Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

18 12 2008

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik! Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ? Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya; Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku ujar suamiku. Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.

Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku. Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua!

Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.





Kapan Memutuskan Menikah?

28 11 2008

Perkawinan merupakan komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan. Pastikan Anda menikah untuk alasan yang tepat, bukan untuk alasan yang salah.

Rasanya tak ada salahnya Anda mengajukan tiga pertanyaan berikut pada diri sendiri sebelum memutuskan naik pelaminan.

1. Apakah Anda berdua saling cocok?

Di dalam sebuah perkawinan, definisi kecocokan agak sedikit berbeda dan artinya lebih dari hanya memiliki kesamaan hobi, gemar makanan yang sama, film dan musik yang sama, dan seterusnya. Cocok di dalam sebuah perkawinan adalah memiliki kemampuan beradaptasi untuk berubah.

Penting diingat, manusia secara tetap berubah dari hari ke hari dan akan terus demikian di dalam perkawinan. Pekerjaan, anak-anak, mertua, merupakan beberapa perubahan yang berlangsung di dalam perkawinan. Kuncinya adalah memiliki pandangan yang sama dan tahu bagaimana mengatasi hubungan Anda berdua bila memiliki pandangan yang berbeda.

2. Apakah Anda berdua saling percaya?

Perkawinan tanpa rasa saling percaya bisa ditebak merupakan perkawinan yang akan berakhir dengan perceraian. Memiliki kepercayaan dari pasangan, merupakan suatu keharusan di dalam suatu hubungan. Bila ada keragu-raguan antara satu dan lainnya, berarti tidak ada rasa percaya. Suatu hubungan tumbuh dari rasa saling percaya dan tidak dapat bertahan tanpa rasa saling percaya.

3. Adakah komunikasi?

Tidak adanya komunikasi dapat menghancurkan suatu hubungan. Komunikasi sangat penting di dalam suatu perkawinan. Orang yang menikah perlu berkomunikasi setiap saat. Berbicara hanya pada saat genting atau tidak berbicara sama sekali, hanya menyakiti hubungan tadi. Tidak adanya komunikasi juga membawa pernikahan kepada perceraian.

Pasangan yang bercerai pada umumnya mengeluh, pasangannya tidak pernah mendengar apa yang mereka katakan atau menghindari percakapan dengan mereka. Komunikasi penting di dalam suatu hubungan. Bila tidak pernah berkomunikasi, bagaimana Anda tahu bahwa Anda saling cocok dan saling percaya satu sama lain?

Nah, bila Anda dan pasangan dapat menjawab ketiga pertanyaan di atas secara jujur dan saling memberikan jawaban yang memuaskan satu sama lain, mungkin perkawinan merupakan ide yang baik bagi Anda berdua. Namun, bila salah satu faktor di atas tidak ada, menikah merupakan ide yang kurang tepat. Perkawinan antara dua orang manusia harus berlangsung hanya bila memiliki ketiga faktor di atas.

Sumber : Kompas





Seperti Apa Perkawinan Anda Kelak?

8 10 2008

Seperti apa perkawinan Anda kelak? Semua bisa dilihat sejak dini, antara lain dari kedekatan calon suami dengan orangtuanya.

Seberapa dekat pasangan Anda dengan orangtuanya? Apakah dia selalu membicarakan mereka dengan kehangatan atau hampir tak pernah bercerita? Apa pun jawabannya, penting Anda ketahui. Menurut Rebecca Ward M.S.W., dalam bukunya How to Stay Married Without Crazy, hubungan calon suami dengan orangtuanya merupakan salah satu pengaruh paling besar dalam perkawinan nanti. Bahkan, hal itu bisa memberi petunjuk seberapa baik dia beradaptasi dalam perkawinan.

Menurut para psikolog, 85% lelaki jatuh cinta pada 1 dari 2 tipe ekstrim ini, yaitu perempuan dengan karakter mirip orangtua si lelaki atau jauh berbeda dari orang tuanya. Jika pasangan Anda tidak berada di dua tipe tersebut, carilah yang paling dekat.

Persatuan Dua Tradisi
Kalau pasangan:

– Sering menelepon ibunya tanpa perlu Anda ingatkan.
– Tersenyum ketika cerita tentang ibunya.
– Membela sang ibu jika Anda menjelekkannya.

Artinya: Pasangan memiliki hubungan istimewa dengan ibunya. Namun, ia tak keberatan punya hubungan spesial dengan perempuan lain, yaitu Anda. Pengertian Anda akan hubungan istimewa mereka bisa membuat calon ibu mertua merasa Anda adalah perempuan yang cocok mendampingi anaknya.

Perkawinan Anda kelak: Akan jadi sebuah persatuan tradisi (tradisi sang ibu mertua dan tradisi Anda sendiri). Konflik pasti ada. Namun, Anda akan bahagia jika menyadari dan siap bahwa sesekali pasangan akan membandingkan Anda dengan sang ibu. Tenang saja! Setelah beberapa tahun rumah tangga berjalan, perbandingan itu akan pudar dan akhirnya hilang sama sekali. Lagipula, lelaki yang sayang dan hormat pada ibunya, tentu akan menghargai perempuan lain dalam hidupnya.
Patriarki
Kalau pasangan:

– Selalu bercerita tentang ayahnya dengan bangga.
– Sering meminta saran ayah.
– Mencoba bersikap seperti sang ayah.

Artinya: Pasangan akan menjadi suami dan ayah yang baik. Memang ia akan banyak meniru sang ayah bagaimana memperlakukan istri dan anak-anaknya. Namun, jika calon ayah mertua Anda memiliki perkawinan yang bahagia, Anda tentu beruntung. Pasangan pasti juga ingin memperlakukan Anda seperti sang ayah membahagiakan ibunya.

Perkawinan Anda kelak: Kadang diwarnai pertengkaran, meski Anda dan pasangan saling mencintai. Terlebih, jika pengaruh si ayah sangat kuat. Memang tidak menyenangkan jika ayah mertua selalu ikut campur, termasuk dalam urusan rumahtannga Anda. Namun, jangan khawatir! Dalam hubungan jenis ini, akhirnya keinginan istrilah yang akan menang dan dituruti.
Anda Adalah Bos
Kalau pasangan:

– Jarang bicara tentang ibunya.
– Baru akan menelepon sang ibu setelah Anda suruh
– Membiarkan Anda bicara banyak saat bersama ibunya.

Artinya: Anda tak perlu cemas akan bersaing dengan ibunya. Pengaruh sang ibu tidak dominan dalam kehidupan pasangan. Bahkan, dia mungkin senang karena Anda tak bersikap seperti ibunya.

Perkawinan Anda kelak: Seperti partnership. Memang kadang Anda tidak setuju dengan pasangan. Namun, secara keseluruhan Anda dan dia akan saling menyenangkan. Hindari bersikap seperti sang ibu memperlakukan pasangan. Sebab, dia bisa marah pada Anda.
Tim Kompak
Kalau pasangan:

– Jarang menyinggung soal ayahnya.
– Tidak bisa mengobrol banyak dengan sang ayah.
– Baru mengunjungi ayahnya jika Anda menyarankan acara kumpul bersama keluarga.

Artinya: Anda berada pada posisi setara dengan pasangan. Apalagi jika dia juga tidak dekat dengan ibunya. Dia akan respek pada pendapat Anda melebihi opini siapa pun.

Perkawinan Anda kelak: Seperti sebuah tim. Lelaki yang bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam perkawinan adalah yang dapat mengatur hidupnya tanpa campur tangan ayah atau ibunya. Nilai plusnya, pasangan mungkin akan ingat semua sifat ayahnya yang tidak ia sukai dan berusaha melakukan kebalikannya. Jika ayah cenderung jauh dari anak, maka dia akan berusaha menjadi ayah yang terlibat dalam hidup anaknya. Yang harus Anda lakukan adalah manjakan pasangan dan biarkan dia memanjakan Anda. Anda berdua sangat mandiri hingga kadang lupa betapa menyenangkan jalan bersama.

Sumber : Kompas





Mitos Dalam Pernikahan

5 10 2008

Tidak mudah memang mengambil keputusan untuk menikah. Selain diperlukan sikap dewasa dan tanggung jawab yang besar dalam mengarungi sebuah rumah tangga, juga dibutuhkan persiapan matang dalam segala sesuatunya.

Oleh karena itu tidak sedikit pasangan yang kerap kali ragu-ragu dalam menentukan hari pernikahan mereka. Ditambah lagi dengan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat pada umumnya. Mitos-mitos ini masih dipercaya hingga sampai saat ini.

Seperti yang dikutip dalam Femalefirst, wanita kerap kali mengurungkan niatnya ketika pasangannya mengajaknya menikah, hal ini juga disebabkan beberapa mitos yang berkembang di masyarakat, seperti:

Karir sulit berkembang

Hal yang paling ditakuti wanita adalah pada saat ia telah menggapai impiannya dan karirnya dalam pekerjaan semakin mapan, tanpa diduga sang kekasih hati mengajaknya menikah.

Cenderungnya bagi sebagian wanita hal ini merupakan ancaman, karir yang telah dibina dengan susah payah kini menjadi lebih sulit untuk berkembang dan beberapa di antara mereka kerap meminta pasangannya untuk fokus mengurus rumah tangga tanpa harus pergi ke kantor setiap hari.

Apabila Anda tidak setuju akan pendapatnya, tidak perlu marah tapi bicarakanlah dengan baik-baik agar Anda tetap bisa mengurus rumah tangga tanpa harus membatasi karir yang semakin lama semakin berkembang.

Perlakuan yang berubah

Ketika sedang menjalani tahap pacaran, si dia tampaknya begitu manis dan penuh perhatian. Kini setelah menikah, dia berubah 180 derajat. Hal inilah yang sering menggangu pikiran wanita. Mereka menganggap pasangannya kini sudah berubah menjadi pribadi yang tidak lagi penuh dengan perhatian dan romantis ketika mengarungi bahtera rumah tangga.

Padahal yang sesungguhnya terjadi, kaum adam beranggapan bahwa masa pacaran yang penuh dengan keromantisan telah terlewati dan sekarang adalah waktunya untuk menjalani sebuah pernikahan yang penuh dengan tanggung jawab.

Bagaikan Terpenjara

Sebelum menemukan pasangan hidup, wanita atupun pria bisa bebas melakukan apa saja tanpa adanya larangan dari pihak manapun. Kini setelah menikah bukan hanya larangan saja, tetapi banyak peraturan yang diterapkan pasangan Anda yang harus ditaati. Rasanya seperti terpenjara bila orang yang paling kita cintai sedikit membatasi aktivitas kita.

Bila dilihat dari segi positifnya, belum tentu pasangan bermaksud membatasi kebebasan. Ini adalah sebagian dari rasa sayangnya yang ingin melindungi Anda dan mengingatkan bahwa kini Anda tidaklah sendiri lagi.

Sumber : Okezone





Cinta Dan Perkawinan

23 09 2008

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.

Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.

Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia – sialah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.





Dibentuk dalam Pernikahan

18 09 2008

As iron sharpens iron, so one person sharpens another (Proverbs 27:17)

Pernikahan merupakan relasi terdalam yang dapat dimiliki manusia dengan manusia lainnya. Relasi terdalam ini dapat membuat kita merasa berada di jurang yang dalam, di mana sebelumnya dengan buta kita bersedia dituntun ke pinggir jurang dan diajak untuk mencemplungkan diri ke dalamnya. Dan inilah kenyataan yang dirasakan banyak orang, bahwa mereka merasa ditipu oleh angan-angan/ impian indah yang mereka nanti-nantikan tentang pernikahan. Mereka merasa ditipu oleh janji dan rencana pasangannya bahwa mereka akan berubah menjadi orang yang lebih baik, tetapi tidak pernah dipenuhi. Mereka merasa kecewa dan putus asa melihat sifat dan perilaku buruk pasangannya yang tidak pernah berubah dan kelihatannya tidak akan berubah.

Satu hal yang mungkin mengejutkan hampir semua orang dalam pernikahan adalah perasaan diawasi sepanjang waktu, di pagi hari, di malam hari, di tempat tidur dan di kamar mandi, ketika berpakaian ataupun telanjang. Bahkan bukan hanya ketika pasangan kita muncul secara fisik, tetapi juga saat mereka tidak bersama dengan kita, tetapi hadir di dalam hati dan pikiran kita. Inilah relasi di mana satu orang hidup berdampingan dengan (dan diatur oleh) manusia lain setelah sebelumnya ia merasakan kebebasan yang dimulai ketika ia remaja. Semua perilaku kita diamati, seakan-akan ada kamera yang menyorot kehidupan kita selama 24 jam. Seluruh kata-kata kita didengar dan dikoreksi. Pernyataan kita dipertanyakan maksudnya. Seluruh keputusan pribadi harus dibicarakan terlebih dahulu. Seluruh waktu dihabiskan untuk menyenangkan pasangan kita. Bahkan cara kita melakukan sesuatu mungkin dikritik atau dianggap lucu.

Mengapa kita merasa risih dilihat dan diperhatikan sepanjang waktu adalah karena kita berdosa. Ketika Adam dan Hawa diciptakan Allah dalam keadaan tidak berdosa, “mereka berdua telanjang dan tidak merasa malu”, karena tidak ada yang perlu disembunyikan di antara mereka (Kejadian 2:25). Namun begitu mereka jatuh, mereka langsung membuat cawat untuk menutupi tubuh mereka (Kejadian 3:7). Mereka menutupi tubuh bukan karena dingin, tetapi karena mereka berdosa dan merasa malu oleh keberadaan diri yang berdosa. Satu-satunya ciptaan yang menutupi tubuhnya adalah manusia, sementara ciptaan lainnya telanjang di hadapan Tuhan dan memancarkan kemuliaanNya. Rasa malu muncul ketika kita tidak punya apa-apa lagi yang bisa kita banggakan. Di dalam dosa kita menjadi gambar Allah yang rusak, yang berubah menjadi gambar yang tidak membanggakan dan memancarkan kemuliaanNya.

Kita tidak ingin orang lain tahu apa yang kita lakukan, terlebih oleh pasangan kita. Kita tidak ingin pasangan kita tahu bahwa kita mencemooh orang lain. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita malas pergi kerja. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita malas membersihkan rumah atau bahkan tubuh kita. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita mudah sekali marah oleh hal-hal kecil atau oleh kesalahan orang lain. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita menyimpan dendam pada orang tertentu. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita belum menyelesaikan ketegangan dengan keluarga kita selama bertahun-tahun. Kita tidak ingin ia tahu apa yang kita lakukan di kamar mandi ketika tidak ada orang yang melihat. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita menyembunyikan perasaan tertentu pada lawan jenis kita yang lain.

Kita ingin dilihat sebagai orang baik yang penuh perhatian dan kasih sayang padanya. Kita ingin ia memiliki image tentang kita sebagai orang yang bertanggung jawab, berani, bersedia berkorban, dewasa, dan dapat diandalkan. Kita ingin ia menganggap bahwa kita adalah orang yang menyenangkan sepanjang waktu, konsisten dan independen. Demikian jugalah yang dirasakan oleh pasangan kita. Ia ingin kita melihatnya sebagai pasangan yang sempurna bagi kita. Ia ingin kita mengasihinya karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik bagi kita.

Namun kita harus menyadari bahwa ini bukanlah kenyataannya. Natur kita bukanlah melakukan apa yang baik. Natur kita bukanlah untuk menyenangkan orang lain, karena sebenarnya kita ingin menyenangkan diri sendiri. Kita ingin pernikahan membuat kita bahagia. Kita ingin pasangan kita berubah, bukan menjadi serupa dengan Kristus, tetapi menjadi seseorang yang serupa dengan diri kita. Kita ingin pasangan kita membahagiakan kita, berkorban untuk kita, dan memenuhi kebutuhan kita. Kita merasa malu apabila pasangan kita melakukan kesalahan di depan orang lain, sehingga kita turut menyalahkannya karena membuat kita merasa demikian. Kita merasa sebal/ kesal ketika pasangan kita tidak memenuhi janjinya atau tidak juga berubah menjadi gambaran ideal yang kita miliki tentangnya.

Inilah relasi di mana kita melawan natur kita sebagai orang berdosa, di mana setiap hari kita harus ‘mati’ untuk pasangan kita. Setiap hari kita dikikis dan dibentuk oleh pasangan kita dengan melepaskan lapisan-lapisan kesombongan dan ego yang kita kenakan, agar pasangan kita dapat melihat seutuhnya siapa kita yang sebenarnya. Kita yang sebenarnya adalah orang yang penuh dengan kelemahan dan dosa. Di sinilah, ketika kita tiap hari rela mati terhadap diri sendiri untuk hidup bagi pasangan kita, maka kita akan ditajamkan untuk menjadi makin serupa dengan Kristus. “Seperti besi menajamkan besi, demikian manusia menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Tidak ada hubungan lain selain pernikahan di mana kita benar-benar diasah dengan keras dan menyakitkan untuk menjadi makin tajam di dalam karakter yang ilahi.

Kemalasan untuk mengasihi dikikis karena setiap hari kita harus mengasihi pasangan kita, bahkan setiap detik hidup kita. Nafsu terhadap orang lain di luar pernikahan dikikis karena untuk memperhatikan pasangan kita tanpa membaginya dengan orang lain saja sudah bisa membuat kita kewalahan. Ketika kita sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan pasangan kita, maka kita tidak akan punya waktu lagi untuk melihat apakah ada orang lain yang lebih menarik di luar sana. Kesombongan diri dikikis karena pasangan bisa melihat dengan jelas kekurangan kita. Kita tidak lagi bisa mengakui bahwa kita adalah orang yang bisa segala-galanya, karena mungkin membetulkan atap yang bocor saja kita tidak mampu. Keegoisan dikikis karena pasangan kitalah yang harus menang, yang harus diperhatikan.

Pengikisan/pengasahan paling tajam adalah ketika kita harus menghadapi akibat dari dosa pasangan kita terhadap kehidupan pernikahan kita. Karena di sinilah kita merasa paling sakit. Saat inilah kita merasa diremukkan dan dihancurkan oleh pasangan kita, sementara di saat yang sama kita harus bangkit bagi pasangan kita. Satu-satunya cara untuk bertahan dan menang terhadap pembentukan ini ialah dengan kasih. Di dalam kasih, kita akan dimampukan untuk berani menghadapi dan menanggung dosa pasangan kita. Karena itulah kita tidak lagi menjadi takut atau malu terhadap pasangan kita, karena kita tahu bahwa iapun bersedia menanggung dosa kita. Cinta sejati mengalahkan segala ketakutan, termasuk ketakutan untuk masuk ke ruang paling gelap di dalam hati pasangan.

“Perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment” (1 John 4:18). Dengan cinta ilahi dari Tuhan, kita bersedia untuk masuk ke dalam kelemahan pasangan kita dan menolongnya keluar bersama Tuhan. Kita dapat menerobos keluar dari dinding-dinding keegoisan kita untuk merangkulnya dan menyatakan bahwa kita betul-betul mencintainya.

Terinspirasi dari buku The Mystery of Marriage karangan Mike Mason.





10 Kiat Pernikahan Awet

16 09 2008

Henry A. Ozirney dalam bukunya Knot Happy: How Your Marriage Can Be (Tate Publishing & Enterprises; New York; 2007) mengatakan, perkawinan merupakan wujud menyatunya dua individu ke dalam satu tujuan yang sama, yakni kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, rasa cinta saja tak cukup karena akan ada banyak tantangan dan persoalan yang muncul mengusik kehidupan berumah tangga. Nah, saat gangguan itu muncul, ingat-ingatlah 10 tip Ozirney di bawah ini.

1. Bersiaplah untuk berkorban.

Setiap individu yang mengikatkan diri dalam perkawinan mau tak mau harus siap berkorban bagi pasangannya. Kadang dalam masalah kecil saja, dituntut pengorbanan yang besar. Contohnya, Anda baru sampai di pintu rumah dan merasa capek, tapi suami ternyata mengeluh badannya meriang dan minta dikerokin. Tentu niat semula hendak langsung beristirahat harus langsung di kesampingkan. Pengorbanan ini Anda dahulukan karena perhatian pada suami Anda anggap jauh lebih penting daripada rasa capek. Bila salah satu bersikap egois, tentu saja dapat menjadi pemicu munculnya perasaan kesal dan diperlakukan tak adil.

2. Tetap punya waktu untuk diri sendiri.

Sangatlah menyenangkan bila Anda memiliki kegiatan atau hobi yang dapat dilakukan bersama. Tapi jangan lupa, Anda juga perlu melakukan sesuatu atau berkegiatan sendiri tanpa didampingi pasangan. Punya waktu sendiri memberi kesempatan Anda untuk berpisah sementara dengan pasangan. Di saat ini, Anda dapat dengan jernih merefleksikan kembali kehidupan cinta Anda berdua. Kemudian melakukan koreksi diri tentang hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk meningkatkan kebahagiaan perkawinan dan menghindari kebosanan karena berduaan terus. Di samping itu, sendirian sejenak dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi seberapa jauh Anda kangen pada pasangan.

3. Memelihara keintiman dan romantisme.

Suami-istri yang sudah cukup lama berumah tangga kadang kurang peduli terhadap hal yang satu ini. Tak ada lagi kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun kerap jadi barang mahal. Padahal kunci hubungan yang sukses adalah melakukan hal-hal kecil yang berharga bagi pasangan. Melalui gerak tubuh, kata-kata penuh cinta dan perhatian kecil, rasa cinta dapat tetap terpelihara. Justru ungkapan emosi yang positif terhadap pasangan menjadi “tabungan” bagi hubungan emosi mereka. Jika “rekening” masing-masing sama besarnya, dijamin hubungan akan tetap berlangsung manis di masa datang. Entah sekadar memberi sekuntum bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis, akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup.

4. Pandai mengatur keuangan keluarga.

Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah. Artinya, faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak ditopang oleh kondisi finansial yang memadai. Mengatur ekonomi keluarga secara benar juga akan memberi rasa aman dan bahagia.

5. Berbagi tugas rumah tangga dan pengasuhan anak.

Kedua hal ini memberi kesempatan kepada pasangan untuk bekerja sebagai tim yang solid. Kegiatan membereskan rumah dan mengasuh anak dapat menjadi sarana mempererat tali perkawinan.

6. Komunikasi jujur dan terbuka.

Komunikasi merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Jadi, cobalah untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan pasangan. Luangkan waktu untuk duduk dan ngobrol bersama, sekalipun hanya 5 menit setiap hari. Sempatkan untuk meneleponnya atau mengirim SMS romantis. Sapaan “selamat pagi” atau “selamat malam” di tempat tidur juga dapat dijadikan ajang berkomunikasi. Intinya, ciptakan komunikasi sehingga masing-masing pribadi merasa dibutuhkan.

7. Jangan memendam masalah.

Sebenarnya ini merupakan bagian dari komunikasi. Namun pada intinya, seperti apa pun perasaan Anda dan pasangan, hendaknya selalu dikomunikasikan. Rasa marah yang terpendam juga membuat Anda berusaha menghindari satu sama lain tanpa sebab yang pasti. Makanya akan lebih baik bila setiap kali muncul perasaan marah atau kesal hendaknya dikemukakan saja agar tidak timbul kesalahpahaman yang berlarut-larut. Namun kemukakan kekesalan Anda secara santun dan objektif.

8. Sadarilah Anda berdua adalah pribadi yang berbeda.

Ini bukan hanya dalam waktu singkat, tapi berlangsung untuk selamanya. Jadi wajar bila ikatan perkawinan akan selalu diwarnai perselisihan akibat perbedaan. Bukan saja perbedaan pendapat, tapi juga ketidaksetujuan akibat perbedaan-perbedaan yang lain. Pasangan yang gagal dalam perkawinan umumnya menaruh harapan terlalu tinggi bahwa pasangannya akan berubah sesuai keinginan dirinya. Sementara pasangan yang perkawinannya awet umumnya lantaran menyikapi perbedaan demi perbedaan dengan bijak. Perbedaan seyogianya tak harus menghancurkan perkawinan, melainkan justru memperkaya wawasan masing-masing sambil mencari solusi terbaik dengan selalu memprioritaskan kebahagiaan perkawinan.

9. Bersikap spontan.

Kebiasaan positif ini dapat diterapkan kapan saja. Misalnya, ingin menciptakan suasana romantis, mengatur jadwal makan malam di luar, bercinta, saling memuji, memerhatikan dan lain-lain yang sifatnya kejutan. Spontanitas ini bermanfaat untuk menghindari kebosanan dalam perkawinan. Lagi pula siapa sih yang tak suka mendapat kejutan menyenangkan? Yang penting, kejutan tersebut haruslah tulus dan penuh rasa cinta.

10. Selalu mengingat hal-hal terbaik dalam diri pasangan.

Apa saja hal-hal terbaik dalam diri pasangan yang membuat Anda mengambil keputusan untuk menikah dengannya? Selalu mengingat hal-hal terbaik yang dimiliki pasangan akan selalu menuntun Anda pada sejumlah kenangan manis yang tiada habisnya. Selain akan membuatnya merasa berharga di mata Anda. Ingat, hidup perkawinan tak luput dari dinamika hidup. Segalanya bisa saja berubah. Namun alasan mengapa Anda dulu begitu mencintainya akan selalu terpatri dalam lubuk hatinya. Begitu juga sebaliknya, sehingga kedua belah pihak akan selalu bertekad untuk menjaga hal-hal berharga tadi dan mempertahankan perkawinan.

Untuk menerapkan 10 tip tadi memang tak selalu mudah, tapi percayalah kunci-kunci ini dapat menyelamatkan perkawinan. Dan selalu menyerahkan perkawinan dan keluarga Anda kepada Tuhan. Tuhan Memberkati.

Sumber : Harian Global