Bangkit Dari Keterpurukan

4 10 2008

“Jika Anda mau menerima kegagalan dan belajar darinya, jika Anda mau menganggap kegagalan merupakan sebuah karunia yg tersembunyi dan bangkit kembali, maka Anda memiliki potensi menggunakan salah satu sumber kekuatan paling hebat untuk meraih kesuksesan.”

~ Joseph Sugarman

Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan. Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang-orang yang dicintai, disabotase, bangkrut dan lain sebagainya, bisa saja menyeret kita dalam keterpurukan. Bila kita melihat ke sekeliling, begitu banyak orang-orang yang tenggelam dalam keterpurukan dan terjerat cukup lama dalam kegelapan, misalnya menjadi pecandu narkoba, budak hutang dan kemiskinan, korupsi atau melakukan tindak kejahatan lainnya lalu dipenjarakan, dan bentuk kemalangan lainnya.

Bila kita cukup cerdas dalam menghadapi tantangan kehidupan, bermacam bentuk benturan keras seperti itu seharusnya tidak membuat kita semakin terpuruk. Tantangan kehidupan adalah kesempatan untuk introspeksi diri. Benturan keras dalam kehidupan akan menjadikan kita lebih mulia, jika kita segera sadar atas kekeliruan yang telah dilakukan, kelemahan yang harus diperbaiki, kembali menyusun dan melaksanakan rencana dengan lebih baik.

“Remember the two benefits of failure. First, if you do fail, you learn what doesn’t work; and second, the failure gives you the opportunity to try new approach. – Ingatlah 2 keuntungan yang kita peroleh dari kegagalan. Yang pertama adalah mempelajari apa yang tidak berjalan dengan baik; dan kedua adalah menjadi kesempatan bagi kita untuk mencoba pendekatan baru,” kata Roger Van Oech.

Menurut Roger, tantangan kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup supaya kita menjadi lebih cerdas menghadapi tantangan kehidupan. Tokoh-tokoh terkenal dan sukses, misalnya Walt Disney, Soichiro Honda, Thomas Edison, Wright Bros, Fred Smith, Mohamad Ali, Henry Ford, Bill Gates, Steve Jobs, Oprah Winfrey, Christoper Columbus, Anthony Robins, dan lain sebagainya, sudah pernah mengalami keras dan sakitnya kehidupan. Tetapi semua pengalaman pahit tersebut justru membimbing mereka ke gerbang kesuksesan.

Kesuksesan mereka bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor pendidikan ataupun modal, apalagi faktor kebetulan. Mereka berhasil lantaran kekuatan dan kecerdasan mereka menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Paul G. Stoltz, Phd, dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ), ada tiga tipe manusia dalam analogi mendaki gunung:

1. Quitters – orang-orang yang mudah menyerah, sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk dalam kemalangan.

2. Campers – orang-orang yang mudah puas dengan apa yang sudah dicapai, sehingga kehidupan mereka biasa-biasa saja.

3. Climbers – orang-orang yang selalu optimis, berpikir positif dan terus bersemangat kerja sampai benar-benar mendapatkan yang mereka inginkan.

Contoh dari tipe orang ke tiga adalah orang-orang yang sukses di dunia ini. Selalu memanfaatkan kesempatan untuk maju dan pulih dari keterpurukan adalah ciri khas mereka yang utama. Tak mengherankan jika mereka melalui setiap rintangan dengan tabah, berjuang keras, dan mental yang kuat.

Tantangan kehidupan memang tidak pernah ada habisnya. Tetapi selama kita terus berusaha memperbaiki diri dan strategi ditambah dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, maka kita akan dapat mencapai tujuan tertinggi. “Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fail. – Kejayaan tertinggi bukan karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena kita selalu bangkit lagi ketika gagal,” cetus Confucius.

Oleh sebab itu, perbaiki diri terus-menerus, jangan menunggu sampai kemalangan itu benar-benar datang. Mantapkan keyakinan ketika membuat perencanaan dan menetapkan target yang memungkinkan tercapai. Kemudian langsung melakukan langkah-langkah untuk memastikan hasil maksimal, dengan penuh komitmen dan kerja keras, kecintaan dan semangat. Dengan demikian kita akan memiliki kepekaan sekaligus keseimbangan disaat harus menghadapi tantangan kehidupan yang cukup keras.

Mulai detik ini tanyakanlah pada diri sendiri seberapa besar pengaruh positif yang telah Anda dapatkan atas berbagai situasi yang Anda alami? Pastikan tantangan hidup selama ini membawa Anda pada kedewasaan, kebijaksanaan dan kualitas spiritual yang lebih baik. Dengan demikian Anda akan dapat menilai apakah Anda sudah mampu bangkit dan menjadi manusia yang lebih mulia atau belum.

Sumber: Bangkit Dari Keterpurukan oleh Andrew Ho, motivator, pengusaha, dan penulis buku-buku bestseller.

Advertisements




Ubah Cara Pandang Kita

15 09 2008

Sebuah keluarga, ayah ibu dan dua anak. Pada hari liburan sang ayah berencana mengajak seluruh keluarga camping. Saat hari libur tiba, seluruh keluarga mempersiapkan keperluannya masing2 karena mereka akan berangkat jam 10 tepat, begitu janji sang ayah.

Sementara si itu ayah masi tidur. Pada jam 09.45, sang ayah bangun dan memeriksa keadaan apakah semua sudah siap. Ia mendapati istriny sedang menyiapkan bekal. dengan agak emosi, ia menegur istrinya ” kok belom siap juga si ma?!”, ” iya pa, bentar lagi, kerjaan mama kan banyak yg disiapin buat kita”.

Lalu si ayah mendapati anak sulungnya, telah rapi dan siap menunggu di ruang tamu, si ayah tersenyum puas. Ketika ia mendapati anak bungsunya, telah siap dengan berbagai keperluannya, tetapi masih memainkan video game di kamar, si ayah langsung emosi lagi “Aihhhh!! kok kamu masi maen sih!! sana siap siap, beres – beres! ini sudah jam 09.45, sebentar lagi kita berangkat! ntar kamu ditinggal loh!!!”.

Si bungsu dengan senyum rada jengkel, menegur sang ayah ” pa, gimana sih, bisa ngomel2 aja. kita itu sudah siap2 dari pagi, papa masih tidur. sekarang kita tinggal tungguin papa. gimana mo pergi, papa aja masi belom mandi, belom periksa dan panasin mobil, jangan marah doang donk pa!”

Peristiwa semacam ini tidak asing dan sering kali terjadi, betul? biasa para ayah memang suka paling akhir menyiapkan keperluan seperti cerita di atas, benar tidak? Tapi mari kita tarik benang merah cerita ini. Kejadian seperti ini sangat sering terjadi. Kita sering kali menginspeksi persiapan orang lain, sementara kita sendiri sering kali tidak siap. Kita sering kali menghakimi orang lain tanpa melihat diri kita. Sering kali kita menilai ” apakah itu layak untuk ku,” tanpa melihat ” apakah aku layak untuk itu.” Kita sering kali merasa lebih dari orang lain. kita sering merasa kita lebih penting dari yg lain. Kita sering berpikir, “apakah kamu sudah siap untuk aku?”, tanpa berpikir “apakah aku sudah siap untuk kamu?” Mari kita belajar, ubah cara pandang kita. Respect the others more.





Cermin Diri

15 09 2008

Apakah teman – teman sering bercermin? Apa yang terlihat di cermin tersebut? Tentunya bayangan diri kita bukan? lalu apa yang terlintas di dalam pikiran teman – teman ketika melihat bayangan diri teman – teman di cermin itu? Mungkin terlintas : aku ini cukup ganteng / cantik juga, rambut sudah tapi belum ya, pakaian sudah cocok belum. Kadang kita melihat bayangan kita :loh ada jerawat, atau muka kelihatan kusam, dan sebagainya. Hasil dari pengamatan bayangan kita di cermin akan terlihat dari tindakan kita selanjutnya. Bila kita merasa bayangan yang kita lihat di cermin sudah “ok”, maka kita akan merasa percaya diri, tapi jika kita melihat “noda jerawat” atau kulit kusam, kita akan kurang percaya diri, mungkin kita akan segera mengambil sabun pembersih wajah dan mulai membersihkan wajah kita agar terlihat lebih bersih.

Dari contoh nyata di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa bagaimana bayangan dari cermin yang kita lihat, akan mempengaruhi tindakan atas diri kita. Itulah yang dimaksud cermin diri. Sering kali kita merasa diri kita ini lemah, tidak mampu, bodoh, dan sebagainya. Kita sering menghakimi diri sendiri, sehingga kita merasa rendah diri. Akibatnya itu akan berpengaruh pada setiap pekerjaan tangan kita.

Bila kita sudah merasa kita tidak mampu sebelum kita mencoba, maka kita sudah kalah setengah jalan. Maka saat ini aku ingin mengajak teman-teman bagaimana mempunyai cermin diri yang benar.

Cermin diri sangat penting bagi kita dalam menentukan sikap kita terhadap sesuatu. Kita harus dapat belajar menghargai diri kita sendiri. Kita harus dapat belajar berbagai kelebihan yang kita miliki, jangan selalu memandangn rendah diri sendiri. Bagaimana kita dapat dihargai orang lain jika kita tidak mengnhargai diri kita sendiri? Bagaimana kita ingin dipandang “luar biasa” oleh orang lain jika kita sendiri rendah diri?

Sebenarnya apa yang membuat kita merasa rendah? Mungkin kita membandingkan diri kita dengan orang lain, mungkin kita pernah mengalami kegagalan sebelumnya, atau mungkin kita merasa takut dengan hal terutama hal yang baru yang akan kita hadapi. Sebenarnya semua itu hanya sebuah sugesti yang dibuat oleh diri kita sendiri.

Tidak ada cara lain mengatasinya kecuali melwan semua itu sendiri. Kita harus mempunyai pikiran yang positif, dan menghilangkan semua pikiran – pikiran negatif.

Kita jangan membandingkan diri dengan orang lain lalu merasa kalah. Mungkin kita memang tidak sebaik orang lain tersebut, mungkin ia mempunyai sesuatu yang lebih dari diri kita, akan tetapi setiap orang diciptakan Tuhan dengan talentanya masing – masing, setiap kelebihan pasti ada kekurangan, dan setiap kekurangan pasti ada kelebihan. Jika orang lain mampu melakukannya, kita juga pasti bisa melaluinya.

Bagaimana jika kita trauma dengan kegagalan yang pernah kita alami? Kegagalan jangan dijadikan suatu hambatan, melainkan suatu motivasi. Kuncinya hanya satu, yaitu “berani gagal”. Kegagalan bukanlah kehancuran, tetapi kegagalan itu adalah bumbu kemenangan, ada yang bilang kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda.

Apapun opini dan pendapat orang tentang kegagaln, mari kita melihat makna dari kegagaln itu sendiri. Seseorang yang pernah jatuh, pasti akan lebih hati – hati lagi jika melalui jalan yang sama. Jangan takut untuk mencoba, jika belum melalui, kita tidak akan mengetahui hasilnya, gagal pun lebih baik dari pada pasrah apalagi tidak mencoba sama sekali. Kita akan dapat merasakan kegagalan itu “indah” jika kita telah berusaha dan mengerjakan dengan sebaik-baiknya.

Mungkin yang kita hadapi memang adalah hal yang sulit, sukar, luar biasa besar, tetapi ingatlah bahwa Tuhan ada bersama kita, Ia ada dipihak kita, siapakah lawan kita? Kita berpikir, “memang sulit, tetapi bersama Tuhan, apa yang tidak bisa aku kerjakan?”. Mari kita sama – sama belajar melihat cermin diri yang benar tentang diri kita.





Tersenyum

15 09 2008

Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.

Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama “Tersenyum”.

Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.

Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan “hello”, jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak bungsu saya, dan saya pergi ke restoran McDonald’s pada suatu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering.

Ini adalah salah satu cara kami dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.

Saya tidak bergerak sama sekali…Suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.

Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang “tersenyum”.

Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata “Good day” sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, “Kopi saja, Nona” karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
(Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).

Kemudian saya benar-benar merasakannya – desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata “Terima kasih.” Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, “Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan.”

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, “Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan.”

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah.

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan “proyek” saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?” Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas.

Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan..

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang yg ada diMcDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi..

Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT. Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk MENINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.

Seorang malaikat menulis: Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.

Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak; tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.

Orang-orang muda yang cantik adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya seni.

Belajarlah dari kesalahan orang lain. Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.





Semua Itu Baik

15 09 2008

“Semua itu baik,” setuju gak? Mungkin sebagian besar akan bilang setuju, tetapi ada juga yang enggak. Kontroversi dan beda pendapat adalah hal biasa dalam kehidupan. Perbedaan menyebabkan hidup lebih menarik untuk di jalani, betul? Coba bayangin klo semua orang di dunia ini memiliki hanya satu agama, sat pendapat, satu pikiran, wa… hidup ne kayak robot, ga asik. Dengan adanya perbedaan maka kita dapat saling mengisi dan melengkap, betul?

Udah, menyimpang tu dari judul. Kembali ke smua itu baik, setuju ga setuju, harus terima. Mungkin ada yang protes, ah, gak smua baik, hidup saya malang. Keluarga berantakan, studi ngawur, ekonomi gak beres, jodoh gak jelas, masa depan suram, gimana saya mo bilang semua itu baik?? Loh loh loh…stop dulu, klo sampe separah itu, ada kutuk pak, silahkan hubungi pelayanan pelepasan di gereja terdekat. Wah, menyimpang dari topik lagi.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, itu semua untuk kebaikan. Mungkin sesekali kita gagal, mungkin kita kurang beruntung jika dibanding orang lain. Sering kali kita merasa iri dalam hati kita, andai aku seberuntung dia. Sering bisikan di dalam hati, kok hidup ku begini sih, kokbegitu sih. Tapi percayalah teman – teman bahwa rancangan Bapa di Surga adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan, rancangan yang sempurna dan tidak pernah gagal.

Terus klo memang rancangannya baik, kok begini? Kalo Tuhan rancang gak begini, mungkin seperti itu aja deh, hidup ku akan lebih baik. SALAH Saudara. Tuhan mengenal setiap pribadi kita lebih dari siapapun, lebih dari diri kita. Dia telah mengerti setiap sudut hatimu bahkan sejak kau dalam kandungan ibumu.

So, klo keluarga berantakan, ato klo usaha gagal, studi hancur, ato jodoh gak jelas, masi bisa dibilang baik? Baik dari mana? Dari hongkong? Ya, semua itu baik. Kenapa? Dari setiap peristiwa, entah apakah peristiwa itu baik atau buruk menurut kita, ada hal yang mau Tuhan ajar kepada kita. Ada sesuatu yang indah yang Tuhan mau tiap kita untuk bisa kita mengerti. Dan semua itu baik adanya, sekarang tergantung kita, apakah kit bebal atau tidak? Mau belajar atau tidak? Mau didik atau tidak?

Soal hidup, kita itu masi seperti anak kecil Saudara, ibarat anak SD dan Tuhan yang menciptakan kehidupan .melebihi profesor donk, Tuhan mo ajar kita tentang pelajaran kehidupan. Anak SD mo debat lawan profesor? Kita sering kali sok tau, padahal kita gak taw apa – apa. Kita hanya sedikit ‘mengintip’ apa yang namanya HIDUP itu. Just a little peek and u know anything? Kita belum melihat keseluruhannya, the whole package. Semua yang kita rasakan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat itu baru sebagian dari kehidupan, betul?

Sering kali manusia itu hanya mengingat dan mengabarkan hal yang buruk, yang baik dilupakan. Misal suami isteri bercerai (jangan ya!), si suami kemana – mana bilang mantan isterinya cerewet, galak banget, klo ngomel dah kayak burung beo. Si isteri bilang si suami itu orang nya egois, apa – apa maunya sendiri, keras kepala, gak peduli sama keluarga. Banyak sekali kejadian seperti ini saudara. Setelah cerai yang diinget yang jelek – jelek. Mereka gak inget yang baik dan bagus. Misal si mantan isteri walau cerewet tetapi sayang sama keluarga, sayang suami sayang anak. Si mantan suami walau egois, tetapi setia dan jujur, sesekali dia bisa romantis. Hal baik itu gk pernah diceritain ke orang. Itulah jeleknya manusia.

Kembali lagi, apa hubungannya dengan semua itu baik? Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah peristiwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita tidak pernah lepas dari rencanaNya yang sempurna. Mari kita sama – sama belajar hal berikut ini :

Malam yang gelap ada agar kita bisa mensyukuri datangnya pagi,

Air mata diciptakan sehingga kita bisa tertawa,

Kesalahan dibuat sehingga kita bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk,

Kemarahan ada sehingga kita bisa belajar memaafkan,

Kemalangan hadir agar kita bisa belajar bersyukur.





Arah Pandang Kehidupan

14 09 2008

Kadang kita sering kali lupa bersyukur atas kehidupan kita. Kita sering lupa, bahwa setiap kita diciptakan unik, dan memilki jalan hidup masing yang berbeda yang Tuhan persiapkan untuk setiap kita sering kali membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain. Hal itu sebenarnya tidak salah, kita perlu memiliki referensi dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat bercermin diri. Akan tetapi sering kali kita “salah referensi”, kita salah dalam membandingkan. Bukan contoh pembandingnya yang salah, tetapi cara kita membandingkan yang sering kali tidak benar.

Manusia itu sering kali membandingkan diri  dengan orang lain. Kita sering melihat orang lain “di atas” kita sebagai contoh, teladan, ataupun rival diri untuk mendapatkan motivasi. Hanya saja, sering kali manusia kecewa, terutama bila ia tidak mampu melebihi atau paling tidak menjadi setara dengan pembandingnya. Sering kali timbul pertanyaan dan pernyataan ;mengapa Tuhan tidak beri aku kemampuan, kekayaan, ketampanan, kesuksesan(dsb) seperti dia? Mengapa ia tidak diciptakan menjadi manusia yang lebih baik? Mengapa Ia ditakdirkan hidup seperti ini? Sering kali terasa hidup itu tidak adil. Ia akan merasa rendah diri dan seolah hidupnya penuh dengan tekanan dan penderitaan. Ia akan menyesali hidupnya.

Kita tidak boleh selalu melihat ke atas, kita harus bisa melihat ke bawah, maka kita akan belajar bersyukur. Mari lihat orang – orang yang tidak mempunyai kemampuan seperti kita. Lihatlah mereka yang kurang dari pada kita, yang mungkin kurang sukses, kurang dalam materi, dalam hal fisik, terutama mereka yang cacat. Kita melihat mereka bukan untuk menyombongkan diri kita, atau meremehkan kita, tetapi kita akan dapat belajar bersyukur. Bahwa kita dikaruniai sesuatu yang lebih. Jika bisa, lakukan sesuatu untuk mereka.

Demikian juga kita tidak boleh hanya melihat ke depan  dalam menjalani hidup ini. Kita tidak boleh hanya fokus pada diri kita sendiri. Jika hanya melihat ke depan, kita akan menjadi manusia yang solid, egois, dan hanya mementingkan kita dan tujuan serta kepentingan hidup kita. Kita juga harus dapat melihat ke kanan dan ke kiri, yaitu sahabat, teman, dan sesama kita. Manusia adalaha makhluk yang membutuhkan orang lain. Jika hanya melihat lurus ke depan, kita hanya akan berjalan dalam kesendirian dalam mencapai masa depan. Kita juga harus menoleh kebelakang. Jangan pernah lupa akan masa lalu kita, bak kacang lupa terhadap kulit. Karena masa lalu adalah alasan kenapa dan bagaimana kita ada sekarang ini. Kita harus menjadikan masa lalu kita sebagai motivasi, pembelajaran, dan pegangan. Akan tetapi jangan terus menoleh kepada masa lalu, maka kita tidak akan pernah dapat berjalan lurus ke depan.

Inilah yang disebut cara pandang hidup secara 3 dimensi. Kita harus dapat melihat ke segala arah, maka kita akan dapat bersyukur dalam menjalani hidup. Dengan belajar bersyukur kita akan merasa hidup kita lebih indah, berharga, dan berarti Kita tidak akan menyesali hidup kita, tetapi kita tidak akan pula menjadi manusia yang sombong dan lupa kepada Tuhan seta sesamanya.





Diam, Renungkan dan Bertindak

14 09 2008

Di sebuah toko kayu ada sekelompok pekerja yang sedang bekerja memotong kayu. mereka begitu berkonsentrasi pada pekerjaan mereka hingga mereka di kejutkan oleh teriakan dari salah seorang kawan sekerja mereka.

Ternyata kawan mereka itu kehilangan jam tangannya. karena terlalu asyik bekerja ia tidak menyadari jamnya itu jatuh dan akhirnya hilang. dia begitu sedih karena jam itu adalah hadiah dari ayahnya yang begitu berharga. Karena kasihan maka teman temannya membantu mencarinya.  Tapi sayang, mereka tidak dapat menemukannya. mereka kelelahan dan memutuskan untuk berhenti mencari dan beristirahat..

Di kejauhan ada seorang anak kecil yang memperhatikan kelompok penebang pohon ini. ketika para pekerja ini beristirahat, ia mendekati tempat pekerja ini bekerja.

Ia berdiri,berjongkok lalu berjalan pelan-pelan dalam diam. Begitu terus dilakukan hingga akhirnya ia berjongkok agak lama pada sebuah tumpukan kayu. para pekerja yang melihatnya merasa bingung tapi tak ada satu pun dari mereka yang bersuara.

Hingga akhirnya si anak ini datang pada pekerja yang kehilangan jam tangannya. Dia datang sambil membawa sebuah jam tangan.

“maaf pak apa jam ini yang bapak cari?” kata anak itu

pekerja itu tampak terkejut sekaligus senang

”Be..betul nak” katanya seraya mengambil jam itu. “Tapi, bagaiman kamu bisa menemukannya?”

“Kami yang jumlahnya banyak bahkan tidak bisa menemukannya?” pekerja itu bertanya heran.

Si anak itu tersenyum lalu berkata ” yang aku lakukan hanya diam sebentar maka, akan kedengaran tik…tik…tik nah dari situ aku tau dimana jam ini”

Kadang dalam menghadapi masalah kita selalu ingin buru-buru menyelesaikannya. Kita berusaha mengerahkan seluruh kemampuan manusia kita. Bahkan ada yang karena terburu-burunya hingga lupa bahwa ia tidak melibatkan Tuhan dalam usahanya.

Pada akhirnya kita menyerah karena frustasi dan kelelahan hingga menyalahkan Tuhan atas semua ini.

Padahal teman,yang seharusnya kita lakukan sebelum bertindak adalah diam sebentar, bawa di kaki Tuhan,renungkan lalu dengarkan “tik…tik…tik” maka kita akan temukan “Jam tangan” kita.