Jangan Abaikan Keluhan Ingin Mati

14 12 2009

Bunuh diri tidak pernah dilakukan secara spontan. Berdasarkan penelitian di berbagai negara, tidak ada tindakan bunuh diri yang langsung dilaksanakan pada pikiran pertama. Artinya, seseorang akan menimbang-nimbang terlebih dahulu sebelum benar-benar melaksanakan niatnya untuk bunuh diri.

”Proses menimbang-nimbang inilah yang sebetulnya bisa dikenali sebagai gejala. Hanya saja, sering kali gejala itu diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya,” ujar dr Hervita Diatri, pengajar di Divisi Psikiatri Komunitas dan Trauma Psikososial, Departemen Psikiatri Universitas Indonesia. Hervita menambahkan, pelaku bunuh diri biasanya mengirim sinyal kepada orang-orang terdekatnya.

Psikolog analis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dharmayati Utoyo Lubis, menambahkan, sinyal itu bisa diungkapkan secara verbal, tetapi juga bisa dilihat dari perubahan perilaku. ”Umumnya, ada perubahan perilaku. Dia jadi pendiam dan menutup diri,” kata psikolog yang akrab dipanggil dengan nama Yati tersebut. Selain perubahan perilaku, depresi berat yang ditandai dengan menangis terus-menerus juga bisa berakhir dengan bunuh diri.

Meski umumnya orang yang putus asa hingga berniat bunuh diri cenderung diam, ada pula mereka yang secara langsung mengemukakan keinginan tersebut. ”Omongan-omongan, seperti ’Gua ingin mati aja deh’, jangan hanya dianggap bercanda. Hal seperti itu jangan dianggap sepele,” ujar Yati.

Ceria

Para pelaku bunuh diri, kata Yati, tidak melulu orang-orang yang dari luar kelihatan pendiam saja. Mereka yang sehari-hari terlihat ceria pun bisa melakukan bunuh diri. ”Orang yang kelihatan selalu ceria belum tentu bisa terbuka terhadap orang lain bila sedang memiliki masalah. Ia justru menutupi masalah dengan keceriaannya tadi,” kata Yati. Untuk mengenali gejala orang yang akan bunuh diri, diperlukan kepekaan dari keluarga dan orang-orang dekat.

Cara terbaik untuk mencegah keinginan bunuh diri adalah dengan mengajak berkomunikasi. Menurut Yati, bila ada sinyal-sinyal seseorang ingin mengakhiri hidupnya, sebaiknya kita segera mengajak bicara dari hati ke hati dan membawa orang tersebut keluar dari masalah dengan terus memotivasinya. ”Dalam dunia psikologi, kami percaya kalau isi hati sudah dikeluarkan sedikitnya bisa mengurangi masalah,” kata Yati.

Bantuan yang ditawarkan ini harus dilakukan dengan tulus. Pasalnya, orang yang tengah mengalami depresi biasanya sensitif perasaannya. ”Jadi, dia tahu apakah kita menawarkan bantuan dengan tulus atau tidak,” ujar Yati, yang juga mengingatkan agar membawa seseorang yang depresi kepada psikiater jika keluarga tidak bisa menanganinya.

Ciri-ciri umum orang yang memiliki niat bunuh diri:

1. Mengalami perubahan perilaku secara drastis, biasanya menjadi pendiam

2. Menutup diri dari lingkungan sekitar

3. Menangis terus-menerus karena depresi berat

4. Mengeluarkan kata-kata yang menyiratkan ingin mati

Tindakan yang sebaiknya dilakukan anggota keluarga/orang dekat:

1. Bertanya kepada anggota keluarga yang terlihat mengalami perubahan perilaku

2. Membantu dengan tulus untuk keluar dari masalah

3. Mendengarkan keluh kesah mereka

4. Membawa kepada psikiater jika terjadi depresi

Advertisements




Keinginan Bunuh Diri

30 08 2009

DEFINISI

Tingkah laku bunuh diri ditandai dengan berhasil atau tidaknya usaha untuk membunuh diri sendiri.

Tingkah laku bunuh diri adalah tanda yang salah diartikan bahwa seseorang merasa putus asa atau putus harapan. Tingkah laku bunuh diri termasuk upaya untuk bunuh diri, isyarat bunuh diri, dan benar-benar bunuh diri. Upaya bunuh diri adalah tindakan bunuh diri yang tidak fatal. Jika upaya bunuh diri meliputi tindakan bunuh diri yang tidak mungkin memiliki potensi menjadi fatal, hal ini disebut isyarat bunuh diri. Seseorang melakukan berbagai tindakan (misal, mencerna 6 tablet asetaminopen) kemungkinan membuat permohonan untuk bantuan atau perhatian tanpa bermaksud benar-benar mengakhiri hidupnya. Bunuh diri lengkap adalah tindakan bunuh diri yang mengakibatkan kematian.

Informasi pada frekwensi bunuh diri sebagian besar dari sertifikat kematian dan laporan pemeriksaan dan kemungkinan lebih rendah dari tingkat sebenarnya. Bahkan sangat, tingkah laku bunuh diri secara nyata adalah masalah kesehatan yang umum secara keseluruhan. Meskipun kebanyakan tingkah laku bunuh diri tidak mengakibatkan kematian, 10% orang yang berusaha untuk membunuh dirinya sendiri menggunakan tindakan mereka yang berpotensi fatal melakukan kematian.

Tingkah laku bunuh diri terjadi pada orang disemua usia dan kedua jenis kelamin. Bunuh diri adalah penyebab kematian kedua diantara remaja dan adalah salah satu penyebab pada 10 kasus kematian teratas diantara remaja di Amerika Serikat. Tingkat tertinggi pada bunuh diri lengkap diantara pria yang lebih tua dari 70 tahun. sebaliknya, upaya bunuh diri lebih umum sebelum usia pertengahan. Upaya bunuh diri terutama sekali umum diantara remaja perempuan dan pria belum menikah di usia ke-30 mereka. Untuk semua kelompok usia, wanita berusaha bunuh diri 2 sampai 3 kali lebih sering dibandingkan pria, tetapi pria lebih mungkin meninggal pada upaya mereka.

Orang yang sudah menikah pada salah satu kelamin, terutama sekali mereka yang aman dalam berhubungan, memiliki tingkat bunuh diri yang lebih rendah dibandingkan orang yang belum menikah. Orang yang tinggal sendirian karena berpisah, bercerai, atau yang memiliki tingkat kemungkinan meninggalnya tinggi pada upaya dan bunuh diri lengkap. Memiliki anggota keluarga yang telah berusaha bunuh diri bisa meningkatkan resiko tersebut dengan baik.

Bunuh diri diantara pria berkulit hitam telah meningkat 80% pada 20 tahun terakhir, sehingga tingkat keseluruhan untuk orang kulit hitam sekarang berimbang dengan orang kulit putih, khususnya daerah perkotaan. Diantara orang amerika asli, tingkat tersebut juga meningkat akhir-akhir ini; pada beberapa suku bangsa, hal ini 5 kali dari rata-rata nasional. Tingkat bunuh diri lebih tinggi pada daerah perkotaan dibandingkan di daerah pedusunan diseluruh dunia. Kebanyakan bunuh diri berakhir di penjara.

Praktisi anggota kelompok agama mayoritas (terutama roma katolik dan yahudi) tidak mungkin melakukan bunuh diri. Beberapa orang umumnya didukung oleh keyakinan mereka dan disediakan jaminan perlindungan kemasyarakatan terdekat menghadapi tindakan menghancurkan diri sendiri. Meskipun begitu, keanggotaan religius dan keagamaan yang kuat percaya tidak diperlukan pencegahan individual yang keras, tindakan bunuh diri yang tidak dipertimbangkan selama waktu frustasi, marah, dan putus asa, khususnya ketika disertai dengan delusi pada rasa bersalah dan tidak berguna.

Catatan bunuh diri ditinggalkan oleh sekitar satu dari empat orang yang benar-benar bunuh diri. Catatan tersebut sering menunjuk ke hubungan pribadi dan peristiwa yang akan mengikuti kematian orang tersebut. cacatan ditinggalkan oleh orang tua sering segera diperhatikan oleh mereka yang ditinggalkan, sebaliknya orang yang lebih muda bisa langsung marah atau dendam. Isi catatan tersebut bisa mengindikasikan bahwa orang tersebut mengalami gangguan kesehatan mental yang menyebabkan tindakan bunuh diri.

Read the rest of this entry »





Depresi Pada Remaja

30 08 2009

Seorang remaja yang terlihat tidak gembira merupakan hal yang biasa. Namun, perlu diwaspadai bila perasaan tidak bahagia tersebut terus berlanjut sampai lebih dari dua pekan. Ada banyak alasan mengapa seorang remaja merasa tidak bahagia. Lingkungan yang penuh tekanan dapat memicu depresi. Dengan adanya depresi, dapat muncul perasaan merasa bersalah, menurunnya performa di sekolah, interaksi sosial, menyimpangnya orientasi seksual, maupun terganggunya kehidupan remaja di keluarganya.

Depresi merupakan gangguan serius yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan kesehatan secara umum. Depresi tidak mengenal usia. Tua, muda, dewasa, bahkan remaja bisa terkena depresi. Dengan dipicu permasalahan sepele, bisa saja remaja yang mengalami depresi melakukan hal-hal yang tidak dibayangkan orang umum. Yang paling membahayakan dari depresi adalah munculnya ide bunuh diri atau melakukan usaha bunuh diri.

Depresi Adalah

Depresi merupakan suatu gangguan mental yang spesifik yang ditandai dengan adanya perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, merasa bersalah, lambat dalam berpikir, dan menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas.

Tanda Depresi Adalah

–         Perhatikan tanda-tanda berikut untuk mengetahui adanya depresi pada remaja :

–         Merasa sedih, cemas, dan tidak memiliki harapan

–         Tidak nafsu makan, atau banyak makan yang menyebabkan penurunan maupun kenaikan berat badan dalam waktu singkat

–         Terjaga di malam hari, namun tidur sepanjang siang

–         Menarik diri dari teman-temannya, murung

–         Aktivitas dan prestasi di sekolah menurun, menurunnya motivasi dan minat

–         Mudah marah dan tersinggung, menjadi sensitif terhadap kritikan

–         Rendah diri dan merasa sangat bersalah

–         Konsentrasi menurun, sulit mengambil keputusan

–         Adanya perubahan dalam kebiasaan makan maupun tidur

–         Memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri

Jika tanda tersebut terjadi beberapa hari sampai beberapa minggu, sebaiknya segera dikonsultasikan pada tenaga kesehatan. Treatmen yang dilakukan dapat berupa terapi dengan cara berbicara, maupun menggunakan obat.

Pengobatan Depresi

Terdapat berbagai metode terapi yang dapat dilakukan bagi remaja yang mengalami depresi. Tenaga kesehatan akan mempertimbangkan metode yang tepat bagi masing-masing individu. Diantaranya dengan menggunakan cognitive behavioral therapy, psychodinamic psychotherapy, interpersonal psychoterapy, terapi supportif ataupun menggunakan obat-obatan.

Masukan Pada Orang Tua

Menjadi orang tua dari seorang remaja merupakan suatu tantangan tersendiri. Beberapa teknik komunikasi akan sangat diperlukan dan membantu orang tua dalam membasarkan anak remaja.

– Ketika mendisiplinkan anak, tidak dengan cara menghukum dan membuatnya malu. Ganti hukuman dengan membantu anak memberikan solusi dengan cara yang baik. Hukuman dan rasa malu dapat membuat seorang remaja merasa tidak berguna

– Biarkan anak remaja anda melakukan kesalahan. Sikap overproteksi atau orang tua yang selalu mengambil keputusan membuat remaja membuat mereka yakin bahwa mereka tidak memiliki kemampuan. Hal ini dapat membuat kepercayaan dirinya berkurang.

– Berikan ruang bagi remaja untuk ‘bernafas’. Jangan mengharapkan mereka melakukan sesuatu sama persis sesuai keinginan orang tua.

– Tidak memaksa anak untuk memiliki kegiatan dan pengalaman yang sama dengan anda sewaktu remaja dahulu.

– Jika anda mencurigai bahwa anak mengalami depresi, berikan waktu untuk mendengarkan masalahnya. Meskipun ana berfikir bahwa masalahnya bukanlah permasalahan serius. Membuka komunikasi antara orang tua dan anak merupakan hal penting, apalagi ketika anak memperlihatkan gejala menutup diri.

– Luangkan waktu untuk mendengarkan masalah mereka tanpa kritikan ataupun menghakimi.

– Jangan pula meremehkan apa yang mereka rasakan, kadang remaja mempunyai reaksi yang berlebihan terhadap suatu masalah tetapi sebaiknya orang tua coba mengerti bahwa apa yang mereka rasakan benar terjadi.

– Kadang remaja tidak mencari saran ataupun solusi atas masalah mereka, lebih kepada dukungan dan penerimaan saja, jadi apapun yang terjadi yakinkan sang remaja bahwa anda akan selalu mendampingi dan membantu mereka kapanpun diperlukan

– Begitu sang remaja merasa siap untuk menyampaikan masalah mereka, jangan potong dengan interupsi ataupun berusaha mengatur, dengarkan saja cerita mereka.

Bila memang masalah yang terjadi sudah diluar kemampuan sang remaja dan anda sendiri, beritahukan kepada mereka tentang kemungkinan kondisi yang ada serta diskusikan cara alternatif lain supaya masalahnya dapat terbantu.





Depression

26 10 2008

Kekecewaan yang mendalam dan terus terbenam dalam benak sangat berpotensi menimbulkan depresi. Siapa pun, dari golongan atau ras manapun dan usia berapa pun sangat mungkin mengalami depresi.

Pengalaman buruk, pengalaman yang mengecewakan, kehilangan suatu hal baik yang bersifat abstrak maupun konkrit berpotensi menimbulkan depresi. Kecelakaan, kehilangan barang yang disayang, kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, mengalami tuduhan negatif seperti dituduh maling atau menghamili anak orang, kehilangan seseorang yang dicintai akibat meninggal, umumnya memunculkan rasa kecewa.

Meski ada suatu takaran ilmiah, namun batasan depresi mungkin tidak dapat dirumuskan secara pasti. Sebagai bagian dari jiwa atau psikis, depresi dapat didefinisikan sebagai penyertaan komponen psikologis dan komponen somatik.

Komponen psikologis dapat disebutkan antara lain rasa sedih, susah, rasa tak berguna, gagal, kehilangan, tak ada harapan, putus asa, penyesalan, dll. Sedangan komponen somatik, seperti anoreksia, konstipasi, kulit lembab atau rasa dingin, tekanan darah dan nadi menurun.

Dalam psikologi, depresi merupakan salah satu jenis dari sekian banyak jenis gangguan mental. American Psychiatric Association memberi batasan gangguan mental sebagai gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis terjadi pada seseorang yang berhubungan dengan keadaan distres atau gejala yang menyakitkan.

Sementara itu, depresi sebagai salah satu bagian dari gangguan jiwa diberi batasan sebagai rasa sakit yang mendalam atas terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan sehingga memunculkan perasaan putus asa, tidak ada harapan, sedih, kecewa, dengan ditandai adanya perlambatan gerak dan fungsi tubuh.

Secara umum depresi terbagi atas tiga jenis yaitu normal grief reaction, endogenous depression dan neurotic depression.

Normal grief reaction disebut sebagai reaksi normal atas kehilangan. Jenis ini dapat disebut juga sebagai exogenous atau depresi aktif. Depresi ini terjadi berasal dari faktor luar. Biasanya sebagai reaksi dari kehilangan sesuatu atau seseorang seperti misalnya pensiun, meninggalnya seseorang yang dikasihi dan dicintai.

Faktor penyebab yang berasal dari dalam namun belum jelas sumbernya dapat disebut sebagai endegenous depression. Gangguan hormonal, gangguan fisik pada organ tubuh seperti gangguan otak atau susunan syaraf. Munculnya gangguan ini seringkali secara pelahan dan bertahap.

Neurotic depression atau depresi neurotik terjadi jika depresi reaktif tidak dapat terselesaikan dengan baik dan tuntas. Depresi ini merupakan respon terhadap stres dan kecemasan yang telah berlangsung lama.

Menemukan penyebab depresi tidaklah mudah. Sejumlah penyebab dapat muncul dan berlangsung pada saat yang sama. Umumnya, kehilangan disebut sebagai penyebab terbanyak terjadinya depresi. Dapat disebutkan empat macam kehilangan yaitu kehilangan abstrak, kehilangan konkrit, kehilangan khayali dan kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang.

Kehilangan abstrak dapat disebutkan seperti misalnya kehilangan harga diri, kehilangan kasih sayang, harapan, ambisi, dll. Kehilangan konkrit antara lain kehilangan orang yang disayang, kehilangan barang, kehilangan hewan peliharaan, dll.

Sedangkan kehilangan khayali berupa kehilangan yang bersifat khayal seperti merasa tidak disukai dan diterima dalam suatu lingkungan, merasa dipergunjingkan orang. Sementara itu, kehilangan sesuatu yang belum tentu hilang seperti misalnya menunggu hasil tes kesehatan, menunggu hasil ujian, menunggu pengumuman kelulusan, dsb.

Namun, beberapa gejala dapat dikenali sebagai pencetus dan penyerta depresi. Secara fisik mengalami gangguan seperti gerakan menjadi lamban, tidak dapat tidur nyenyak, nafsu makan berkurang, gairah seksual dapat menurun dan meningkat secara tiba-tiba atau malahan hilang sama sekali, pusing, mulut terasa kering, jantung berdebar cepat, dll.

Gejala lain depresi dapat disebut seperti misalnya kehilangan perspektif hidup. Pandangan hidup, pandangan terhadap pekerjaan, pandangan terhadap keluarga menjadi kabur. Umumnya, pandangan terhadap dunia cenderung melihat sebagai suatu kekalahan, kerugian dan penghinaan. Pada diri cenderung menganggap diri kurang baik, tidak layak dan tidak berharga. Terhadap masa depan dirasakan penuh kesukaran, kerugian dan frustasi.

Perasaan yang sering berubah dan sulit dikendalikan dikenali juga sebagai gejala depresi. Perasaan putus asa, kehilangan harapan, sedih, cemas, rasa bersalah, apatis, marah, sering muncul tidak menentu dan menciptakan suasana hampa dan mati.

Seseorang menderita depresi dapat ditandai dari gejala psikologis yang ada seperti kehilangan harga diri dari orang lain, ingin melarikan diri dari masalah dan muncul perasaan yang sangat peka. Bahkan penderita depresi yang akut muncul pikiran dilusi yang sangat merugikan. Dilusi berupa pertanyaan kecemasan seperti seseorang akan membunuh saya, seseorang akan meracuni saya, dlsb.

Terlepas dari semua itu, janji Tuhan atas hidup setiap kita sangatlah jelas. Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan yang selalu mulus dan baik-baik saja. Namun Tuhan menjanjikan saat hidup kita bergejolak, IA telah menyediakan jawaban dan jalan keluarnya. Jadi, sebelum depresi menimpa Anda, ingatlah di dalam Tuhan jalan keluar atas segala permasalahan hidup Anda telah tersedia.





Tak Semangat Hidup Bikin Cepat Mati

18 10 2008

Apa jadinya bila kita menjalani hidup ini tanpa semangat, tanpa tujuan yang ingin dicapai, tanpa dorongan melakukan sesuatu. Kehidupan mungkin akan terasa hampa dan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu.

Selain menjadi tak bermakna, hidup tanpa semangat juga dapat membuka jalan atau mendekatkan diri pada gerbang kematian. Secara ilmiah, hal ini telah dibuktikan melalui sebuah penelitian.

Riset ilmuwan Jepang mengindikasikan, seseorang yang tak memiliki ikigai – diartikan sederhana sebagai semangat dan tujuan hidup – cenderung akan meninggal lebih cepat dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan riset tersebut, meningkatnya risiko kematian juga ditentukan faktor lain seperti penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) dan penyebab eksternal terutama upaya bunuh diri.

Dimuat jurnal Psychosomatic Medicine edisi Juli/Agustus, Dr. Toshimasa dari Sone Tohoku University Graduate School of Medicine di Sendai meneliti untuk pertama kalinya pengaruh ikigai terhadap risiko kematian seseorang. Toshimasa juga mengklaim bahwa risetnya adalah yang kedua meneliti kematian akibat penyebab yang spesifik.

Dalam risetnya, Toshimasa melibatkan 43.391 pria dan wanita berusia 40 hingga 79 tahun yang tinggal di wilayah Ohsaki. Partisipan dipantau selama tujuh tahun dan sepanjang periode itu tercatat 3.048 orang meninggal dunia.

Selama riset partisipan disodori pelbagai pertanyaan termasuk “Apakah Anda memiliki Ikigai dalam hidup Anda?”. Sebanyak 59 persen mengatakan ‘Ya’, sebanyak 36,4 persen mengatakan ‘Tidak Yakin’, dan 4,6 persen menyatakan ‘Tidak’.

Mereka yang mengaku tak punya ikigai cenderung berstatus belum menikah dan tak punya kerja. Mereka juga berpendidikan rendah, kualitas kesehatan yang buruk, mengalami stres mental dan sering merasakan sakit. Mereka juga cenderung memiliki fungsi fisik yang terbatas.

Walaupun peneliti telah menggunakan teknik statistik untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut, orang yang tak punya ikigai tetap mengalami peningkatan risiko kematian selama periode penelitian dibandingkan mereka yang punya ikigai. Hubungan antara faktor-faktor ini juga bersifat independen setelah memperhitungkan sejarah penyakit dan konsumsi alkohol

Hasil analisis secara keseluruhan menunjukkan, orang yang tak punya ikigai tercatat 50 persen berisiko lebih besar meninggal oleh pelbagai sebab selama periode penelitian dibanding mereka yang punya semangat dan arti hidup .

Orang yang tak punya ikigai berisiko 60 persen lebih besar mengalami kematian akibat penyakit kardiovaskuler, terutama stroke, dan 90 persen cenderung meninggal oleh faktor eksternal. Tercatat sebanyak 186 kematian partisipan terjadi karena penyebab eksternal dan 90 di antaranya adalah bunuh diri.

sumber : Kompas





Keranjingan Shopping..Pertanda Tekanan Jiwa ?

18 10 2008

Istilah keranjingan belanja atau shopaholic mungkin hanyalah lelucon bagi mereka yang gemar menghamburkan uang. Anda juga sesekali mungkin pernah berbelanja tanpa kontrol dan baru tersadar setelahnya bila sekian banyak barang yang dibeli sebenarnya tidaklah diperlukan.

Bila hasrat belanja Anda masih sering dapat direm, itu hal yang wajar. Tetapi bila hasrat cenderung tak terkendali sehingga bersifat obsesif atau kompulsif, Anda harus waspada. Bisa jadi, perilaku yang Anda alami merupakan indikasi adanya problem kejiwaan.

Menurut suatu riset terbaru yang dimuat Journal of Consumer Research, keranjingan shopping dapat menjadi indikator timbulnya beragam persoalan mulai dari krisis finansial, konflik keluarga, stres, depresi hingga hilangnya kepercayaan diri. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan, saat ini banyak orang terjebak pada perilaku belanja kompulsif dan jumlahnya mungkin melebihi yang diperkirakan.

Tim peneliti yang terdiri dari Nancy M. Ridgway dan Monika Kukar-Kinney dari Universitas Richmond dan Kent B. Monroe (Universitas Illinois at Urbana-Champaign) berhasil merancang suatu teknik skala untuk mengukur derajat perilaku belanja kompulsif.

Skala ini berisi sembilan pertanyaan, dan para peneliti meyakini teknik baru ini jauh lebih baik ketimbang pengukuran sebelumnya dengan mengidentifikasi jumlah orang yang terlibat dalam perilaku compulsive shopping.

“Skala ini didesain untuk mengidentifikasi konsumen yang memiliki keinginan kuat untuk belanja, menghabiskan banyak uang secara teratur, dan mengalami kesulitan menolak impuls untuk membeli,” terang peneliti.

Teknik pengukuran sebelumnya hanya memperhitungkan sebagian besar konsekuensi perilaku berbelanja, seperti krisis keuangan atau percekcokan keluarga seputar keuangan. Padahal menurut peneliti, tukang belanja dengan pendapatan besar mungkin akan jarang mengalami problem finansial, tetapi sebenarnya memiliki kecenderungan perilaku kompulsif.

Setelah menganalisis tiga hasil riset yang dilakukan terpisah, para peneliti menemukan bahwa perilaku belanja kompulsif berkaitan dengan materialisme, menurunnya kepercayaan diri, depresi, kecemasan dan stres.

Mereka yang berperilaku kompulsif memiliki perasaan positif berkaitan dengan belanja selain juga cenderung menyembunyikan barang belanjaan, mengembalikan barang, lebih banyak berdebat dengan keluarga dan memaksimalkan jatah kartu kredit.

Para peneliti menemukan sekitar 8.9 persen populasi yang dijadikan obyek penelitian adalah mereka dengan perilaku belanja kompulsif. Jumlah ini jauh lebih besar bila identifikasi dilakukan dengan cara saringan klinis biasa, yakni hanya sekitar 5 persen saja.

Sumber: Kompas





Tes : Apakah Anda Depresi ?

17 10 2008

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jujur untuk mengetahui, apakah anda saat ini sedang depresi atau tidak.

I. Apakah saat ini anda merasa sedih?
0. Saya tidak merasa sedih.
1. Saya merasa sedih.
2. Saya sedih sepanjang waktu dan tidak dapat mengubahnya.
3. Saya begitu sedih atau tidak gembira sehingga saya sama sekali tidak suka.

II. Apakah harapan anda untuk masa depan?
0. Saya tidak berkecil hati tentang masa depan.
1. Saya merasa berkecil hati tentang masa depan.
2. Saya merasa tidak memiliki apa-apa yang diharapkan.
3. Saya merasa bahwa masa depan tidak ada harapan dan bahwa segalanya tidak dapat membaik.

III. Apakah anda merasa gagal?
0. Saya tidak merasa gagal.
1. Saya merasa telah gagal lebih dari rata-rata orang.
2. Saat saya melihat masa lalu, semua yang dapat saya lihat adalah banyak kegagalan.
3. Saya merasa saya adalah orang yang gagal total.

IV. Apakah anda merasakan kepuasan dalam hidup ini?
0. Saya mendapatkan banyak kepuasan dari banyak hal, seperti biasanya.
1. Saya tidak menikmati hal-hal seperti biasanya.
2. Saya tidak lagi mendapat kepuasan sesungguhnya dari setiap hal.
3. Saya tidak puas dan bosan dengan segala sesuatu.

V. Apakah anda merasa bersalah terhadap sesuatu?
0. Saya tidak merasa bersalah.
1. Saya merasa bersalah dalam sebagian kecil waktu.
2. Saya merasa agak bersalah dalam sebagian besar waktu.
3. Saya merasa bersalah sepanjang waktu.

VI. Apakah kegagalan yang pernah anda alami sebagai hukuman?
0. Saya tidak merasa sedang dihukum.
1. Saya merasa mungkin dihukum.
2. Saya perkirakan saya dihukum.
3. Saya merasa saya sedang dihukum.

VII. Aapakah anda merasa kecewa dengan diri anda?
0. Saya tidak merasa kecewa pada diri saya.
1. Saya kecewa pada diri saya.
2. Saya jijik dengan diri saya.
3. Saya membenci diri saya.

VIII. Apakah anda masih mempunyai minat terhadap orang lain?
0. Saya tidak kehilangan minat pada orang lain.
1. Saya kurang berminat pada orang lain dibanding biasanya.
2. Saya kehilangan sebagian besar minat saya pada orang lain.
3. Saya kehilangan semua minat saya pada orang lain.

IX. Apakah anda dapat membuat suatu keputusan?
0. Saya membuat keputusan sebaik yang saya dapat.
1. Saya menunda membuat keputusan lebih dari biasanya.
2. Saya sangat sulit membuat keputusan dibanding biasanya.
3. Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali.

X. Apakah anda merasa diri anda lebih buruk dari biasanya?
0. Saya tidak merasa tampak lebih buruk dari biasanya/
1. Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik.
2. Saya merasa terdapat perubahan menetap pada penampilan saya yang membuat saya terlihat tidak menarik.
3. Saya yakin bahwa saya tampak buruk.

XI. Apakah anda bisa bekerja seperti biasanya?
0. Saya dapat bekerja sebaik biasanya.
1. Saya memerlukan usaha extra untuk memulai mengerjakan sesuatu.
2. Saya harus sangat memaksa diri untuk melakukan sesuatu.
3. Saya tidak dapat bekerja sama sekali.

XII. Apakah anda bisa tidur dengan nyenyak?
0. Saya dapat tidur sebaik biasanya.
1. Saya lebih mudah lelap dibanding biasanya.
2. Saya lelah setelah melakukan sebagian besar pekerjaan.
3. Saya terlalu lelah untuk melakukan sesuatu.

XIII. Apakah anda mudah merasa lelah?
0. Saya tidak merasa lelah lebih dari biasanya.
1. Saya lebih mudah lelah dibanding biasanya.
2. Saya lelah setelah melakukan sebagian besar pekerjaan.
3. Saya terlalu lelah untuk melakukan apapun.

XIV. Apakah nafsu makan anda berkurang?
0. Nafsu makan saya tidak lebih buruk dari biasanya.
1. Nafsu makan saya tidak sebaik biasanya.
2. Nafsu makan saya jauh lebih buruk sekarang.
3. Saya tidak mempunyai nafsu makan sama sekali.

XV. Apakah anda selalu merasa bersalah?
0. Saya tidak merasa lebih buruk dibanding dengan orang lain.
1. Saya kritis terhadap diri saya untuk kelemahan atau kesalahan saya.
2. Saya menyalahkan diri saya untuk kesalahan saya sepanjang waktu.
3. Saya menyalahkan diri saya untuk setiap hal buruk yang terjadi.

XVI. Apakah anda ingin bunuh diri?
0. Saya tidak terfikir untuk bunuh diri.
1. Saya berfikir untuk bunuh diri tetapi tidak akan melakukannya.
2. Saya ingin bunuh diri.
3. Saya akan bunuh diri jika ada kesempatan.

XVII. Apakah saat ini merasakan gangguan pada kesehatan?
0. Saya tidak lebih khawatir tentang kesehatan dibanding biasanya.
1. Saya khawatir tentang masalah fisik seperti sakit dan nyeri atau gangguan lambung atau kontipasi.
2. Saya sangat khawatir tentang masalah fisik, dan sulit untuk memikirkan banyak hal lain.
3. Saya begitu khawatir tentang masalah fisik saya sehingga saya tidak dapay melakukan hal-hal lain.

XVIII. Apakah anda selalu menangis?
0. Saya tidak menangis lagi dibanding biasanya.
1. Saya lebih banyak menangis sekarang dibandingkan biasanya.
2. Saya menangis sepanjang waktu sekarang.
3. Saya biasanya bisa menangis, tetapi sekarang saya tidak dapat menangis meskipun saya ingin.

XIX. Apakah anda masih mempunyai minat terhadap seks?
0. Saya tidak memperhatikan adanya perubahan minat terhadap seks belakangan ini.
1. Saya kurang tertarik terhadap seks dibanding biasanya.
2. Saya sangat kurang tertarik terhadap seks sekarang.
3. Saya benar-benar hilang minat terhadap seks.

XX. Apakah saat ini anda merasa kesal?
0. Sekarang saya tidak lebih kesal dibanding biasanya.
1. Saya lebih mudah terganggu atau kesal dibanding biasanya.
2. Sekarang saya merasa kesal sepanjang waktu.
3. Saya tidak dibuat kesal sama sekali oleh hal-hal yang biasanya membuat saya kesal.

XXI. Apakah anda merasa berat badan anda menurun?
0. Jika ada penurunan berat badan, saya tidak banyak mengalaminya belakangan ini.
1. Berat badan saya berkurang lebih dari 2,5 Kg.
2. Berat badan saya berkurang lebih dari 5 Kg.
3. Berat badan saya berkurang lebih dari 7,5 Kg.

Skor :
0 – 9 : Normal.
10 – 15 : Gejala Depresi Ringan.
16 – 19 : Gejala Depresi Ringan Sedang.
20 – 29 : Gejala Depresi Sedang Berat.
30 : Gejala Depresi Berat.

Sumber : blogdokter