Jangan Abaikan Keluhan Ingin Mati

14 12 2009

Bunuh diri tidak pernah dilakukan secara spontan. Berdasarkan penelitian di berbagai negara, tidak ada tindakan bunuh diri yang langsung dilaksanakan pada pikiran pertama. Artinya, seseorang akan menimbang-nimbang terlebih dahulu sebelum benar-benar melaksanakan niatnya untuk bunuh diri.

”Proses menimbang-nimbang inilah yang sebetulnya bisa dikenali sebagai gejala. Hanya saja, sering kali gejala itu diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya,” ujar dr Hervita Diatri, pengajar di Divisi Psikiatri Komunitas dan Trauma Psikososial, Departemen Psikiatri Universitas Indonesia. Hervita menambahkan, pelaku bunuh diri biasanya mengirim sinyal kepada orang-orang terdekatnya.

Psikolog analis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dharmayati Utoyo Lubis, menambahkan, sinyal itu bisa diungkapkan secara verbal, tetapi juga bisa dilihat dari perubahan perilaku. ”Umumnya, ada perubahan perilaku. Dia jadi pendiam dan menutup diri,” kata psikolog yang akrab dipanggil dengan nama Yati tersebut. Selain perubahan perilaku, depresi berat yang ditandai dengan menangis terus-menerus juga bisa berakhir dengan bunuh diri.

Meski umumnya orang yang putus asa hingga berniat bunuh diri cenderung diam, ada pula mereka yang secara langsung mengemukakan keinginan tersebut. ”Omongan-omongan, seperti ’Gua ingin mati aja deh’, jangan hanya dianggap bercanda. Hal seperti itu jangan dianggap sepele,” ujar Yati.

Ceria

Para pelaku bunuh diri, kata Yati, tidak melulu orang-orang yang dari luar kelihatan pendiam saja. Mereka yang sehari-hari terlihat ceria pun bisa melakukan bunuh diri. ”Orang yang kelihatan selalu ceria belum tentu bisa terbuka terhadap orang lain bila sedang memiliki masalah. Ia justru menutupi masalah dengan keceriaannya tadi,” kata Yati. Untuk mengenali gejala orang yang akan bunuh diri, diperlukan kepekaan dari keluarga dan orang-orang dekat.

Cara terbaik untuk mencegah keinginan bunuh diri adalah dengan mengajak berkomunikasi. Menurut Yati, bila ada sinyal-sinyal seseorang ingin mengakhiri hidupnya, sebaiknya kita segera mengajak bicara dari hati ke hati dan membawa orang tersebut keluar dari masalah dengan terus memotivasinya. ”Dalam dunia psikologi, kami percaya kalau isi hati sudah dikeluarkan sedikitnya bisa mengurangi masalah,” kata Yati.

Bantuan yang ditawarkan ini harus dilakukan dengan tulus. Pasalnya, orang yang tengah mengalami depresi biasanya sensitif perasaannya. ”Jadi, dia tahu apakah kita menawarkan bantuan dengan tulus atau tidak,” ujar Yati, yang juga mengingatkan agar membawa seseorang yang depresi kepada psikiater jika keluarga tidak bisa menanganinya.

Ciri-ciri umum orang yang memiliki niat bunuh diri:

1. Mengalami perubahan perilaku secara drastis, biasanya menjadi pendiam

2. Menutup diri dari lingkungan sekitar

3. Menangis terus-menerus karena depresi berat

4. Mengeluarkan kata-kata yang menyiratkan ingin mati

Tindakan yang sebaiknya dilakukan anggota keluarga/orang dekat:

1. Bertanya kepada anggota keluarga yang terlihat mengalami perubahan perilaku

2. Membantu dengan tulus untuk keluar dari masalah

3. Mendengarkan keluh kesah mereka

4. Membawa kepada psikiater jika terjadi depresi





Good bye Stress!!

18 12 2008

Jangan biarkan stress mengganggu kinerja anda. Atasilah dengan 8 tips sederhana berikut :

– Bernapas

Tarikan napas panjang dan dalam dapat membantu pikiran dan tubuh menjadi lebih relaks.

– Atur pola makan

Pola makan yang tinggi kalori dan lemak dapat membuat tubuh lemas dan tidak berfungsi secara optimal.

– Olahraga

Gerak badan yang teratur dapat membuat perasaan lebih tenang, mood lebih terkontrol seta tekanan lebih mudah diatasi.

– Tidur

Tidur nyenyak selama 6-8 jam setiap malam dapat membangkitkan energi untuk menghadapi segala tantangan.

– See a bigger picture

Jangan memandang pekerjaan sebagai rutinitas tapi sebagai langkah menuju kesuksesan yang lebih besar.

– Bagi tugas

Jangan menggangap diri anda dewa multi-tasking. Beban yang terbagi akan lebih mudah dan lebih cepat terselesaikan.

– Jangan mencari perfection

Kesempurnaan hanya akan membuat anda tertekan, dan tidak bisa melihat kesuksesan yang sudah dalam genggaman.

– Celebrate

Hadiah kecil yang anda berikan pada diri sendiri setiap berhasil mencapai goal adalah motivasi yang sangat baik.





Strategi Mengubah Perilaku Buruk

10 12 2008

Mengubah perilaku tak sehat butuh disiplin dan niat kuat. Juga perlu strategi dan rencana yang tak sama cara pendekatannya untuk masing-masing orang.
Berikut ini sejumlah langkah yang mungkin berguna bagi Anda untuk hidup lebih sehat:

1. Bikin daftar kebiasaan tak sehat

Contohnya, makan terlalu cepat, lebih sering ngemil daripada makan besar, lebih senang duduk manis nonton televisi sambil ngemil daripada jalan pagi, dan lain-lain.

2. Pilih dan fokus pada satu perubahan

Mencoba mengubah lebih dari satu perilaku tak sehat dapat membuat Anda kewalahan. Fokus pada satu perubahan akan meningkatkan kemungkinan Anda untuk sukses mengubah diri.

3. Pertimbangkan cara mengembangkan kebiasaan sehat

Cari tahu apa penyebab kesenangan ngemil? Adakah berkaitan dengan stres yang sering melanda?

4. Pikirkan cara realistis mengubah perilaku jadi sehat

Mengunci pintu kulkas tentu bukan cara bijaksana menghindari kebiasaan ngemil. Pilih cara yang realistis seperti membawa kotak makan siang yang banyak sayur dan buah serta rencanakan berolahraga seusai kerja.

5. Pikirkan cara alternatif untuk menghindari halangan

Contohnya, ubah jadwal olahraga jadi pagi hari jika tengah hari Anda tak bisa menghindari rapat atau pertemuan dengan klien.

6. Tetapkan tanggal untuk mencapai tujuan

Tetapkan tanggal yang realistis sehingga Anda dapat mencapainya dengan nyaman dan tak tergesa-gesa. Anda mungkin butuh waktu beberapa hari untuk mengubah diri, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan.

7. Evaluasi kesuksesan Anda

Ketika tujuan tak tercapai, apa yang didapat dari perubahan gaya hidup itu? Adakah strategi alternatif sehingga tujuan bisa tercapai lebih baik?

8. Jadikan kebiasaan baru ini permanen

Jangan biarkan kesibukan kerja menyebabkan Anda melewati waktu makan siang. Ini akan membuat Anda kembali ke kebiasaan ngemil sepanjang hari.

9. Setelah berhasil mengubah satu, ulangi untuk kebiasaan buruk yang lain
Kebiasaan tak sehat lain juga bisa diubah dengan langkah-langkah sama.





Empat Tipe Stress

9 12 2008

Sepertinya kita memang tak bisa luput dari stres. Di kantor, di rumah, bahkan tak melakukan apa-apa pun bisa menyebabkan stres. Menurut situs stressfocus.com, ada empat tipe stres yang dibagi dalam dua kelompok, yakni positif stres dan negatif stres. Yang termasuk dalam positif stres adalah eustres, yakni saat stres muncul, seseorang justru lebih produktif atau malah lebih kreatif dalam menyelesaikan pekerjaan.

Positif stres bisa membantu kita melakukan perubahan dalam hidup. Tak sedikit yang berganti profesi atau menemukan jalan keluar yang jitu dari suatu masalah. Positif stres juga membantu kita menyadari ada sesuatu yang salah dan harus diperbaiki. Penemuan-penemuan penting dalam bidang teknologi atau disain kreatif biasanya berasal dari stres tipe ini.

Yang termasuk dalam kelompok negatif stres diantaranya adalah distress. Perasaan stres ini muncul saat seseorang sedang frustasi, takut, atau punya kemarahan yang belum dilampiaskan. Bila terlalu sering mengalami distress, akibatnya adalah tekanan mental. Kemudian ada juga understress, yang terjadi saat seseorang mulai kehilangan tantangan. Manajemen kantor yang salah atau minimnya kesempatan untuk berpartisipasi dan menunjukkan skill sering menyebabkan stres tipe ini. Understress bisa mendorong kita pada masalah baru. Jenuh dan perasaan tak berdaya adalah dua efek dari stres ini, akibatnya kita jadi kehilangan motivasi untuk bekerja.

Tipe negatif stres terakhir adalah over-stress. Stres ini terjadi setelah seseorang bekerja keras atau berusaha berlebihan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan demi memenuhi tenggat. Kondisi ini terus berulang karena kita tak punya waktu untuk break dan menarik napas sejenak, sehingga pikiran kita hanya terfokus pada cara menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Over-stress bisa berakibat pada berkurangnya kemampuan atau kreatifitas.

Bagaimana jika pekerjaan kita rawan stres? Carilah cara untuk selalu memompa energi baru. Melakukan kegiatan yang bersifat relaksasi, cuti, berlibur, atau tidak memikirkan pekerjaan setelah jam kantor adalah sebagian dari usaha untuk mengelola stres.





Kurangi Stress, Perbaiki Produktivitas

8 12 2008

Apakah Anda mendapati diri sendiri mengerjakan sejumlah proyek dan melewatkan hari-hari tanpa sempat memeriksa detail proyek itu karena tak terorganisasi dengan baik? Itu tandanya Anda butuh manajemen waktu yang efektif. Manajemen ini baik untuk kesehatan karena bisa mengurangi stres dan memperbaiki kualitas hidup.

–   Bikin rencana harian

Ini akan memudahkan Anda mengontrol hidup. Buat daftar kerja harian dan utamakan pekerjaan penting untuk dilaksanakan pertama agar mengurangi konflik.

–   Susun daftar prioritas

Anda mungkin pernah menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang remeh dalam pekerjaan. Buat hal-hal yang perlu diprioritaskan, sehingga energi Anda lebih banyak tercurah untuk hal penting.

–   Katakan “tidak” pada pekerjaan tak penting

Pertimbangkan tujuan dan jadwal yang ada sebelum menyetujui tugas tambahan.

–   Kalau perlu, delegasikan

Lihat kembali daftar tugas dan pertimbangkan hal yang perlu dihapus atau didelegasikan ke orang lain.

–   Beri waktu yang cukup untuk pekerjaan berkualitas

Mengerjakan proyek untuk pertama kali memang membutuhkan waktu lebih banyak. Harap diingat bahwa kesalahan biasanya menyebabkan kebutuhan waktu lebih untuk mengoreksi. Akibatnya, diperlukan waktu keseluruhan lebih banyak.

–   Uraikan tugas besar yang menyita waktu menjadi tugas kecil

Berusahalah mencicil pekerjaan. Kerjakan tugas besar itu beberapa kali sampai akhirnya semua selesai.

–   Praktikkan aturan 10 menit

Kerjakan tugas rutin yang menyebalkan bagi Anda selama 10 menit sehari. Contohnya, menyusun file, menyusun laporan pertanggungjawaban dinas luar kota, membuat laporan harian atau mingguan. Sekali dimulai, tahu-tahu Anda akan menemukannya sudah selesai dan siap dilaporkan.

–   Evaluasi cara Anda mengisi waktu

Buat buku harian tentang apa saja yang Anda lakukan selama tiga hari untuk mengetahui pola kerja Anda. Perhatikan waktu yang dapat digunakan secara bijak. Contohnya, Anda bisa memilih naik bus ke tempat kerja sambil membaca laporan keuangan, sehingga waktu luang untuk keluarga bisa lebih banyak.

–   Olahraga dan tidur cukup

Keduanya akan memperbaiki fokus dan konsentrasi Anda. Ini akan membantu memperbaiki efisiensi, sehingga Anda dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

–   Istirahatlah ketika diperlukan

Stres berlebih dapat mengganggu keinginan Anda menjadi orang yang rapi dan efisien. Istirahatlah ketika diperlukan, jalan-jalanlah ke taman atau lakukan peregangan di sekitar meja kerja. Bila memungkinkan, ambil cuti sehari.





Orang Kidal Lebih Mudah Cemas

8 12 2008

Mereka yang lebih sering menggunakan tangan kiri atau kidal ternyata cenderung mudah merasa cemas ataupun malu dengan apa yang ingin dilakukan atau dikatakan.

Kesimpulan tersebut diungkap para peneliti dari Abertay University Skotlandia yang melakukan tes untuk mengukur sejauh mana pengaruh pengekangan dan dorongan hati terhadap perilaku seseorang.

Para peneliti menemukan bahwa orang kidal cenderung lebih setuju dengan pernyataan seperti : “Saya khawatir  membuat kesalahan.”  Mereka yang kidal juga sepakat dengan penyataan : “Kritik atau omelan membuat saya sedikit sakit hati.”

Dalam riset yang dipublikasikan jurnal Personality and Individual Differences itu, para ahli melibatkan  46 orang yang kidal dan 66 partisipan lainnya  yang terbiasa memakai tangan kanan. Riset juga menunjukkan, mereka yang kidal mencatat skor lebih tinggi dalam hal pengekangan, terutama ketika terlibat dalam situasi baru atau luar biasa.

Wanita juga cenderung lebih banyak mengekang dirinya ketimbang para pria. Seluruh kelompok memberi respon yang sama terhadap pertanyaan seperti : “Saya sering bertindak sesuai dorongan hati ” dan  “Saya sangat mendambakan kesenangan dan sensasi baru.”

Dr Lynn Wright, yang memimpin riset ini di Dundee, Skotlandia, merasa percaya bahwa fenomena ini disebabkan adanya perbedaan pada daerah otak antara orang kidal dan orang yang lebih sering memakai tangan kanan.

“Orang kidal cenderung lebih bimbang, sedangkan mereka yang memakai tangan kanan cenderung sedikit bergerak cepat. Pada orang kidal, bagian otak kanannya lebih dominan, dan inilah bagian yang sepertinya mengendalikan aspek negatif dari emosi. Mereka yang lebih banyak memakai tangan kanan, bagian otak kirinya lebih dominan,” ungkap Lynn





Trauma Masa Kecil & Masa Depan Anak

30 11 2008

Banyak perempuan bertahan dan mempertahankan perkawinannya karena pertimbangan akan masa depan anak, walaupun dari perkawinan itu sendiri perempuan tidak memperoleh haknya akan kebahagiaan diri.

 

Sampai hari ini, setelah hidup bersama sebagai istri selama 27 tahun, saya tidak pernah merasakan apa arti hidup bahagia.

 

Memang dari segi materi dapat dikatakan cukup berlimpah, tetapi dari segi mental saya benar-benar terpuruk. Kecuali perlakuannya terhadap saya, suami saya pun tidak peduli akan kebutuhan kehangatan kasih yang saya dambakan. Kalaupun saya bertahan dalam perkawinan ini hanyalah karena ketiga anak saya.

 

Suami saya memang pengusaha yang berhasil, tetapi dia sangat egois dan kalau bicara atau berkomentar seenak sendiri, sama sekali tidak memerhatikan perasaan orang lain, apalagi terhadap saya dan anak-anak. Yang amat saya sesali adalah dia begitu kejam terhadap anak laki-laki nomor satu. Sejak sekitar usia dua tahun setengah kalau anak nakal (yang sebetulnya kenakalan biasa atau agak rewel saat tidak enak badan), maka tanpa segan anak disabet dengan lidi sampai badannya bilur-bilur. Saat anak itu sekitar usia tiga tahun, tiba-tiba anak itu menjerit menangis keras dengan suara ketakutan. Waktu itu saya sedang menyusui adiknya yang baru usia tiga minggu. Saya bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi, Bu.

 

Anak itu disiram air dan sedang diangkat akan dimasukkan ke bak mandi. Hal itu terjadi pada sekitar pukul tujuh malam. Ia rewel karena mengantuk dan suami saya terganggu konsentrasinya, sementara dia sedang menyelesaikan pembukuan perusahaan kami.

 

Anak itu langsung saya rebut dari tangannya. Saya sedih, Ibu, karena sejak saat itu anak pertama saya tersebut takut sekali bila didekati ayahnya.

 

Apalagi saat anak menjelang remaja, semakin kejam pula cara ayahnya menghukum. Anak disuruh berdiri menghadap tembok dan dipukul dengan ikat pinggang beberapa kali, sambil dicaci maki dengan kata-kata kasar, seperti anak bodoh, goblok, tolol.

 

Sedih saya, Bu, bila mengingat bagaimana anak saya dihukum ayahnya. Sebenarnya saat suami saya sedang tenang, saya sering menyarankan untuk tidak menghukum anak pertamanya dengan cara kejam seperti itu, tetapi dia selalu berdalih bahwa tanpa digembleng dengan keras dan kejam seperti itu, anak itu akan manja dan tidak bisa kerja.

 

Akibat hukuman tersebut, anak saya jadi pendiam, kurang berani, kurang inisiatif. Kecuali itu, rupanya diam-diam anak tersebut juga dendam terhadap ayahnya sehingga sampai saat ini (usia 26 tahun) selalu menghindarkan diri dari komunikasi dengan ayahnya.

 

Ia pun sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan ayahnya. Saya khawatir, karena siapa lagi yang akan menggantikan ayahnya meneruskan perusahaan yang sudah sedemikian besar bila bukan anak itu. Saya bingung, tetapi tidak tahu mau berbuat apa, sementara semakin tua karakter suami saya semakin tidak menyenangkan.” Demikianlah keluhan Ny D (53).

 

Analisis

Dari ungkapan Ny D, sebenarnya ada dua masalah yang diutarakan. Yang pertama adalah masalah kehidupan perkawinannya yang sama sekali tidak membuat Ny D merasa bahagia karena cara suaminya berkomunikasi tidak membuatnya merasa nyaman, bahkan sering merasa terpojok dan terdiam seribu basa.

 

Persoalan kedua adalah masalah anak sulungnya yang sangat membenci ayahnya dan menghindari komunikasi dengan ayahnya, padahal dialah satu-satunya pewaris perusahaan keluarga di kemudian hari karena kedua anak lainnya perempuan.

 

Pola asuh yang diterapkan Tn D terhadap anaknya adalah dominan, otoriter, keras, dan kejam. Anak akan menderita pengalaman traumatis oleh perlakuan ayah dan menyisakan luka batin mendalam.

 

Ada dua kemungkinan sikap mental eksesif yang akan berkembang oleh pengalaman traumatis masa kecil anak:

(1). Bila pada dasarnya anak berwatak keras, ia pun kelak akan meniru dan menjadikan karakter ayahnya sebagai bagian dari dirinya. Ia akan menjadi orang yang berkepribadian dominan, keras, bahkan sadis-agresif dan tidak mampu berkompromi dengan lingkungan.

(2). Bila pada dasarnya dia berwatak lemah, ia akan menjadi berkepribadian submisif, cenderung menempatkan diri di bawah otoritas orang lain, tidak berani berkata ”tidak” (tidak asertif), terkesan menunggu inisiatif orang lain, bahkan tidak berani mengambil keputusan, baik bagi lingkungannya maupun bagi dirinya sendiri.

Apa pun reaksi eksesifnya, kedua peluang perkembangan kepribadian yang eksesif tersebut tetap akan menyisakan rasa dendam kesumat, kebencian yang intens terhadap ayahnya.

 

Perbedaannya, pada reaksi eksesif yang pertama, dendam kesumat dimunculkan dalam perilaku agresif-sadistis pada lingkungan. Anak akan dengan mudah terpicu mengungkap reaksi agresif yang terkadang destruktif.

 

Sementara reaksi eksesif yang kedua muncul dalam bentuk sikap tidak berani ambil inisiatif, tetapi bersifat pasif-agresif, yaitu sikap diam, tetapi bergeming, artinya bertahan pada sikap perlawanan tidak tergoyahkan, kaku, dan tidak fleksibel.

 

Makian, cercaan menyakitkan hati, dan merendahkan harga diri anak, apalagi disertai hukuman fisik yang berlebihan, hanya akan menyisakan dendam kesumat eksesif terebut di atas kemudian hari. Jadi, mengapa kita tidak mencari tahu tentang cara menghukum anak yang bersifat mendidik?

 

Sumber : Kompas