Tips Mengelola Kejenuhan Di Tempat Kerja

10 03 2010

Sampai titik tertentu, orang akan merasa jenuh, penat, bosan dan tidak bersemangat didalam bekerja. Apa yang harus anda siasati apabila mengalami situasi seperti itu? Mau keluar, masih perlu gajinya. Mau bolos, takut kena sangsi. Mau kerja asal-asalan, pasti dimarahi atasan. Dibawah ini ada beberapa tips yang bisa menolong anda untuk mengurangi kejenuhan ditempat kerja.

–         Mulai lakukan tugas yang paling anda kuasai dan anda senangi

Dengan melakukan ini, anda akan lebih mudah menyelesaikan tugas dengan cepat. Dan tanpa disadari, anda sedang menuju ke arah penyelesaian tugas-tugas besar lainnya.

–         Bagi tugas-tugas besar anda menjadi tugas-tugas keciul yang terlihat lebih ringan

Lakukan ini setiap pagi hari, diawal hari kerja anda. Mengerjakan tugas-tugas kecil secara bertahap, akan terlihat lebih ringan ketimbang memikirkan beban tugas besar yang harus dikerjakan sekaligus

–         Take a break

Setiap 1 jam setelah mengerjakan tugas tertentu, ambillah jeda selama 5 menit. Anda bisa lakukan sedikit gerak-gerak badan, berjalan menuju ke lokasi tertentu atau beres-beres arsip. Intinya lakukan sesuatu yang beda. Hal ini akan menolong keluar sejenak dari kesumpekan anda

–         24 jam mengucap syukur kepada Tuhan

Sebenarnya ini obat paling mujarab dan penting di dalam mengelola kejenuhan ditempat kerja. Selalu ingat kebaikan Tuhan, kalau anda masih diberi kesempatan untuk kerja, masih diberi kesehatan dan kepintaran untuk mencari uang. Selalu ingatkan diri anda untuk bersyukur bila melihat begitu banyak orang-orang yang mengganggur, kelaparan dan susah hidupnya.

–         Selalu ingat pada cita-cita/tujuan hidup anda

Saat kejenuhan melanda, selalu ingat bahwa saat ini anda sedang berjuang menuju ke arah cita-cita anda. Selalu katakan pada diri sendiri, tidak ada cita-cita yang bisa diraih dengan murah dan mudah. Ini adalah harga yang harus dibayar. Tidak ada yang gratis di dunia ini. ”Jadi saya harus bangkit dari kejenuhan..”

–         Jangan manja terhadap diri sendiri

Lebih baik bersikap keras terhadap diri sendiri. SAY NO pada perasaan malas anda. Lawan segala sifat-sifat yang bisa merusak diri sendiri seperti selalu membuat alasan, terlalu toleransi pada diri sendiri, selalu menunda-nunda. Paksa diri untuk cepat-cepat bangkit kalau malasnya kumat. Lakukan yang terbaik buat masa depan anda, maka Tuhan akan melakukan sisanya untuk sukses anda.

Advertisements




Tips membuat karyawan lebih betah bekerja

3 03 2010

By Freddy Liong, MBA, CBA

–         Karyawan memiliki hubungan kerja yang harmonis dengan atasan langsung

Salah satu kebutuhan manusia yang paling utama adalah diterima didalam komunitas, tidak saja diterima tetapi memiliki hubungan yang baik. Hubungan kerja yang harmonis artinya antara atasan dan bawahan memiliki komunikasi dua arah yang lancar, atasan bawahan bisa kompak didalam menjalankan berbagai tugas, atasan bawahan saling percaya dan dapat dipercaya.

–         Karyawan memiliki pemahaman yang jelas tentang tugas

Karyawan yang paham dengan jelas tentang tugas-tugasnya akan bekerja lebih tenang dan tidak bingung. Tetapi sebaliknya karyawan yang sering mendapat tugas-tugas yang mendadak, yang tidak ia kuasai, yang tidak ada bimbingan dari atasan akan membuat karyawan menjadi bingung, stress dan patah semangat.

–         Karyawan mendapat kesempatan didengar ide/saran-sarannya

Saat ide seseorang didengar oleh si atasan, karyawan akan merasa termotivasi untuk mencari ide yang lebih baik, dengan tujuan untuk menyenangkan hati si atasan. Apalagi bila ide tersebut diakui dan dipakai oleh perusahaan, maka si bawahan akan merasa lebih berguna ditempat kerjanya.

–         Karyawan mendapatkan kesempatan untuk belajar hal-hal baru

Saat karyawan mendapat kesempatan pengembangan diri/pelatihan, maka ia akan merasa karirnya bertambah maju. Pada umumnya karyawan akan menghargai atasan yang bisa membimbing mereka bekerja lebih baik (bukan hanya menyuruh saja). Apa yang ditabur oleh si atasan akan dibalas secara positif oleh bawahan dengan cara bekerja lebih baik dan giat.





Tips mengatasi stress di tempat kerja

18 02 2010

By Freddy Liong, MBA, CBA

–         Rencanakan dengan baik aktivitas anda : apa, mengapa, bagaimana, kapan dan siapa yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugas.

–         Pastinya anda di masa lalu pernah mengalami masalah-masalah ditempat kerja. Coba ingat-ingat kembali adakah cara-cara yang dapat anda gunakan untuk mengatasi masalah yang anda hadapi saat ini. Intinya jangan mengulangi kesalahan yang sama berulang. Belajarlah dari kesalahan yang lalu

–         Ikutlah membangun iklim kerja yang menyenangkan yaitu dengan bersikap terbuka dan berkomunikasi dengan sesama rekan kerja

–         Pastikan anda mengerti terhadap tugas dan tanggung jawab anda serta jangan ragu untuk bertanya

–         Setelah 2 jam kerja dan konsentrasi, luangkan waktu sekitar 10 menit untuk istirahat. Anda bisa gunakan waktu ini untuk ”streching”, jalan kaki, atau buat teh/kopi. Intinya keluar dari tugas anda sejenak untuk atur ulang konsentrasi anda

–         Miliki sikap toleransi kepada sesama rekan kerja. Ingatlah bahwa masing-masing orang adalah pribadi yang unik

–         Delegasikan sebagian tanggung jawab anda kepada anak buah anda

–         Pertahankan semangat tim anda, misalnya dengan melakukan perayaan kecil, berolahraga/berekreasi bersama





Sikap Kerja Yang Tidak Disukai Atasan

18 02 2010

Oleh Freddy Liong, MBA, CBA

–         Kalau melakukan kesalahan, tidak cepat-cepat lapor ke atasan

Alasannya biasanya cukup klasik, yaitu takut dimarahi oleh boss. Cepat lambat pasti ketahuan juga dan akan dimarahi oleh atasan, maka sebaiknya, bertindak secara jujur dan gentle, dan jelaskan kesalahan anda apa adanya. Semakin jujur dan cepat mengakui, semakin baik.

–         Menolak tugas-tugas tambahan dari atasan

Kadangkala atasan akan menguji sejauh mana anda memiliki tingkat ketaatan yang tinggi. Sejauh mana kesiapan anda bersedia menolong beban kerja atasan. Sejauh mana juga, anda siap berkorban demi kesuksesan bagian yang dipimpin oleh atasan

–         Terlalu diam/terlalu cerewet

Pada umumnya atasan tidak suka terhadap karyawan yang terlalu diam, pasif, kurang inisiatif, takut salah mengutarakan pendapat, baru bicara kalau ditanya, dan kurang proaktif. Namun ekstrim selanjutnya kebanyakan atasan juga tidak suka dengan jenis karyawan yang banyak bicara tetapi tidak berprestasi, terlalu banyak kritik tetapi tidak punya way out, terlalu banyak mengeluh, tukang gosip, terlalu banyak becanda dan kurang mendengarkan orang lain

–         Yang ingin menonjolkan diri sendiri

Jenis karyawan seperti ini biasanya selalu memanfaatkan berbagai situasi untuk terlihat ”lebih” dihadapan atasan. Biasanya karyawan tipe ini selain akan dijauhi oleh para rekan kerjanya juga akan membuat si boss tarik nafas melihat ulah ”lebaynya”

–         Tipe orang yang bila diberi tugas ”nggak ngerti-ngerti aja”

Orang seperti ini akan bolak balik tanya pada si atasan tentang tugas yang harus dijalankan. Selain menyita waktu atasan, perilaku ini akan sangat menjengkelkan karena si karyawan terlihat tidak siap untuk tugas-tugasnya





Tips Menghadapi Atasan Yang Otoriter

12 02 2010

By Freddy Liong, MBA, CBA

Atasan tipe ini sangat mendewakan jabatan dan kedudukannya, umumnya suka perintah, mau terima beres, tidak mau tahu kesulitan anak buah, susah menerima saran orang lain, takut disaingi, mau menang sendiri, sering pamer kekuasaan, dll

Bila anda kebetulan memiliki atasan seperti ini, jangan khawatir, seotoriter apapun seseorang, selalu ada cara untuk menghadapinya.

Beberapa tips praktis cara menghadapinya :

1. Selalu berpikiran positif – Jadikan atasan anda sebagai pemicu untuk berprestasi

Gunakan sifat otoriter si atasan sebagai alat pemecut diri anda, agar bekerja lebih baik, lebih berprestasi, lebih serius, lebih mandiri, dll

2. Selalu minta persetujuan

Jangan sekali-kali melakukan perubahan sistem & prosedur tanpa minta ijin darinya. Setiap kali anda ingin melakukan suatu perubahan jangan lupa minta persetujuan dan pendapat bos. Sebab bos yang otoriter biasanya lebih suka jika dimintai pendapatnya.

3. Hindari konfrontasi

Bila ingin memberi usulan yang membangun, jangan ragu untuk menyampaikannya pada si bos dengan catatan asal dikemukakan tanpa menimbulkan konfrontasi. Bos yang otoriter biasanya tidak suka bertele-tele. Sampaikan laporan secara singkat padat tapi jelas

4. Jangan pernah bilang tidak bisa

Bila anda mendapatkan tugas yang kelihatannya mustahil, jangan langsung memveto instruksinya. Endapkan dulu perintah atasan. Balik ke meja kerja anda. Pikirkan dengan lebih jernih dan analisa berbagai kemungkinan untuk melaksanakan tugasnya. Banyak diskusi dengan orang-orang kompeten. Bila memang mustahil, atur waktu untuk bertemu dengan atas dan kemukakan kesulitan anda dengan berbagai analisa dan alasan yang kuat. Biasanya atasan seperti ini, bila dijelaskan dengan data & fakta kuat, ia akan mempertimbangkan seluruh informasi anda.

5. Biar bagaimanapun, tetap hargai dan hormati atasan anda

Orang yang sulit seperti ini, biasanya selalu ingin dihargai. Mereka haus akan sanjungan dan kehormatan sehingga pujilah ia sesekali, bila waktunya memang berkenan. Hargai dia, saat idenya memang brilian. Apresiasi dia juga bila dia melakukan tindakan yang tepat/melakukan tugasnya dengan sukses.





Karir Mentok..Saatnya Rebranding

13 12 2008

Ingin sukses dalam pekerjaan? Bosan selalu jadi the invisible di kantor? Sudah saatnya Anda memaksimalkan daya jual dengan cara melakukan re-branding.

Seperti halnya sebuah produk yang penting, diri kita pun harusnya memilliki brand (citra) yang baik. Kalau selama ini brand yang melekat terlanjur biasa-biasa saja, maka Anda perlu merombak dan memperbaikinya.

Menurut Handito Hadi Joewono, dari Branding Indonesia, peran brand sangat penting bagi setiap orang, khususnya para karyawan. Antara lain membuat kita mudah dikenal dan bisa membangun citra perusahaan.

“Makin baik brand kita, makin luas networkingnya, kita bisa menjadi ambassador perusahaan, Pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pelanggan pada perusahaan,” papar Hadi.

Dengan kata lain, jika memiliki brand yang baik kita tak hanya makin dikenal tapi juga ikut berkontribusi pada perusahaan dalam hal pencapaian visi dan misi perusahaan. Hal ini tentu saja akan meningkatkan daya jual kita sehingga perusahaan akan melihat kita sebagai aset yang berharga. Ujung-ujungnya tentu saja kompensasi yang sesuai, baik berupa kenaikan jabatan atau gaji.

Untuk melakukan re-branding, menurut Hadi ada beberapa langkah yang perlu kita lakukan, yakni:

1. Perumusan

Pada langkah pertama ini kita perlu menentukan positioning yang ingin kita pilih. Maksudnya kita tentukan persepsi yang ingin orang lihat pada diri kita. Misalnya saja si pekerja keras, si suka membantu, dan sebagainya.

2. Brand Identity

Menentukan identitas berarti kita perlu memilih simbol-simbol yang konsisten sehingga identitas ini akan melekat pada diri kita. Simbol yang dimaksud di sini ada yang berupa fisik atau penampilan yang menjadi ciri khas, misalnya selalu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung.

Ada pula simbol yang non fisik, misalnya karakter atau perilaku, seperti humoris atau smart. Simbol non fisik juga termasuk nama panggilan. “Tentukan nama panggilan kita yang mudah diingat dan dikenal,” saran Hadi.

3. Komunikasikan

Setelah menentukan positioning dan brand identity, terakhir adalah mencari cara jitu untuk mempromosikan brand kita, baik di kantor atau di luar kantor. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana, semisal selalu menyebutkan nama kita saat bertemu klien. Layaknya sebuah produk, ia akan makin dikenal jika terus diiklankan.





Alasan Bergaji Tinggi

12 12 2008

Menurut US News, lupakan kerja keras karena ada hal-hal (di luar kehendak) yang membuat orang digaji lebih besar. Di antaranya:

1. Bertubuh tinggi

Menurut beberapa penelitian, orang bertubuh tinggi menghasilkan uang lebih banyak dari mereka yang bertubuh pendek.

2. Kidal

Aneh memang, tapi kenyataannya di Amerika kebanyakan orang bertangan kidal memiliki gaji lebih tinggi. Mungkin ini ada hubungannya dengan orang kidal lebih kreatif.

3. Berkelamin Lelaki

Masalah gender ini memang terjadi di mana-mana, bahwa lelaki umumnya berpenghasilan lebih besar daripada perempuan.

4. Status: Suami

Lelaki menikah dianggap lebih fokus pada pekerjaan dan tak repot mengurusi rumah tangga. Itu sebabnya, mereka lebih berprestasi dan mendapat gaji tinggi.

5. Perempuan Lajang

Begitu pula dengan perempuan lajang yang bisa bekerja lebih fokus dan lebih dari 40 jam seminggu (karena belum sibuk mengurusi suami dan anak).

6. Jenis Pendidikan

Menurut penelitian American Association of University Women Education Foundation, banyak perempuan lebih memilih bidang pendidikan, psikologi dan kesehatan yang tak memberi gaji sebesar ketimbang bidang teknik atau matematika yang banyak ditekuni lelaki.

7. Koneksi

Anda mungkin kenal baik dengan kepala divisi SDM/Personalia atau kepala divisi keuangan. Ini bisa saja mempengaruhi jumlah penghasilan yang Anda terima.

8. Bakat

Pada beberapa profesi, bakat juga berpengaruh. Seorang arsitek yang punya bakat besar, tentu bisa memberikan mutu kerja yang hebat pula.

9. Kerja Keras

Mengapa banyak orang bekerja lebih keras? Tentu dengan harapan mendapat kenaikan jabatan dan otomatis kenaikan gaji.