memilih jodohnya, dia tidak bisa tanpa aspek ketertarikan kepada fisik. Adakah rasa ketertarikan yang kuat secara fisik satu sama lain? Biasanya seorang gadis lebih lambat daripada seorang pemuda yang secara spontan akan muncul keinginan seksualnya.

Disinilah letak kerawanan dalam kencan dengan teman laki-laki. Jikalau seorang lelaki mengencani seorang gadis sudah tiga kali dan si gadis sudah bisa menerimanya, dan ternyata si lelaki tidak juga menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya secara fisik, lebih baik cari yang lain.

Tanda-tanda ketertarikan itu bisa berupa lirikan yang disertai senyuman khas atau memegang tangan sebagai suatu lamaran.

Jikalau anda suka kepadanya maka sebaiknya menanggapi dengan cara tersenyum balik; kalau si lelaki meremas tangan anda dengan kuat, balaslah secara lemah-lembut, kalau sampai meraba secara kuat, tolaklah dengan cara halus; kalau dia mulai mencium anda…ya…memang harus hati-hati (Kej 24:12,16,18).

Jikalau dia mendesak untuk mengadakan hubungan seksual, perkawinan bukanlah tujuannya. Jangan membiarkan perasaan fisikal anda menjadi demikian kuat sehingga anda tidak mampu melihat “daerah-daerah berbahaya”. Lebih dari semuanya itu, jangan menikah karena hal seksual saja.

4.Anda berdua harus setuju dengan sasaran kehidupan

Inilah pokok yang sangat vital. Tidak terlalu penting memang apakah seorang pemuda itu mempunyai uang atau tidak, tapi pertanyaannya adalah apakah dia seorang yang memiliki minat bekerja atau tidak? Apakah dia seorang yang mempunyai tanggung-jawab tentang hidup ini atau tidak? Jikalau calon anda adalah seorang pemuda dari keluarga kaya, dan berpangkat, dengarkan kepada apa yang dikatakan olehnya tentang sasaran hidup yang ingin dicapainya. (Kej 24:10).

Kemajuan jaman memaksa manusia untuk berpacu satu sama lain. Sehingga sudah terlalu banyak perkawinan yang kandas, disebabkan oleh suami yang rendah ambisinya untuk maju.

5.Anda harus setuju tentang Agama

Banyak permasalahan dalam pacaran yang isu pokoknya adalah perbedaan agama. Sangat menarik untuk disimak bahwa sejak Abraham mau mencari menantu, masalah yang paling dipikirkan oleh Abraham adalah bahwa anaknya Ishak, harus menikah dengan seorang gadis yang beragama bahkan bersuku sama. Kalau mau mencari jodoh yang dikehendaki oleh Tuhan, yang terutama perlu diperhatikan adalah bahwa dia adalah seagama dengan anda.

Jangan sampai masa pacaran itu sudah sedemikian mendalam baru dibicarakan tentang keagamaan anda. Agama harus dibicarakan cukup dini, sehingga kalau harus berpisah luka batin yang dialami tidak harus merusak seluruh kehidupan anda (Kej 24:3-4).