Pacaran Kristen

28 12 2008

Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen.

Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:

1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”

“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.

2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”

“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.

Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.

3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”

“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:

– apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?

– apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?

– apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?

Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.

4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”

Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.

5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”

Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.

Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.

Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:

a. Imannya.

Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?

b. Kematangan Pribadinya.

Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?

c. Temperamennya.

Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?

d. Tanggung-jawabnya.

Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?

Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.

Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:

1.Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.

2.Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar … atau kami ingin selalu bercumbuan saja.

3.Saya rasa “dia akan meninggalkan saya” kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.

4. Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.

Advertisements




Menghadapi Kematian

28 12 2008

Tidak ada seorangpun di antara kita yang ingin menghadapi atau mengalami kepahitan dalam hidup ini. Namun kenyataan memberitahu kita bahwa kepahitan sering singgah dalam hidup kita sekalipun tanpa diundang atau dicari seperti yang dialami oleh umat Israel dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian. Demikian tercatat dalam Kitab Keluaran 15:22-27:

“Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan- peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.”

Kepahitan dalam hidup ini dapat berbentuk sakit penyakit yang parah dan mematikan yang tidak hanya diderita oleh anggota keluarga yang kita kasihi tetapi juga pada diri kita sendiri. Kematian anggota keluarga yang kita anggap belum waktunya ataupun yang belum dipastikan keselamatan jiwa-rohnya. Musibah yang mengakibatkan kerugian materi yang menyebabkan kita kehilangan segala-galanya ataupun cacat fisik yang tak tersembuhkan. Kepahitan dapat juga berupa masa depan yang tidak menentu seperti yang banyak dialami oleh WNI pria yang berusia diatas 16 tahun dan saat ini ´over stay´ di Amerika Serikat. Tinggal tanpa melapor sulit, melapor juga sulit, bagaikan makan buah simalakama — dimakan ayah mati tidak dimakan ibu mati. Khususnya bagi mereka yang telah belasan tahun di Amerika dan mempunyai anak.

Kalau harus kembali ke Indonesia, di Indonesia pun keadaan ekonomi tidak lebih baik daripada Amerika kalau tidak mau dikatakan lebih parah. Pengangguran yang terus meningkat, keamanan yang tidak menentu, politik yang tidak stabil khususnya menjelang Pemilu, dan diskriminasi terhadap kaum minoritas yang masih dipertahankan. Selain itu merajelalanya korupsi telah merasuk ke tulang sumsum bangsa yang tidak terobati dan penanganan hak azasi manusia yang masih amburadul. Semua itu hanya sebagian kecil dari kondisi di Indonesia dimana sangat sulit bagi orang-orang percaya untuk membesarkan anak-anak mereka di dalam iman dan moral kristiani jika tidak mau berkompromi. Menghadapi semuanya itu bagaimanakah seharusnya kita bersikap sebagai orang-orang percaya?

Dunia yang Tidak Ideal.

Kita tahu bahwa kepahitan yang dihadapi oleh umat Israel dengan mata air Mara tersebut bukanlah sesuatu yang direncanakan ataupun yang sengaja ingin ditemukan oleh mereka. Kita juga tahu bahwa mereka dipimpin oleh Musa, seorang pemimpin yang beriman dan dekat dengan Allah. Kita percaya bahwa tentu dalam memimpin umat Israel Musa juga sudah berdoa dan memohon pimpinan Allah agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak menggembirakan. Sudah pasti Musa tidak meminta untuk melewati mata air yang pahit atau merencanakan untuk memimpin bangsanya ke dalam situasi yang pahit sebab ia tahu betul tipe yang bagaimana umat Israel itu, yaitu bangsa yang tegar tengkuknya: kalau senang, tidak tahu berterima kasih; kalau susah sedikit saja langsung memaki-maki.

Semua itu terjadi bukan karena Musa salah memimpin mereka dan bukan pula karena Allah tidak tahu apa yang akan mereka tempuh atau Allah tidak sanggup menghindarkan mereka dari kepahitan tersebut. Semua itu terjadi karena memang dunia ini bukan dunia yang ideal. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa, dunia yang sudah terkutuk dan dikutuk. Sekalipun kita beriman, percaya bahkan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, setia, dan tulus, tidak menjamin bahwa kita terluput dari kepahitan sebab kepahitan itu tidak pandang bulu.

Sehingga tidak heran ada yang bertanya “Why good people suffer?” bahkan pemazmurpun bisa berkata:

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sia-sia sama sekali Aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari, aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:1-2, 13-14)

Dalam Mazmur tersebut si pemazmur mengakui bahwa sekalipun ia tahu bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya, ini adalah pengetahuan yang benar tentang Allah, namun tidak menjamin bahwa ia terhindar dari penderitaan dan kepahitan yang membuatnya kecewa bahkan hampir tergelincir imannya. Ini adalah suatu akibat yang wajar dan normal. Janganlah kita langsung menunjuk jari bahwa pemazmur adalah orang yang lemah imannya. Karena tanpa sadar tiga jari kita menunjuk kepada diri kita sendiri.

Adakah saudara saat ini dalam kepahitan? Ketahuilah bahwa semua itu adalah wajar dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini. Dunia ini memang tidak ideal. Melalui kepahitan ini iman kita kepada Allah yang kita percaya diuji. Reaksi kita terhadap kepahitan tersebut akan merefleksikan iman kita kepada Allah yang kita percayai, yaitu Allah yang telah menyelamatkan kita dari dosa.

Jangan bersungut-sungut

Menghadapi mata air yang pahit di Mara, kita melihat ada dua reaksi yang berbeda sebagai refleksi iman. Pertama adalah bersungut-sungut, “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa”. Siapakah mereka yang bersungut-sungut itu? Mereka adalah umat Israel yang telah mengalami berbagai macam kuat kuasa Allah. Mereka yang dahulunya menjadi budak dan menderita di Mesir dengan kuat kuasa Allah melalui berbagai mujizat telah dilepaskan dari perbudakan. Kuat kuasa Allah yang terakhir adalah kelepasan mereka dari malaikat maut melalui pengorbanan anak domba yang disembelih dan yang darahnya dibubuhkan di kedua ambang pintu serta terbelahnya Laut Merah sehingga mereka selamat dari kejaran Firaun serta bala-tentaranya. Mujizat-mujizat yang mereka alami sungguh luar biasa. Namun demikian mujizat-mujizat yang luar biasa tersebut tidak menjamin untuk mencegah mereka tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan. Banyak orang kristen yang gandrung akan mujizat dan menganggap mujizat itu dapat menguatkan iman mereka. Tetapi kenyataan memberitahu bahwa mujizat bukan jaminan untuk iman yang teguh. Iman kita tidak boleh dilandaskan pada pengalaman akan mujizat karena mujizat adalah landasan yang sangat lemah. Landasan iman kita haruslah Firman Kristus,

“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Mereka bukan saja mempunyai pengalaman luar biasa dengan mujizat, mereka juga mempunyai pengenalan yang benar tentang Allah atau boleh dikatakan teologia yang benar tentang Allah. Seperti yang terungkap ketika mereka memuji Allah setelah dilepaskan dari kejaran Firaun:

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban? … Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus” (Keluaran 15:11,l3).

Namun semua itu tak dapat mencegah mereka untuk tidak bersungut- sungut!

Untuk tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan baiklah kita mengikuti teladan Daud yang berkata,

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:1-2)

Itulah kiat mujarab agar kita tidak bersungut-sungut bahkan sanggup memuji TUHAN dalam segala keadaan. Menghitung semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, terutama keselamatan yang dianugerahkan kepada kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib di Golgota.

Berseru-seru kepada TUHAN.

Berbeda dengan umat Israel yang bersungut-sungut, maka reaksi Musa terhadap kepahitan itu adalah “berseru-seru kepada TUHAN”. Inilah refleksi iman yang harus ada pada kita tatkala menghadapi kepahitan dalam hidup ini. Berseru-seru kepada TUHAN adalah pernyataan iman Musa yang percaya bahwa TUHAN mempunyai cara-Nya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan juga iman yang mau melakukan apa yang diperintahkan TUHAN, iman yang ´trust and obey´. Dengan tanpa bertanya apa jenis kayu tersebut dan ragu bagaimana hal itu bisa terjadi “Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis.”

Apakah Anda saat ini dalam kepahitan hidup? Berdoalah, berseru- serulah kepada TUHAN, dan nantikanlah jawaban-Nya. Pekalah terhadap jawaban TUHAN. Memang ada yang mengatakan bahwa jawaban doa kita biasanya “Ya”, “Tidak”, atau “Tunggu”; namun jangan kita tertutup dengan jawaban lainnya dari TUHAN. Yakinlah jika dengan sungguh- sungguh kita mau ´trust and obey´, maka pada waktunya — karena segala sesuatu ada waktunya — kepahitan itu akan berubah menjadi manis. TUHAN sanggup “membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkotbah 3:11) dan percayalah semua kepahitan itu akan berlalu oleh kuasa TUHAN. Semoga TUHAN menolong kita semua menghadapi kepahitan hidup ini dengan sikap yang benar, merefleksikan iman kita kepada TUHAN agar mereka yang belum percaya mau mengenal-Nya.

Setelah semuanya itu berlalu mereka melanjutkan perjalanan dan “Sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma” suatu tempat yang kontras dengan Mara, suatu tempat yang lebih nyaman daripada Mara yang pahit itu. Namun mereka tidak boleh berkemah seterusnya di sana sebab tujuan akhir mereka bukanlah Elim, tetapi tanah perjanjian. Demikian juga dalam perjalanan iman kita. Kepahitan dan kenyamanan bukanlah tujuan akhir dari hidup kita. Oleh karena itu apapun yang kita hadapi dalam hidup ini janganlah kita berhenti tetapi teruskanlah perjalanan iman kita.

Viktor Frankl, seorang ahli ilmu jiwa asal Austria yang dipenjara oleh Nazi pada Perang Dunia II, setelah dibebaskan, menulis buku berjudul ´Man´s Search For Meaning´ (Pencarian Manusia akan Makna Hidup), yang menjadi buku laris sepanjang masa. Dalam buku ini, Frankl membagikan semua pelajaran penting yang ia petik dari penderitaannya:

“Saya berani berkata bahwa di dunia ini tak ada yang dapat benar- benar menolong seseorang untuk terus bertahan hidup, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, selain pemahaman bahwa sesungguhnya hidup seseorang itu berarti.”

Semoga dalam kepahitan hidup, Tuhan menguatkan kita untuk terus mempertahankan hidup ini. Karena hidup yang telah ditebus Kristus ini sangat berarti untuk memuliakan TUHAN. Amin..





Christmas Holiday Season

25 12 2008

Beberapa tahun terakhir ucapan “Merry Christmas” mulai beralih pada  ucapan yang lebih sekuler “Happy Holidays” atau “Best Wishes for the Holiday Season” dan semacamnya. Pohon-natal pun mulai tidak lagi disebut sebagai “Christmas Tree” tetapi “Holiday Tree”. Perubahan ini mendapat perhatian khusus, dan ada diantara kita kaum Kristiani sangat menentang hal-hal tersebut.

Bulan Desember tahun lalu di Amerika Serikat ada kelompok Kristen Konservatif berjumlah 700an orang berdemo, menyerukan agar orang Kristen memboikot group toko retail Target, karena toko tersebut memasang iklan dengan tidak menyebutkan kata “Christmas” melainkan memakai istilah “Holiday Season”. Kegiatan ini langsung dibaca dengan cermat oleh group toko retail Wal-Mart yang tetap beriklan dengan menyertakan kata “Christmas”.

Karena tekanan itu, Target kemudian balik menggunakan kata “Christmas” dalam iklannya. Maka jadilah urusan itu berubah menjadi “marketing tools”, dan hebohnya berita bisa jadi menguntungkan ke-2 macam group toko tersebut.

Di tengah-tengah kontroversi dalam bisnis retail tersebut, Presiden Bush dan istrinya mengirim kartu Natal kepada sekitar 1,4 juta orang pendukungnya.
Kartu itu bergambar dua anjing kesayangan Presiden Bush bermain-main di salju, di depan Gedung Putih. Kartu itu tidak bertuliskan ucapan “Merry Christmas”, tetapi “Best Wishes for the Holiday Season”. Kartu ini tentu saja mengecewakan sebagian orang yang kurang setuju dengan istilah “Holiday Season”.

Beberapa kelompok politik dan kalangan Kristen konservatif pun mengecam kartu ucapan presiden ini, dan mengatakan itu adalah upaya untuk menyingkirkan Kristen dari arena publik.

Ada baiknya kita melihat sejarah Natal, dimana memang perayaan Natal 25 Desember ini terjadi karena tradisi saja. Alkitab tidak pernah menyebut adanya Natal tanggal 25 Desember, tidak pernah menyebut atribut natal, pohon natal dan lain-lain. Penemuan papyrus abad-4, menulis pada tahun 274 M di Kerajaan Romawi, tanggal 25 Desember dimulai perayaan kelahiran matahari karena diakhir musim salju tanggal itu matahari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat, karena itu bagi orang Romawi kuno, hari itu dirayakan sebagai hari Matahari.

Ketika Kekristenan ‘dijadikan agama negara’ di Kerajaan Romawi, kebiasaan perayaan itu ternyata sukar ditinggalkan masyarakat Roma yang sudah menjadi Kristen. Oleh karena itu para pemimpin Gereja kemudian mengalihkan perhatian mereka, perayaan yang semula adalah perayaan Matahari diganti menjadi perayaan peringatan kelahiran Yesus.

Ketentuan ini oleh Gereja pada masa itu diresmikan di Roma tahun 336 M, dan mereka menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari peringatan kelahiranKristus. Peringatan kelahiran Kristus dengan tanggal peringatan 25 Desember akhirnya juga diperkenalkan oleh Kaisar Konstantin, hal ini sebagai pengganti tanggal 5-6 Januari yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai hari peringatan kelahiran Kristus.

Perayaan Natal kemudian di lakukan juga di Anthiokia pada tahun 375 M dan pada tahun 380 M dirayakan di Konstantinopel, dan tahun 430 M di Alexandria dan kemudian di tempat-tempat lain dimana kekristenan berkembang.

Sebagai seorang Kristen yang telah mengerti makna Natal sebenarnya, tidaklah perlu ikut-ikutan aksi seperti kelompok Kristen di Amerika, menentang sekularisasi Natal oleh orang-orang yang bukan Kristen tetapi ingin merayakan Natal. Natal secara luas telah dikenal orang dunia. Di Jepang orang non-Kristen juga merayakan Natal, dengan pesta malam dan mabuk sampai pagi, di Malaysia negara Muslim, di negara tetangga kita ini Natal juga dirayakan oleh sebagian orang Muslim. Pohon Natal dipasang gede-gede di setiap Mall. Ada seorang teman Muslim disana memasang pohon Natal pada bulan Desember, hanya karena dia demen hiasan tersebut. Di China negara Komunis, Natal juga menjadi marketing tools semua toko dihiasi pernak-pernik Natal.

Penyanyi senior Barry Manilow memproduksi DVD musik yang berjudul “Because it’s Christmas” & “A Christmas Gift of Love” isinya khusus lagu-lagu Natal. Ia menciptakan lagu Natal dan menyanyikannya. Dalam sebuah wawancara di TV ia ditanya mengapa ia yang adalah orang Yahudi yang tidak merayakan Natal, menyanyikan lagu Natal? Ia menjawab dengan bercanda “Karena aku iri, aku tidak punya hari raya Natal”.

Lagu klasik Natal “White Christmas” juga diciptakan oleh seorang yang bukan Kristen, Irving Berlin. Ia seorang Yahudi. Ia menciptakan lagu ini ditujukan kepada sahabatnya yang Kristen.

Ada juga sinkretisasi hari raya ini menjadi perayaan “Chrismukkah” alias “Hanukkah and Christmas”, bahkan perayaan ‘Yahudi campur Kristen’. Ini sudah dikenal di Jerman sejak tahun 1800an M, disana dikenal dengan istilah “Weihnukkah” .

Marilah kita kaji, apa sih yang ada dibenak orang-orang itu (yang bukan Kristen) ketika mereka ingin merayakan Natal, bukankah itu dikaitkan dengan suatu momen khusus, merayakan, membuat pesta, mengadakan pertemuan khusus pada hari yang khusus bersama teman, keluarga, sanak, saudara, dll.

Maka, andaikata istilah “Christmas” itu tidak pernah diganti dengan istilah “Holiday Season”, toh arti Christmas bagi mereka itu tidak akan pernah dikaitkan dengan Kristus. Bagi mereka mungkin merasa bahwa 25 Desember itu bukan hak-ciptanya kalangan Kristen secara eksklusif. Dan mereka tetap akan merayakannya dengan cara mereka sendiri yang tidak mendasarkannya pada dasar-dasar Kristianitas. Karena mereka memang hanya mau “merayakan” saja tanpa embel-embel Kristus.

Disamping itu pula perhatian orang dalam merayakan “Holiday Season” itu bukan hanya pada 25 Desember tetapi juga untuk menyambut tahun yang baru 1 Januari.

Arti Natal bagi umat Kristiani sejak kapanpun dan sampai kapanpun akan selalu berbeda dengan cara perayaan orang-orang dunia itu baik dengan istilah “Christmas” atau tidak. Kita umat percaya memahami dan menghormati makna Natal karena ALLAH telah sudi lahir sebagai manusia, ALLAH Yang Maha-tinggi itu telah merendahkan Diri-NYA, serendah-rendahnya menjadi manusia, lahir sebagai manusia biasa bahkan terhina mati di kayu salib.

Natal bagi umat Kristiani bukan sekedar perayaan, kumpul-kumpul, atau mengadakan kegiatan-kegiatan, tetapi Natal adalah lebih kepada peringatan akan kasih karunia ALLAH yang dahsyat.

Bagi kita, umat Kristiani makna Natal tidak hanya jatuh pada bulan Desember, karena ini hanyalah tradisi dunia. Natal bagi kita dapat kita rayakan di bulan Desember bahkan di bulan-bulan yang lain. Setiap haripun bisa menjadi Natal. Rasul Paulus berkata “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.” (2 Timotius 2:8 ).

Maka setiap kali kita mengingat kematian-NYA dalam Perjamuan Suci (Lukas 22:19), otomatis kita juga mengingat bahwa Ia pernah lahir. Kelahiran-NYA telah membawa Kabar Baik, bahwa semua orang yang percaya akan memperoleh kehidupan yang kekal
(Yohanes 3:16).

Amin.

Merry Christmas

Selamat Natal

Happy Holidays!

TUHAN Memberkati





Berserulah KepadaKu

24 11 2008

Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Yer 33:3)

Kepuasan sejati tidak tergantung dari apa yang kita pikirkan atau rasakan.

Kepuasan sejati atau kebahagiaan sejati dalam hidup ini hanya dapat ditemukan di satu tempat

Tidaklah mengherankan, apabila saat ini banyak buku-buku yang mengangkat tema mencapai kepuasaan atau kebahagiaan sejati. Salah satu yang terkenal dan mengundang kontroversi adalah “The Secret”. Sudah jutaan kopi terjual di seluruh dunia dan yang mengejutkan adalah buku ini juga menganut prinsip-prinsip alkitabiah.

Kebenaran sesungguhnya tidak terdapat pada filosofi. Rahasia atai kebenaran sesungguhnya adalah ada dia dalam Dia

Hanya di dalam Dia, kita dapat menemukan segala macam rahasia, segala jawaban terhadap masalah atau persoalan kita hari ini

Ketika masalah menghampiri, kemana kita mencari jawabannya ? Apakah kita mengandalkan Dia atau mencari cara dengan mengandalkan akal kita yang terbatas?

Mari kita belajar mengandalakan Allah kita yang tak terbatas yang menjawab doa Elia ketika ia meminta hujan turun, yang menjawab doa Paulus dan Silas dan membebaskan mereka dari penjara, dan yang membangkitkan Yesus dari kubur

Ingatlah, doa kita mengubah sesuatu, dapat mengubah situasi di sekeliling kita, bahkan mengubah sejarah, Ketika situasi dan tekanan datang, janganlah bergantung kepada diri kita yang terbatas, tetapi andalkan Dia yang tak terbatas!

Ketika kau berdoa, sabarlah dalam menunggu waktu Tuhan. Dia Allah yang berjanji akan memberi kekuatan dan damai yang kau perlukan selama masa penantianmu.

“Jangan katakan kepada Allahmu betapa besar masalahmu, tetapi katakanlah kepada masalahmu betapa besar Allahmu”





666 dan Teknologi

5 11 2008

Jauh-jauh hari sebelum ada perkembangan teknologi seperti sekarang ini, Tuhan telah menyampaikan pesan nubuatan melalui hamba-hambaNya. Bahwa akan ada satu penguasa yang akan memerintah dunia ini dengan kekuasaan sangat besar. Allah telah menyingkapkan kejadian masa depan ini supaya umat-Nya menjadi waspada dan sadar terhadap rencana-rencana iblis. Dia ingin semua umat-Nya diselamatkan dalam Yesus Kristus, luput dari aniaya besar yang akan terjadi. Gereja Tuhan hendaknya menggunakan hikmat Allah dalam bertindak, tekun dalam menuruti perintah Allah dan beriman teguh kepada Yesus. Itulah yang penting!

Teknologi yang berkembang dengan luar biasa ini sedang mempersiapkan munculnya satu tokoh baru yang akan memerintah dunia ini. Dia adalah antikristus. Alkitab menjelaskan dalam Wahyu 13:18, antikris mempunyai bilangan seorang manusia yang berjumlah 666. “… karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam”. Ia memiliki kekuasaan yang sangat besar di bumi dan menguasai perekonomian dunia. Ia akan menyebabkan semua orang besar dan kecil masuk dalam sistem keuangan yang ditetapkannya. Mereka yang tidak mau mengikuti aturan mainnya, tidak dapat melakukan bisnis apapun. Orang ini tidak bisa membeli barang-barang di supermarket, tidak bisa berbelanja, tidak bisa membeli ataupun menjual. Hanya yang memakai tanda 666 pada tangan atau dahinya saja yang bisa berbisnis, membeli dan menjual. “… Dan tidak ada seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya…” (Wahyu 13:16)

Nubuatan Alkitab sedang digenapi. Pemakaian tanda 666 yang ada di dalam microchip sudah mulai dipakai di beberapa negara. Di Hongkong telah dipromosikan microchip Mondex yang ditanamkan dalam tubuh manusia. Sekitar 120.000 orang Hongkong diberi tanda ini. Mereka yang mempunyai tanda ini mendapat fasilitas dan kelebihan khusus. Di bandara Belgia ada tempat lounge (ruang tunggu) yang istimewa, hanya orang yang menggunakan tanda 666 bisa masuk ke dalam ruangan ini.Cukup dengan menempelkan tanda pada scanner komputer, mereka mendapatkan fasilitas yang lebih.Sistem seperti Mondex dengan basis kode bar 666 ini sepertinya akan dipakai antikris dalam mengontrol dan menguasai keuangan perekonomian dunia.

Saudara bisa membayangkan apabila suatu hari ada satu bank besar di Indonesia yang mengumumkan untuk promosi penanaman microchip secara gratis dibatasi hanya 1.000.000 orang saja. Kira-kira apa yang terjadi? Sepertinya yang sudah Saudara ketahui di seluruh bank yang ada di Indonesia sekarang ini sedang gencar – gencarnya mempromosikan penggunaan kartu kredit dan kartu ATM. Mereka yang ingin memiliki kartu ATM bisa mendaftarkan diri dan mengajukan permohonan tanpa dipungut biaya sama sekali asal menabung di bank tersebut. Kemudahan dalam transaksi bisnis karena adanya perkembangan teknologi smart card ini menarik minat semua orang. Apalagi untuk mendapatkannya gratis. Bagaimana jika yang gratis itu adalah penanaman microchip Mondex ini? Mereka yang memakai tanda 666 di dahinya atau di tangannya memang akan mendapat fasilitas yang lebih. Itulah yang Alkitab katakan bahwa “… tidak ada seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya”.

Mondex adalah nama sebuah perusahaan yang menyediakan sistem pembayaran tanpa uang tunai. Sistem ini telah dibeli oleh lebih 20 negara besar. Sistem ini diciptakan pada tahun 1990 oleh seorang bankir London bernama Tim Jones yang bekerja sama dengan Graham Higgins dari Natwest Coutts, sebuah bank pribadi dari keluarga Kerajaan Inggris. Sistem ini didasarkan atas teknologi Smart Card (teknologi yang dipakai oleh SIM Card pada handphone) yang memanfaatkan microchip yang dilekatkan pada kartu plastik (kartu kredit) dan mampu menyimpan informasi elektronik seperti pembayaran, identifikasi maupun bermacam-macam informasi penting lainnya.

Semua transaksi dimungkinkan melalui penerapan SET (Secure Electronic Transaction / Transaksi Elektronik yang Aman). Mondex singkatan dari Monetary and Dexter. Berdasarkan Webster’s Dictionary Encylopedia (kamus Webster), arti kata-kata tersebut adalah: Money: Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang… Dexter: Menunjukkan lokasi yang ada di tangan kanan manusia. Microchip yang ada dalam “card Mondex” mengandung lambang angka (bar code). Lambang atau kode garis ini mewakili angka antikris yaitu 666 (GIA WebMaster: untuk penjelasan bar code dapat dibaca pada artikel “Tanda binatang ada di kehidupan kita”). Sistem Mondex akan menjadi solusi yang tepat untuk perekonomian dunia yang sedang dilanda krisis mata uang.

Mondex merupakan satu sistem yang mendukung terciptanya satu mata uang dunia tanpa uang tunai. Mungkin sistem ini pula yang akan mewujudkan penguasaan antrikris atas dunia ekonomi di masa akan datang. Microchip Mondex yang tertanam dalam tubuh manusia menyimpan kode 666. Mereka yang memakai microchip ini mendapat fasilitas khusus. Mereka tinggal meletakkan tangan mereka di atas scanner komputer dan semua transaksi jual beli dapat dilakukan dengan otomatis tanpa menggunakan uang tunai. Di masa yang akan datang, untuk melakukan kegiatan transaksi jual beli, setiap orang harus mempunyai tanda ini. Di kepala (dahi) atau di tangan kanannya.

Kata bahasa Yunani dalam Alkitab untuk “tanda” binatang tersebut adalah “Charagma” yang berarti cap (stempel), lencana atau tanda perbudakan, perhambaan atau kerja paksa. Bilangan 666 adalah ungkapan Yunani untuk “stigma” yang berarti menusuk atau menggores sebuah tanda sebagai tanda kepemilikan. Jadi mereka yang menggunakan tanda 666 secara tidak langsung dicap sebagai budak antikris.
Pada tahun 1996 dihasilkan sebuah perjanjian yang dibuat oleh “Gemplus” untuk memproduksi smart card dengan implementasi sistem Mondex untuk dipakai di seluruh dunia. AT&T / Lucent Technologies membeli ijin pengoperasian Mondex di Amerika Serikat. Logo perusahaan ini memakai simbol dari Ular Naga Matahari atau Naga Merah yang adalah iblis sendiri. Lucent sendiri adalah singkatan dari Lucifer Enterprises (perusahaan milik Lucifer), yang singkatan tersebut dibantah oleh mereka, namun mereka tetap memakai nama tersebut meskipun mereka tahu arti singkatan yang dikatakan oleh banyak orang. Jika mereka adalah seorang Kristen, pastilah mereka mengganti nama Lucent jika banyak orang mengartikan singkatannya seperti diatas. Disamping itu, perusahaan ini begitu mencolok dalam memberikan nama untuk produk-produk mereka seperti: Styx (sungai di Hades), Janus (illah berwajah dua) dan Inferno. Yang dipromosikan dari Inferno adalah sebuah cerita tentang iblis di neraka, lingkaran api yang menandakan dewa kuno. Perusahaaan ini memilih untuk memindahkan kantor mereka ke Fifth Avenue 666 di Manhattan. Salah satu penemuan mereka yang paling dibanggakan adalah TSS (Text to Speech). Dimana mereka memberikan kehidupan pada benda mati untuk berbicara seperti layaknya manusia hidup. Ini adalah salah satu arah yang akan menuju kepada Firman Tuhan dalam Alkitab. “Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga dan bertindak begitu rupa sehingga semua orang yang tidak menyembah patung binatang itu akan dibunuh”. (Wahyu 13:15)Perkembangan teknologi selalu bertujuan untuk membangun kehidupan manusia namun dalam perkembangannya belum tentu teknologi itu digunakan untuk menunjang dan membangun iman kepada Tuhan Yesus. Karena itulah Tuhan menyatakan lebih dahulu akan siasat dan rencana iblis atas dunia ini.
Tujuan iblis selalu sama yaitu mencuri, membunuh dan membinasakan. Ketika iblis berhasil mencuri teknologi, dia akan berusaha menggunakannya menjadi alat untuk membunuh dan membinasakan manusia. Waspada dan berjaga-jagalah karena hari Tuhan sudah semakin dekat, lebih dekat dari hari kemarin.

“Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat”. (Efesus 5:15-16)





Pergaulan Pria Wanita

25 10 2008

Problema terbesar kaum muda adalah hubungan lawan jenis yang bermuara pada pernikahan. Banyak kegagalan dalam pernikahan karena diawali hubungan pranikah yang tidak benar. Oleh karena itu hubungan pranikah yang benar adalah salah satu kunci kesuksesan dalam keluarga. Prinsip apa yang Firman Tuhan ajarkan dalam hubungan dengan lawan jenis ?

Hubungan yang benar

1. Membangun persahabatan dengan hati yang murni (II Timotius 2:22)
Hati yang murni adalah memiliki motivasi yang benar yaitu tidak untuk keuntungan diri pribadi atau hawa nafsu tetapi rindu saling membangun dalam kasih Kristus. Persahabatan yang benar menentukan pernikahan yang bahagia, karena 90% orang menikah dalam lingkungan sahabat-sahabat baiknya.
2. Menemukan pasangan hidup sesuai standar Allah (II Kor 6:14-15)
Allah menetapkan pasangan hidup yang seiman dan sevisi.
Pria  memiliki visi Allah dan belajar bertanggung jawab.
Wanita  memiliki kecantikan batin yaitu roh lemah lembut dan tentram (I Petrus 3:4)
3. Hubungan pertunangan bukan pacaran duniawi (I Tes 4 : 3-8)
Pertunangan :
A. Sejak awal sudah yakin dan pasti menikah.
B. Kasih Allah / Kudus
Pacaran duniawi :
A. Coba-coba, tidak ada kepastian menikah
B. Hawa nafsu / asmara

Marilah kita memiliki standar yang tinggi dalam hubungan lawan jenis. Hubungan yang dilandasi kesucian dan tanggung jawab adalah standar yang harus dimiliki oleh setiap kita di dalam membangun hubungan dengan lawan jenis.





Hati Yang Terluka

24 10 2008

Hati yang terluka terjadi ketika seseorang atau sesuatu menyakiti perasaan. Dalam Amsal 26:22 dikatakan bahwa seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati.

Penyebab terjadinya luka hati adalah sebagai akibat dari :
1. Perbuatan dosa kita sendiri (Maz 25:8, Ams 17:19, 2 Sam 24:10)
2. Dosa keturunan (Kel 34:6-7)
3. Kebiasaan minum minuman keras (Ams 23:29-35)
4. Keterlibatan di dalam dunia gaib (Imamat 20:6)

Luka hati tidak dapat hilang begitu saja! Waktu juga tidak dapat menyembuhkan. Ketika kita mengingat peristiwa itu, kita akan merasakan luka itu. Beberapa orang bahkan mematikan pikiran sehingga mereka tidak mengingat rasa itu lagi, tetapi sebenarnya perasaan luka itu sendiri masih ada.

Gejala-gejala yang ditimbulkan :
1. Sisi fisik (Ams 17:22)
Ketegangan syaraf, alergi, masalah di pencernaan, sakit hati, insomnia.
2. Sisi mental (Ams 18:14)
Depresi, kekacauan, rendah diri, ketakutan
3. Sisi roh/spiritual (Mat 18:34)
Mimpi buruk, mendengar suara-suara, melihat hal-hal yang aneh, tidak dapat mengontrol diri sendiri.

Berbagai cara orang berespon
Menghindari dari situasi dan membiarkan waktu yang menyembuhkan. Berusaha untuk menyesuaikan hatinya yang terluka dengan kemarahan dan dendam atau berusaha menutupi diri dan membiarkan waktu yang menyembuhkan.

Cara Penyembuhan
1. Berikan hati kepata Tuhan dan biarkan Dia menjadi Tuhan (Rm 10:9)
2. Lakukan pengakuan dan minta pengampunan untuk dirimu (Mat 5:23-24)
3. Kita harus memaafkan orang yang pernah menyakiti (Mat 6:12)
4. Serahkan penghakiman kepada Tuhan dan minta Tuhan untuk memaafkan mereka (Luk 23:24)