Manfaat Senam Hamil

19 09 2008

Pada ibu hamil sangat dibutuhkan tubuh yang sehat dan bugar, diupayakan dengan makan teratur, cukup istirahat dan olah tubuh sesuai takaran. Dengan tubuh bugar dan sehat, ibu hamil tetap dapat menjalankan tugas rutin sehari-hari, menurunkan stres akibat rasa cemas yang dihadapi menjelang persalinan.

Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil, disesuaikan dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ genital, perut kian membesar dan lain-lain. Dengan mengikuti senam hamil secara teratur dn intensif, ibu hamil dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal.

Senam hamil adalah adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik atau mental, pada persalinan cepat, aman dan spontan.

Sebelum memulai senam hamil, lakukan dulu gerakan pemanasan sehingga peredaran darah dalam tubuh akan meningkat dan oksigen yang diangkut ke otot-otot dan jaringan tubuh bertambah banyak, serta dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kejang/luka karena telah disiapkan sebelumnya untuk melakukan gerakan yang lebih aktif.

Kapan dianjurkan mengikuti senam hamil? Jika kandungan mencapai 6 bulan ke atas, lakukan senam hamil, kecuali ada kelainan tertentu pada kehamilan. Sebelum memutuskan mengikuti senam hamil, diskusikan kondisi kehamilan dengan dokter atau bidan.

Perempuan mengandung yang mengikuti senam hamil diharapkan dapat menjalani persalinan dengan lancar, dapat memanfaatkan tenaga dan kemampuan sebaik-baiknya sehingga proses persalinan normal berlangsung relatif cepat.

Bagaimana gerakan dasar senam hamil? Berikut langkah-langkah yang dapat Anda ikuti di rumah:

  1. Duduk bersila dan tegak, kedua lengan mengarah ke depan dan santai. Lakukan sebanyak mungkin dalam posisi sehari-hari
  2. Sikap merangkak, jarak antara kedua tangan sama dengan jarak antara kedua bahu. Keempat anggota tubuh tegak lurus pada lantai dengan badan sejajar lantai.
    Lakukan gerakan ini: Tundukkan kepala, lihat perut bagian bawah dan pinggang diangkat sambil mengempiskan perut dan mengerutkan lubang anus. Selanjutnya turunkan pinggang dengan mengangkat kepala sambil melemaskan otot-otot dinding perut dan otot dasar panggul. Lakukan gerakan ini sebanyak 8 kali
  3. Lakukan sikap merangkak dengan meletakkan kepala di antara kedua tangan lalu menoleh ke samping kanan/kiri, selanjutnya turunkan badan hingga dada menyentuh kasur dengan menggeser siku sejauh mungkin ke samping. Bertahanlah pada posisi tersebut selama 1 menit, kemudian tingkatkan menjadi 5-10 menit atau sesuai kekuatan ibu hamil
  4. Berbaring miring ke kiri (lebih baik ke arah punggung bayi), lutu kanan diletakkan di depan lutut kiri (ganjal dengan bantal). Lengan kanan ditekuk di depan dan lengan kiri letakkkan di belakang
  5. Bernaring miring, kedua lutut dan kedua lengan ditekuk, bawah kepala diberi bantal, demikian juga bawah perut agar perut tidak menggantung. Tutup mata, tenang, atur nafas dengan berirama.
  6. Berbaring telentang, pegang kedua lutut dengan kedua tangan dan rileks. Lakukan kegiatan berikut: Buka mulut secukupnya, tarik nafas dalam semaksimal mungkin, ketupkan. Mengejanlah seperti buang air besar, gerakan badan ke bawah dan ke depan. Setelah tak dapat menahan lelah, kembali ke posisi awal. Ulangi gerakan ini 3-4 kali dengan interval 2 menit.

sumber: hanyawanita.com

Advertisements




Puasa Tak Bahaya bagi Ibu Hamil

11 09 2008

Puasa tak mempengaruhi kondisi janin yang dikandung. Puasa tidak berpengaruh terhadap kesehatan. Bahkan perempuan yang sedang hamil sekalipun tetap diperbolehkan menjalankan ibadah puasa. ”Puasa tidak mempengaruhi kondisi janin yang berada di dalam kandungan,” jelas dokter ahli kandungan dan kebidanan, dr Maman Hilman SPOG.”Justru yang terpengaruh adalah kondisi sang ibunya sendiri, apakah dia sehat dalam menjalankan ibadah puasa atau tidak,” ujarnya pada Republika, Kamis (13/10). Pada usia kehamilan dengan kisaran antara empat sampai tujuh bulan, menurut dokter Maman, puasa tidak akan berpengaruh apa-apa. Sebab pada masa itu biasanya kondisi kesehatan sang ibu sudah dalam taraf penyesuaian.

Masalahnya akan lain bila masa kehamilannya masih muda. Pada masa ini biasanya si ibu hamil sering merasa mual-mual dan terkadang berlanjut dengan muntah. Lantaran kondisi kesehatannya tak memungkinkan, maka ibu hamil terpaksa tidak berpuasa. ”Sebetulnya kalau daya tahan sang ibu kuat, ya tidak ada masalah. Dan, ini tetap saja tidak mempengaruhi janin,” ungkap Maman. ”Tapi, janganlah memaksakan diri untuk berpuasa,” anjur dokter RS Hermina Depok itu. Dia kembali menegaskan bahwa pengaruhnya memang tidak terjadi langsung pada janin. Akan tetapi, tambah dokter Maman, pada si ibu hamil itu sendiri. Antara lain terjadi kekurangan cairan di dalam tubuh karena sering keluar lewat muntah. ”Yang jelas lihat dulu kondisi kesehatan. Hukum Islam pun menganjurkan bahwa jika dalam keadaan sakit diperbolehkan tidak berpuasa. Tapi, akan lebih baik lagi jika ini dikonsultasikan dengan dokter kandungan langganannya,” lanjutnya.

Mantan dokter RS Pasar Rebo yang dikeluarkan karena menentang privatisasi ini menambahkan, bayi yang ada dalam kandungan tidak terpengaruh secara langsung berkaitan dengan kegiatan pola makan yang dilakukan sang ibu. Sebab, tutur dokter Maman, bayi yang berada dalam kandungan mendapat asupan makanan dari plasenta atau ari-ari lewat aliran darah dan langsung menyebar ke seluruh tubuh. Sebelumnya dengan dipompa terlebih dahulu lewat jantung kemudian disalurkan.
Bagaimana pula dengan ibu yang hamil tua? Bolehkah berpuasa? Dokter Maman sekali lagi berpulang pada kondisi kesehatan sang ibu. Bila kondisi fisiknya memungkinkan, tak masalah sang ibu berpuasa. Yang patut diperhatikan adalah bahwa pada usia kehamilan lebih dari tujuh bulan biasanya janin memerlukan asupan makanan lebih banyak. Inilah yang menyebabkan si ibu terlihat sering lemas. ”Cara mensiasatinya selain jangan dipaksakan apabila memang benar-benar tidak kuat, juga harus minum sebanyak-banyaknya sewaktu sahur dan berbuka puasa untuk menambah cairan dalam tubuh,” lanjutnya. Menyangkut konsumsi cairan selama puasa itu, Dr Piprim B Yanuarso menyebutkan bahwa pada dasarnya puasa bagi ibu hamil
sama dengan ibu menyusui. ”Sang ibu harus pandai-pandai memperbanyak cairan dalam tubuh ketika berbuka puasa atau sahur. Sebab pada dasarnya hanya memindah kegiatan jam makan saja,” kata Piprim, secara terpisah. ”Sama saja dengan ibu menyusui yang bisa terus berpuasa apabila sang bayi tidak rewel. Begitu juga bagi ibu yang hamil tua, jangan dipaksakan apabila gerak bayi tidak seperti biasanya,” tambah Direktur Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) itu.

Ia mengatakan pada usia kehamilan delapan bulan biasanya ibu sudah bisa merasakan gerakan janin dalam kandungnya. Apabila janin ada perubahan dari biasanya, misalnya geraknya menjadi sedikit atau bahkan tidak bergerak sama sekali, janganlah dipaksakan berpuasa. ”Pengaruhnya juga untuk sang ibu, kalau tidak kuat bisa hipogrikemi atau kadar gula menurun. Yang ini tentu saja kurang bagus untuk anak,” tambahnya. Prinsipnya, kalori tidak boleh berkurang. Perlu makanan yang nilai kalorinya lebih tinggi dari biasanya. Makanan itu bisa didapat dengan selain makan sehat diselingi makan buah-buahan. Dan untuk menambahnya bisa dengan minum es krim susu.

Sumber : www.hypno-birthing.web.id





Tetap Happy Meski Sendiri Jalani Kehamilan

10 09 2008

Tak bisa dipungkiri, sebagian wanita harus sendirian menjalani kehamilannya entah karena ditinggal bertugas ke kota lain atau karena relasi mereka tengah terputus oleh suatu masalah. Buat sebagian ibu, tentu saja ini bukan perkara ringan. Namun apa pun yang terjadi, berlarut-larut dalam kesedihan bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga si jabang bayi. Jadi, ibu harus berupaya membuat dirinya happy.

JANIN BISA RASAKAN MASALAH IBU

Secara psikologis, janin dapat merasakan semua getaran perasaan ibunya. Kekecewaan, kesedihan, maupun kegembiraan akan ikut dinikmatinya bersama ibu selama ia berada dalam rahim. Ibu hamil yang memikul banyak masalah, otomatis akan memberi pengaruh kurang menguntungkan pada perkembangan janin. Laiknya efek domino, ibu yang selalu merasa gelisah akan membuat janin senantiasa tidak bisa tenang. Akibatnya, si ibu merasakan keluhan mual, muntah, lelah dan merasa tidak nyaman sepanjang kehamilannya.

Karena kehamilannya dirasakan sebagai beban berat, maka kesehatannya secara umum juga akan terganggu. Kalau sudah begini, janin yang dikandungnya tidak mungkin bisa tumbuh secara optimal. Bagaimana bisa optimal kalau makanan apa saja yang masuk selalu dimuntahkan kembali? Akibatnya, nutrisi penting yang dibutuhkan si ibu bagi janinnya maupun untuk dirinya sendiri tidak bisa tercukupi. Bila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut bukan tak mungkin selama kehamilan hingga persalinan, rentetan masalah akan terus sambung-menyambung.

Pada prinsipnya, menjalani kehamilan dengan tenang, bahagia dan nyaman dibutuhkan oleh setiap ibu hamil. Tak peduli apakah kehamilan tersebut dijalaninya sendirian, berdua dengan suami tercinta, atau berada di tengah-tengah keluarga besar. Yang jelas, ketenangan, kebahagiaan dan kenyamanan si ibu secara langsung akan diteruskan pada janinnya.

PERGI NAMUN KEMBALI

Ibu hamil yang ditinggal suaminya pergi untuk jangka waktu lama tapi dengan kepastian kapan kembali, umumnya menerima beban yang relatif lebih sehingga mudah diatasi. Yang termasuk dalam contoh ini adalah kepergian karena tugas belajar ke luar negeri, panggilan tugas sebagai abdi negara dan sejenisnya. Untuk kasus-kasus seperti ini kuncinya adalah optimisme. Lakukan hal-hal positif selama kehamilan dengan berbagai aktivitas menyenangkan seperti yang disarankan berikut:

* Tulis surat/email

Komunikasi tetap bisa terjalin meski suami istri tinggal di tempat yang terpisah jauh, baik melalui surat maupun email. Buat kesepakatan bersama untuk saling berkirim surat seminggu atau dua minggu sekali. Bahkan dengan email, hambatan waktu dan jarak makin tak berarti.

Ceritakan perkembangan janin, masalah yang dihadapi, keluh-kesah dan sebagainya. Jangan hanya menceritakan hal-hal yang menggembirakan saja, sedangkan masalah yang muncul dipendam sendiri semata-mata agar tidak membebani pikiran suami di tempat tugas. Justru dengan menceritakan masalah yang dihadapi, beban akan berkurang karena ditanggung bersama dan beban kehamilan dirasakan akan lebih ringan.

* Chatting

Chatting adalah ngobrol versi virtual. Dengan biaya yang relatif murah, keduanya dapat bercerita apa saja secara real time. Misalnya ketika janin menendang perut, istri bisa langsung mengirimkan berita tersebut pada suaminya. Dengan

demikian kebahagiaan ataupun keluhan dapat dirasakan berdua di saat yang sama. Supaya sama-sama nyaman, buatlah kesepakatan mengenai waktu chatting. Dengan begitu setiap pesan yang dikirim bisa langsung mendapat respons.

* Menulis catatan harian

Bila perlu istri bisa membuat catatan harian tentang aktivitasnya sehari-hari. Misalnya hari ini muntah jam berapa, makan apa saja, bagaimana perasaannya, dan adakah kejadian yang menyenangkan/menjengkelkan. Simpan catatan tersebut untuk diberikan kepada suami saat kembali. Hal ini memberi manfaat pada suami karena ikut mengetahui detail perkembangan buah hatinya. Sementara istri bisa membacanya berulang-ulang sebagai hiburan tersendiri. Paling tidak ia memiliki catatan mengenai apa saja yang sudah dialaminya selama menjalani kehamilan sekaligus bagaimana caranya menyelesaikan masalah yang muncul.

* Fokus pada janin

Fokuskan perhatian dan pikiran pada kehamilan. Binalah kebiasaan makan yang sehat, cukup istirahat, jalani kontrol kehamilan ke dokter atau bidan secara teratur, sempatkan mengikuti kelas senam hamil dan aktivitas yang mendukung lainnya agar persalinan lancar. Setidaknya, jadikan semua aktivitas positif tersebut sebagai hadiah indah yang akan diberikan kepada suami sekembali dari tugas nanti.

MENJELANG PERSALINAN

Wanita yang menjalani kehamilannya sendirian perlu persiapan ekstra menjelang persalinan.

* Ditemani saudara

Bila memungkinkan tak ada salahnya meminta orang tua, saudara, kakak, adik atau sepupu untuk menemani hari-hari menjelang persalinan. Adanya orang lain yang menjaga, membuat si ibu hamil merasa lebih aman. Selain itu, kalau ada kejadian mendadak yang tak diharapkan pun bisa segera dimintai bantuan.

* Cuti agak awal

Kalau umumnya wanita bekerja lebih senang mengajukan cuti mepet dengan tanggal perkiraan persalinan supaya sisa cuti untuk merawat anak jadi lebih banyak, tidak demikian halnya dengan single mom. Sebaiknya cuti diajukan lebih awal. Selain antisipasi perkiraan kelahiran akan maju, kelonggaran waktu ini akan membuatnya lebih relaks menjalani persalinan. Selain itu, bila ada kondisi darurat, ada waktu untuk mengantisipasinya.

* Bijak memilih tempat melahirkan

Pemilihan RS/klinik/bidan untuk melahirkan pun sebaiknya dipertimbangkan masak-masak. Kalau memang ada orang tua/saudara yang menemani, tidak masalah meski tempat persalinan agak jauh dari rumah. Tapi kalau benar-benar sendirian, sebaiknya pilih tempat bersalin yang mudah dijangkau, baik dari segi jarak maupun sarana transportasi. Bermalam di hotel yang lokasinya di sekitar tempat bersalin pun bisa menjadi alternatif solusi bila memang dirasa perlu dan memungkinkan demikian.

* Bersikap pasrah

Detik-detik persalinan adalah momen yang sangat berharga sekaligus paling mendebarkan bagi pasangan suami istri. Namun kalau terpaksa harus menjalaninya sendirian, pasrahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Fokuskan pada proses persalinan dan keselamatan bayi. Ibu harus yakin, “perjuangan” yang dilakukan selama ini setimpal dengan kesempatan emas untuk mendengar suara tangisan pertamanya.

PERGI DAN TAK KEMBALI

Kebalikan dari kasus di atas, ada juga istri yang harus menjalani kehamilannya benar-benar sendirian. Sang suami, karena berbagai alasan, tidak mungkin lagi mendampinginya. Sebutlah karena perceraian, kematian, atau mungkin kehamilan ini tak diharapkan karena terjadi di luar pernikahan. Pada kondisi demikian biasanya gangguan psikologis akan mendera si ibu. Bagaimana menyiasatinya agar kehamilan tetap terasa menyenangkan meski tanpa suami? Berikut beberapa hal yang disarankan:

* Berhenti meratapi diri

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah berhenti meratapi diri. Buang segala pikiran negatif tentang “nasib buruk” yang menimpa. Abaikan suara-suara negatif seputar kondisi Anda. Sebisa mungkin anggap saja sebagai angin lalu. Jangan malah terhanyut oleh pergunjingan orang lain. Fokuskan bahwa 9 bulan setelah ini, Anda akan menerima “kado” yang sangat istimewa.

* Percaya diri dan optimis

Meskipun tanpa suami, ibu hamil harus tetap percaya diri dan optimis bahwa kehamilannya akan berjalan lancar. Seperti sudah disebut di atas, perasaan si ibu selama menjalani kehamilan akan berpengaruh langsung pada janin. Tanamkan dalam diri, kalau perempuan lain bisa menjalaninya, mengapa saya tidak?

* Terima sebagai anugerah

Terimalah kehamilan ini sebagai anugerah yang harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya. Hindari hal-hal negatif yang akan mengganggu perkembangan janin, semisal melarikan diri dari kesedihan dengan merokok atau minum minuman beralkohol. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, gangguan yang ditimbulkan pada janin akibat kebiasaan buruk tersebut akan menambah masalah baru kelak.

* Buatlah daftar kegiatan yang menyenangkan

Susun strategi bagaimana menjalani kehamilan dengan membuat daftar kegiatan yang menyenangkan. Jadikan acara kontrol rutin ke dokter, belanja keperluan si kecil, ikut kelas senam hamil sebagai kegiatan yang menggembirkan. Pendek kata, lakukan semua hal terbaik demi si kecil.

* Cari “teman senasib”

Tak ada salahnya sharing bila bertemu dengan “teman senasib”. Biasanya di ruang tunggu dokter, ibu-ibu hamil akan berbagi cerita untuk mengusir kebosanan. Bila dirasa ada kecocokan, sama-sama bisa melihat sisi positif dari masalah yang sedang dihadapi, mengapa tidak mencoba saling berbagi?

PERSIAPAN FINANSIAL

Pada kesempatan terpisah M. Ichsan, ChFC, MsFin., dari Prime Planner, memberikan sedikit ulasan seputar persiapan finansial wanita yang menjalani kehamilannya sendirian. “Secara prinsip tidak ada perbedaan. Karena idealnya dana persalinan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.”

Berikut beberapa tip yang disarankan:

* Persiapkan jauh-jauh hari

Persiapkan dana persalinan jauh-jauh hari. Bila memang butuh waktu untuk mengurus tunjangan dari suami, misalnya, jangan tunda lagi. Segera urus dari sekarang, sehingga sedikit mengurangi beban pikiran di hari-hari terakhir menjelang persalinan.

* Siapkan dana liquid

Menjelang persalinan, dana yang dipersiapkan harus mudah dicairkan. Artinya, sudah ditransfer ke rekening dengan fasilitas ATM, sehingga bisa digunakan setiap saat.

* Pikirkan kemungkinan terburuk

Kemungkinan terburuk pun sebaiknya sudah diantisipasi sejak awal. Misalnya kalau ada tindakan operasi dan sebagainya yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

* Asuransi bila memungkinkan

Memang tidak ada asuransi yang khusus menanggung kehamilan. Akan tetapi bukan tak mungkin melengkapi fasilitas asuransi kesehatan yang dimiliki dengan polis maternity. Ini sangat bermanfaat untuk meringankan beban biaya persalinan yang harus dipersiapkan.

Sumber : Nakita





Keputihan pada wanita hamil

8 09 2008

Keputihan yang dalam istilah medis disebut fluor albus atau leucorrhoea merupakan cairan yang keluar dari vagina. Keputihan dapat terjadi pada setiap wanita, tanpa memandang usia. Tiga per empat wanita di dunia diperkirakan mengalami keputihan setidaknya sekali seumur hidupnya. Wanita hamil pun kerap mengalami keputihan selama masa kehamilannya.

Menurut Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta, seorang wanita lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan pada kondisi pencernaan. Semua ini berpengaruh terhadap peningkatan risiko terjadinya keputihan, khususnya yang disebabkan oleh infeksi jamur.

Keputihan dapat bersifat normal (fisiologis) dan tidak normal (patologis). Dalam keadaan normal, cairan yang keluar cenderung jernih atau sedikit kekuningan dan kental seperti lendir serta tidak disertai bau atau rasa gatal. Namun bila cairan yang keluar disertai bau, rasa gatal, nyeri saat buang air kecil atau warnanya sudah kehijauan atau bercampur darah, maka ini dapat dikategorikan tidak normal.

Keputihan seringkali dianggap sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu ketika mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal, keputihan tidak normal karena infeksi yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, selain dapat mengganggu kesehatan ibu, juga dapat berpengaruh terhadap janin.

Baik wanita maupun ibu hamil yang mengalami keputihan yang tidak normal, jelas Dr. Ovi, segeralah memeriksakan diri ke dokter agar dokter dapat melakukan pemeriksaan secara seksama untuk mencari tahu penyebab keputihan tersebut dan setelah itu barulah dapat memberikan terapi yang sesuai.

penyebab_keputihan
Penyebab keputihan dapat digolongkan pada dua golongan besar, yaitu fisiologis dan patologis. Pada keadaan fisiologis, keputihan dapat terjadi pada saat hamil, sebelum dan sesudah haid, saat mendapat rangsang seksual, saat banyak melakukan aktivitas fisik yang kesemuanya tidak menimbulkan keluhan tambahan seperti bau, gatal, dan perubahan warna.

Sedangkan keputihan patologis disebabkan oleh infeksi mikroorganisma seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti iritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi.

Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual. Sementara infeksi jamur Candida sp yang secara normal ada dalam saluran cerna dan vagina, dapat terjadi karena pertumbuhan yang berlebihan akibat berbagai faktor, salah satunya adalah kehamilan yang menimbulkan kondisi terjadinya penurunan imunitas tubuh dan juga vagina.

Umumnya penyebab keputihan tersering pada wanita hamil adalah infeksi jamur Candida sp. Wanita hamil dapat terkena keputihan sejak awal kehamilan hingga trimester akhir menjelang persalinan. Namun pada keputihan karena infeksi jamur, akan lebih berat terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan karena pada saat tersebut kelembaban vagina paling tinggi.

Menurut Dr. Ovi, selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan terjadinya keputihan pada janin. Namun bila saat persalinan masih terdapat infeksi, maka dampak keputihan yang terjadi tergantung penyebabnya, dimana bayi akan terkontak dengan penyebab keputihan tersebut.

Misalnya, pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur). Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur Candida sp dapat meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan.

Pada keputihan yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi, tentunya infeksi yang berlanjut dan tergantung penyebabnya, dapat mengganggu kesehatan ibu hamil. Misalnya bila terjadi infeksi Chlamydia pada kehamilan, dapat terjadi pecahnya selaput ketuban sebelum masa persalinan. Hal ini berakibat terjadinya infeksi pada janin dan juga pada ibu yang dapat menyebabkan infeksi berat hingga kematian.

Pada keputihan yang normal boleh saja melakukan hubungan seksual. Namun pada kondisi sedang terjadi masalah apalagi bila masalah tersebut ada infeksi, maka hubungan seksual harus dihindari hingga masalah selesai.

Diperlukan terapi pada pihak pasangan bila infeksi yang terjadi mungkin sudah terjadi pula pada pihak pasangan, agar tidak terjadi fenomena pingpong. Disebut fenomena pingpong karena infeksi pada perempuan yang juga ada pada pasangan prianya menginfeksi kembali pihak perempuan setelah perempuan tersebut sembuh dengan pengobatan sebelumnya.

Menyoal tentang cairan pencuci vagina, menurut Dr. Ovi, cairan pencuci vagina yang bersifat antiseptik kuat atau bila dilakukan pemasukan cairan pencuci vagina dalam jumlah besar ke dalam vagina (douche) dapat merusak flora normal vagina sehingga menyebabkan jamur dan bakteri mudah tumbuh. Sehingga untuk memilih cairan pencuci vagina, Dr. Ovi menyarankan memilih yang mempunyai keasaman sesuai dengan vagina dan penggunaannya hanya untuk di bagian luar vagina.

pengobatan_keputihan
Menurut Dr. Ovi, pada keputihan yang dikategorikan normal tidak perlu ada terapi khusus, yang penting adalah membersihkan organ intim secara benar dan teratur. Umumnya cukup dengan sabun khusus vagina dan air bersih serta menjaga agar pakaian dalam tetap kering dan bersih setiap saat. Sedangkan pada keputihan yang tidak normal sesuai dengan penyebabnya, harus segera mendapatkan pengobatan medis. Demikian pula untuk keputihan yang terjadi pada masa kehamilan.

Penanganan atau pengobatan untuk keputihan pada ibu hamil tergantung penyebab keputihan itu sendiri. Misalnya penyebab yang tersering yaitu infeksi jamur Candida sp, pengobatan yang paling aman pada perempuan hamil adalah pengobatan lokal dengan krim atau sejenis kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina.

Pada infeksi bakteri yang paling sering menyebabkan persalinan prematur ada obat-obat minum dalam bentuk kapsul atau tablet yang aman dikonsumsi ibu hamil. Pada infeksi Neiserrea gonorrhoeae ada suntikan atau obat yang diminum dalam bentuk kapsul yang juga aman untuk ibu hamil.

Dr. Ovi menyarankan bagi wanita hamil yang menderita keputihan pada masa kehamilan agar segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah keputihan tersebut masih normal atau sudah tidak normal dan memerlukan pengobatan.

Bagi suami yang istrinya mengalami keputihan saat hamil, Dr. Ovi menyarankan agar suami mau terlibat dalam proses pengobatan. Suami harus memahami bila dokter meminta untuk mengubah kebiasaan saat hubungan seksual yang mungkin berpengaruh dalam menyebabkan keputihan pada pihak istri seperti penggunaan kondom atau penggunaan gel khusus yang dapat membantu menurunkan iritasi saat hubungan seksual, atau sementara tidak melakukan hubungan seksual.

Suami juga mungkin diminta dokter untuk mengkonsumsi obat tertentu untuk menghindari fenomena pingpong bila terjadi istri terinfeksi oleh bakteri atau virus atau mikroorganisma lain yang dapat menular saat hubungan seksual.

Menurut Dr. Ovi, tidak semua keputihan dapat dicegah, terlebih bila penyebabnya adalah infeksi menular seksual. Meskipun demikian, penggunaan kondom saat berhubungan seksual dapat menurunkan kejadian infeksi menular seksual khususnya yang disebabkan oleh bakteri dan protozoa, sehingga pada yang kerap mengalami keputihan tidak normal yang cenderung berulang, selain terapi yang sesuai, penggunaan kondom juga dapat membantu.

Sumber : http://www.medicastore.com





Operasi sesar dapat menyulitkan kehamilan berikutnya

6 09 2008

Para peneliti telah menunjukkan bahwa persalinan sesar yang dilakukan pada kehamilan pertama tampaknya meningkatkan risiko komplikasi kehamilan berikutnya.

Temuan berasal dari analisis data register di Norwegia dari 637.497 kelahiran pertama dan kedua pada wanita dengan paling sedikit 2 kelahiran tunggal dan 242.812 kelahiran pertama, kedua dan ketiga pada wanita dengan paling sedikit 3 kelahiran tunggal.

Menurut laporan dalam jurnal Obstetric & Gynecology edisi Juni 2008, dibandingkan dengan kelahiran pertama normal, persalinan sesar pada kelahirna pertama kira-kira berisiko 2 kali lipat pada kehamilan kedua mengalami pre-eklamsia, kelainan plasenta dan punya bayi kecil (berat badan kurang).

Namun demikian, Dr. Anne Kjertsti Daltveit, dari University of Bergen di Norwegia dan koleganya menekankan bahwa sejarah kelahiran seorang wanita harus diperhitungkan. Mereka menemukan bahwa jika komplikasi yang sama dikeluarkan dari kelahiran pertama, risiko kehamilan kedua menurun sedikit.

Laporan mengindikasikan bahwa dengan 2 operasi sesar sebelumnya, risiko komplikasi pada kehamilan ketiga akan meningkat, tapi risikonya hampir sama terlihat setelah operasi sesar pertama.

Peneliti menjelaskan bahwa peningkatan risiko komplikasi setelah persalinan sesar dapat disebabkan oleh persalinan sesar sendiri. Sebaliknya, kemungkinan alasan untuk melakukan persalinan sesar pertama kali dapat hadir dalam kehamilan berikutnya, sehingga perhitungan komplikasi terlihat.

Sumber : Obstretic & Gynecology, Juni 2008.