Karunia yang Tak Terlukiskan

7 11 2008

Ia menyelinap masuk ke dalam dunia, dan ke dalam pelukanku, diletakkan disitu oleh surga. Ia datang langsung dari Tuhan. Karunia yang tak tergambarkan. Saat aku memandangnya, kedamaian dan kesucian mengisi udara disekitarnya. Melalui airmata bahagia aku berbisik ditelinganya, “Kami senang kamu ada disini. Kami sudah menunggu lama sekali untuk bias melihatmu.” Ia membuka matanya, dan akupun mulai berubah – saat tanpa akhir yang terisi oleh ketakterhinggaan akan kehidupan. Dalam matanya aku melihat pengenalan total, cinta tanpa pamrih, dan kepercayaan yang sempurna. Aku adalah seorang ibu. Pada saat itu aku merasakan, dan dalam hatiku aku mengetahui, segala sesuatu yang perlu ku ketahui untuk membimbingnya.

Saat berbaring ditempat tidur, ia tidur diantara aku dan ayahnya. Kami menghitung jari kaki dan tangannya dan mengagumi kesempurnaan dalam bentuk mungil itu. Kami mencari kemiripan dengan kami, dan keunikan dirinya. Kami tak berkata apa-apa, tetapi hati dan benak kami penuh oleh pikiran tentang harapan dan impian kami untuknya, tentang dirinya nanti, tentang anugrah yang dibawanya dan bagaimana dia akan menyentuh dunia. Hanya memandangnya dan merasakan kasih dan manis yang dibawahnya, seakan stress dan beban dunia terangkat dari kami, dan apa yang penting dan benar dan benar dalam dunia ini menjadi jelas – seperti berada dalam kehadiran orang sakti yang bijak. Sulit sekali menutup mata kami untuk tidur.

Dengan berlalunya hari dan tahun, kami kagum akan perubahan yang terjadi pada dirinya. Senyum pertama, kata pertama, langkah pertama – semuanya tepat waktu, namun dalam waktu dan caranya sendiri. Ia mengajari kami kembali cara bermain; untuk memperlambat dan melihat dunia kembali. Untuk menemukan hal-hal yang dulu kami lihat, dan ketahui. Kentara bahwa banyak hal yang bisa ingat, rasakan, dan lihat yang tak bisa kami lakukan, dan mungkin selamanya tak mungkin bias.

Waktu akan melesat berlalu; mendadak ia akan tumbuh dewasa, siap membumbung kedunia dan memberikan sesuai dengan takdirnya. Melepaskanya akan menghancurkan hati kami, namun kami tahu bahwa ia bukan milik kami. Ia datang untuk mengajari kami, memberi kami kebahagiaan, menyempurnakan kami, dan menghubungkan kami dengan Tuhan.

Jeanette Lifeski

From Chicken Soup for Mothers’s Soul





Albert

7 11 2008

Bekerja di sebuah rumah sakit tempat merawat pasien yang baru mengalami stroke merupakan sebuah pilihan yang tidak boleh ragu-ragu. Mereka biasanya sangat ingin hidup atau justru sangat ingin mati. Ini tampak dari sorot mata mereka. Albert mengajariku banyak hal tentang stroke.

Pada suatu petang aku sedang berkeliling melakukan pemeriksaan, aku bertemu dengannya, meringkuk dalam posisi seperti janin dalam kandungan. Ia seorang pria tua berwajah pucat pasi dengan tampang seperti orang mati, kepalanya hamper tidak kelihatan dibalik selimutnya. Ia tidak bereaksi ketika aku memperkenalkan diri, dan ia tidak menyahut sepatah katapun ketika aku mengatakan bahwa ia harus “segera” makan malam.

Diruang jaga perawat, seorang perawat junior memberiku sedikit informasi tentang dirinya. Ia tidak memiliki siapapun. Ia merasa telah hidup terlalu lama. Istrinya telah tiga puluh tahun meninggal, kelima anaknya entah berada dimana.

Baiklah, aku akan menolongnya. Sebagai seorang janda yang meskipun bertumbuh subur namun cukup cantik dan jarang bergaul dengan pris di luar pekerjaan, kupikir aku dapat memuaskan salah satu kebutuhanku. Anggap saja ini sebuah petualangan.

Keesokan harinya aku mengenakan pakaian yang bukan seragam perawat biasa, tetapi tetap saja berwarna putih. Lampu tidak kunyalakan. Tirai kututup rapat.

Albert langsung membentakku, menyuruhku keluar. Aku justru menarik kursi ke dekat pembaringannya, kemudian duduk dengan kaki menyilang dan dagu agak tengadah. Aku memberinya senyuman yang sesempurna mungkin.

“Tinggalkan aku. Aku ingin mati.”

“Apa tidak salah? Diluar sana banyak wanita menunggumu.”

Ia tampak agak tersinggung. Tapi aku berbicara panjang lebar tentang betapa senang aku bekerja di unit rehabilitasi karena aku dapat membantu orang mencapai potensi maksimum mereka. Ini tempat yang penuh dengan kemungkinan. Ia tidak menyahut sepatah katapun.

Dua hari kemudian ketika aku mendapat giliran jaga, aku diberitahu bahwa Albert telah menanyakan kapan aku bertugas disitu lagi. Kawan-kawan disitu menyebut pria itu “pacarku” dan gossip ini segera beredar. Aku tidak pernah membantah. Bahkan diluar kamarnya, aku berseru kepada yang lain untuk tidak mengganggu “Albert-ku”.

Dalam waktu tidak lama Albert mau belajar duduk, mengantungkan kakinya disisi pembaringan untuk melatih keseimbangan. Ia juga bersedia menjalani fisioterapi asalkan aku mau dating lagi untuk “mengobrol”.

Dua bulan kemudian, Albert sudah menggunakan alat bantu berjalan. Dan pada bulan ketiga, ia meningkat pada sebatang tongkat penyangga. Pada hari ketika ia diperbolehkan pulang, kami merayakannya dengan sebuah pesta. Albert dan aku berdansa dengan iringan lagu Edith Piaf. Ia bukan pria yang romantis, tapi dalam berdansa ia mampu memegang kendali. Aku tidak dapat menahan airmataku saat kami harus saling berpisah.

Secara berkala aku menerima kiriman bunga mawar, bunga krisan dan kacang yang gurih. Ia telah berkebun lagi.

Kemudian pada suatu siang, seorang wanita cantik menggunakan baju ungu muda datang ketempatku bertugas, meminta bertemu dengan aku. Atasanku memanggil; waktu itu aku sedang memandikan pasien.

“Oh, jadi Anda! Wanita yang mengingatkan Albert-ku bahwa ia seorang pria sejati!” kepalanya tengadah, senyumnya mengembang ketika ia memberikan aku sebuah undangan untuk datang ke pesta perkawinan mereka.

Magi Hart

From Chicken Soup for the Unsikable Soul





Mengisi Catatan

7 11 2008

Kurang dari satu tahun setelah penguburan istriku, aku dihadapkan pada kenyataan-kenyataan paling mengerikan karena menjadi seorang duda dengan lima anak.

Surat-surat dari sekolah.

Lembar-lembar izin darmawisata, pemungutan suara persatuan orang tua dan guru, formulir-formulir pesanan Troll Book, pendaftaran-pendaftaran olahraga, formulir-formulir kesehatan, dan laporan kemajuan akademik yang tak terbilang banyaknya—suatu serbuan pekerjaan tulis-menulis atas kebaikan birokrasi pendek.

Lembaran-lembaran ini harus dibaca dan ditandatangani, atau ditempatkan sebagai alas sangkar burung. Tanpa memedulikan tujuannya, surat-surat itu harus ditandatangani setiap hari.

Pada suatu hari, Rachel yang berumur delapan tahun membantuku mengisi lima (aku hitung lima) formulir perlakuan darurat untuk sekolah. Ia akan mengisi informasi umum, dan aku akan menambah sisanya. Setelah menandatangani formulir-formulir itu, aku memeriksa ketepatannya. Waktu itulah aku melihat pada setiap kartu, di kolom sebelah telepon kantor ibu, Rachel menulis: “1-800-SURGA

Rob Loughran

From Chicken Soup for The Singles Soul





Suara Bertepuk Sebelah Tangan

6 11 2008

Ada sebuah kisah yang indah tentang Jimmy Durante, salah seorang penghibur besar beberapa generasi lampau. Ia diminta mengisi acara untuk menghibur para veteran Perang Dunia II. Ia menjawab jadwalnya sangat padat sehingga ia hanya mampu menyediakan beberapa menit. Tetapi jika mereka tidak berkeberatan bila ia menyajikan sebuah monolog singkat, kemudian langsung pergi ke urusan berikutnya, ia akan datang. Tentu saja, direktur pertunjukan segera menyetujuinya dengan senang hati.

Tetapi, ketika Jimmy naik panggung, sesuatu yang menarik terjadi. Sebagaimana disepakati, ia melakukan monolog singkat, tetapi kemudian ia tetap disitu. Tepuk tangan semakin riuh, sehingga ia tidak segera beranjak. Tidak terasa ia sudah tampil lima belas menit, dua puluh menit, bahkan tiga puluh menit. Akhirnya ia membungkuk sekali lagi dan berjalan meninggalkan panggung. Dibelakang panggung, seorang menghentikannya untuk bertanya, “Saya kira Anda akan pergi setelah beberapa menit. Apa yang terjadi?”

Jimmy menjawab, “Saya memang harus pergi, tetapi saya dapat melakukan alasan saya untuk tetap tinggal. Anda dapat melihat sendiri orang di baris terdepan itu.”

Dibaris terdepan ada dua pria, masing-masing kehilangan sebelah tangan mereka. Salah seorang kehilangan tangan kanan sedangkan seorang lagi kehilangan tangan kiri. Namun bersama-sama, mereka dapat bertepuk tangan, dan itulah tepatnya yang mereka lakukan, bertepuk tangan dengan keras dan ceria.

Tim Hansel

From Chicken Soup for the Unsikable Soul





Sahabat-sahabat Marty

4 11 2008

Ketika marty berumur tiga tahun, ia pulang-pergi dari tempat kerja bersamaku selama setahun penuh, menuju ke tempat penitipan anak milik perusahaan dan pulang lagi ke mobil jemputan rekan-rekanku. Ia menjadi sangat lengket denganku.

Ketika marty berumur empat tahun, aku dan ibunya menyewa pengasuh di tempat tinggal kami yang memiliki taman dan jalan melingkar—hari-hari yang panjang bersama Bu Olson yang pendiam dan lembut.

Bersama Bu Olson, Marty menciptakan dua sahabat khayalannya, Shawn dan Kawn. Ia mengatakan kepada kami, Shawn dan Kawn adalah adalah anak-anak gelandangan dan ia telah memutuskan untuk mengadopsi mereka.

Anak-anak kecil itu selalu berada disamping marty—tertawa-tawa, bercanda, berbisik-bisik. Marty memberi mereka masing-masing sebuah tempat di meja, tidur berdua di tempat tidur tingkat atas, dan tempat duduk do mobil. Kalimat-kalimat mereka singkat, yang diterjemahan oleh marty, akan membuat kami semua terbahak-bahak. Tentunya, Shawn dan Kawn itu tidak tampak. Hanya marty yang bisa melihat mereka.

Kakak marty yang berumur tujuh tahun, Jimmy, akan membelalakkan matanya seraya menerima Shawn dan Kawn dan semua tempat rahasia mereka sambil mengeleng-gelengkan kepala, dan mengangkat bahu. Kadang-kadang tentu saja, mereka itu menjadi kambing hitam bagi kecelakaan Jimmy sendiri.

Marty hamper berumur lima tahun ketika aku dan ibunya berpisah. Tak lama kemudian kami bercerai. Setelah suatu pecan bersama di apartemen perkotaanku yang kecil, aku berkemas untuk mengantakannya pulang ke rumah ibunya. Sambil masuk dan mengangkat satu bawaan lagi, aku mengdengar marty menangis dikamar mandi. Aku membuka pintu. Marty duduk di lemari kecil, bibir bawahnya menuh dengan kesedihan.

Aku cemas jangan-jangan ia ingin pindah ke tempat tinggal. Ia memandang ke arahku dan berkata, “Ayah, aku akan merindukan Shawn dan Kawn.” Kemudian ia memandang kea rah bak mandi, yang penuh dengan air sabun dan mainan-mainan yang mengapung.

“Tetapi mereka ada dimobil bersama Jimmy,” kataku, “siap untuk pergi bersamamu.”

Perlahan-lahan marty menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menghirup nafas. “Tidak ayah. Mereka ada di bak mandi. Kami sudah banyak bicara akhir pekan ini. Shawn dan Kawn memutuskan akan tinggal bersama ayah mulai sekarang. Kami tak ingin Ayah kesepian.

Belakang, di malam itu aku berjalan-jalan di taman, diikuti oelh Shawn dan Kawn di belakang. Sulit menahan air mata, setelah mengetahui bahwa hal paling menyenangkan yang pernah kurasakan dalam waktu lama adalah hadiah berupa sahabat-sahabat anakku yang berumur empat tahun.

James M. Jertson
From Chicken Soup for The Singles Soul





Apakah Sukses Itu?

4 11 2008
Apakah Sukses Itu?

Apakah Sukses Itu?
Serign dan banyak tertawa,
Mendapatkan rasa hormat dari orang pandai
dan rasa kasih dari anak-anak
Meraih penghargaan kritikus yang jujur
dan tabah menghadapai pengkhianatan teman palsu
Menghargai keindahan
Menemukan sifat baik dalam diri orang lain
Membuat dunia lebih baik, entah dengan
anak yang sehat, sepetak kebun
atau kondisi sosial yang lebih baik,
Mengetahui bahwa seseorang telah hidup
lebih mudah karena keberadaanmu
Itulah arti sukses

Ralp Waldo Emerson
From Chicken Soup fot The Teenage Soul





Kepala dan Pertandingan

4 11 2008
Kepala dan Pertandingan

Seorang sahabat menderita penyakit kurang percaya diri setelah melalui proses perceraian yang melelahkan. Ia sedikit enggan kembali ke dunia perkencanan, risau bahwa ia telah “kehilangan sentuhannya” dengan kaum wanita.

Celakanya, segera setelah mengakhiri hubungannya yang terahulu, ia mulai kehilangan rambutnya, dan ia melihat ini sebagai isyarat dari surga bahwa ia ditakdirkan untuk membujang selamanya. “Siapa yang mau berkencan dengan orang botak?” katanya kepadaku pada salah satu malam sewaktu kami saling mengeluh sambil minum bercangkir-cangkir cappuccino yang enak. Sebagai orang bijak abadi, ia yakin bahwa rambut yang bagus adalah karcis masuk menuju suatu hubungan yang sukses. “Apa yang bisa dielus-elus dengan jari seorang cewek sekarang?” serunya sambil berkecil hati. “Kulit kepalaku?”.

Ketika ia mulai mengajak para wanita untuk pergi keluar, ia hanya membawa mereka ke tempat-tempat di mana topi bisbol dapat diterima – bermain Frisbee di taman, membawa anjing berjalan-jalan, pertandingan bisbol, atau peristiwa lain yang sedikit bernada olahraga dimana ia dapat menyembunyikan kepalanya yang menipis. Ia berhasil baik sementara waktu, tetapi hanya ada sebegitu banyak peristiwa olahraga yang dapat dikunjungi, dan hanya ada sedikit hari-hari cerah untuk melemparkan Frisbee dan membawa anjing berjalan-jalan.

Juga, salah satu segi besar kepribadian sahabatku itu adalah bahwa ia sama sekali senang pergi keluar untuk santap malam yang enak. Kami telah menikmati banyak malam dikuliah dengan menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli berbotol-botol anggur, makanan-makanan pembangkit selera, dan kudapan coklat hangat di restoran-restoran yang paling bergengsi. Celakanya, tak ada satupun dari restoran ini yang mengijinkan pelanggannya menggenakan topi bisbol, tanpa menghiraukan betapa indahnya topi itu barangkali. Ini mulai menghambatnya dan sekali lagi loyo, sampai ia menerima pemberitahuan di kotak surat bahwa ia memenangkan sebuah makan malam gratis untuk dua orang di sebuah restoran eksklusif di pusat kota.

“Selamat!” bunyi surat itu. “Anda dan seorang tamu telah terpilih untuk mencicipi dan menikmati masakan dan suasana tempat kami yang istimewa. Dapatkanlah sertifikat hadiah terlampir seharga lima puluh dolar!” Ia berjingkrak-jingkrak kesenangan dengan bersemangat. Ia berpikir sungguh-sungguh mengenai apa yang harus dikenakannya, apa yang akan dipesannya, kapan mau perginya, dan… siapa yang akan diajaknya. Ia tidak mengenakan sebuah topi ke restoran baru ini. Tetapi siapa yang akan diajaknya yang tidak akan terkesiap oleh kepalanya yang hamper-hampir gundul itu?

Keningnya mengeryit karena kecewa dan ia terkulai disofa di dekatnya. Setelah beberapa menit diam, ia berteriak “Aw, wuih. Aku akan pergi.” Sambil melompat dari tempat duduknya, wajahnya menampilkan perangai ceria yang sudah teramat biasa itu dan ia dengan segera melarik daftar kencan yang mungkin. Akhirnya ia memilih Sarah—wanita yang telah berbulan-bulan dikaguminya dari jauh. Ia duduk di kursi kesukaannya, menekan nomor telepon dengan penuh keyakinan dan meminta Sarah menerima dengan rasa syukur. Beberapa malam kemudian, dengan mengenakan pakaian yang sangat dendi dan kepala botak yang indah, ia dan Sarah menghabiskan petang yang sempurna dan sejak saat itu jatuh cinta dengan asyiknya.

Dan aku mau mengatakan ini kepada Anda: Itulah lima puluh dolar terbaik yang pernah kukeluarkan

Katie Mauro
From Chicken Soup for The Single’s Soul