Menghadapi Kematian

28 12 2008

Tidak ada seorangpun di antara kita yang ingin menghadapi atau mengalami kepahitan dalam hidup ini. Namun kenyataan memberitahu kita bahwa kepahitan sering singgah dalam hidup kita sekalipun tanpa diundang atau dicari seperti yang dialami oleh umat Israel dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian. Demikian tercatat dalam Kitab Keluaran 15:22-27:

“Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan- peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.”

Kepahitan dalam hidup ini dapat berbentuk sakit penyakit yang parah dan mematikan yang tidak hanya diderita oleh anggota keluarga yang kita kasihi tetapi juga pada diri kita sendiri. Kematian anggota keluarga yang kita anggap belum waktunya ataupun yang belum dipastikan keselamatan jiwa-rohnya. Musibah yang mengakibatkan kerugian materi yang menyebabkan kita kehilangan segala-galanya ataupun cacat fisik yang tak tersembuhkan. Kepahitan dapat juga berupa masa depan yang tidak menentu seperti yang banyak dialami oleh WNI pria yang berusia diatas 16 tahun dan saat ini ´over stay´ di Amerika Serikat. Tinggal tanpa melapor sulit, melapor juga sulit, bagaikan makan buah simalakama — dimakan ayah mati tidak dimakan ibu mati. Khususnya bagi mereka yang telah belasan tahun di Amerika dan mempunyai anak.

Kalau harus kembali ke Indonesia, di Indonesia pun keadaan ekonomi tidak lebih baik daripada Amerika kalau tidak mau dikatakan lebih parah. Pengangguran yang terus meningkat, keamanan yang tidak menentu, politik yang tidak stabil khususnya menjelang Pemilu, dan diskriminasi terhadap kaum minoritas yang masih dipertahankan. Selain itu merajelalanya korupsi telah merasuk ke tulang sumsum bangsa yang tidak terobati dan penanganan hak azasi manusia yang masih amburadul. Semua itu hanya sebagian kecil dari kondisi di Indonesia dimana sangat sulit bagi orang-orang percaya untuk membesarkan anak-anak mereka di dalam iman dan moral kristiani jika tidak mau berkompromi. Menghadapi semuanya itu bagaimanakah seharusnya kita bersikap sebagai orang-orang percaya?

Dunia yang Tidak Ideal.

Kita tahu bahwa kepahitan yang dihadapi oleh umat Israel dengan mata air Mara tersebut bukanlah sesuatu yang direncanakan ataupun yang sengaja ingin ditemukan oleh mereka. Kita juga tahu bahwa mereka dipimpin oleh Musa, seorang pemimpin yang beriman dan dekat dengan Allah. Kita percaya bahwa tentu dalam memimpin umat Israel Musa juga sudah berdoa dan memohon pimpinan Allah agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak menggembirakan. Sudah pasti Musa tidak meminta untuk melewati mata air yang pahit atau merencanakan untuk memimpin bangsanya ke dalam situasi yang pahit sebab ia tahu betul tipe yang bagaimana umat Israel itu, yaitu bangsa yang tegar tengkuknya: kalau senang, tidak tahu berterima kasih; kalau susah sedikit saja langsung memaki-maki.

Semua itu terjadi bukan karena Musa salah memimpin mereka dan bukan pula karena Allah tidak tahu apa yang akan mereka tempuh atau Allah tidak sanggup menghindarkan mereka dari kepahitan tersebut. Semua itu terjadi karena memang dunia ini bukan dunia yang ideal. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa, dunia yang sudah terkutuk dan dikutuk. Sekalipun kita beriman, percaya bahkan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, setia, dan tulus, tidak menjamin bahwa kita terluput dari kepahitan sebab kepahitan itu tidak pandang bulu.

Sehingga tidak heran ada yang bertanya “Why good people suffer?” bahkan pemazmurpun bisa berkata:

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sia-sia sama sekali Aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari, aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:1-2, 13-14)

Dalam Mazmur tersebut si pemazmur mengakui bahwa sekalipun ia tahu bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya, ini adalah pengetahuan yang benar tentang Allah, namun tidak menjamin bahwa ia terhindar dari penderitaan dan kepahitan yang membuatnya kecewa bahkan hampir tergelincir imannya. Ini adalah suatu akibat yang wajar dan normal. Janganlah kita langsung menunjuk jari bahwa pemazmur adalah orang yang lemah imannya. Karena tanpa sadar tiga jari kita menunjuk kepada diri kita sendiri.

Adakah saudara saat ini dalam kepahitan? Ketahuilah bahwa semua itu adalah wajar dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini. Dunia ini memang tidak ideal. Melalui kepahitan ini iman kita kepada Allah yang kita percaya diuji. Reaksi kita terhadap kepahitan tersebut akan merefleksikan iman kita kepada Allah yang kita percayai, yaitu Allah yang telah menyelamatkan kita dari dosa.

Jangan bersungut-sungut

Menghadapi mata air yang pahit di Mara, kita melihat ada dua reaksi yang berbeda sebagai refleksi iman. Pertama adalah bersungut-sungut, “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa”. Siapakah mereka yang bersungut-sungut itu? Mereka adalah umat Israel yang telah mengalami berbagai macam kuat kuasa Allah. Mereka yang dahulunya menjadi budak dan menderita di Mesir dengan kuat kuasa Allah melalui berbagai mujizat telah dilepaskan dari perbudakan. Kuat kuasa Allah yang terakhir adalah kelepasan mereka dari malaikat maut melalui pengorbanan anak domba yang disembelih dan yang darahnya dibubuhkan di kedua ambang pintu serta terbelahnya Laut Merah sehingga mereka selamat dari kejaran Firaun serta bala-tentaranya. Mujizat-mujizat yang mereka alami sungguh luar biasa. Namun demikian mujizat-mujizat yang luar biasa tersebut tidak menjamin untuk mencegah mereka tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan. Banyak orang kristen yang gandrung akan mujizat dan menganggap mujizat itu dapat menguatkan iman mereka. Tetapi kenyataan memberitahu bahwa mujizat bukan jaminan untuk iman yang teguh. Iman kita tidak boleh dilandaskan pada pengalaman akan mujizat karena mujizat adalah landasan yang sangat lemah. Landasan iman kita haruslah Firman Kristus,

“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Mereka bukan saja mempunyai pengalaman luar biasa dengan mujizat, mereka juga mempunyai pengenalan yang benar tentang Allah atau boleh dikatakan teologia yang benar tentang Allah. Seperti yang terungkap ketika mereka memuji Allah setelah dilepaskan dari kejaran Firaun:

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban? … Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus” (Keluaran 15:11,l3).

Namun semua itu tak dapat mencegah mereka untuk tidak bersungut- sungut!

Untuk tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan baiklah kita mengikuti teladan Daud yang berkata,

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:1-2)

Itulah kiat mujarab agar kita tidak bersungut-sungut bahkan sanggup memuji TUHAN dalam segala keadaan. Menghitung semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, terutama keselamatan yang dianugerahkan kepada kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib di Golgota.

Berseru-seru kepada TUHAN.

Berbeda dengan umat Israel yang bersungut-sungut, maka reaksi Musa terhadap kepahitan itu adalah “berseru-seru kepada TUHAN”. Inilah refleksi iman yang harus ada pada kita tatkala menghadapi kepahitan dalam hidup ini. Berseru-seru kepada TUHAN adalah pernyataan iman Musa yang percaya bahwa TUHAN mempunyai cara-Nya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan juga iman yang mau melakukan apa yang diperintahkan TUHAN, iman yang ´trust and obey´. Dengan tanpa bertanya apa jenis kayu tersebut dan ragu bagaimana hal itu bisa terjadi “Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis.”

Apakah Anda saat ini dalam kepahitan hidup? Berdoalah, berseru- serulah kepada TUHAN, dan nantikanlah jawaban-Nya. Pekalah terhadap jawaban TUHAN. Memang ada yang mengatakan bahwa jawaban doa kita biasanya “Ya”, “Tidak”, atau “Tunggu”; namun jangan kita tertutup dengan jawaban lainnya dari TUHAN. Yakinlah jika dengan sungguh- sungguh kita mau ´trust and obey´, maka pada waktunya — karena segala sesuatu ada waktunya — kepahitan itu akan berubah menjadi manis. TUHAN sanggup “membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkotbah 3:11) dan percayalah semua kepahitan itu akan berlalu oleh kuasa TUHAN. Semoga TUHAN menolong kita semua menghadapi kepahitan hidup ini dengan sikap yang benar, merefleksikan iman kita kepada TUHAN agar mereka yang belum percaya mau mengenal-Nya.

Setelah semuanya itu berlalu mereka melanjutkan perjalanan dan “Sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma” suatu tempat yang kontras dengan Mara, suatu tempat yang lebih nyaman daripada Mara yang pahit itu. Namun mereka tidak boleh berkemah seterusnya di sana sebab tujuan akhir mereka bukanlah Elim, tetapi tanah perjanjian. Demikian juga dalam perjalanan iman kita. Kepahitan dan kenyamanan bukanlah tujuan akhir dari hidup kita. Oleh karena itu apapun yang kita hadapi dalam hidup ini janganlah kita berhenti tetapi teruskanlah perjalanan iman kita.

Viktor Frankl, seorang ahli ilmu jiwa asal Austria yang dipenjara oleh Nazi pada Perang Dunia II, setelah dibebaskan, menulis buku berjudul ´Man´s Search For Meaning´ (Pencarian Manusia akan Makna Hidup), yang menjadi buku laris sepanjang masa. Dalam buku ini, Frankl membagikan semua pelajaran penting yang ia petik dari penderitaannya:

“Saya berani berkata bahwa di dunia ini tak ada yang dapat benar- benar menolong seseorang untuk terus bertahan hidup, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, selain pemahaman bahwa sesungguhnya hidup seseorang itu berarti.”

Semoga dalam kepahitan hidup, Tuhan menguatkan kita untuk terus mempertahankan hidup ini. Karena hidup yang telah ditebus Kristus ini sangat berarti untuk memuliakan TUHAN. Amin..

Advertisements




Perenungan Kematian

20 12 2008

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:

1. Keluarga

2. Hartanya

3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;

1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali

2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad…Terdengarlah Suara Dari Langit Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu

· Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu

· Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu

· Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.”

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.

Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan…

o Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Te rkulai Lemah

o Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara

o Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa

o Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara”

Ketika Mayat Siap Dikafan.

Suara Dari Langit Terdengar Memekik,”Wahai Fulan Anak Si Fulan

§ Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha

§ Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah

Wahai Fulan Anak Si Fulan…

§ Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal

§ Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya

§ Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.”

Ketika Mayat Diusung.

Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan..

§ Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan

§ Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat

§ Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”

Ketika Mayat Siap Dishalatkan.

Terdengar Dari Langit Suara Memekik, “Wahai Fulan Anak Si Fulan..

§ Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat

§ Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik

§ Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat.

Terdengar Suara Memekik Dari Langit,”Wahai Fulan Anak Si Fulan…

§ Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini

Wahai Fulan Anak Si Fulan…

§ Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis

§ Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka

§ Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.”

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian.

Allah Berkata Kepadanya, “Wahai Hamba-Ku…. .

§ Kini Kau Tinggal Seorang Diri

§ Tiada Teman Dan Tiada Kerabat

§ Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..

§ Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri

§ Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku

§ Hari Ini….

§ Akan Kutunjukan Kepadamu

§ Kasih Sayang-Ku

§ Yang Akan Takjub Seisi Alam

§ Aku Akan Menyayangimu

§ Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya”.

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, “Wahai Jiwa Yang Tenang

· Kembalilah Kepada Tuhanmu

· Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya

· Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku

· Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku”

Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini. Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau bersabda “wakafa bi almauti wa’idha”, artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu! Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin….

Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja. Luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan pesan  ini. Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu kapan kedatangannya. Sesuatu yang  bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita?

Dari milist





Tanda-tanda Kematian

29 10 2008

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka yang dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini cuma saja mereka sadar atau tidak.

Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu Asar. Seluruh tubuh iaitu dari hujung rambut sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar.

Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik di hati bahwa mungkin ini adalah tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini.

Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa sembarang manfaat.

Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

“Tanda 40 hari sebelum hari mati”

Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bahagian pusat kita akan berdenyut- denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan- akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.

“Tanda 7 hari”

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan, secara tiba-tiba ia berselera untuk makan.

“Tanda 3 hari”

Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dirasakan, maka berpuasalah kita sesudah itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan berangsur-angsur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

“Tanda 1 hari”

Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di kawasan ubun- ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

“Tanda akhir”

Akan terjadi keadaan di mana kita akan merasakan sejuk di bagian pusat dan rasa itu akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah Syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

Sesungguhnya selalu mengingat akan kematian itu adalah bijak





Apa yang terjadi saat ajal tiba ?

9 10 2008

Peristiwa yang terjadi saat kematian masih menjadi hal misterius bagi banyak orang. Banyak mitos berkembang seputar kejadian yang dialami seseorang menjelang ajalnya tiba misalnya bayang-bayang akan masa lalu atau melihat secercah cahaya putih di ujung suatu terowongan gelap.

Hal seputar kematian sejak lama telah menarik perhatian para ilmuwan. Salah seorang peneliti kematian terkemuka dari Universitas Southampton Inggis, Dr. Sam Parnia, belum lama ini mengungkap beberapa temuan awal dari risetnya tentang kematian.

Bersama rekannya dari New York City’s Weill Cornell Medical Center, Parnia memaparkan sejumlah temuan dari eksplorasi biologis mengenai fenomena OBE (out od body experience) atau keluarnya kesadaran dari jasad atau tubuh.

Riset bertajuk AWARE (AWAreness during REsuscitation) ini adalah kolaborasi data penelitan di 25 pusat layanan kesehatan di Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Pada penelitian ini yang akan dilakukan selama tiga tahun ini, Parnia melibatkan 1.500 pasien yang mengalami serangan jantung.

Salah satu poin penting dari temuan Parnia adalah kematian bukanlah sebuah kejadian atau momen yang spesifik. Kematian merupakan sebuah proses yang dimulai dengan terhentinya detak jantung, paru-paru yang lumpuh, kemudian fungsi otak yang sepertinya sedang rehat. Kondisi ini juga dikenal sebagai cardiac arrest atau dari sudut pandang biologis sama dengan kematian klinis.

Belum lama ini, majalah TIME mewawancarai Parnia untuk menjelaskan proyek penelitian tentang pengalaman OBE ini. Berikut petikan wawancaranya :

Metode-metode apa saja yang akan digunakan Anda dalam memverifikasi seseorang mengalami keadaan yang disebut ‘mendekati kematian’ ?

Ketika jantung berhenti berdetak, tidak ada darah yang mengalir ke dalam otak Anda. Lalu yang terjadi adalah dalam waktu sekitar 10 detik aktivitas otak akan berhenti seperti yang Anda bayangkan. Walau masih diperdebatkan, sekitar 10 atau 20 persen dari mereka yang mengalaminya kemudian kembali ke kehidupan. Setelah peristiwa yang terjadi selama beberapa menit hingga satu jam itu mereka dilaporkan sadar kembali.

Di sinilah kuncinya. Apakah ini nyata atau hanya sekedar ilusi? Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengatakannya adalah memperoleh gambaran yang terlihat dari langit-langit atau di mana pun karena mereka mengklaim dapat melihat sesuatu dari langit-langit. Jika kita mendapatkan 200 hingga 300 orang yang semuanya dinyatakan meninggal secara klinis, dan kemudian mereka masih bisa kembali dan mengatakan apa yang dialami dan lihat dari gambaran tersebut, itu menegaskan bahwa keadaan sadar masih berlanjut meskipun otak tidak berfungsi.

Bagaimana proyek ini dikaitkan dengan persepsi masyarakat tentang kematian?

Kebanyakan masyarakat menganggap kematian adalah suatu kejadian atau momen – Anda hidup atau sudah meninggal. Inilah sebuah definisi sosial yang kita miliki. Tetapi definisi klinis dari kematian yang kami gunakan adalah ketika jantung sudah berhenti berdetak, paru-paru berhenti bekerja dan sebagai konsekuensinya otak pun berhenti berfungsi.

Ketika dokter menyorotkan lampu senter ke pupil mata pasien, itu adalah cara membuktikan tak ada lagi refleks. Refleks mata dimediasi oleh batang otak, dan itulah area yang menjaga kita tetap hidup. Bila bagian ini tak berfungsi, itu berarti otak telah berhenti bekerja. Pada poin ini, saya akan memanggil perawat ke dalam ruangan, dengan begitu saya dapat menjamin bahwa pasien sudah meninggal. Lima puluh tahun lalu, tak ada orang yang mampu bertahan setelah momen tersebut.

Bagaimana teknologi dapat mematahkan persepsi bahwa kematian adalah sebuah momen atau kejadian?

Saat ini, kami memiliki teknologi yang telah disempurnakan yang dapat membawa seseorang kembali ke kehidupan. Faktanya, ada obat-obatan yang sedang dikembangkan dan yang siapa tahu obat ini dapat dilempar ke pasar. Obat ini dapat memperlambat proses cedera sel-sel otak dan proses kematian. Bayangkan bila Anda bisa mempercepatnya dalam 10 tahun; dan Anda telah memberikan obat luar biasa ini kepada pasien yang jantungnya berhenti.

Apa sebenarnya dapat dilakukan obat ini adalah memperlambat sesuatu yang terjadi dalam satu jam kini bisa berlangsung selama dua hari. Selama pengobatan ini berkembang, kita akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang etika.

Tetapi apa yang terjadi pada pasien pada saat kematian ? Apa sebenarnya yang tengah terjadi?
Karena minimnya aliran darah, sel-sel seperti menjadi ‘gila’ demi membuat mereka bisa bertahan hidup. Dalam waktu sekitar 5 menit atau lebih, sel-sel mulai rusak atau berubah. Setelah satu jam atau lebih, kerusakan akan sangat hebat dan kalaupun kita me-restart kembali jantung dan memompa darah, seseorang tidak akan selamat, sebab sel-sel telah banyak berubah. Sel-sel kemudian akan terus berubah dan dalam waktu dua hari tubuh akan membusuk. Oleh karena itu, ini bukanlah sebuah momen atau kejdian.

Ini adalah sebuah proses yang sebenarnya dapat dimulai ketika jantung berhenti bekerja dan memuncak ketika semua sel mengalami pembusukan. Walau begitu masalah yang paling penting adalah, apakah yang terjadi pada pikiran seseorang Apa yang terjadi pada pikiran dan kesadaran manusia saat ajal datang? Apakah penghentian mendadak ini terjadi secepat berhentinya jantung? Apakah penghentian aktivitas ini terjadi dalam dua detik pertama atau dua menit pertama? Karena kita tahu bahwa sel-sel akan terus berubah pada saat itu. Apakah itu akan berhenti setelah 10 menit atau satu jam? Pada poin ini kita tidak tahu.

Seperti apa wawancara pertama Anda dengan orang yang dilaporkan mengalami OBE?

Itu membuka mata saya karena apa yang dilihat adalah yang pertama kalinya. Mereka adalah benar-benar orang yang tidak mencari ketenaran atau perhatian. Pada banyak kasus, mereka belum pernah mengatakannya kepada siapapun karena khawatir dengan apa yang dipikirkan kebanyakan orang. Saya sudah mengumpulkan sekitar 500 atau lebih kasus dari orang yang diwawancarai sejak mengawalinya 10 tahun lalu. Ini adalah konsistensi dari pengalaman serta realitas dari apa yang mereka gambarkan.

Saya juga bicara pada dokter dan perawat yang pasien-pasiennya mengutarakan apa yang telah terjadi dan tidak dapat menjelaskannya. Saya sebenarnya telah mendokumentasikan sebagian di antaranya dalam buku What Happens When We Die. Saya ingin masyarakat melihat dari sudut pandang berbeda, tak hanya di sisi pasien tetapi juga dokter – dan melihat bagaimana rasanya para dokter memiliki pasiennya kembali (hidup) dan mengatakan apa sebenaranya yang terjadi. Ada seorang kardiolog mengaku dirinya tidak pernah mengatakan pada siapapun tentang kasusnya karena ia tidak punya penjelasan bagaimana pasien ini dapat menggambarkan secara detil apa yang telah mereka alami. Dia juga mengaku sangat aneh akibat kejadian itu dan memutuskan untuk tidak lagi memikirkannya.

Kenapa Anda berpikir ada perlawanan terhadap penelitian yang Anda lakukan ?

Karena kami telah mendesak hingga melewati batas keilmuan, bekerja melawan asumsi dan persepsi yang telah teratur. Banyak orang memegang teguh prinsip bahwa ketika Anda meninggal Anda mati dan selesai. Kematian adalah sebuah momen antara hidup dan mati.

Semua hal ini tentu tidak valid secara ilimiah, tetapi ini adalah persepsi sosial. Jika Anda melihat ke belakang di akhir abad 19, ahli fisika saat itu telah menerapkan hukum Newton dan mereka merasa telah memiliki semua jawaban dari pertanyaan di luar alam semesta. Ketika kita melihat dunia di sekitar kita, para ahli fisika Newton cukup sempurna. Itu dapat menjelaskan banyak hal yang kami pertanyakan. Tetapi kemudian terungkap bahwa sebenarnya ketika Anda melihat gerak pada tingkat yang sangat kecil – melebihi level atom – hukum Newton tidak berlaku lagi. Ilmu fisika baru dibutuhkan, karena itu kami pada akhirnya bersandar pada fisika kuantum. Ini menimbulkan banyak kontroversi – bahkan Einstein sendiri tidak mempercayainya.

Sekarang, jika Anda membahas tentang pikiran, kesadaran, dan otak, asumsi bahwa otak dan pikiran sama adalah hal yang wajar untuk beberapa hal tertentu karena 99 persen kenyataannya kami tak dapat memisahkan antara pikiran dan otak. Kedua hal ini, faktannya bekerja pada saat bersamaan.

Tetapi kemudian muncul contoh-contoh ekstrim seperti ketika otak lumpuh, kami melihat bahwa asumsi ini tampaknya tidak dapat dipertahankan lagi . Oleh sebab itu, suatu ilmu baru diperlukan sama halnya ketika kita membutuhkan fisika kuantum yang baru. Akselerator partikel CERN mungkin dapat membawa kita ke akar. Ini dapat membawa kita ke momen pertama setelah Big Bang, kejadian paling awal. Dengan riset ini, untuk pertamakalinya kami memiliki teknologi serta tujuan untuk menyelidikinya.

Sumber : Kompas





Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak

17 09 2008

Binatang peliharaan si kecil tiba-tiba saja meninggal akibat sakit. Anda tidak sampai hati membiarkannya melihat binatang tersebut tergeletak kaku lalu bersedih karenanya. Maka anda membawa binatang tersebut, menguburnya di suatu tempat, membeli binatang yang kelihatannya persis sama, lalu pulang kembali dengan wajah ceria karena anda telah melindungi anak anda dari kesedihan yang tidak menyenangkan.

Perilaku di atas mungkin dilakukan oleh anda atau orang lain yang anda kenal dalam bentuk yang sama atau berbeda. Intinya adalah anda merasa bahwa anak anda tidak atau belum perlu memikirkan tentang kematian karena usianya masih sangat muda dan ia toh belum mengerti jika anda menjelaskan padanya apa yang terjadi.

Persepsi ini dimiliki oleh hampir semua orang tua, padahal ini adalah persepsi yang salah. Anak kecil sebenarnya dapat memahami tentang kematian, bahkan mereka memikirkannya atau bertanya-tanya mengenainya. Namun mereka tidak mendapat penjelasan yang benar karena orangtua seringkali menghindar, diam, atau melarang anaknya bertanya tentang hal yang menakutkan ini.

Kematian sesungguhnya adalah hal alamiah yang pasti akan terjadi pada setiap orang. Ketika kita sebagai orangtua berusaha menghindarkan anak dari topik ini, maka kita sebenarnya menghambat anak-anak untuk memahami apa yang tetap ada dan menghantui dalam pikiran mereka. Ketakutan ini seringkali bersumber dari ketakutan orangtua sendiri terhadap kematian, atau ketakutan terhadap apa yang mereka rasakan ketika seseorang yang mereka sayangi meninggal.

Bagaimana menyatakan kepada anak tentang kematian orang tua bergantung pada usia anak dan pandangan keluarga tentang kematian. Dalam memberikan penjelasan mengenai kematian, orangtua harus jujur dan harus mengungkapkan informasi dalam cara yang masuk akal bagi anak. Pertanyaan anak akan mengindikasikan kebutuhan akan tambahan informasi, yang kemudian dapat diberikan orangtua.

Karena setiap situasi unik dan perlu ditangani dengan kepekaan, tidak mungkin menentukan secara persis apa yang harus dikatakan orangtua. Grollman menyatakan bahwa ada beberapa penjelasan yang harus dihindari. Jika mereka sendiri tidak percaya, orangtua seharusnya tidak menggambarkan surga dan mengatakan pada anak bahwa orangtua yang meninggal bahagia untuk selamanya. Anak akan merasakan kesenjangan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dirasakan orangtua dan menjadi lebih bingung. Juga tidak bijaksana untuk mengatakan bahwa orangtua telah pergi jauh, karena anak akan menanti kembalinya orangtua atau merasa marah karena diabaikan.

Juga tidak bijaksana mengatakan bahwa orangtuanya meninggal “karena Tuhan menyayangi orang baik dan menginginkan mereka di surga”. Jika kebaikan diganjar dengan kematian, anak mungkin menghindari perbuatan baik atau berasumsi bahwa mereka yang hidupnya lama itu jahat. Terakhir, ketika kematian disamakan dengan tidur, beberapa anak akan mulai takut tidur dan tidak mau tidur.

Anak kecil belajar dan memahami kematian paling baik lewat penjelasan secara biologis (acuan dari Slaughter). Orangtua perlu mencoba lebih memahami cara berpikir anak yang memandang dunia dengan cara yang konkret. Mereka belum dapat berpikir abstrak, sehingga orangtua harus menyesuaikan penjelasan yang diberikan dengan kemampuan berpikir anak. Beberapa penjelasan yang dapat diberikan, menurut penelitian yang dilakukan Slaughter (2003):

1.Irreversibility/finality, pemahaman bahwa yang sudah mati tidak dapat hidup kembali.

2.Universality/applicability, pemahaman bahwa semua makhluk hidup (dan hanya makhluk hidup) dapat mati.

3.Personal mortality, pemahaman bahwa kematian juga dapat/ akan terjadi pada diri sendiri.

4.Inevitability, pemahaman bahwa semua makhluk hidup suatu saat pasti akan mati.

5.Cessation/non-functionality, pemahaman bahwa setelah mati fungsi tubuh dan mental berhenti. Ketika makhluk hidup meninggal, maka ia tidak lagi dapat bergerak. Ia tidak dapat berpindah tempat ataupun tiba-tiba muncul di tempat lain. Selain itu ia juga tidak dapat lagi berpikir dan merasa, dan tidak lagi membutuhkan makanan atau minuman.

6.Causality, pemahaman bahwa kematian disebabkan oleh fungsi tubuh yang berhenti bekerja. Penyebab kematian bisa bermacam-macam, seperti sakit, kecelakaan, usia tua, ataupun disengaja (misalnya pembunuhan atau bunuh diri). Namun pada dasarnya mati berarti bahwa tubuh, termasuk organ-organ di dalamnya tidak mampu lagi berfungsi.

7.Unpredictability, pemahaman bahwa waktu kematian tidak dapat diprediksi/ diketahui lebih awal, karena itu tidak ada siapapun yang dapat mengetahui kapan seseorang akan mati.

Sumber : my-lifespring





Tujuan Hidup

1 09 2008

Manusia mempunyai keunikan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, di antara manusia juga mempunyai perbedaan tujuan hidup. Si A misalnya boleh merasa aneh dengan tingkah laku Si B, sebab Si A tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai oleh Si B. . Faktanya, orang-orang yang sukses di dunia itu pasti mempunyai tujuan hidup

Masing-masing di antara kita tentu juga mempunyai tujuan hidup. Tetapi saya heran mengapa tujuan hidup sebagian besar manusia di dunia ini tidak mampu berperan penting dalam mencapai kesuksesan .Setelah sekian lama saya mengamati, rupanya penyebab utama tujuan hidup itu tidak dapat berfungsi sebagai langkah penting untuk mencapai kesuksesan adalah ketidakmampuan kita sendiri dalam memahami dan mendefisikan tujuan hidup tersebut.

Sebagian besar di antara kita memang mempunyai tujuan hidup, tetapi terkadang jumlah tujuan hidup itu bisa sampai ratusan. Sifat tujuan hidup itu pun masih rancu atau tidak terperinci secara pasti. Agar hal itu tidak terjadi, maka sebaiknya buatlah konsep mengenai tujuan hidup untuk jangka waktu tertentu, misalnya untuk 1 minggu ke depan, 1 bulan atau satu tahun ke depan.

Pengambilan keputusan merupakan tahap selanjutnya yang sangat penting. Untuk itu berpikirlah lebih dalam, jernih dan terkontrol sebelum benar-benar memutuskan apa tujuan hidup Anda. Sebuah pepatah bijak mengatakan, “Your decisions determine your direction, and your direction determines your destiny?. Keputusanmu menentukan arah tujuan, dan tujuanmu menentukan keberuntunganmu. ” Karena itu Anda akan memerlukan lebih banyak informasi agar dapat memutuskan sebuah tujuan hidup yang paling tepat.

Setelah membuat keputusan mengenai tujuan hidup, maka langkah berikutnya adalah menuliskan tujuan hidup tersebut. Menuliskan tujuan hidup dimaksudkan untuk memudahkan Anda memahaminya. Jika tujuan hidup itu ditulis, itu artinya Anda sudah menciptakan instruksi yang jelas mengenai apa yang harus Anda lakukan dan bagaimana mengembangkan rencana berikutnya.

Langkah-langkah tersebut sangat efektif digunakan untuk dapat memahami tujuan hidup. Pemahaman terhadap tujuan hidup sangat penting sebab proses pencapaian tujuan hidup berkembang dari pemikiran hingga menjadi sketsa, dari sketsa ke tindakan, dan dari tindakan ke pencapaian yang sesungguhnya. Goethe mengatakan, “Hal terbesar di dunia ini bukanlah dimana Anda berdiri, melainkan kemana Anda akan pergi.” Itu artinya, jika Anda mampu menetapkan,memahami dan memperjelas tujuan hidup, maka kemungkinan untuk meraih sukses juga akan lebih besar.

Yang terpenting bukan berapa lama anda hidup, tapi bagaimana anda mengisi dan mempunyai tujuan hidup anda. Batas hidup manusia telah ditentukan, makna dan nikmati kehidupan ini dengan hal yang baik dan berguna.

” Kematian adalah pasti, yang terpenting bagaimana mengisi kehidupan dengan hal positif terus maju dan berkarya “