Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

18 12 2008

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik! Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ? Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya; Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku ujar suamiku. Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.

Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku. Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua!

Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Advertisements




Belajar Bahagia Secara Sederhana

18 10 2008

Kenyataan hidup menunjukkan banyak yang kini sangat diimpit kesulitan ekonomi. Belum menyaksikan pejabat tinggi yang pintar berslogan dan korupsi.

Kesulitan hidup bagaimanapun membuat orang lebih mudah marah dan frustrasi, sebagian jadi apatis, sebagian lagi melakukan kekerasan dalam keluarga, merampok, atau bunuh diri.

Perlu komitmen utuh memerangi korupsi dan kemiskinan, sementara kehidupan nyata tetap berjalan. Berikut pembelajaran dari yang hidup dalam keterbatasan. Semuanya bekerja di seputar Jabodetabek, berpenghasilan total kurang dari Rp 1,5 juta per bulan.

Bagaimana bertahan dan bahagia dalam keterbatasan?

M, perempuan, staf administrasi, merangkap jadi ”pembantu umum” di kantornya:

”Lampu dapur, depan, kamar mandi dimatikan, kadang bayar listriknya Rp 23.000 atau Rp 25.000. Kalau masak, pas saja. Kadang mampir rumah kakak, dia yang beli beras, saya yang beli sayur. Terus masak, makan bareng. Saya juga sering jalan kaki, dari rumah jalan ke tempat kerja. Anggap olahraga. Istirahat sebentar sembari makan pagi. Pulang juga jalan, kecuali bawa banyak barang”. Karena harus sudah ada sebelum staf lain datang, pukul 06.00 dia sudah berangkat.

Berusia di atas 30 tahun, hidup sendiri di perkampungan, ia sering disindir kapan berumah tangga. ”Kalau main ke rumah saudara, ada saja omongan kayak begitu. Cuma saya sebodo amat, enggak dipikirin, saya enggak mau ambil pusing. Orang saya enggak minta makan sama dia. Pernah ada laki-laki yang terus mengikuti, saya jadi takut. Biar aman, kadang saya bohong, ’Saya sudah punya pacar.’ Saya hati-hati soalnya orang itu pernah mukul istrinya.”

Bagaimana menyenangkan diri sendiri? ”Iya kadang-kadang sedih. Tetapi, ya dijalani saja, dinikmati saja. Kan di rumah sepi, sudah tidak ada TV. Ya dengar musik atau beres-beres rumah, main ke rumah saudara. Pernah juga saya pergi sendiri saja, misalnya ke Mangga Dua. Pulangnya enggak beli apa-apa.”

S, laki-laki, tinggal di rumah mertua. Gajinya langsung habis untuk berbagai keperluan.

”Untung istri saya mengerti. Minyak tanah itu kan tadinya usaha orangtua, berapa drum gitu. Sebulan bisa dapat Rp 400.000, lumayan kan daripada ayah saya ngojek karena dia sudah tua. Berhenti karena diganti gas. Tetapi, gas naik terus dan naik terus. Jadi, saya pikir ini mau jadi apa di Indonesia. Saya kesal banget dengan korupsi. Misalnya, di tingkat RT saja katanya hilang uang Rp 200.000. Kalau baca, saya jadi pusing, beritanya begitu lagi.”

S sebisanya membantu anak yatim anggota keluarganya. Ia juga merasa wajib memberi tahu teman yang bersikap kurang bertanggung jawab: ”Ada saudara yang tidak kerja, tetapi mau kawin, dia ngotot umi (ibu)-nya harus membiayai macam-macam. Dia jeleknya kalau lagi ada masalah malah mabuk, malah menambah masalah. Kalau dia jadi suami, bagaimana? Orangnya malas begitu.”

Bagaimana S membahagiakan diri? ”Kalau Sabtu atau Minggu, saya sama istri belanja. Saya suka olahraga, main bola dan badminton. Saya juga suka baca olahraga, politik luar negeri. Kan ada pemilihan presiden di Amerika. Ikut semangat dengan perjuangan Obama. Senang banget saja kan dia pernah di Indonesia.”

H, ayah dua anak, bekerja sebagai staf administrasi dan buka warung.

”Dulu saya kalau omong keras, jadi jarang ngobrol. Masalahnya biasanya keuangan. Pernah istri mau pinjam uang pakai sertifikat tanah untuk tambah modal warung. Hati saya nolak. Soalnya ada tetangga begitu, pinjam uang di bank, rumah untuk jaminan, akhirnya tidak sanggup bayar. Saya memang keras ngomongnya. Istri tidak terima. Saya dikasih tahu teman, bicaranya pelan-pelan. Akhirnya saya minta maaf, sudah ngomong keras. Sekarang saya coba bicara pelan-pelan, kasih pengertian. Alhamdulillah kalau ada masalah diobrolkan saja.”

Yang membahagiakan? ”Ya bareng keluarga. Ngobrol. Kalau pulang kerja, ketemu anak perempuan yang kecil, yang akan mengejar, memeluk, mencium tangan, lalu cerita gitu ’tadi jatuh, sakit’…”

S dulu tidak pernah bisa menabung, paling ikut ”arisan pengantin” yang diikuti anak-anak muda. Kalau sudah jelas kapan menikah, uangnya bisa diambil. ”Sekarang kami coba nyimpen. Dari saya seratus (ribu rupiah), istri seratus (ribu rupiah), persiapan kalau nanti dia hamil, melahirkan….”

V, ibu bekerja, sempat berpisah bertahun-tahun dari anak-anak karena perlakuan suami yang sangat menyakitkan, memberi beberapa saran:

”Kita harus membuat skala prioritas dan berhemat. Produk rumah tangga ada yang sedikit lebih mahal, tetapi cepat menghilangkan kotoran atau lemak, jadi jatuhnya lebih hemat dan murah.

Baginya peran Tuhan besar sekali, seperti misteri. Justru setelah pasrah dan tidak menuntut apa-apa lagi dia merasa malah diberi kemudahan. Kematian mantan suami membuat dia dapat berkumpul kembali dengan anak-anak.

”Yang membahagiakan bisa kumpul lagi, membuatkan sarapan bagi anak-anak. Mendengarkan musik atau membaca. Kalau anak-anak sih, dengar musik, ikut olahraga.” Anak-anak mengerti, dan dengan senang hati bahu-membahu dengan ibunya.

”Intinya ikhlas. Saya ikut pengajian yang tidak sibuk syariah saja, tetapi mengajarkan esensi hidup. Seperti pencerahan, mengembalikan kepercayaan diri. Anak-anak juga melihat ibunya tidak lemah seperti dulu. Selama terpisah dari anak-anak saya belajar melepaskan diri dari ikatan, misalnya, pada harta. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Tetapi, untuk menemukan kemudahan itu kita harus menjalani dulu kesulitannya.”

Ia yang senang membaca The Secret dan buku-buku tulisan Paulo Coelho, yakin, bila kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu (yang baik), seisi alam semesta akan membantu mewujudkan impian itu.

Sumber : Kompas





Cara Sederhana untuk Bahagia

17 10 2008

Setiap orang pasti menginginkan hidupnya bahagia. Namun, bagi sebagian orang, kebahagiaan terkadang tak kunjung menghampiri sehingga terasa “mahal”. Padahal, menurut Gde Prama dalam seminar tentang The starting point of beauty and hapiness, kebahagiaan dapat diraih dengan beberapa cara mudah:

1. Kebahagiaan sejati bukan berasal dari luar, melainkan ada di dalam diri kita sendiri. Belajarlah menerima diri Anda apa adanya sehingga Anda bisa merasakan kebahagian yang sesungguhnya.

2. Stop membandingkan diri dengan orang lain. Setiap manusia dilahirkan dengan keunikan dan kelebihan sendiri. Dan tidak ada kehidupan yang lebih baik, selain bisa menjadi diri sendiri.

3. Belajarlah memberi dengan rasa ikhlas. Jangan bebani hidup dengan imbalan karena hanya akan mendatangkan kekecewaan jika Anda tak mendapatkannya. Anda bisa memulainya dengan hal-hal sederhana, misal selalu tersenyum atau memerhatikan orang-orang di sekeliling sehingga orang-orang pun akan merasa nyaman berada di dekat Anda.

4. Pandanglah setiap kesulitan dengan cara yang positif. Ini akan mendatangkan keindahan dan kebahagiaan. Semakin mampu menanggulagi kesulitan, Anda akan tampak semakin “bercahaya” dengan kekuatan yang Anda miliki.

5. Jangan mematok hidup terlalu tinggi. Ketahuilah batasan kemampuan Anda dan Anda akan merasa menjadi manusia yang lebih sempurna dan berarti.

6. Jauhkan diri dari ketakutan, dekatkan diri pada Tuhan. Nikmati dan cintailah hal-hal kecil di sekeliling Anda yang dapat mendatangkan kebahagiaan, seperti mendengarkan suara burung di pagi hari atau bersenandung.





Bagaimana Mencapai Kebahagiaan Dalam Hidup

12 09 2008

Seorang wanita berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.

Suaminya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo. Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, “aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya. Saya menyukainya, ” katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

“Bu, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.” ” Hal itu tidak ada hubungannya, “dia menjawab. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang asih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, ku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita.”

Terima kasih padamu sahabatku yang telah mengisi bank kenanganku, aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)





3 Kunci Hidup Yang Berbahagia

8 09 2008

Pastinya tidak ada orang yang tidak ingin berbahagia dalam hidupnya. Tapi tak semua orang tahu caranya. Nah, sebagai anak Tuhan, kita memegang kunci tersebut! Yuk, belajar dari Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:16-18: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

1. Bersukacitalah senantiasa

Gampang jika keadaan kita baik-baik saja, tetapi bagaimana jika keadaan kita berjalan buruk? Dapatkah kita bersukacita? Dalam Mazmur 34:2, tercatat saat Daud berpura-pura gila untuk menyelamatkan diri dari Abimelekh: “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” Di saat kesesakan sekalipun Daud tetap memuji Tuhan, bahkan di segala waktu! Mari kita renungkan janji-janji Tuhan di dalam Mazmur 34:18-20: “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.

2. Tetaplah berdoa

Tuhan berjanji akan mendengar doa kita dan melepaskan kita dari segala kesesakan, kemalangan orang benar memang banyak tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.

3. Mengucap syukur dalam segala hal

Sebulan yang lalu Tuhan mengajar saya tentang bersyukur. Saya baru membeli HP. Suatu kali HP saya terjatuh dan hilang. Tuhan mengajar saya untuk tidak marah kepada orang yang mengambilnya dan belajar bersyukur karena saya diizinkan memakai HP itu meskipun hanya 15 hari. Ketika saya belajar bersyukur, damai sejahtera dari Tuhan mengalir dalam hidup saya. Ingin berbahagia dan mendapat kekuatan dari Tuhan? Yuk praktekkan ke-3 kunci ini terus menerus dalam hidup kita!

Sumber : http://www.a2gcommunity.org