Luka Di Hati

26 02 2010

Setiap manusia pasti memiliki luka di hatinya. Maksudnya setiap kita adalah orang-orang yang terluka, yang meskipun di luat terlihat kuat namun di dalam kita memiliki luka hati yang harus disembuhkan. Hanya bedanya ada orang yang lukanya parah, ada yang tidak. Mungkin ada di antara kita yang memiliki seorang ayah pemabuk/seorang ibu yang egois. Mungkin ada di antara kita yang orangtuanya bercerai/ada juga yang mengalami pelecehan ketika masih kanak-kanak.

Itu sebabnya mengalami kesembuhan luka hati adalah penting. Karena hati yang terluka mengakibatkan seseorang mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan dan alkohol, uang, seks, kekuasaan, makanan, popularitas dan cinta. Akibat dari luka hati yang tidak segera disembuhkan dapat mengakibatkan hal-hal yang sangat gila.

Percayalah bahwa yang sanggup menyembuhkan luka di hati kita hanyalah ketika mengalami kasih Tuhan secara pribadi. Dan kasih ini hanya akan kita dapatkan lewat sebuah hubungan. Hubungan dengan Tuhan. Hubungan yang kita miliki menentukan kebahagiaan dan keberhasilan dalam setiap aspek hidup kita. Oleh sebab itu bertanyalah kepada diri sendiri : ”Bagaimana dengan hubungan yang saya miliki hari ini? Bagaimana kondisi pernikahan saya? Hubungan saya dengan orang tua,dengan anak-anak, kakak-adik, teman-teman, Tuhan, atau bahkan dengan diri saya sendiri ?”

Jika hubungan tersebut berjalan sangat baik, berarti kita memiliki segalanya. Kita adalah orang-orang sukses. Untuk mendapatkan hubungan yang seperti ini, kita harus selalu merawatnya dengan baik pula. Sebab hubungan itu selalu bertumbuh dan berkembang. Hari ini pilihlah satu jenis hubungan dalam hidup kita yang ingin kita perbaharui. Entahkah itu hubungan dengan orang tua kita, saudara-saudara kita, pasangan, anak-anak/teman-teman kita.





Tersenyumlah dengan Hatimu

6 11 2008

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosensangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian,saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani,mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat,ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona. ” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.” Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak,nyonya. ” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.” Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan’ cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya. “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.” Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA,
DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!





Hati Yang Terluka

24 10 2008

Hati yang terluka terjadi ketika seseorang atau sesuatu menyakiti perasaan. Dalam Amsal 26:22 dikatakan bahwa seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati.

Penyebab terjadinya luka hati adalah sebagai akibat dari :
1. Perbuatan dosa kita sendiri (Maz 25:8, Ams 17:19, 2 Sam 24:10)
2. Dosa keturunan (Kel 34:6-7)
3. Kebiasaan minum minuman keras (Ams 23:29-35)
4. Keterlibatan di dalam dunia gaib (Imamat 20:6)

Luka hati tidak dapat hilang begitu saja! Waktu juga tidak dapat menyembuhkan. Ketika kita mengingat peristiwa itu, kita akan merasakan luka itu. Beberapa orang bahkan mematikan pikiran sehingga mereka tidak mengingat rasa itu lagi, tetapi sebenarnya perasaan luka itu sendiri masih ada.

Gejala-gejala yang ditimbulkan :
1. Sisi fisik (Ams 17:22)
Ketegangan syaraf, alergi, masalah di pencernaan, sakit hati, insomnia.
2. Sisi mental (Ams 18:14)
Depresi, kekacauan, rendah diri, ketakutan
3. Sisi roh/spiritual (Mat 18:34)
Mimpi buruk, mendengar suara-suara, melihat hal-hal yang aneh, tidak dapat mengontrol diri sendiri.

Berbagai cara orang berespon
Menghindari dari situasi dan membiarkan waktu yang menyembuhkan. Berusaha untuk menyesuaikan hatinya yang terluka dengan kemarahan dan dendam atau berusaha menutupi diri dan membiarkan waktu yang menyembuhkan.

Cara Penyembuhan
1. Berikan hati kepata Tuhan dan biarkan Dia menjadi Tuhan (Rm 10:9)
2. Lakukan pengakuan dan minta pengampunan untuk dirimu (Mat 5:23-24)
3. Kita harus memaafkan orang yang pernah menyakiti (Mat 6:12)
4. Serahkan penghakiman kepada Tuhan dan minta Tuhan untuk memaafkan mereka (Luk 23:24)





Menjadi Ikhlas Saat Hati Tidak Bisa Ikhlas

1 10 2008

Mencoba Ikhlas dengan keadaan yang tidak bisa membuat kita ikhlas adalah suatu yang sulit, tapi ternyata dengan Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna, dan kemarin saat meminta istri untuk iklhas saat kehilangan tas di meja kerja dikantornya, memang agak sedikit susah, tetapi Saya memintanya untuk bermunajad dan mengikhlaskan atas ketidak iklasan yang terjadi pada apa yang terjadi, insya Allah pasti ada hikmah dibalik semua cobaan yang terjadi.

Rasa Ikhlas bisa berkaitan dengan kebahagiaan. Jadi jika kita bisa membuat dan mengkondisikan suasana hati kita pada posisi ikhlas maka kita akan merasa bahagia atau tenang. Pernahkan kita tiba-tiba hati kita merasa bahagia tanpa sebab apapun. Rasa itu sebenarnya diakibatkan oleh rasa Ikhlas atas apa yang kita terima baik saat karunia yang kita dapat atau musibah yang kita dapat.

Selain membuat diri merasa bahagia dan tentram, apa sih manfaatnya disaat kita ikhlas? Jika kita Ikhlas kita akan merasa kita menyerahkan semua masalah kita kepada Tuhan. Doa kita akan diterima jika kita merasa ikhlas. Jadi kita sebagai manusia adalah makhluk yang lemah ini akan berubah menjadi makhluk yang kuat se alam semesta jika kita pada zona Ikhlas atau berserah diri kepada Tuhan, karena segala keinginan kita mungkin akan di kabulkan. Yang lebih kuat dari gunung adalah besi, yang lebih kuat dari besi adalah api, yang lebih kuat dari api adalah air yang lebih kuat dari air adalah angin. Yang lebih kuat dari angin adalah manusia yang ikhlas.

Perlu diingat saat ditimpa suatu musibah pasti akan sulit kita ikhlas menerima apa yang terjadi kepada kita, tapi coba lag ingat dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, Setiap tangisan pasti akan ada ada sebuah senyuman. Seorang  yang ikhlas akan memiliki kekuatan  yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya yang selalu tenang dan damai.

Seseorang yang selalu meratapi apa yang terjadi, menyesali kesalahan atau kekeliruan yang dibuat dan terpaku pada waktu mereka yang terbatas hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan dan dan keputusasaan dengan sebuah keikhlasan menerima apa yang terjadi, akan membuat kita kembali menatap sesuatu kejadian dengan penuh pesona, terima dengan ikhlas apa yang kita miliki, apa yang terjadi, dan apa yang menimpa kita, maka tidak akan ada lagi sesuatu menjadi sebuah beban.

Janganlah pernah merasa terlau terhimpit, terkekang karena di dunia ini segala sesuatu pasti berubah, saat hati tidak bisa ikhlas, coba lah berdoa untuk bisa ikhlas atas ketidak ikhlasan kita. tataplah masa depan, jalani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, karena pasti dibalik sebuah permasalahan pasti akan muncul kemudahan. Satu hal ikhlas itu tidak berarti pasrah, ikhlas itu menerima dengan baik apa yang terjadi, dengan tetap berusaha mencapai apa yang kita inginkan.

Menjadi ikhlas saat hati tidak bisa menjadi ihklas adalah tetap yang terbaik, ujian atau cobaan pasti akan terus mengalir, ikhlas menerima dan sabar menjalani adalah sebuah kunci dalam menjalani semua yang ada.

“YA Tuhan ikhlaskan hamba atas ketidakihklasan hati, Asal Engkau terus bersama ku ya Tuhan”

Sumber : erwin A





Berjalan Dalam Kekelaman

13 09 2008

Teman – teman, pernahkah teman – teman menghadapi suatu masalah yang sangat berat sehingga teman – teman merasa benar – benar ‘down’? Apakah saat itu, teman – teman merasa sendiri? Seolah gak ada yang peduli? Rasanya hidup ini sangat kejam dan tidak berarti, serasa jadi orang gagal, bahkan ada saatnya timbul keinginan ‘ingin mati’?

Teman – teman, ketika ada masalah, pikiran dan pandangan kita menjadi sempit. Hati gelisah dan tidak dapat berpikir jernih, ruwet dan ribet. Kita perlu menjadi tenang, berdoa. Pikiran jernih, baru kita ambil langkah. Jangan lagi ‘gelap mata’ terus kita ambil keputusan. Kita bisa salah langkah. Penyesalan nanti akan datang terlambat loh…

Jadi tenang dulu, berdiam dan berdoa, minta tuntunan Tuhan, mita pendapat sama orang lain, cerita jangan dipendam sendiri. Biar orang lain kasi masukan. Keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Tapi hati – hati, jangan salah minta pendapat. Nanti nanya pendapat ke pengedar drugs, ya gak bakal dapet solusi yang bener, ditawarin drugs, pendapatnya tu drugs bisa buat selesaiin masalah, padahal buat tambah rusak kehidupan kita.Betul? Kalau bisa cari seorang mentor, pembimbing yang bisa kasi masukan yang benar. Kita harus rendah hati mau terima nasehat, pendapat dan teguran orang. Tapi juga harus jeli, bijak memilah pendapat itu, ada yang baik diambil, yang jelek dibuang jauh – jauh. Yang penting jangan lupakan Tuhan yang kasi jalan buat kita, berdoa.

Setelah kita matang dengan berbagai ‘makanan’, baru ambil keputusan. Berjalanlah, dan jangan melihat kebelakang. Maksudnya kelah jangan sesali berbagai keputusan yang sudah diambil, semua yang terjadi adalah konsekuensinya.





Teman Anda Patah Hati? Jadilah Penolong

6 09 2008

Patah hati pastinya tak menyenangkan. Di saat seperti ini biasanya seseorang butuh teman bicara dan berbagi. Ada banyak cara untuk membuat teman Anda bersemangat lagi.

Yang ia butuhkan hanyalah dukungan dari sahabat baiknya. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan. Ini dia!

1. Luangkan waktu Anda bersama teman. Idealnya, berdua saja bisa lebih seru.

2. Biarkan teman Anda berkeluh kesan. Jika ia tak bicara, cobalah Anda yang memulai pembicaraan. Ada baiknya kesedihan itu ia ungkapkan ketimbang dipendam dalam hati dan masalah tak pernah selesai. Siapkah tisu.

3. Lakukan kegiatan yang menyenangkan Aktivitas outdoor, nonton film atau melakukan hobi ada serunya juga. Atau mungkin menonton konser bisa jadi alternatif yang baik bagi seseorang yang tengah kesal.

4. Tenangkan suasana hati teman Anda dengan cokelat, pergi belanja atau kegiatan apapun yang sekiranya disukai oleh teman Anda. Mungkin pergi ke salon untuk melakukan facial atau lulur juga menyenangkan.

5. Sabar. Anda harus sabar menghadapi sahabat yang mungkin sepanjang hari akan terus menangis dan menceritakan hal yang sama secara berulang-ulang. Sebisa mungkin berikan nasihat, namun hati-hati jangan sampai Anda memojokkan teman Anda. Dalam keadaan seperti itu pastinya tak ada seorang pun yang ingin diceramahi atau disalah-salahkan.

6. Jadilah pendengar yang baik. Jika Anda memutuskan untuk terus bersama sahabat Anda di hati itu sebisa mungkin tinggalkan dulu urusan lainnya. Berkonsentrasilah pada masalah sahabat Anda.

Tak ada yang tahu kapan kita membutuhkan seseorang. Mungkin suatu hari kita membutuhkan seorang sahabat untuk menemani melewati masa sulit. Jadilah teman yang baik

Sumber : http://www.detikhot.com/