Anak Yang Dipercepat

24 12 2008

Sekolah telah tiba, ayo sekolah mari bergembira! Apakah kalimat ini menjadi refleksi dari wajah anak-anak kita saat mereka kembali ke sekolah? Ataukah justru sebaliknya, anak-anak merasa tertekan dan tidak bergembira saat kembali ke sekolah?

Kembali ke sekolah mungkin saja sudah tidak lagi menyenangkan dan menggembirakan bagi anak-anak. Bayangan akan berbagai tuntutan di sekolah baik dari orangtua maupun guru mereka membuat anak merasa sekolah hanya menjadi beban. Tuntutan untuk lebih cepat, paling baik, dan tidak boleh gagal mewarnai pikiran anak saat mereka kembali ke sekolah.

Anak-anak pada masa kini bertumbuh dalam tekanan untuk “lebih cepat”. Dalam banyak hal anak telah di”paksa” untuk mencapai dan mengalami pertumbuhan yang cepat. Lihat saja dari cara berpakaian anak-anak yang masih balita. Mereka berpakaian layaknya orang dewasa. Suatu kali, saya harus membeli oleh-oleh berupa pakaian bagi keponakan saya yang baru berumur 2 tahun. Saya menemukan hampir semua pakaian yang dijual bagi anak-anak usia tersebut adalah model pakaian orang dewasa yang dibuat dalam ukuran kecil. Anak-anak tampil layaknya orang dewasa. Siapakah yang paling senang melihat hal tersebut? Tentu saja orang dewasa itu sendiri.

Tekanan untuk bertumbuh lebih cepat ini terjadi dalam berbagai hal dalam kehidupan anak seperti dalam pendidikan, gaya pengasuhan, media, dan lain-lain. Dalam hal pendidikan khususnya, sistem di sekolah telah memperlihatkan bagaimana industrialisasi sekolah memberikan dampak bagi percepatan ini. Saat ini setiap sekolah sedang berlomba untuk memiliki ciri khas dalam dirinya yang dapat menjadi daya saing dalam persaingan antar sekolah saat ini. Semakin “internasional” suatu sekolah, semakin “inggris” bahasanya, semakin kompeten kurikulumnya, dan terutama tentu saja semakin mahal harganya adalah sekolah-sekolah yang paling dicari dan diinginkan. Ketika anak hendak memasuki sekolah-sekolah tersebut mereka layaknya orang yang sedang mencari pekerjaan, karena mereka harus mengalami tes dan wawancara penerimaan sekolah. Sekolah berhak menentukan apakah anak tersebut sesuai atau tidak dengan sistem sekolah mereka. Maka anak yang dianggap tidak cukup kompeten dan sesuai dengan sistem akan tersingkir.

Demikian pula dengan kurikulum sekolah yang ada sekarang di sekolah-sekolah telah berorientasi pada “produk” daripada prosesnya. Produk menentukan keberhasilan suatu sekolah. Anak-anak juara di tingkat nasional, internasional, olimpiade, telah menjadi kebanggaan bagi suatu sekolah untuk memamerkan kehebatan sekolah mereka. Maka sekolah membuat kurikulum yang mencetak anak-anak juara. Menurut David Elkind, kurikulum sekolah telah dibuat menjadi “assembly-line” atau dalam istilah bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pabrikan. Saat pabrik membuat mobil, mereka memiliki rangka kendaraan yang kemudian tinggal disatukan dan dijadikan sebuah mobil. Maka sebuah mobil dibuat berdasarkan rangka yang sudah dicetak berdasarkan modelnya.  Seperti halnya demikian, dalam kurikulum sekolah anak yang harus menyesuaikan diri dan mengikuti sistem bukan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Sampai disini kita dapat melihat bahwa tidak ada tempat bagi anak yang “terlambat”. Anak harus lebih cepat. Tidak ada tempat bagi anak yang tidak mampu, semua anak harus mampu. Tidak ada tempat bagi anak yang membutuhkan waktu, semua harus mencapai standar yang sudah ditetapkan sistem. Anak tidak boleh gagal, anak harus menjadi juara dalam dunia yang semakin cepat ini. There is no place for a loser.

Yang lebih menekan lagi bagi anak adalah ketika orangtua terpengaruh dengan sistem yang ada seperti ini. Ketika orangtua melihat dan merasakan cepatnya sistem yang ada di sekolah hanya ada satu hal yang ada di pikiran mereka yakni mereka tidak ingin anak mereka tertinggal dan kalah dalam persaingan dengan anak yang lain. Orangtua ingin anak mereka sama cepatnya dengan anak lain sehingga orangtua akan memberikan les tambahan, dan berbagai kursus singkat. Seorang anak dari teman saya pernah mengeluh kepada kakeknya, ” Kakek, aku tidak mau sekolah lagi. Capek!”. Ia membandingkan diri dengan kakeknya yang berangkat bekerja pada pukul 8 pagi dan sudah pulang pada pukul 6 sore. Anak itu sendiri berangkat sekolah pada pukul 6:30 pagi dan baru pulang pada pukul 7 malam hari setelah ia menghabiskan waktu dengan berbagai les dan kursus tambahan.

Siapakah yang paling tertekan dalam percepatan dunia seperti ini? Tentu saja jawabnya adalah anak-anak itu sendiri. Anak-anak kita berada dalam kondisi stres yang sangat tinggi. Anak-anak yang berpakaian, berpikir, dan bersikap seperti orang dewasa adalah anak yang sedang bermain peran. Mereka sedang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka sedang menjadi apa yang kita, orang dewasa inginkan mereka menjadi. Anak-anak kita sedang menutupi wajah mereka sendiri dengan berbagai topeng yang dikehendaki oleh sekolah, orangtua, dan lingkungan mereka.

Anak-anak kita mengalami dilema. Di satu sisi mereka sedang dipercepat oleh situasi yang ada di sekolah, di rumah, dan di lingkungan yang menuntut mereka untuk lebih cepat dewasa. Di sisi lain jiwa mereka adalah anak-anak.

Bagaimana sebaiknya? Yang harus diingat dan dimengerti dengan baik adalah bahwa anak membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan belajar. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita kecil kita belum mampu untuk berjalan dan kita membutuhkan waktu untuk mampu berjalan. Ingatkah kita bahwa dulu saat kita belum mampu menaiki sepeda, kita membutuhkan waktu untuk belajar menaiki sepeda. Sama halnya demikian, anak-anak kita juga membutuhkan waktu untuk mempelajari berbagai hal dalam hidup mereka.

Perlakukanlah anak sebagai anak. Usahakanlah supaya kita sebagai orang dewasa dapat mengerti dan memahami kebutuhan mereka. Dalam dunia yang semakin cepat ini, bantulah mereka untuk memiliki hidup yang seimbang antara belajar dan bermain. Walaupun kita mau tidak mau harus mengikuti sistem pendidikan yang semakin cepat ini, usahakanlah mencari alternatif agar membantu anak tidak semakin tertekan untuk dipercepat.

Advertisements




Mengenal Gaya Belajar Anak

17 12 2008

Setiap anak adalah unik. Mengapa unik? Hal ini dikarenakan setiap anak memiliki cara tersendiri yang memudahkan mereka dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi yang biasa disebut dengan belajar.

Seseorang yang belajar dengan menggunakan gaya belajar yang sesuai dengan dirinya akan mencapai nilai yang jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang belajar dengan gaya belajar yang tidak sesuai dengan dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya setiap anak dapat mengeksplorasi gaya belajarnya masing-masing agar dapat mempelajari sesuatu dengan maksimal.

Adapun gaya-gaya belajar antara lain :

Gaya belajar visual

Menyerap informasi dengan membaca tulisan-tulisan, gambar-gambar, seperti membaca buku, mempelajari diagram, grafik ataupun video.

Gaya belajar auditori

Menyerap informasi dengan mendengarkan informasi-informasi yang diberikan, seperti mendengarkan ceramah/penjelasan ataupun mengikuti tanya jawab.

Gaya belajar kinestetik

Menyerap informasi dengan melakukan gerakan-gerakan seperti mencoret-coret pada saat belajar, berjalan mondar-mandir, menggerak-gerakkan tangan, atau melakukan percobaan.

Setelah menemukan gaya belajarnya, perhatikanlah strategi-strategi yang sesuai dengan gaya belajar anak anda.

1. Strategi belajar untuk gaya belajar visual

– Manfaatkan pengkodean warna untuk membantu daya ingat dengan menggunakan pena warna-warni.

– Tulis kalimat dan istilah yang merupakan informasi kunci dari buku pelajaran.

– Apabila mempelajari informasi yang bersifat angka-angka dan rumus, tulislah pemahaman anda tentang materi itu dalam bentuk tulisan.

– Tandai pada bagian pinggir buku pelajaran dengan kata-kata kunci, simbol dan diagram yang dapat menolong anda untuk mengingat teks yang telah dibaca.

– Terjemahkan kata-kata dan ide-ide ke dalam simbol, gambar dan diagram.

2. Strategi belajar untuk gaya belajar auditori

– Bergabunglah dengan kelompok belajar untuk membantu anda mempelajari bahan-bahan pelajaran.

– Ketika belajar sendiri, ucapkan informasi-informasinya dengan suara keras.

– Gunakan tape recorder untuk merekam informasi yang penting, setelah itu dengarkan kembali informasi penting tersebut.

– Apabila mempelajari informasi yang bersifat angka dan rumus, terjemahkan dengan cara anda sendiri yang dapat anda mengerti tentang informasi baru itu, lalu kembali didengarkan untuk memahaminya.

3. Strategi belajar untuk gaya belajar kinestetik

– Duduklah didepan kelas dan buat catatan selama pelajaran.

– Ketika belajar, jalan mondar-mandir sambil mengingat informasi yang penting.

– Dalam mengingat informasi baru, salinlah poin-poin kunci pada kertas atau karton yang besar.

– Pikirkan cara-cara untuk membuat pengetahuan anda nyata, seperti memegang sesuatu yang berkaitan dengan apa yang dipelajari. Misalnya mempelajari tentang tumbuhan maka carilah tumbuhan yang sesuai dengan pelajaran tersebut dan lakukanlah eksperimen.

Agar dapat menemukan gaya belajar yang sesuai, setiap orangtua harus mau memperhatikan gaya belajar apa yang digunakan oleh anaknya. Selain orangtua, anaknya sendiri juga mau mengeksplorasi diri dengan memperhatikan setiap hal yang membuat kegiatan belajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Apakah dengan membaca buku, menonton video, mendengarkan ceramah atau berjalan mondar-mandir sekalipun tidaklah menjadi masalah.

Hal yang terpenting adalah anak anda dapat menyerap informasi dengan maksimal dengan gaya belajar yang sesuai dengan diri mereka. Janganlah terpaku dengan cara belajar yang konvensional, seperti duduk manis dan membaca buku dengan tenang. Namun, belajarlah dengan gaya belajar yang paling nyaman dan sesuai dengan diri mereka sendiri.

Dengan strategi belajar yang tepat, setiap anak diharapkan dapat semakin memahami semua materi yang dipelajarinya.





Kisah Nyata : Berhati-hatilah Memarahi Anak!

5 12 2008

Ini adalah kisah tragis, dimana sebuah keluarga dalam satu hari kehilangan dua orang anaknya! Seorang anak mati kehabisan darah dan yang satunya mati terlindas mobil. Sebuah keluarga bahagia dengan 2 orang anak, yang bungsu adalah laki-laki berumur 3 tahun dan yang sulung adalah perempuan berumur 5 tahunan. Keluarga tersebut mempunyai seorang Pembantu/Pengasuh yang bekerja dan tinggal di rumah mereka.

Setiap keluarga didunia ini pasti mempunyai cara-cara tertentu yang menjadi kebiasaan dalam memberikan pengertian kepada anak-anak mereka entah itu dalam hal tindakan, contoh-contoh atau ucapan-ucapan saat memberikan “ancaman” agar menghentikan prilaku-prilaku yang tidak dikehendaki. Untuk keluarga ini, terlontar kata-kata: “Kalau ngompol terus, nanti dipotong tititnya!” Mungkin kata-kata tersebut sering terlontar dari mulut seorang pembantu/pengasuh (atau bahkan mungkin orang tuanya) ketika memarahi/menghukum/mengancam anak laki-laki yang masih berumur 3 tahunan.

Suatu ketika, pembantu/pengasuh tersebut pergi sebentar membeli sesuatu dan meninggalkan ke-2 anak majikannya di rumah dan anak lelaki kecil itu ditinggalkan dalam keadaan tertidur. Ketika si adik mengompol dalam tidurnya, Si kakak seketika mengambil pisau dan memotong titit si adik. Akibatnya darah segera mengucur tidak ada henti dari titit adiknya. Saat si pembantu datang, dan mengetahui hal ini maka bukan main shoknya Ia!

Ia segera melaporkan kejadian ini kepada majikannya. Sementara si kakak, karena takut dimarahi, Ia sudah lari bersembunyi. Ketika si orang tua melihat kondisi si bungsu, dengan darah berhamburan kemana-mana, maka paniklah Ia! Saat itu tidak ada satupun urusan dimuka bumi ini yang hendak dilakukannya kecuali segera membawa si bungsu ke rumah sakit! Dengan segera ia mengambil kunci mobil dan mengangkat si Bungsu kedalam mobilnya, menghidupkan mobil dan segera tancap gas untuk dibawa kerumah sakit.

Si kakak yang sangat ketakutan atas perbuatannya, saat itu, justru tengah bersembunyi di kolong mobil….terlindas dan mati seketika itu juga!. Sungguh mengenaskan!!! Makanya untuk yang menjadi orang tua sebaiknya memberikan ucapan-ucapan yang baik meskipun dalam memarahi anak seemosional-emosionalnya tetap harus diperhatikan. Apalagi didikan yang tidak baik justru menjadikan si anak salah persepsi. Semoga tidak terjadi pada anak Anda!





7 Jangan Bagi Lelaki Agar Bisa Punya Anak

8 11 2008

Mandi Air Panas, Sauna Dan Pakaian Ketat

Kesuburan lelaki berada dalam keadaan baik bila dijaga dalam temperatur yang tidak terlalu tinggi, beberapa derajat lebih rendah dari suhu tubuh normal. Mandi air terlalu panas dan memakai celana terlalu ketat atau sintetis akan membuat testis menjadi panas dan mempengaruhi produksi sperma.

Naik Sepeda

Penelitian dari University of Sounthern California membuktikan bahwa tekanan terus-menerus dari sadel sepeda bisa merusak arteri dan saraf yang terdapat pada penis. Pilih sadel sepeda yang ergonomis untuk menghindari tekanan seperti ini.

Stres

Studi dari Departemen Fisiologi, Medical College of Ohio menunjukkan bahwa stres kecil dapat membuat kadar testosteron lelaki dan sperma yang dihasilkan menjadi menurun.

Kecelakaan Di Tempat Kerja

Terkena radiasi dan bahan kimia dapat merusak dan menurunkan produksi sperma, serta menyebabkan kerusakan genetik pada anak-anak. Demikian hasil riset Mcgill University di Montreal, Kanada.

Pengobatan Tertentu

Tanyakan pada dokter Anda akibat pengobatan yang sedang dijalani pada fungsi seksual. Banyak pengobatan termasuk tekanan darah tinggi, kanker bahkan infeksi bakteri dapat menyebabkan masalah kesuburan dan penurunan produksi sperma.

Merokok

Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan bahwa pada lelaki perokok memproduksi sperma lebih sedikit. Lebih baik hentikan kebiasaan ini karena istri dan anak yang dikandung akan menjadi perokok pasif.

Makanan Tidak Sehat

Hindari makanan tidak sehat, ganti dengan banyak sayur, buah, biji-bijian, susu dan daging tanpa lemak. Dengan demikian Anda akan cukup sehat untuk menjadi seorang ayah.

Sumber : http://www.jawaban.com/





Perlukah Bayi Dititipkan di Baby Day Care ?

31 10 2008

Di negara kita, kaum pria yang diberi cuti untuk mengurus bayi mungkin masih berada di awang-awang. Bahkan menjadi wacana pun belum pernah terdengar. Apa boleh buat, ketika akhirnya tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan untuk merawat bayi, istri akhirnya berhenti bekerja.

Walau begitu, buat ibu bekerja yang ingin memastikan bahwa bayinya selamat sentosa, ada juga pilihan untuk menitipkan bayi di baby day care. Di Jakarta sendiri sudah ada beberapa baby day-care yang didirikan di dekat wilayah perkantoran. Umumnya, baby day-care yang baik bukanlah tempat penitipan anak semata, namun dilengkapi fasilitas serta program-program yang disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak bereksplorasi dengan aman. Kagan, seorang ahli psikologi perkembangan, mengemukakan bahwa umumnya anak usia 4 bulan sudah bisa dimasukkan dalam day-care center, seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah memang perlu untuk menitipkan anak pada baby day care?

Bila melihat fakta bahwa ibu bekerja dan tidak ada famili yang dapat dititipi bayi, maka program ini tentu saja masuk akal. Namun kenyataannya, kecenderungan untuk menitipkan anak dalam program child day-care bukanlah disebabkan karena ibu  harus bekerja sepanjang hari, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend saja. Tak jarang, bayi mungil dititipkan di tempat ini karena orangtuanya tidak mau repot mendidik atau mengajari beberapa keterampilan pada bayi mereka dengan harapan anak akan lebih pintar bila dididik oleh orang yang ahli.

Apakah sebenarnya kebutuhan bayi yang belum berusia setahun? Menurut  psikolog perkembangan yang lain, Erik Erikson, kebutuhan dasar anak pada masa bayi (baru lahir) sampai dengan kurang lebih 1 tahun adalah kebutuhan yang bersifat biologis dan psikologis.

Kebutuhan biologis mencakup makan, minum, pakaian, dan segala urusan pencernaan. Kebutuhan psikologis meliputi kebutuhan akan rasa aman, merasa diri dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan untuk dilindungi. Untuk itu, diperlukan figur orang tua dan pola pengasuhan yang konstan sehingga anak bisa memercayai dan meyakini bahwa orangtua selalu siap menanggapi kebutuhannya.

Jika ternyata dalam prosesnya terjadi hambatan yang menyebabkan hubungan antara keduanya terganggu, misalnya karena orang tua meninggal, terlalu sibuk, sakit, atau situasi apa pun yang menyebabkan terpisahnya hubungan antara anak dengan orang tuanya, maka sang anak akan berpikir bahwa dirinya tidak lagi dicintai. Anak berpikir begitu karena pola pikir mereka yang masih egosentris.

Menurut Erik, anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang konstan di tahun pertama kehidupannya, akan tumbuh semacam rasa basic mistrust. Ia akan merasa kurang percaya diri (persepsinya mengatakan bahwa dirinya ditolak atau  diabaikan) dan kurang dicintai oleh orang tuanya. Anak tersebut juga akan tumbuh menjadi orang yang sulit mempercayai orang lain karena semasa kecilnya ia tidak menerima kehadiran orang tua yang konstan, stabil, dan predictable.

Masalahnya adalah, anak yang demikian nantinya mungkin akan berkembang menjadi anak yang bermasalah, misalnya, selalu harus menempel pada ibu, lebih suka menyendiri dari pada bermain bersama teman-teman yang lain, pemalu, minder, takut terhadap orang asing, terlalu sering menangis, dan berpotensi mengalami masalah dalam pelajaran sekolah.

Tapi, tak berarti dengan demikian baby day care bukan solusi. Sebab, ketimbang Anda mengambil risiko lebih tinggi dengan meninggalkan anak di rumah dengan pengasuh anak yang tidak terlatih dan tidak terpercaya, institusi ini boleh jadi merupakan suatu jawaban. Hanya, seperti juga memilih pengasuh, Anda perlu berhati-hati memilihnya. Carilah day-care yang benar-benar berkualitas, apakah sesuai dengan kebutuhan yang sedang dihadapi, dan apakah memang benar-benar dibutuhkan. Lihat juga apakah tempat terkait menunjukkan faktor kebersihan dan keamanan yang memadai. Selain itu, peraturan sebaiknya juga fleksibel, di mana Anda diizinkan untuk menelepon pengawas baby day care bila ingin mengecek kondisi anak.





Sulit Peroleh Anak Ke-2 ? Segeralah Berkonsultasi

30 10 2008

Banyak anggapan pasangan suami istri (pasutri) yang sudah punya satu anak, akan mudah memperoleh anak kedua. Tapi, ternyata tidak. Pasangan yang sudah dikaruniai keturunan ternyata bisa terkena masalah ketidaksuburan.

Kondisi seperti itu dikenal dengan istilah infertil sekunder (secondary infertility). Pada dasarnya, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya infertil sekunder hampir sama dengan infertil primer.

Jika infertil primer memiliki kondisi tertentu yaitu pasangan suami istri yang belum pernah memiliki anak padahal sudah menikah selama 12 bulan, bersenggama teratur secara wajar tanpa menggunakan alat pelindung kontrasepsi.

Sedangkan, infertil sekunder bisa terjadi jika istri sudah pernah punya anak dengan cara melahirkan normal atau operasi, kemudian tidak hamil lagi dengan persyaratan yang sama seperti diatas.

Selain itu, keadaan infertil sekunder juga dapat terjadi secara beragam. Misalnya, seorang suami pernah memiliki anak dengan istri pertama. Dengan alasan tertentu, kemudian dia menikah lagi dengan istri kedua yang berstatus lajang.

Jika dalam jangka waktu 12 bulan, istri kedua itu belum juga hamil maka suami tersebut mengalami infertil sekunder. Sedangkan, istri keduanya mengalami infertil primer.

Dr.Gillian Lockwood dari Midland Fertility Service mengemukakan, beberapa faktor yang kemungkinan menyebabkan terjadinya infertil sekunder, antara lain faktor umur.

Wanita yang berumur di akhir 30 tahun dan awal 40 tahun mempunyai sedikit kemungkinan untuk menghasilkan telur yang siap dibuahi sehingga tingkat kesuburan mereka menurun.

Kemudian, kemungkinan terjadinya ketidaksuburan tersebut akibat kerusakan pada tuba falopi. Komplikasi pada kehamilan atau proses kelahiran sebelumnya dapat menghalangi tuba falopi sehingga mengurangi kemungkinan sel telur untuk bisa dibuahi.

Infeksi pada pelvik juga diyakini bisa menambah risiko kerusakan pada tuba falopi. Yang tak kalah penting pada kasus infertil sekunder ialah akibat penurunan kuantitas dan kualitas sperma dari suami.

Umumnya kesuburan pria tidak akan berkurang hingga berumur paruh baya, tambah Lockwood, namun jika ia menderita sakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, kuantitas sperma bisa berkurang. Lebih parah lagi, kualitas kecepatan dan struktur sel sperma pun akan berkurang.

Berat Badan Berlebih

Kelebihan berat badan selain dapat memicu berbagai penyakit, ternyata juga dapat mempengaruhi tingkat kesuburan seseorang. Pasalnya, kelebihan berat badan dapat memicu zat prolaktin didalam otak. Jika terjadi secara menahun, maka dapat memicu zat yang disebut LH. Zat-zat ini akan mengganggu produksi pematang telur.

Kemudian, kandungan lemak yang tinggi pada tubuh wanita juga dapat menghasilkan hormon jenis laki-laki yaitu testosteron. Jika hal ini terjadi, maka indung telur menjadi kecil, menciut dan mengeras yang mengakibatkan wanita tersebut tidak subur. Bahkan, wanita yang mengalami itu bisa mengalami tumbuh kumis, jenggot dan bulu dada seperti laki-laki.

Dr Lockwood juga mengungkapkan, kemungkinan akibat berat badan dari wanita yang sudah melahirkan. Dikenal dengan polycystic Ovaries yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan mengurangi tingkat kesuburan secara signifikan.

Infeksi akibat penyakit tertentu juga sering ditemui sebagai penyebab ketidaksuburan seseorang. Penyakit yang lazim disebut penyakit gondongan, merupakan salah satu penyakit akibat infeksi virus yang dapat mempengaruhi kesuburan, jika tidak segera ditangani dengan baik.

Keadaan yang disyaratkan agar pasangan suami istri segera berkonsultasi dengan dokter ahli juga bisa berbeda. Secara umum, angka yang disepakai adalah usia istri kurang dari 35 tahun dan sudah menikah selama 12 bulan.

Selain itu, jika istri pernah mengalami lebih dari sekali keguguran, siklus haid tidak teratur, menderita sakit saat datang bulan, atau ketika suami mengalami penurunan gairah seks, ejakulasi dini, atau impoten, disarankan juga untuk segera berkonsultasi ke dokter ahli kesuburan.

Sumber : Republika





Peran Seimbang Orangtua Tunggal

30 10 2008

Keluarga yang lengkap dan utuh merupakan idaman setiap orang. Namun, adakalanya takdir berkata lain sehingga menempatkan Anda sebagai orangtua tunggal.

Menjadi orang tua tunggal dalam sebuah rumah tangga tentu saja tidak mudah. Baik pria maupun wanita, tentu sangat berat mengalami ditinggal pasanga. Dibutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan si buah hati, termasuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Seringkali orang tua tunggal dituntut harus bekerja ekstra keras untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Disisi lain, orangtua tunggal seharusnya tetap menyediakan waktu bersama dengan anak-anaknya.

Anak-anak yang orang tuanya bercerai atau meninggal dunia seringkali mengalami problem prilaku diri dan prilaku sosial. Misalnya, gampang tersinggung dan marah-marah, murung ataupun lebih memilih bermain sendiri (soliter).

Salah satu hal yang harus dilakukan orangtua untuk membantu anak menghadapi kondisi semacam itu adalah mengajarkan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Jika orangtua bercerai, maka yakinkan anak bahwa keadaan tersebut bukan kesalahannya, melainkan ketidakcocokan ayah dan ibu. Bangkitkan lagi rasa percaya diri anak.

Menurut Psikolog dari Alfred I. duPont Hospital for Children Wilmington, Colleen Sherman PhD, terutama pada waktu-waktu khusus anak meminta perhatian lebih untuk bersama orangtuanya seperti saat liburan sekolah. Saat anak di rumah tanpa ada orangtua disisinya.

“Meskipun anak bisa mengerti alasan orangtuanya harus bekerja, namun sesekali sulit untuk menerima jawaban orangtuanya yang mengatakan “jangan sekarang, ayah atau ibu harus bekerja,”. Terutama pada saat anak ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan seperti saat liburan,” ujar Colleen.

Salah satu cara yang dapat dilakukan agar orangtua dan anak dapat bertemu ialah mengadakan pertemuan keluarga. Dalam pertemuan tersebut, semua anggota keluarga diberi kesempatan untuk membicarakan kegiatannya di kantor atau sekolah. Selain itu, didalam pertemuan tersebut dapat dibicarakan juga mengenai kegiatan wajib masing-masing anggota keluarga yang yang dilakukan di rumah.

“Selain itu, dapat juga diusahakan waktu untuk lebih banyak berkumpul bersama. Misalnya, makan malam bersama, orangtua dapat meminta anak membantu memasak. Atau, jadwalkan orangtua untuk bermain games atau menonton film bersama pada malam hari atau akhir pekan,” ujar Colleen.

Perpisahan dengan anggota keluarga baik melalui perceraian ataupun kematian adalah hal yang sulit, bagi orang dewasa dan anak. Terutama bagi anak, kehilangan orangtua dapat mengakibatkan gangguan dalam perkembangannya.

Pakar ahli jiwa asal Amerika Serikat, Dr Stephen Duncan dalam tulisannya berjudul The Unique Strengths of Single-Parent Families mengungkapkan, pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga dengan orangtua tunggal adalah anak. Anak merasa kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya.

“Hasil riset menunjukkan, anak di keluarga yang hanya memiliki orangtua tunggal, rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang orangtuanya utuh,” terangnya.

Menurut Duncan, keluarga dengan orangtua tunggal selalu terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Dia berpendapat, sebuah keluarga dengan orangtua tunggal sebenarnya bisa menjadi sebuah keluarga yang efektif, laiknya keluarga dengan orangtua utuh. Asalkan, mereka tak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya.

“Melainkan, harus secara sadar membangun kembali kekuatan yang dimilikinya,” katanya.

Penulis buku Single Parenting Stephen Atlas menuturkan, jika keluarga dengan orangtua tunggal memiliki kemauan untuk bekerja membangun kekuatan yang dimilikinya, itu bisa membantu mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Seperti dikatakan Dr. Archibald Hart dalam bukunya Children and Divorce,umumnya bukan momen perceraian atau kematian yang menyakiti anak-anak, melainkan konflik yang mengikutinya atau berkurangnya peran ayah dan ibu sebagai orangtua pada kehidupan anak-anak.

“Dengan begitu, sebenarnya bukan sebuah halangan bagi wanita yang menjadi single parent untuk mendidik dan memelihara keluarganya,” katanya. (ri)

Tips Menjadi Orangtua Tunggal

  • Fleksibel mengelola waktu bekerja. Salah satu persoalan bagi orang tua tunggal adalah mengatur waktu antara mencari nafkah dan mengawasi keseharian anak. Bekerja paruh waktu atau pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah dapat menjadi pilihan. Yang jelas, Anda dituntut untuk menjadi orang yang kreatif dan fleksibel dalam mengelola waktu kerja.
  • Pilih pengasuh anak yang bisa dipercaya. Menjadi orang tua tunggal yang mencari nafkah, tentu akan memotong waktu kebersamaan Anda dengan anak. Jika kakek nenek dapat ikut menjaga lebih baik, namun jika Anda perlu mencari pengasuh bagi anak maka perhatikan sikap dan komitmen seperti apa yang dia miliki dalam mengasuh anak Anda.
  • Jalin komunikasi. Sesibuk apa pun, Anda harus tetap bisa menjalin komunikasi dengan anak. Kehangatan persahabatan, ketulusan kasih sayang, dan penerimaan orang lain amat dibutuhkan anak. Kasih sayang yang tak terpenuhi akan menimbulkan perilaku anak kurang baik seperti agresif, kesepian, frustrasi, bahkan mungkin bunuh diri. Maka Andaperlu berkomunikasi dengan anak, agar dia tidak merasa kesepian.
  • Jangan bebani anak. Anda harus hati-hati untuk tidak mendewasakan anak terlalu dini, sehingga dia kehilangan masa kanak-kanaknya. Ada kecenderungan orang tua tunggal akan bergantung pada anak yang lebih tua untuk menjaga adik-adiknya. Anak kadang dilarang untuk bermain, hanya untuk menekan dia agar membantu orang tuanya.
  • Pelihara keintiman. Anda harus terus memelihara keintiman didalam keluarga, jangan sampai berkurang. Misalnya seminggu sekali pastikan Anda dan anak-anak keluar bersama, ke mall, atau ke toko buku. Bisa juga ngobrol bersama sambil makan malam. Setidaknya, luangkan waktu sekitar 30 menit saja sebelum tidur dengan anak untuk bicara dari hati ke hati.

Sumber : Republika