Office Politics

16 11 2008

Rasanya anda sudah jengah melihat pola si “anak emas” di kantor yang selalu mendapatkan fasilitas terbaik, tanpa berusaha keras. Belum lagi merasa diperlakukan dengan tak adil, karena pembagian beban tugas yang tidak merata. Bila sudah begini, apa yang harus anda lakukan ?

Menurut seorang konsultan personalia, jangan langsung memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan, karena faktanya, “anak emas” hampir selalu ada di setiap kantor.

Sebaiknya, ikutilah petuah lama : Keep your friends close, but keep your enemy closer. Ya, cobalah dekati dan berteman dengan si anak kesayangan. Walau awalnya tidak nyaman, ingatlah satu hal. Karena ia “anak emas”, tentunya ia memiliki akses yang lebih besar ke atasan anda, dibandingkan dengan rekan-rekan anda yang lainnya. Maka, saat anda terbentur masalah, bukan tidak mungkin dia yang akan menyelamatkan wajah anda di hadapan bos. Win-win solution, bukan ?

Advertisements




6 Cara Atasi Malas Ngantor

8 11 2008

Membayangkan seharian bekerja kok, malas betul, ya. Sialnya, mau tak mau Anda harus ngantor. Gimana dong, menyiasatinya?

Berhubungan dengan hal sama terus-menerus memang gampang bikin bosan. Ada saatnya kita ingin bisa terbebas dari kantor meski satu hari saja. Menurut para psikolog dan ahli manajemen, hal ini wajar terjadi. Namun, Anda tidak disarankan membiarkan rasa ini hinggap terlalu lama. Atasi segera dengan cara berikut.

1. BUAT RENCANA

Rasa malas biasanya datang saat terbangun di pagi hari. Membayangkan rutinitas memang bikin malas. Ok, pikirkan sesuatu. Bagaimana kalau nanti siang iseng makan siang dengan Si Ganteng dari kantor sebelah? Atau, menelepon klien yang ketampanannya bak Adonis, dengan alasan…(silakan Anda pikir-pikir alasan cantik). Ah, atau sekadar bikin rencana rencana makan siang sedikit lama di tempat yang sedikit lebih jauh. Mal, barangkali?

2. WARNA CERAH

Anda pasti tahu, warna bisa memberi sugesti. Nah, agar hari Anda terasa lebih bersemangat, coba gunakan baju kerja warna cerah atau warna favorit. Jika ternyata Anda harus mengenakan seragam, alihkan warna tadi pada aksesori seperti tas, sepatu, atau pernak-pernik lain.

3. UDARA PAGI

Nah, yang ini bisa Anda lakukan saat keluar dari umah. Rileks! Nikmati udara pagi dengan menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Lalu, tataplah langit pagi yang masih bersih dari polusi. Konon, ini dapat membantu membuang jenuh dan menikmati perjalanan.

4. RUTE BARU

Jalan yang biasa Anda lewati bikin malas ke kantor? Coba rute lain. Sedikit lebih jauh, tak apa. Yang penting, Anda mendapat pemandangan baru yang menyegarkan. Atau, Anda bisa juga menelepon seorang teman (di kantor lain yang searah) dan buat janji berangkat bersama. Lalu, buat janji untuk makan siang di tempat lain dan mampir ke mal sepulang kerja. Mengganti kebiasaan membuat hidup lebih variatif.

5. SECANGKIR KOPI

Masih belum hilang juga rasa malas itu? Belokkan saja arah menuju kantor seorang teman dan mampir sebentar. Belum puas? Arahkan langkah menuju mal atau toko buku terdekat (tapi bukan dekat kantor, lho). Menyempatkan diri untuk minum secangkir kopi atau sedikit kudapan sepertinya ide bagus.

6. DATANG TERLAMBAT

Ada sejuta alasan yang biasa Anda pakai untuk datang lebih siang (banget). Alasan ‘ada keperluan keluarga mendadak’ atau diare juga masih boleh dipakai kok. Asal jangan pakai alasan sama berkali-kali ya. Nanti Si Bos hapal.
Nah… kalo yang nomer 6 ini kayanya kurang bagus yah… bisa terancam kena SP neh kalo ketahuan ama Boss. Sesekali… It’s Okelah. Jangan dijadiin ketagihan, suatu saat pasti ketahuan juga alias boss bisa curiga juga.





Jangan Mengumbar Air Mata di Kantor

28 10 2008

Seperti halnya tertawa, menangis adalah ekspresi emosi. Tapi, jangan suka mengumbar air mata di kantor, karena bisa merugikan karir.

Sebagai manusia, menangis adalah hal yang wajar. Tapi, bila baru ditegur atau dikritik atasan saja Anda sudah berlinang air mata, ini namanya Anda sudah berlaku kurang logis dan tidak profesional karena terlalu emosional.

Memang tidak ada aturan yang melarang Anda untuk menangis karena hal ini sama saja dengan melarang Anda memiliki emosi. “Menangis adalah salah satu ekspresi emosi, seperti gembira dan tertawa. Hanya bedanya ada stigma negatif yang dihubungkan dengan tangisan,” kata Laurent Duperval, konsultan dan communication coach.

Namun menunjukkan emosi lewat tangisan tak selalu buruk. Yang perlu Anda pahami, seperti halnya ekspresi emosi yang lain, semua ada aturannya. Tentu Anda tak akan tertawa di rapat saat si bos memaparkan turunnya pendapatan, bukan?. Demikian juga bila si bos melontarkan humor (yang dirasanya lucu), masakan Anda akan diam saja saat peserta lain tertawa?

Dengan kata lain, menunjukkan emosi, termasuk menangis, sah-sah saja tergantung situasi dan kondisinya. “Bila Anda terlalu sering menangis atau tangisan itu dibarengi dengan tantrum atau kekerasan, sudah pasti dampaknya akan buruk pada reputasi Anda,” kata Duperval.

Mungkin, satu-satunya situasi yang bisa dimaklumi untuk cucuran air mata adalah saat Anda mendengar kabar buruk atau berita kematian orang yang Anda kenal. “Menangis dalam hal ini bukan tanda kelemahan, tapi tanda kalau kita manusia, bukan robot,” kata Marcia Reynolds, psikolog organisasi.

Meski demikian, yang perlu Anda ingat, dalam situasi apa pun, atasan dan rekan kerja mengharapkan Anda memiliki sikap profesional. Apalagi dalam kaitannya dengan gender, bila Anda menangis, rekan-rekan kerja akan menghubungkannya dengan stigma lemah kaum perempuan. Selain itu, melihat Anda menangis, mungkin rekan sekerja yang pria akan menjaga jarak karena malas melihat Anda menangis lagis.

Jadi, kendalikanlah emosi Anda. Jauhi sikap melibatkan emosi dalam urusan pekerjaan. Bagaimana bila air mata terlanjur mengalir? Jika itu terjadi, segeralah minta maaf dan segera perbaiki situasi yang terlanjur tidak enak.





Rekan Kerja Jadi Seteru

7 10 2008

Ketika seseorang melancarkan aksi negatif terhadap Anda, biasanya tanda-tandanya tampak secara eksplisit. ”Artinya, sikap itu juga dilihat orang lain. Jadi, ada baiknya mengonfirmasikan dulu dengan pendapat rekan kerja lain,” ujar Dyah Indri Kumalasari, S.Psi, konsultan dari Experd, lembaga konsultasi pengembangan SDM.

Tanda yang biasanya terlihat adalah rekan kerja tersebut selalu bersikap ketus dan tak ramah kala berkomunikasi dengan Anda. Besar kemungkinan, ia juga tak pernah menyapa dan hanya berbicara seperlunya. Selain itu, ia juga selalu menempatkan diri di pihak oposisi dengan selalu menentang pendapat Anda. Atau, dengan gigih ia selalu berusaha menyalahkan opini maupun hasil kerja Anda.

Introspeksi dulu
Sebelum naik darah lantaran mendengar gosip miring yang disebarkan rekan kerja tentang Anda, ada baiknya Anda berhenti sejenak untuk introspeksi. Apakah ada kesalahan Anda di masa lalu yang menyebabkan rekan kerja bersikap demikian? Cobalah mengajaknya bicara berdua di tempat yang privat, untuk menggali penyebab sikapnya tersebut.

”Ketika berbicara, jangan sampai emosi terpancing. Cobalah untuk tetap berkepala dingin,” ujar Indri. Biarkan ia menumpahkan kekesalannya. Ketika emosinya reda, barulah bicara. Bila memang Anda pernah berkata atau melakukan sesuatu yang tak berkenan di hatinya, jangan ragu meminta maaf saat itu juga.

Apa pun yang jadi penyebab, cobalah bicarakan jalan keluar terbaik dengannya. ”Jangan lupa sampaikan bahwa situasi yang tak nyaman itu membuat lingkungan kerja menjadi kurang kondusif. Hal itu tentunya akan berpengaruh buruk terhadap kinerja Anda berdua,” kata Indri.

Jangan Membalas!
Jika solusi terhadap masalah ini masih belum tampak, tahanlah keinginan untuk membalas perlakuannya. Membalas tindakannya bisa jadi bumerang. Siapa tahu selama ini ia memang sengaja memancing Anda untuk berbuat salah. Daripada membalas, tekan gengsi Anda, ajak ia kembali berbicara empat mata.

Sampaikan dengan tegas bahwa Anda amat menghargai bila ia bersedia menyampaikan langsung segala permasalahannya tanpa melibatkan orang lain. Ingatkan bahwa ia pasti punya perasaan sama bila ada di posisi Anda. Meski hati panas, berusahalah menjalin pertemanan dengannya. Bila ia terus menolak diajak berbicara dan sikapnya terus memperlihatkan permusuhan, mungkin lebih baik tak memedulikannya.

Bersikaplah sebiasa mungkin di depan dia. Anggap saja Anda tak pernah punya masalah dengannya. Jika dia merasa bermasalah dengan Anda, itu hak dia. Namun, jika sikapnya telah mengganggu keharmonisan lingkungan kerja – terlebih jika Anda terlibat dalam satu proyek dengannya, mungkin Anda perlu melibatkan atasan sebagai pihak ketiga.

Libatkan Atasan sebagai Penengah
Sebagai pihak ketiga, atasan berfungsi sebagai penengah yang dapat memberikan solusi obyektif sesegera mungkin. Pasalnya, energi negatif di antara Anda berdua berpotensi menimbulkan konflik dan mengganggu kinerja tim. Jangan sampai pertikaian di antara Anda berdua melebar dan merugikan lebih banyak orang.

”Ketika menghadap atasan, akan lebih baik jika Anda dan dia maju bersama-sama, supaya Anda tidak terkesan mencari pembelaan,” ujar Indri. Dengan tindakan ini, Anda juga bisa memberi kesempatan kepada atasan untuk melihat permasalahan dari dua sisi.

Ketika masalah ini sudah tiba di telinga atasan, maka Anda mesti bersiap-siap atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi setelahnya. Bisa jadi, salah satu di antara Anda akan dimutasi ke divisi lain. Atau, Anda berdua mungkin bisa tetap berada dalam divisi yang sama, namun dituntut untuk bersikap profesional dan mengesampingkan persoalan pribadi. Apa pun solusinya, terimalah dengan kepala dingin dan berusahalah menjalankan dengan sebaik-baiknya.

Sumber : Kompas





Lima Tips Atasi Si Iri Hati

5 10 2008

Banyak perasaan-perasaan negatif yang dapat mengganggu kita di kantor. Tapi yang paling umum terjadi dan kerap harus dihadapi adalah perasaan iri hati. Kebanyakan para profesional mempunyai perasaan iri dan juga merasakan orang lain iri terhadapnya. Di bawah ini ada beberapa tips untuk menghadapi rasa iri teman sekantor terhadap Anda:

1. Pusatkan perhatian sebagai anggota tim
Seringkali kita bekerja keras untuk mendapatkan promosi, tugas khusus, atau pujian dari atasan yang membuat kita sampai lupa pada sekeliling. Namun, jangan lupa untuk lebih memperhatikan teman sekerja. Misalnya, pada waktu rapat tim kerja, gunakan kata-kata, “kami” bukan “saya”, buat daftar nama-nama teman sekerja untuk melakukan proyek besar.

2. Beritahu atasan
Tidak ada peraturan yang menyebutkan bahwa Anda harus mengerjakan semua tugas sendirian. Bila Anda merasa tidak nyaman karena sikap iri hati dari teman sekantor, bicarakan dengan atasan. Tak perlu dengan sikap mengadu apalagi memperbesar masalah, cukup ceritakan apa adanya.

3. Hindari gosip
Teman sekerja yang iri biasanya hanya mencetuskan dan menggosipkan pegawai yang membuat mereka terancam. Apa pun yang Anda lakukan, jangan tergoda untuk terbawa arus negatif. Bila mendengar gosip miring mengenai Anda atau rekan lainnya, hindari saja. Bila tidak, teman-teman sekantor akan memerhatikan dan menyadari bahwa bila ada gosip, pasti datangnya dari orang yang sama. Yang lebih parah bila orang tersebut adalah Anda.

4. Catat situasi membahayakan
Beberapa teman yang jahat mencoba melakukan sabotase terhadap salah satu teman yang sukses. Bila Anda yang dicemburui, perhatikan diri Anda. Catat hal-hal yang membahayakan yang diucapkan mengenai diri Anda dan pastikan Anda punya bukti untuk menjelaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Mudah-mudahan atasan Anda cukup bijak dan pandai untuk menyadari gosip tersebut tidak benar pada waktu dia mendengarnya. Bila tidak, Anda akan berada dalam bahaya.

5. Pertahankan sikap profesional
Bila perasaan iri menyakiti hati Anda, yang paling baik dilakukan adalah menghadapinya secara profesional dan tetap melakukan pekerjaan Anda sebaik-baiknya. Hal ini berarti mencoba untuk tidak memberi komentar yang kasar dan tidak melakukan pembalasan. Bila teman sekantor iri dengan sukses yang Anda raih, tunjukkan kepada mereka mengapa Anda bisa sukses. Berikan contoh bahwa profesionalisme di kantor adalah cara nyata untuk mencapai sukses.

Sumber : Kompas





Senjata Wajib Bagi Pencari Kerja

3 10 2008

TERNYATA usaha Anda mendapatkan pekerjaan yang diinginkan berakhir sia-sia. Anda pun kecewa dan putus asa. Apa yang harus Anda lakukan kemudian?

Menurut Careerbuilder, seseorang yang gagal menggapai impian, termasuk dalam mendapatkan pekerjaan, tentu saja tidak boleh berputus asa. Selain harus ulet dalam mencari peluang kerja lain, seorang pelamar perlu mempunyai strategi khusus agar bisa menembus pekerjaan yang diinginkan. Apa saja?

Perlengkapan

Layaknya berperang, Anda pun harus membekali diri dengan perlengkapan yang lengkap saat melamar pekerjaan. Perlengkapan yang dimaksud tak lain ijazah pengalaman kerja, ijazah sekolah, ijazah kursus, dan sebagainya.

Jaringan kerja

Tidak ada salahnya Anda membangun jaringan mulai dari sekarang. Semakin luas jaringan yang Anda miliki, semakin luas pula kesempatan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Jangan pernah menyerah

Seorang pelamar kerja sudah semestinya membekali dirinya dengan sikap pantang menyerah untuk mendapatkan pekerjaan terbaik. Karena pada kenyataannya tidak semua pelamar kerja selalu beruntung bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Bisa saja mereka harus melewati proses ditolak secara berulang-ulang dari perusahaan tempatnya melamar.

Lakukan penelitian

Sebelum mengikuti tes wawancara, tidak ada salahnya para pencari kerja melakukan penelitian terhadap perusahaan di mana dia melamar.

Selain untuk mengetahui posisi di mana mereka akan ditempatkan kelak, dia pun memiliki nilai tambah lainnya saat berhasil menjawab pertanyaan mengenai sejarah perusahaan tempatnya melamar.

Sumber : Okezone





Bersaing Sehat Di Lingkungan Kerja

3 10 2008

Walaupun tidak dapat dihindari, persaingan kerap menjadi salah satu hal yang paling sering ditemui dalam kehidupan.

Salah satu contoh nyata adalah dalam hal pekerjaan. Tidak sedikit para pekerja yang meginginkan gelar sebagai karyawan teladan dan menginginkan meningkatnya jabatan dalam pekerjaan mereka.

Oleh karena itu, persaingan kerap ditemui dalam setiap bidang pekerjaan. Tetapi yang menjadi masalah, apakah persaingan itu dilakukan secara sehat atau dilakukan dengan cara menusuk dari belakang.

Sebelum hal ini terjadi, tentunya harus diwaspadai terlebih dahulu. Ada baiknya antara Anda dan saingan duduk bersama dan sepakat untuk melakukan persaingan secara sehat.

Seperti yang dikutip dari careerbuilder, ada beberapa cara yang sering digunakan untuk melakukan persaingan secara sehat, seperti:

Menunjukkan kemampuan yang Anda miliki

Tidak perlu menjadi iri hati dan sombong, tetapi cobalah untuk bersikap sportif dengan menunjukkan kemapuanmu menjalankan tugas yang diberikan. Yakinkan orang?orang yang ada di sekeliling, bahwa Anda mampu mengerjakannya sesempurna mungkin.

Menunjukkan ide-ide cemerlang

Gali kembali ide-ide cemerlang yang Anda miliki dan tunjukkan itu kepada atasan, sehingga dia bisa menilai hasil kerja Anda. Jangan sampai sainga mencuri ide-ide ini, karena Anda akan menjadi kalah di mata atasan. Bila dia juga ikut mengemukakan ide yang dimiliki, jangan takut terlebih dahulu, karena belum tentu ide-ide yang dimiliki sainganm Anda akan diterima secara terbuka atasan.

Berpikir dan memiliki sikap posisitif

Walau mungkin mudah untuk diucapkan, tetapi untuk mendapatkan sebuah persaingan yang sehat dengan berpikir dan bersikap positif amatlah sulit. Selain harus menjaga pola pikir agar tetap bersih, kalian harus memiliki sikap positif dengan tidak menjatuhkan lawan dengan tidak hormat. Tetapi biarkan dia jatuh sendiri atas perbuatannya yang curang dan tidak jujur.

Sumber : Okezone