Menikahlah bila Ingin Bertahan dari Kanker

30 08 2009

Hidup ini tak akan berarti apa-apa bila tak bisa dibagi dengan orang yang kita cintai. Sebaliknya pula, keberadaan orang tercinta akan sangat berarti tatkala harus melewati cobaan hidup.

Memiliki orang untuk berbagi dalam suka dan duka barangkali yang menyebabkan mengapa penderita kanker yang sudah menikah lebih bertahan hidup dibandingkan yang tidak menikah.

Kaitan antara menikah dan usia harapan hidup pasien ini diteliti oleh tim peneliti dari Universitas Indiana, AS, yang menganalisis data 3,8 juta orang yang menderita kanker antara tahun 1973 dan 2004. Diketahui, 63 persen orang yang menikah mampu bertahan 5 tahun lebih lama dibandingkan orang yang bercerai (45 persen). Demikian seperti dilaporkan dalam journal Cancer.

Para peneliti mengatakan, stres yang timbul akibat perceraian berpengaruh pada daya tahan pasien. Sebelumnya, beberapa studi telah menyatakan besarnya manfaat pernikahan pada kesehatan.

Dukungan dari pasangan, cinta, dan perhatian yang tumbuh dari pasangan yang menikah merupakan senjata yang ampuh untuk melawan penyakit. Teori ini didukung oleh penelitian terbaru.

Peneliti mencoba melihat angka harapan hidup terhadap pasien kanker yang menikah, janda, orang yang bercerai, dan pasien yang tidak menikah. Ternyata, pasien yang menikah memiliki usia harapan hidup paling bagus, diikuti dengan yang tidak menikah, orang yang bercerai, dan janda.

Namun, sebagian ahli menilai, hasil penelitian ini bukan sebuah kesimpulan. “Banyak alasan mengapa orang yang bercerai memiliki harapan hidup lebih rendah,” kata Martin Ledwick, Kepala Informasi Cancer Research, Inggris.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa faktor utama yang berpengaruh pada harapan hidup pasien kanker adalah stadium pada saat kanker dideteksi. Makin dini diketahui, makin besar peluang kesembuhannya.





Menikah Bisa Mengurangi Stress

30 11 2008

Pernikahan dapat menjadi terapi efektif meminimalkan stres. Sebab, dengan pernikahan, segala persoalan tidak lagi dihadapi sendiri dan dipecahkan secara bersama-sama.
    
“Selain dukungan sosial, pernikahan mendapat tambahan keluarga sehingga dukungan akan berlipat ketika hidup sedang susah. Artinya, bukan hanya dukungan fisik, tetapi juga mental sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya depresi,” kata konselor biro positive psychologie, Indah Kemala Hasibuan, di Medan, Rabu.

 

Sebagai orang Timur, menikah bukan hanya mengikuti sunah Rasul, tetapi juga merupakan suatu panggilan mulia dan mengindari dari pembicaraan orang lain. Pernikahan idealnya merupakan perpaduan komitmen di antara dua individu yang berbeda jenis. Dengan demikian, perkawinan diharapkan menjadi tumpuan kebahagiaan bagi pasangan yang menjalaninya.

 

Pernikahan dapat memperbaiki prilaku bagi masing-masing pihak. Yang artinya, pernikahan merupakan penyesuaian terhadap pasangan. Perubahan ini biasanya disebabkan oleh rasa tanggung jawab terhadap pasangan yang akhirnya memberikan dampak positif pada kesehatan.

 

Namun, tidak semua orang dapat merealisasi keinginannya untuk menikah dengan orang yang dicintai. Sebagian dari mereka tetap melajang dan yang lainnya akhirnya menikah dengan berbagai alasan, seperti mengikuti kehendak orangtua, demi status, dan demi kesejahteraan materi.

 

“Bagi mereka yang cenderung memilih melajang, pada kenyataannya juga tidak selalu tenang menikmati masa-masa melajangnya. Banyak di antara mereka mengalami keraguan pada usia matang menjelang 30 hingga 40 tahunan dan bertanya-tanya mengenai pilihannya, harus menikah atau tidak,” katanya.

 

Sumber : Kompas





Kapan Memutuskan Menikah?

28 11 2008

Perkawinan merupakan komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan. Pastikan Anda menikah untuk alasan yang tepat, bukan untuk alasan yang salah.

Rasanya tak ada salahnya Anda mengajukan tiga pertanyaan berikut pada diri sendiri sebelum memutuskan naik pelaminan.

1. Apakah Anda berdua saling cocok?

Di dalam sebuah perkawinan, definisi kecocokan agak sedikit berbeda dan artinya lebih dari hanya memiliki kesamaan hobi, gemar makanan yang sama, film dan musik yang sama, dan seterusnya. Cocok di dalam sebuah perkawinan adalah memiliki kemampuan beradaptasi untuk berubah.

Penting diingat, manusia secara tetap berubah dari hari ke hari dan akan terus demikian di dalam perkawinan. Pekerjaan, anak-anak, mertua, merupakan beberapa perubahan yang berlangsung di dalam perkawinan. Kuncinya adalah memiliki pandangan yang sama dan tahu bagaimana mengatasi hubungan Anda berdua bila memiliki pandangan yang berbeda.

2. Apakah Anda berdua saling percaya?

Perkawinan tanpa rasa saling percaya bisa ditebak merupakan perkawinan yang akan berakhir dengan perceraian. Memiliki kepercayaan dari pasangan, merupakan suatu keharusan di dalam suatu hubungan. Bila ada keragu-raguan antara satu dan lainnya, berarti tidak ada rasa percaya. Suatu hubungan tumbuh dari rasa saling percaya dan tidak dapat bertahan tanpa rasa saling percaya.

3. Adakah komunikasi?

Tidak adanya komunikasi dapat menghancurkan suatu hubungan. Komunikasi sangat penting di dalam suatu perkawinan. Orang yang menikah perlu berkomunikasi setiap saat. Berbicara hanya pada saat genting atau tidak berbicara sama sekali, hanya menyakiti hubungan tadi. Tidak adanya komunikasi juga membawa pernikahan kepada perceraian.

Pasangan yang bercerai pada umumnya mengeluh, pasangannya tidak pernah mendengar apa yang mereka katakan atau menghindari percakapan dengan mereka. Komunikasi penting di dalam suatu hubungan. Bila tidak pernah berkomunikasi, bagaimana Anda tahu bahwa Anda saling cocok dan saling percaya satu sama lain?

Nah, bila Anda dan pasangan dapat menjawab ketiga pertanyaan di atas secara jujur dan saling memberikan jawaban yang memuaskan satu sama lain, mungkin perkawinan merupakan ide yang baik bagi Anda berdua. Namun, bila salah satu faktor di atas tidak ada, menikah merupakan ide yang kurang tepat. Perkawinan antara dua orang manusia harus berlangsung hanya bila memiliki ketiga faktor di atas.

Sumber : Kompas





Masih Sendiri? Kapan Menikah?

8 11 2008

Banyak orang yang merasa khawatir pada usianya yang sudah mencapai kepala tiga dan belum juga menuju ke pelaminan, lebih lagi jika wanita. Lebih dari itu, pertanyaan-pertanyaan dari kerabat, teman pun mulai berdatangan, sehingga terasa amat sangat mengganggu sekali. Anda mungkin menebarkan senyum maklum atau sedih karena merasa malu dan tersudut. Suka tak suka, bagi sebagian wanita, hal ini merupakan suatu “tuntutan” dan menjadi gangguan tersendiri.

Tidak hanya untuk yang berumur 30 saja, menjelang umur 50 tahun pun banyak wanita yang masih belum menikah. Apalagi sudah menjelang menopause, biasanya banyak wanita yang mulai mengalami depresi. Wanita-wanita yang rata-rata berusia 30-an, banyak yang merasa takut dan sedih.

Berikut tips untuk menghadapi masa-masa menjelang kepala tiga.

Tetap Melihat Ke Depan

Tunjukan ketegaran meski Anda merasa sangat kesepian dan hampir putus asa karena belum menemukan pasangan yang tepat. Jangan biarkan rasa minder ini menguasai hidup Anda, lalu membuat Anda langsung menerima lamaran dari sembarang pria yang mendekati Anda. Jangan mengelabui diri sendiri dengan pemikiran bahwa Anda bisa belajar mencintai seorang pria, walaupun baru bertemu. Keputusan terburu-buru bisa membuat hidup Anda jadi lebih buruk dari keadaan Anda saat ini.

Percaya Diri Dan Buka Mata

Tetap percaya diri, itulah yang paling penting untuk Anda saat ini. Jangan terlalu berhasrat untuk menikah. Dan jangan memilih pasangan untuk menyenangkan seseorang yang lain. Meski lingkungan terus mengganggu Anda, jangan Anda jadikan beban dalam pikiran. Percayalah bahwa Andalah orang yang akan beruntung suatu hari nanti. Yakinkanlah pikiran Anda untuk selalu jernih dan siap. Kembangkan pemikiran bahwa hidup tetap harus dilanjutkan walau sudah menginjak usia 30 tahun. Jangan pernah merasa gagal karena Anda tak juga menikah. Anggaplah bahwa hidup yang menarik baru saja akan Anda mulai. Jauhkan pikiran bahwa Anda sudah banyak terlambat dan harapan sudah pupus. Tetap lakukan hal-hal positif dan buka mata Anda lebar-lebar terhadap sekeliling Anda. Coba direnungkan, jangan-jangan selama ini Anda memang orang yang tertutup alias tidak mau membuka diri. Kalau ya, bagaimana jodoh akan mendekati Anda?

Sabar Dan Tetap Menunggu

Sabar adalah sikap yang sangat bijaksana. Jangan pernah memaksakan kehendak untuk lekas menikah sampai Anda mengenal diri Anda dengan baik dan mengenal dengan baik pula siapa pasangan Anda. Jangan menikah dengan seseorang sampai Anda mengenal dia dalam banyak hal. Anda dapat membuat prediksi yang jauh lebih tepat tentang seberapa banyak Anda akan menikmati pernikahan dengan seseorang jika dasar pengalaman Anda bersamanya cukup luas. Hubungan yang lebih lama menghasilkan pernikahan yang lebih bahagia.

Tetap Menjaga Kebugaran Fisik Dan Mental Anda

Jaga dan rawatlah diri Anda dengan banyak-banyak berolahraga, agar bugar dan sehat dalam iman. Jaga agar tubuh tetap sedap dipandang. Ini akan enak dilihat dan perlu. Hasilnya, tentu Anda pasti akan tampak beda, lebih cantik, lebih gaya dan gembira. Perubahan ini tentu akan membuat Anda merasa lebih nyaman dan percaya diri. Sikap ini akan membuat pria memberi perhatian. Jika Anda menghargai diri sendiri, tanamkan selalu dalam pikiran Anda bahwa tidak menikah bukan berarti kehidupan Anda berakhir.

Buatlah Diri Anda Bergairah

Lakukan banyak kegiatan. Jangan hanya tinggal berdiam diri di rumah, merenungi nasib, nonton tv atau mengurung diri di kamar sembari membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Ini akan membuat Anda makin tertekan dan merugikan diri Anda. Gairahkan hari-hari Anda. Buat rencana-rencana menarik bagi hidup Anda. Mengaktifkan pikiran dengan sesuatu yang membuat Anda bergairah, merupakan terapi yang baik untuk mengurangi rasa depresi yang sedang melanda pikiran Anda. Lakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.

Tetap Perluas Pergaulan

Tambah luas tambah baik. Perkenalan bukan difokuskan untuk mencari pasangan hidup, tetapi untuk bersahabat. Ini lebih meringankan suasana perkenalan, baik bagi Anda maupun buat sang Arjuna.

Sifat Pemilih Menjauhkan Jodoh

Mencari jodoh memang gampang-gampang susah. Apalagi jika Anda adalah orang yang sangat pemilih sekali. Anda baru akan membuka hati Anda jika pasangan Anda punya kesamaan minat, hobi, pendidikan dan berstatus sosial ekonomi yang setara. Syukur-syukur kalau bisa lebih tinggi. Inilah salah satu masalah yang akan menjerumuskan Anda. Tak perlu mencari jodoh yang punya minat sama. Perbedaan minat justru akan jadi bumbu-bumbu cinta Anda. Cobalah lakukan hal-hal baru yang tak pernah Anda lakukan. Saat melakukan hal baru, ada bagian baru dari diri Anda yang akan muncul. Membuat Anda merasa lebih menarik. Anda juga harus tahu, bahwa suatu pernikahan membutuhkan kerja keras. Jangan izinkan diri Anda mengharap terlalu banyak dari pernikahan. Alhasil Anda bisa kecewa. Anda tak butuh pasangan yang cocok, apalagi pasangan sempurna, tapi pasangan yang tepat, yang mampu mencintai Anda dan menerima Anda apa adanya, hidup sampai tua dalam komitmen yang sama untuk meraih visi yang sama.

Anda mungkin berkhayal mendapatkan pasangan yang ideal, tetapi percayalah keberadaan Tuhan dan kasih-Nya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik. Jika Anda hanya bisa berharap, meraba, siapa jodoh Anda, Anda tak bisa selamanya mengharapkan kebetulan-kebetulan terjadi sementara waktu terus berjalan dan usia Anda makin bertambah. Tapi kalau Anda berharap dengan tetap berusaha, yakinlah bahwa Anda akan menemukan jodoh Anda.

Sumber : http://www.jawaban.com





Sumber Pertengkaran Sblm Menikah

1 11 2008

Menikah? Yang segera terbayang adalah pesta meriah dengan dana tak sedikit, memilih dan membeli baju pengantin, mengundang teman dan sanak keluarga. Tapi tahukah Anda, mengurus perencanaan pesta pernikahan merupakan masa percobaan dalam memasuki hidup perkawinan? Biasanya hal-hal yang dipermasalahkan merupakan petunjuk awal perselisihan yang akan terjadi di masa depan. Apa saja gerangan? Jangan khawatir, selalu ada cara untuk mengatasinya.

1. SOAL KELUARGA
Daftar keluarganya yang harus diundang setiap hari makin panjang, padahal tidak satu pun dari mereka yang peduli apalagi berniat membantu baik secara moril maupun materil. Perselisihan ini merupakan jenis pertengkaran yang bakal sering terjadi di masa mendatang. Sebaiknya bersikaplah tegas. Perlihatkan pada calon suami biaya yang akan dikeluarkan. Tunjukkan pula daftar keluarga Anda dan dia yang sekiranya akan diundang lalu bersama-sama tentukan mana yang perlu dicoret dari daftar demi penghematan.

2. KETERLIBATAN MEMPELAI PRIA
Yang seriang terjadi, si dia malah terkesan tak peduli. Tapi jangan takut, Anda tetap bisa berharap lebih. Sebagai lelaki, biasanya mereka tidak terlalu mahfum masalah dekorasi ataupun model mutakhir untuk kebaya pengantin. Tetapi hal ini tidak berarti Anda kemudian tak melibatkannya. Coba tanyakan apa yang disukainya dan dukung dia untuk ikut terlibat. Pastikan tak ada masalah khusus, misalnya dia merasa orangtua Anda atau orangtuanya kelewat campur tangan urusan rencana pernikahan.

3. UANG
Anda sudah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli gaun pengantin sementara dia ingin berlibur ke Bali atau ke luar negeri. Masalah uang memang sensitif. Coba tanya pada diri sendiri, mengapa Anda ingin mengeluarkan sebegitu banyak uang untuk gaun pengantin? Hal ini perlu disepakati bersama. Paling tidak, bulan madu dapat dinikmati oleh Anda berdua. Duduk dan bicarakan dengan serius mengenai dana yang akan dikeluarkan untuk persiapan pernikahan ini.

4. ADAT ISTIADAT
“Sudahlah, kita enggak usah pakai upacara adat segala. Kelewat njlimet, capek,” begitu biasanya komentar calon mempelai pria. Yang pertama harus dilakukan adalah memastikan calon pengantin pria mengerti apa yang diharapkan dari dirinya. Biasanya mereka tidak tahu bahwa Anda ingin mereka mempelajari tradisi keluarga/daerah asal Anda serta tata cara yang dianut. Topik ini dapat membuat hubungan Anda berdua menjadi lebih dekat, lho. Bila dibicarakan dengan cara yang tenang, damai, dan peka, pembahasannya akan menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi masing-masing.

5. ESTETIKA
Dia menyukai warna hijau tua sementara Anda lebih suka hijau muda. Dia menginginkan ada lilin-liiln di atas meja makan, sementara Anda tidak. Susah, kan? Padahal, Anda ingin si dia lebih terlibat. Masalahnya, pada saat dia mengatakan pendapatnya, timbul lagi masalah baru. Sebaiknya, tentukan prioritas, saling dapat menerima pendapat masing-masing, dan berkompromi. Sangat bijaksana bila Anda berdua sudah mulai belajar bagaimana caranya menentukan prioritas serta berkompromi, karena hal ini akan selalu diperlukan di dalam kehidupan perkawinan Anda berdua kelak.

6. TEMPAT
Masalah di mana acara akan diselenggarakan, juga kerap menimbulkan perdebatan dan diakhiri dengan pertengkaran. “Kenapa di Jakarta? Harusnya di Surabaya karena sebagian besar keluarga saya di sana,” begitu contoh keluhan yang muncul. Agar tak berlarut, tanyakan padanya alasan dia memilih Jakarta dan bukan Surabaya. Apakah karena teman-teman Anda dan dia sebagian besar di Jakarta? Apakah dia lebih mementingkan teman-teman daripada keluarga? Mungkin jalan keluarnya, adakan pesta pernikahan yang resmi di Surabaya lalu Anda dapat mengadakan pesta khusus untuk teman Anda dan dia di Jakarta.

7. CALON MEMPELAI WANITA SUPERSIBUK
Entah karena kelewat bahagia dan antusias, calon pengantin perempuan tiba-tiba jadi supersibuk menyiapkan segala sesuatunya dan sang kekasih merasa “ditinggal”. Bila pesta pernikahan jadi lebih penting daripada hubungan Anda dan dia, Anda harus waspada. Wajar bila Anda menginginkan pesta yang meriah tetapi jangan sampai mengorbankan hubungan dengan si dia. Lagipula, untuk apa? Yang penting adalah masa depan Anda berdua, bukan?

8. TUNANGAN ATAU TIDAK
Bertunangan dapat merupakan aset utama bagi Anda dan dia. Bertunangan merupakan cara lain untuk membicarakan masalah-masalah penting sebelum menikah, baik masalah keuangan maupun masalah-masalah lainnya.

9. MASA LALU
Dia tetap berteman baik dengan mantannya dan ingin mengundangnya ke acara pernikahan Anda berdua. Jelas, Anda tak setuju. Tapi kalau dipikir ulang, mengapa Anda harus pusing dengan masalah itu? Toh, dia sudah memilih Anda sebagai pendamping hidupnya. Jangan kacaukan perasaan Anda dengan rasa cemburu yang tidak perlu. Tunjukkan sikap yang bersahabat dengan mantannya, kenali dia, dan siapa tahu Anda akan menyukainya.

Bila Anda merasa tidak nyaman dan tidak aman, mungkin Anda harus mempertimbangkan kembali pernikahan Anda. Mungkin Anda belum siap. Anda berdua perlu membicarakan, sejauh mana keterlibatan mantan Anda dan mantannya di dalam kehidupan Anda berdua.

Sumber : Kompas





Bocah 8 Tahun Menikah Sehari Sebelum Meninggal

19 09 2008

Menikah, itulah permintaan terakhir Reece, seorang bo cah laki-laki berusia 8 tahun, sebelum meninggal dunia. Merasa aneh mendengarnya? Baca dulu kisahnya…

Reece divonis menderita leukimia sejak 4 tahun lalu dan pada Mei 2008 silam, dokter memperkirakan usianya hanya tinggal beberapa minggu.

Sebelum menemui ajal, Reece megemukakan permintaan terakhirnya kepada sang bunda, Lorraine . Menikah adalah permohonan utamanya selain naik Ferrari dan Porsche, menghabiskan waktu satu hari di kantor pemadam kebakaran dan membuat pesta dengan tema bajak laut.

Semua permintaan kecuali yang utama sudah dipenuhi, namun di hari terakhir anak laki-laki berdarah Inggris itu berkata pada Lorraine , “Aku belum siap pergi bu.”

Reece ingin menikahi teman sedari kecilnya, Elleanor yang sama-sama berusia delapan tahun. Gadis yang baik hati itupun menyetujui keinginan terakhir sahabatnya.

“Pernikahan” digelar dengan ibunda Ellanor, Hannah berperan sebagai pendeta. Kedua “pengantin” kemudian mengucap janji dan bertukar cincin.

Setelah prosesi pura-pura itu, Reece berbaring dan berkata, “Ibu, aku rasa sekarang aku bisa pergi.” Keesokkan harinya, 5 Juli 2008, bo cah penuh keberanian itu menutup usia. [sun/mel]

Sumber : Milist