Jangan Pernah Menyerah di Dalam Hidup

5 12 2008

Di dalam hidup, terkadang kita menginginkan segala sesuatunya dengan serba cepat. Kita menginginkan segalanya menjadi lebih baik, dengan cara yang serba cepat dan instan. Dan ketika kita mengetahui bahwa segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik seperti yang kita harapkan, terkadang kita langsung menganggap bahwa hal tersebut harus ditinggalkan dan bukan lagi menjadi tanggung jawab kita. Tetapi satu hal yang harus kita ketahui di dalam hidup kita, sebenarnya apabila kita berada di dalam situasi tersebut, kita sebenarnya sedang dalam kondisi menyerah!

Anda mungkin tidak mengetahui kondisi ketika Anda sedang menyerah. Seringkali kondisi yang Anda hadapi  adalah Anda menganggap bahwa tanggung jawab besar yang ada di bahu Anda bukanlah menjadi milik Anda lagi. Yang ada di dalam diri Anda ialah perasaan yang begitu lelah dengan diri Anda dan bahkan Anda jadi merasa bahwa keberhasilan yang akan Anda raih apabila Anda melaksanakan tanggung jawab Anda bukanlah takdir Anda. Pastilah di dalam hidup, Anda pernah berada di dalam situasi tersebut.

Di dalam situasi tersebut, Anda pasti seringkali merasa letih dan merasa beban yang Anda tanggung sangat berat. Bahkan di dalam kondisi yang seperti itu, Anda bahkan bisa merasa kesal dan merasa lebih baik meninggalkan saja hal tersebut tanpa berlaku tenang terlebih dahulu dan mencoba untuk merenungkan kembali tanggung jawab Anda.

Satu hal yang seharusnya Anda ketahui, Anda seharusnya mengingat bahwa Anda tidak pernah boleh menyerah di dalam hidup. Jangan pernah sekalipun Anda merasa mau meninggalkan tanggung jawab Anda ketika Anda tahu Anda harus menjalankan semuanya itu dengan segala resikonya.

Segala sesuatu di dalam hidup memang merupakan suatu proses yang panjang, dan segala yang ada di dalam diri kita pastilah memberikan pembelajaran yang berarti di dalam hidup. Di dalam proses tersebut, ketika kita akan mencapai tujuan kita, memang terkadang kita ingin menyerah, namun kita sesungguhnya tidak boleh menyerah. Memang terkadang perjalanan hidup Anda harus dilalui dengan air mata, namun percayalah, jika Anda tidak menyerah dan tetap setia dengan tanggung jawab yang diberikan kepada Anda, maka Anda akan pasti akan mencapai tujuan Anda.

Advertisements




21 11 2008

Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya.

Hal yang sangat menyakitkan adalah saat kau mengirimkan e-mail pada temanmu, dia menghapus tanpa membacanya. Saat kau memerlukan jawaban dari e-mailmu, dia tidak menjawab dan mengacuhkannya.

Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura-pura tidak melihatmu. Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintamu. Saat dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan undangan pernikahannya.

Hal yang sangat mengecewakan adalah kau diperlukan hanya pada saat dia dalam kesulitan. Saat kau bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padamu. Saat kau butuh dia untuk berorang-orang cerita, dia berusaha untuk menghindarimu.

Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu. Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan. Sebenarnya ia telah mengajarimu agar kau tidak berprilaku seperti dia.

Saat temanmu menghapus e-mail yang kau kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura-pura tidak melihatmu.

Sebenarnya dia telah mengajarkanmu agar tidak berprasangka buruk & selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca e-mail yang kau kirim atau mungkin saja dia tidak melihatmu.

Dan saat dia tidak menjawab e-mailmu. Sebenarnya dia telah mengajarkanmu untuk menjawab e-mail temanmu yang membutuhkan jawaban walaupun kau sedang sibuk dan jika kau tidak bisa menjawabnya katakan kalau kau belum bisa menjawabnya jangan biarkan e-mailnya tanpa jawaban karena mungkin dia sedang menunggu jawabanmu.

Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya. Sebenarnya sedang mengajarimu untuk menerima takdirNya.

Saat kau bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padamu. Sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun.

Saat kau ingin dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu. Sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berbagi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya.

Bila kau diperlukan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan. Sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif & santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan.

Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak menyenangkan.

Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan, tidak dihargai malah mungkin dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mendidikmu untuk melatih membersihkan hati & jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.

Mungkin Tuhan menginginkan kau bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.

sumber: anonim





Hidup Ada 3 Hari

12 11 2008

Live Only for Present (Today)

Yang pertama: Hari kemarin. (Past)

Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan, dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.

Biarkan hari kemarin lewat, lepaskan saja…

Yang kedua: Hari esok. (Future)

Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi.

Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.

Esok hari belum tiba, biarkan saja…

Yang tersisa kini hanyalah : Hari ini. (Present)

Pintu masa lalu telah tertutup, Pintu masa depan pun belum tiba.

Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.

Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini, bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.

Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.

Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.

Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri

Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!

The day will come when you will review your life and be thankful for every minute of it.

Every hurt,every sorrow, every joy, every celebration, every moment of your life will be a treasure.

This is why today is called a PRESENT

Success is not the key of happiness. Happiness is the key of success.





Hidup Ini Sandiwara, Bukan Belaka!

25 10 2008

Dari kecil kita mendengar hidup ini sandiwara tetapi karena – mungkin – ditambah embel-embel “belaka” akhirnya konotasi yang melekat terkesan hidup ini main-main, apalagi terkadang masih ditambah di depannya kata “hanyalah”. Lengkaplah kesan main-main itu. Padahal sandiwara adalah exhibisi permainan (the game) yang berbeda dengan main-main. Permainan memiliki konsekuensi penilaian kalah dan menang. Konsekuensi itu juga melahirkan dampak psikologis bagi pemain dan bentuk penerimaan di tingkat penonton. Kalau permainan dapat dimenangkan maka akan membuat pemain (baca: kita) merasa puas (satisfied) dan membuat penonton memberi reward. Sebaliknya jika kalah maka pemain merasa kecewa (dissapointed) dan penonton tidak punya alasan riil untuk memberi reward. Tidak hanya itu saja, bahkan kekalahan itu sering menghabiskan waktu, energi, dan perhatian kita untuk membuat “pembelaan-diri” dengan segala cara agar penonton tidak mengecam kekalahan.

Bagian paling mendasar agar kualitas permainan (sandiwara) membuat kita satisfied adalah memahami naskah sebelum memahami peta geografi panggung dan demografi penonton. Seorang pemain yang tidak memahami naskah sandiwara akan membuat space panggung lebih besar dari space pikirannya. Kalau dipaksakan main maka akan membuat banyak peristiwa panggung yang tidak terpikirkan (missing-link) atau mudah terkena penyakit demam panggung. Kalau hal ini terjadi maka bentuk pembelaan-diri apapun di hadapan penonton tidak bermanfaat untuk menangkis peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

Kiasan diatas mewakili gambaran yang terjadi di seluruh wilayah hidup kita. Seorang pemimpin perusahaan yang tidak memahami naskah akan membuat dirinya mudah kecolongan/kebobolan yang tidak jarang justru berakhir dengan kebangkrutan. Seorang sopir yang space fisik mobil lebih besar dari space pikirannya akan membuat ia tidak tahu ke mana mobil harus diarahkan dan kalau tetap menjalankannya juga maka akan gampang terjadi kecelakaan. Demikian juga dengan diri kita. Bedanya, kita adalah pemain sekaligus penyusun naskah. Karena kitalah yang (mestinya) tahu peta panggung internal dan eksternal sekaligus lingkungan khalayak penonton.

Naskah

Pendekatan membuat naskah skenario dalam konteks organisasi telah dikenal bertahun-tahun dengan sebutan ‘strategic thinking’ dan telah dibuktikan dapat menghasilkan banyak manfaat bagi organisasi yang menggunakannya, terutama sekali pemahaman peta (naskah) dari mana memulai (konteks sejarah), di mana sekarang dan kemana harus melangkah. Model berpikir strategis ini bertumpu pada lima kriteria, yaitu: organization, observation, driving force, view, dan ideal position (dalam: Strategic management thinking: Women business center, Dallas TX, 1997). Kalau kriteria itu kita olah menjadi model kemasan yang mungkin untuk diterapkan dalam skala mikro (organisasi personal) yaitu diri kita, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Organisasi

Naskah hidup harus disusun berdasarkan pertimbangan, pengetahuan dan pemahaman tentang siapa orang-orang yang akan terlibat mendukung agar menjadi tontonan sandiwara yang memuaskan diri kita dan menarik buat penonton. Kalau tidak terjadi nota kesepahaman psikologis antara kita dengan sejumlah orang yang kita ajak bermitra, akibatnya permainan sandiwara mengecewakan semua pihak.

Dukungan bisa kita ciptakan dari real networking (mitra/rekanan) , kelompok master mind (sahabat/teman), relationship (keluarga). Bentuk dukungan yang kita butuhkan bisa berupa kontribusi riil (material) dan kontribusi mental (mental support). Idealnya, kita membutuhkan kedua hal itu. Kalau kita membutuhkan uang tetapi mendatangi sosok yang punya keterbatasan uang juga, maka judul akhirnya problem plus problem. Dalam rumah tangga sangat perlu dilakukan kebiasaan saling mendukung dan ketergantungan antgara satu dengan yang lain. Seorang suami mungkin memerlukan kontribusi mental dari istri dalam menjalankan tugas sebagai kepala keluarga, anak membutuhkan kontribusi dari orangtua, dsb. Dukungan tidak dapat diperoleh dengan gratis tetapi – meminjam istilah Covey – perlu dibentuk kebiasaan kesalingbergantungan; saling mendukung.

2. Observasi

Naskah hidup seyogyanga disusun berdasarkan pemetaan mental dan observasi lapangan untuk mengurangi gap antara hal apa yang masih konseptual dan hal apa yang merupakan faktual. Agar hasil observasi lebih akurat dan representative, maka para ahli di bidang model berpikir strategis menawarkan kiat “Airplane thinking” yaitu sebuah kiat di mana kita memposisikan diri berada di atas pesawat mental. Dengan posisi di atas akan membuat penglihatan kita lebih luas dan menjangkau seluruh wilayah yang ada di bumi (panggung realitas). Pesan bijak bilang, orang yang tidak dapat memahami persoalan dari wilayah strategis (baca: spektrum yang lebih luas) akan membuat dirinya hanya berputar-putar di sekeliling problem dan sulit menyusun prioritas (fokus pengembangan).

Tangga pesawat mental akan memudahkan kita merasakan adanya keterkaitan antar objek, membuat kesimpulan menyeluruh, dan mudah membedakan sekian alternative yang ada. Sebaliknya dalam posisi mental di bawah akan membuat penglihatan kita terbatas pada ruangan yang sempit sehingga mudah mengalami stuck dan tidak tahu alternative. Bisa jadi, naskah yang disusun dengan keterbatasan observasi tidak dapat menjabarkan konteks pembahasan yang lebih luas. Kalau meminjam istilah yang dipakai anak ABG (anak baru gede), orang yang “kuper” (kurang pergaulan) membuat dunia yang sangat luas ini menjadi sekecil daun kelor.

3. Sudut Pandang

Naskah hidup sebaiknya disusun tidak selamanya berdasarkan format pandangan lama tetapi harus mendapat sentuhan “different way of thinking”. Dalam teori berpikir strategis, ada empat sudut pandang yang perlu dipertimbangan untuk membentuk skenario yaitu sudut pandang atas lingkungan, marketplace, proyek, dan ukuran proyek. Sudut pandang itu dibutuhkan dalam rangka mengidentifikasi hasil yang diinginkan (outcome), identifikasi elemen kritis, dan mengukur tingkat kesesuaian antara ide dan tindakan

Untuk memperjelas, sudut pandang ini dapat kita kaitkan dengan ungkapan lama bahwa setiap manusia memperoleh “penghidupan” dengan cara menjalani bisnis penjualan (business of selling). Siapa pun dan apapun kita tidak akan mendapatkan sesuatu yang diinginkan – yang kebetulan masih di tangan orang lain – kecuali ada yang kita jual kepada mereka. Agar barang kita laku, maka tidak semestinya kita menjual apapun kepada siapapun dan kapanpun dengan cara apapaun. Profesi yang dipilih para nabi sarat dengan sudut pandang yang matang atas keempat faktor di atas, di mana mereka umumnya memilih profesi bidang pertanian, kelautan, atau industri tekstil . Tak terkecuali Inul kalau tidak boyong ke Jakarta demi “menjual” goyang ngebornya kemungkinan besar tidak seheboh seperti sekarang ini.

4. Sumber Kekuatan

Dalam teori berpikir strategis, sumber kekuatan dapat dipetakan menjadi sumber kekuatan kualitatif (cth: visi, keyakinan berprinsip, tujuan hidup), sumber kekuatan produktif (cth: misi dan fungsi), dan sumber kekuatan kuantitatif (cth: pengalaman, pencapaian prestasi, dll). Peta sumber kekuatan teoritis itu dapat kita jadikan acuan bahwa naskah hidup yang kita rumuskan sebaiknya jangan membabi-buta tetapi sarat dengan perhitungan matang atas faktor kekuatan pemicu, pendorong, dan penopang. Naskah hidup harus mampu menjelaskan:

* Visi (tujuan jangka panjang antara 8 sampai 25 tahun mendatang)
* Definisi Tujuan (manajemen keinginan)
* Prinsip hidup (keyakinan totalitas dan tidak menerima kompromi)
* Rumusan Implementasi sesuai dengan kapabilitas saat ini dan berdasarkan kemampuan riil menurut apa yang telah kita alami dan telah kita capai

Kasarnya, jangan sampai asal-asalan terjun payung nekat tanpa menggunakan parasut cadangan, karena hidup ini bukan main-main.

5. Destinasi Dinamis

Posisi ideal dalam berpikir strategis menggambarkan keadaan hidup tertentu yang akan kita nikmati apabila seluruh kandungan naskah ini dapat diterjemahkan sesuai rencana mencakup respon penonton, keunggulan yang bakal kita miliki, dan peluang yang kita raih. Pendek kata, posisi ideal adalah wilayah untuk mengekspresikan energi visualisasi kreatif di mana kita akan terinspirasi untuk meraihnya. Tanpa sentuhan ‘khayalan’ mungkin kandungan naskah menjadi hambar dan penonton pun tidak tertarik. Kita bisa menarik pelajaran dani kesuksesan film Titanic. Awalnya cerita itu adalah besi besar bernama kapal yang tenggelam di dasar laut tetapi oleh penulis naskah yang kreatif disulap menjadi sebuah tragedi yang diiringi dengan petualangan cinta antara dua kasta yang menarik sehingga membuat penonton histeris dan ketagihan.

Dalam kaitannya dengan diri kita, naskah hidup perlu disusun tidak semata-mata berdasarkan “apa adanya” tetapi perlu melibatkan khayalan ‘‘apa yang semestinya” terjadi atau harus terinspirasi dengan cita-cita murni sebagaimana saat masih bayi. Seperti kata orang, tidak selamanya orang gagal itu karena cita-cita hidup yang lebih besar dari kemampuan tetapi seringkali cita-cita yang (dibikin) berstandar rendah dan tidak tercapai seratus persen”. Jadi, posisi ideal bukanlah destinasi akhir tetapi titik proses di mana akhir adalah awal untuk memulai.

Karakter Permainan

Penguasaan isi naskah yang dibuat secara orisinil dan didasarkan pada pendekatan model berpikir strategis akan menghasilkan kualitas karakter permainan sebagai berikut:

1. Menciptakan dialog (kerja sama) yang hidup, dinamis dan komunikatif yang didasarkan atas pemahaman peranan dirinya dan orang lain (supportive people). Dialog yang hidup itu merupakan cermin dari negosiasi dalam berbagai transaksi kepentingan hidup.
2. Memiliki penguasaan panggung yang lebih akurat sehingga ketika mendadak terjadi kegagapan, orang yang telah menguasai naskah gampang menyusun improvisasi panggung.
3. Memiliki penampilan yang menarik karena memiliki otoritas mental untuk berkreasi secara kreatif dan berinovasi, sehingga tidak membuat bosan atau monoton.
4. Memiliki pemahaman bagaimana “menempatkan diri” di atas panggung yang tidak berposisi kontradiktif dengan pemain lain atau apalagi membelakangi penonton. Meminjam istilah Musashi, pemahaman demikian dinamakan “ordered flexibility” yang menggambarkan watak air berbentuk tanpa egoisme bentuk.
5. Memiliki semangat permainan yang tinggi karena terdorong oleh cita-citanya. Semangat ini pada gilirannya akan menciptakan daya tarik terhadap penonton sehingga mereka menjadi bersemangat.

Belajar dari karakter para pemain yang sukses, umumnya mereka memiliki karakteristik yang sama yaitu: penguasaan naskah, penguasaan panggung dan penguasaan emosi penonton. Bagi penonton pemain itulah “the world”. Kiasan ini bisa membuat kesimpulan serupa kalau kita belajar dari kehidupan orang sukses bukan saja dari effect tindakannya tetapi dari isi pikiran dan karakter bertindak. Ciri khas yang umumnya sama adalah mereka menguasa dirinya (personal mastery), menguasai bidangnya (life focus mastery) dan menguasai reaksi lingkungan. Contohnya: menurut cerita para orang tua, kalau Pak Karno lagi berpidato, para petani di Jawa Timur rela membawa radionya ke sawah karena tidak ingin kehilangan apa yang akan disampaikan Soekarno.

Memang tidak semua orang punya panggung dan jumlah penonton sebesar dan sebanyak Soekarno, tetapi prinsipnya semua orang punya tugas mendesain naskah hidupnya, punya tugas menguasai pangung, dan punya tugas menguasai reaksi penonton yang umumnya hanya berkisar kecaman dan pujaan. Kalau tidak dapat menguasai reaksi penonton, atau dengan kata lain apabila anda mengukur sukses hanya sebatas pujaan dan kritik, maka kegelisahan anda tidak akan pernah berakhir. Reaksi adalah effect dari aksi menguasai naskah. Semoga menjadi bahan menyusun naskah hidup anda.

Sumber : Ubaydillah, AN





Makna Kehidupan

22 10 2008

Tuhan yang Maha Baik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai. Mulailah sekarang…mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya. Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, Tetapi kehidupan lajang juga memiliki suka-duka. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya. Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah hati seorang wanita.

Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga. Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain…tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu. Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah. Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.

Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya. Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar,
orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.

Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta. Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.

Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

Kamu tak bisa mengubah masa lalu…tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan. Bila kamu mengisi hati kamu….dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri. Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”





Semua Itu Baik

15 09 2008

“Semua itu baik,” setuju gak? Mungkin sebagian besar akan bilang setuju, tetapi ada juga yang enggak. Kontroversi dan beda pendapat adalah hal biasa dalam kehidupan. Perbedaan menyebabkan hidup lebih menarik untuk di jalani, betul? Coba bayangin klo semua orang di dunia ini memiliki hanya satu agama, sat pendapat, satu pikiran, wa… hidup ne kayak robot, ga asik. Dengan adanya perbedaan maka kita dapat saling mengisi dan melengkap, betul?

Udah, menyimpang tu dari judul. Kembali ke smua itu baik, setuju ga setuju, harus terima. Mungkin ada yang protes, ah, gak smua baik, hidup saya malang. Keluarga berantakan, studi ngawur, ekonomi gak beres, jodoh gak jelas, masa depan suram, gimana saya mo bilang semua itu baik?? Loh loh loh…stop dulu, klo sampe separah itu, ada kutuk pak, silahkan hubungi pelayanan pelepasan di gereja terdekat. Wah, menyimpang dari topik lagi.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, itu semua untuk kebaikan. Mungkin sesekali kita gagal, mungkin kita kurang beruntung jika dibanding orang lain. Sering kali kita merasa iri dalam hati kita, andai aku seberuntung dia. Sering bisikan di dalam hati, kok hidup ku begini sih, kokbegitu sih. Tapi percayalah teman – teman bahwa rancangan Bapa di Surga adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan, rancangan yang sempurna dan tidak pernah gagal.

Terus klo memang rancangannya baik, kok begini? Kalo Tuhan rancang gak begini, mungkin seperti itu aja deh, hidup ku akan lebih baik. SALAH Saudara. Tuhan mengenal setiap pribadi kita lebih dari siapapun, lebih dari diri kita. Dia telah mengerti setiap sudut hatimu bahkan sejak kau dalam kandungan ibumu.

So, klo keluarga berantakan, ato klo usaha gagal, studi hancur, ato jodoh gak jelas, masi bisa dibilang baik? Baik dari mana? Dari hongkong? Ya, semua itu baik. Kenapa? Dari setiap peristiwa, entah apakah peristiwa itu baik atau buruk menurut kita, ada hal yang mau Tuhan ajar kepada kita. Ada sesuatu yang indah yang Tuhan mau tiap kita untuk bisa kita mengerti. Dan semua itu baik adanya, sekarang tergantung kita, apakah kit bebal atau tidak? Mau belajar atau tidak? Mau didik atau tidak?

Soal hidup, kita itu masi seperti anak kecil Saudara, ibarat anak SD dan Tuhan yang menciptakan kehidupan .melebihi profesor donk, Tuhan mo ajar kita tentang pelajaran kehidupan. Anak SD mo debat lawan profesor? Kita sering kali sok tau, padahal kita gak taw apa – apa. Kita hanya sedikit ‘mengintip’ apa yang namanya HIDUP itu. Just a little peek and u know anything? Kita belum melihat keseluruhannya, the whole package. Semua yang kita rasakan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat itu baru sebagian dari kehidupan, betul?

Sering kali manusia itu hanya mengingat dan mengabarkan hal yang buruk, yang baik dilupakan. Misal suami isteri bercerai (jangan ya!), si suami kemana – mana bilang mantan isterinya cerewet, galak banget, klo ngomel dah kayak burung beo. Si isteri bilang si suami itu orang nya egois, apa – apa maunya sendiri, keras kepala, gak peduli sama keluarga. Banyak sekali kejadian seperti ini saudara. Setelah cerai yang diinget yang jelek – jelek. Mereka gak inget yang baik dan bagus. Misal si mantan isteri walau cerewet tetapi sayang sama keluarga, sayang suami sayang anak. Si mantan suami walau egois, tetapi setia dan jujur, sesekali dia bisa romantis. Hal baik itu gk pernah diceritain ke orang. Itulah jeleknya manusia.

Kembali lagi, apa hubungannya dengan semua itu baik? Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah peristiwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita tidak pernah lepas dari rencanaNya yang sempurna. Mari kita sama – sama belajar hal berikut ini :

Malam yang gelap ada agar kita bisa mensyukuri datangnya pagi,

Air mata diciptakan sehingga kita bisa tertawa,

Kesalahan dibuat sehingga kita bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk,

Kemarahan ada sehingga kita bisa belajar memaafkan,

Kemalangan hadir agar kita bisa belajar bersyukur.





Arah Pandang Kehidupan

14 09 2008

Kadang kita sering kali lupa bersyukur atas kehidupan kita. Kita sering lupa, bahwa setiap kita diciptakan unik, dan memilki jalan hidup masing yang berbeda yang Tuhan persiapkan untuk setiap kita sering kali membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain. Hal itu sebenarnya tidak salah, kita perlu memiliki referensi dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat bercermin diri. Akan tetapi sering kali kita “salah referensi”, kita salah dalam membandingkan. Bukan contoh pembandingnya yang salah, tetapi cara kita membandingkan yang sering kali tidak benar.

Manusia itu sering kali membandingkan diri  dengan orang lain. Kita sering melihat orang lain “di atas” kita sebagai contoh, teladan, ataupun rival diri untuk mendapatkan motivasi. Hanya saja, sering kali manusia kecewa, terutama bila ia tidak mampu melebihi atau paling tidak menjadi setara dengan pembandingnya. Sering kali timbul pertanyaan dan pernyataan ;mengapa Tuhan tidak beri aku kemampuan, kekayaan, ketampanan, kesuksesan(dsb) seperti dia? Mengapa ia tidak diciptakan menjadi manusia yang lebih baik? Mengapa Ia ditakdirkan hidup seperti ini? Sering kali terasa hidup itu tidak adil. Ia akan merasa rendah diri dan seolah hidupnya penuh dengan tekanan dan penderitaan. Ia akan menyesali hidupnya.

Kita tidak boleh selalu melihat ke atas, kita harus bisa melihat ke bawah, maka kita akan belajar bersyukur. Mari lihat orang – orang yang tidak mempunyai kemampuan seperti kita. Lihatlah mereka yang kurang dari pada kita, yang mungkin kurang sukses, kurang dalam materi, dalam hal fisik, terutama mereka yang cacat. Kita melihat mereka bukan untuk menyombongkan diri kita, atau meremehkan kita, tetapi kita akan dapat belajar bersyukur. Bahwa kita dikaruniai sesuatu yang lebih. Jika bisa, lakukan sesuatu untuk mereka.

Demikian juga kita tidak boleh hanya melihat ke depan  dalam menjalani hidup ini. Kita tidak boleh hanya fokus pada diri kita sendiri. Jika hanya melihat ke depan, kita akan menjadi manusia yang solid, egois, dan hanya mementingkan kita dan tujuan serta kepentingan hidup kita. Kita juga harus dapat melihat ke kanan dan ke kiri, yaitu sahabat, teman, dan sesama kita. Manusia adalaha makhluk yang membutuhkan orang lain. Jika hanya melihat lurus ke depan, kita hanya akan berjalan dalam kesendirian dalam mencapai masa depan. Kita juga harus menoleh kebelakang. Jangan pernah lupa akan masa lalu kita, bak kacang lupa terhadap kulit. Karena masa lalu adalah alasan kenapa dan bagaimana kita ada sekarang ini. Kita harus menjadikan masa lalu kita sebagai motivasi, pembelajaran, dan pegangan. Akan tetapi jangan terus menoleh kepada masa lalu, maka kita tidak akan pernah dapat berjalan lurus ke depan.

Inilah yang disebut cara pandang hidup secara 3 dimensi. Kita harus dapat melihat ke segala arah, maka kita akan dapat bersyukur dalam menjalani hidup. Dengan belajar bersyukur kita akan merasa hidup kita lebih indah, berharga, dan berarti Kita tidak akan menyesali hidup kita, tetapi kita tidak akan pula menjadi manusia yang sombong dan lupa kepada Tuhan seta sesamanya.