Masih Sendiri? Kapan Menikah?

8 11 2008

Banyak orang yang merasa khawatir pada usianya yang sudah mencapai kepala tiga dan belum juga menuju ke pelaminan, lebih lagi jika wanita. Lebih dari itu, pertanyaan-pertanyaan dari kerabat, teman pun mulai berdatangan, sehingga terasa amat sangat mengganggu sekali. Anda mungkin menebarkan senyum maklum atau sedih karena merasa malu dan tersudut. Suka tak suka, bagi sebagian wanita, hal ini merupakan suatu “tuntutan” dan menjadi gangguan tersendiri.

Tidak hanya untuk yang berumur 30 saja, menjelang umur 50 tahun pun banyak wanita yang masih belum menikah. Apalagi sudah menjelang menopause, biasanya banyak wanita yang mulai mengalami depresi. Wanita-wanita yang rata-rata berusia 30-an, banyak yang merasa takut dan sedih.

Berikut tips untuk menghadapi masa-masa menjelang kepala tiga.

Tetap Melihat Ke Depan

Tunjukan ketegaran meski Anda merasa sangat kesepian dan hampir putus asa karena belum menemukan pasangan yang tepat. Jangan biarkan rasa minder ini menguasai hidup Anda, lalu membuat Anda langsung menerima lamaran dari sembarang pria yang mendekati Anda. Jangan mengelabui diri sendiri dengan pemikiran bahwa Anda bisa belajar mencintai seorang pria, walaupun baru bertemu. Keputusan terburu-buru bisa membuat hidup Anda jadi lebih buruk dari keadaan Anda saat ini.

Percaya Diri Dan Buka Mata

Tetap percaya diri, itulah yang paling penting untuk Anda saat ini. Jangan terlalu berhasrat untuk menikah. Dan jangan memilih pasangan untuk menyenangkan seseorang yang lain. Meski lingkungan terus mengganggu Anda, jangan Anda jadikan beban dalam pikiran. Percayalah bahwa Andalah orang yang akan beruntung suatu hari nanti. Yakinkanlah pikiran Anda untuk selalu jernih dan siap. Kembangkan pemikiran bahwa hidup tetap harus dilanjutkan walau sudah menginjak usia 30 tahun. Jangan pernah merasa gagal karena Anda tak juga menikah. Anggaplah bahwa hidup yang menarik baru saja akan Anda mulai. Jauhkan pikiran bahwa Anda sudah banyak terlambat dan harapan sudah pupus. Tetap lakukan hal-hal positif dan buka mata Anda lebar-lebar terhadap sekeliling Anda. Coba direnungkan, jangan-jangan selama ini Anda memang orang yang tertutup alias tidak mau membuka diri. Kalau ya, bagaimana jodoh akan mendekati Anda?

Sabar Dan Tetap Menunggu

Sabar adalah sikap yang sangat bijaksana. Jangan pernah memaksakan kehendak untuk lekas menikah sampai Anda mengenal diri Anda dengan baik dan mengenal dengan baik pula siapa pasangan Anda. Jangan menikah dengan seseorang sampai Anda mengenal dia dalam banyak hal. Anda dapat membuat prediksi yang jauh lebih tepat tentang seberapa banyak Anda akan menikmati pernikahan dengan seseorang jika dasar pengalaman Anda bersamanya cukup luas. Hubungan yang lebih lama menghasilkan pernikahan yang lebih bahagia.

Tetap Menjaga Kebugaran Fisik Dan Mental Anda

Jaga dan rawatlah diri Anda dengan banyak-banyak berolahraga, agar bugar dan sehat dalam iman. Jaga agar tubuh tetap sedap dipandang. Ini akan enak dilihat dan perlu. Hasilnya, tentu Anda pasti akan tampak beda, lebih cantik, lebih gaya dan gembira. Perubahan ini tentu akan membuat Anda merasa lebih nyaman dan percaya diri. Sikap ini akan membuat pria memberi perhatian. Jika Anda menghargai diri sendiri, tanamkan selalu dalam pikiran Anda bahwa tidak menikah bukan berarti kehidupan Anda berakhir.

Buatlah Diri Anda Bergairah

Lakukan banyak kegiatan. Jangan hanya tinggal berdiam diri di rumah, merenungi nasib, nonton tv atau mengurung diri di kamar sembari membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Ini akan membuat Anda makin tertekan dan merugikan diri Anda. Gairahkan hari-hari Anda. Buat rencana-rencana menarik bagi hidup Anda. Mengaktifkan pikiran dengan sesuatu yang membuat Anda bergairah, merupakan terapi yang baik untuk mengurangi rasa depresi yang sedang melanda pikiran Anda. Lakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.

Tetap Perluas Pergaulan

Tambah luas tambah baik. Perkenalan bukan difokuskan untuk mencari pasangan hidup, tetapi untuk bersahabat. Ini lebih meringankan suasana perkenalan, baik bagi Anda maupun buat sang Arjuna.

Sifat Pemilih Menjauhkan Jodoh

Mencari jodoh memang gampang-gampang susah. Apalagi jika Anda adalah orang yang sangat pemilih sekali. Anda baru akan membuka hati Anda jika pasangan Anda punya kesamaan minat, hobi, pendidikan dan berstatus sosial ekonomi yang setara. Syukur-syukur kalau bisa lebih tinggi. Inilah salah satu masalah yang akan menjerumuskan Anda. Tak perlu mencari jodoh yang punya minat sama. Perbedaan minat justru akan jadi bumbu-bumbu cinta Anda. Cobalah lakukan hal-hal baru yang tak pernah Anda lakukan. Saat melakukan hal baru, ada bagian baru dari diri Anda yang akan muncul. Membuat Anda merasa lebih menarik. Anda juga harus tahu, bahwa suatu pernikahan membutuhkan kerja keras. Jangan izinkan diri Anda mengharap terlalu banyak dari pernikahan. Alhasil Anda bisa kecewa. Anda tak butuh pasangan yang cocok, apalagi pasangan sempurna, tapi pasangan yang tepat, yang mampu mencintai Anda dan menerima Anda apa adanya, hidup sampai tua dalam komitmen yang sama untuk meraih visi yang sama.

Anda mungkin berkhayal mendapatkan pasangan yang ideal, tetapi percayalah keberadaan Tuhan dan kasih-Nya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik. Jika Anda hanya bisa berharap, meraba, siapa jodoh Anda, Anda tak bisa selamanya mengharapkan kebetulan-kebetulan terjadi sementara waktu terus berjalan dan usia Anda makin bertambah. Tapi kalau Anda berharap dengan tetap berusaha, yakinlah bahwa Anda akan menemukan jodoh Anda.

Sumber : http://www.jawaban.com





Jangan Terlalu Serius Urusan Jodoh

2 10 2008

Berikut ini adalah tulisan yang ditulis oleh Bill Bracy, salah satu produser CBN internasional yang berpusat di Virginia Beach Amerika. Tulisan ini meskipun akan membuat Anda tertawa, namun bagi yang masih men-jomblo terdapat pesan ampuh yang tersirat yang akan membantu Anda segera melepas status jomblo Anda. Simak kisahnya:

Beberapa tahun lalu, ketika saya sedang putus asa mencari pacar, maksudnya mencari isteri, saya membaca sebuah kisah tentang Abraham yang mengutus pembantunya pergi untuk mencarikan anaknya seorang isteri.

Pembantu Abraham pergi ke sebuah sumur, tempat wanita-wanita setempat biasa mengambil air setiap hari. Disana dia mulai berdoa. Dalam doanya dia meminta agar bertemu dengan seorang wanita yang mau memberi dia dan unta-untanya minum. Jika ada, maka pastilah ia wanita yang tepat.

Belum selesai doanya, datanglah Ribka, menawarkan air untuknya. Benar-benar wanita sempurna yang memenuhi kategori dalam doanya. Maka jadilah Ribka sebagai isteri Ishak, anak Abraham. Kisah itu membuat saya berpikir selama beberapa waktu, mungkin tidak ya, kisah itu terjadi dalam hidup saya.

Saya mulai tertawa sendiri. Aneh sekali kalau kisah itu diterapkan dalam kehidupan modern seperti sekarang. Itu artinya saya harus pergi dulu ke pedesaan, dimana terdapat sumur yang masih dipakai warga sebagai sumber air. Tunggu dulu, bukan harus saya sendiri yang pergi. Menurut kisah itu, saya harus punya seorang pembantu. Pembantu? Gaji sebulan untuk diri sendiri saja pas-pasan. Kembali saya tertawa lagi. Ah, sudahlah!

Malam itu saya pulang agak malam karena ada jadwal bermain tenis meja dengan beberapa rekan sekerja. Menuju pulang saya merasa sangat haus dan kemudian memutuskan untuk mampir ke dispenser kantor dekat pintu keluar, saat tiba-tiba seorang wanita mendahului saya dari belakang, membawa sebuah gelas.

Di benak saya hanya ada satu hal “Wah, keduluan deh! Buruan mbak, haus banget nih!” Tiba-tiba wanita itu menoleh dan berkata “Kamu mau minum juga? Saya bantu ambil yaa…” Kemudian dia mulai mengambilkan saya air…”.

Senyum dan kalimatnya seperti bom Hiroshima dan Nagasaki di telinga saya. Saya teringat tentang semua kisah Abraham yang saya baca. Di depan wanita itu saya bengong cukup lama. Terngiang semua doa-doa saya dalam mencari kekasih. Inikah wanita yang akan menjadi isteri saya? Kira-kira dia suka saya atau tidak, ya? Inikah ibu dari anak-anak saya nanti?

Seketika saya sadar dan berusaha kembali tenang, sambil tetap meyakinkan diri bahwa saya tidak bau badan dan nafas saya biasanya cukup segar. Aduh, saya bodoh sekali! Ini kan hanya pertemuan tidak sengaja selama beberapa detik, bisa-bisanya saya berpikir sejauh itu. Saya teguk air sebanyak mungkin dan menarik nafas panjang untuk menghilangkan tanda-tanda keanehan yang mungkin sejak tadi jelas terlihat olehnya.

Cerita diatas terjadi 25 tahun lalu. Diperlukan 2 tahun penuh bunga, permen, kue, film, puisi romantis dan sebuah cincin untuk akhirnya meminta “wanita dispenser” tadi untuk menikahi saya. Tuhan telah menolong Abraham dan saya dengan cara yang kurang lebih sama.

Jadi kalau anda seorang pria atau wanita yang sedang berjuang mencari isteri atau suami, berdoalah, dan jangan lupa minum hari ini!

Sumber : jawaban





Memilih Pasangan Yang Seiman

2 10 2008

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

Nats: 2Kor. 6:11-18; 7:8-16; 1Kor. 5:9

Dari 1Kor. 5:9 kita bisa melihat probabilitas dari satu kronologi yang mungkin mengenai bagaimana sebenarnya surat Paulus ini. Jelas sekali surat 1 Korintus BUKAN merupakan surat pertama Paulus kepada jemaat Korintus, tetapi ada surat lain yang sebelumnya sehingga kita ingin mencoba merekonstruksi surat-surat Paulus tsb. Dalam 1Kor. 5:9 ini Paulus mengaku pernah menulis satu surat terlebih dahulu sebelum surat 1 Korintus, “…dalam suratku telah kutuliskan kepadamu supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul…” Jelas sebelum surat 1 Korintus, sudah ada satu surat lain. Dimanakah surat itu? Banyak penafsir mencoba merekonstruksikan surat-surat ini. Saudara harus menaruh hal ini di dalam pikiran saudara bahwa surat-surat Paulus tidak ditulis dalam bentuk seperti Alkitab yang kita pegang sekarang ini, tetapi ditulis dan dikirim berupa “scrolls.” Kita percaya scroll-scroll itu diberikan secara terpisah-pisah, karena kalau surat itu ditulis di dalam satu scroll, panjangnya bisa mencapai belasan meter. Maka bisa jadi ada scroll-scroll yang terselip urutannya, sehingga kemungkinan surat yang seharusnya adalah surat yang pertama, kemudian berada di surat yang kedua. Kira-kira demikian pemikiran para penafsir sehingga ada penafsir yang menafsir kemungkinan besar 2Kor. 6:11 ini adalah surat yang dimaksud Paulus tadi. ‘Dalam suratku yang sebelumnya’ aku mengatakan jangan hidup bersama-sama dengan immoral people.

Jelas sekali dalam bagian ini, khususnya di 2Kor. 6:14 Paulus katakan “jangan hidup menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya.” kemungkinan besar ini surat yang pertama. Mengapa? Sebab memang nadanya berbeda. Saudara lihat di ayat 11 Paulus memulainya dengan kalimat “hai orang Korintus…” dengan nada yang keras, saudara bandingkan dengan 2Kor. 6:1 dia menyebut mereka sebagai “teman-teman sekerja”, dalam 2Kor. 7:1 dan dalam 2Kor. 8:1 dia menyebut mereka “saudara-saudara yang kekasih…” Mengapa di tengah-tengah sapaan yang intim dan akrab itu, Paulus tiba-tiba menyebut “hai orang-orang Korintus” sebagai satu nada marah dan berbeda? Saudara bisa saja menafsir Paulus kan menulis surat tidak langsung, pertama-tama dia senang, lalu tiba-tiba dia marah, habis itu dia senang lagi. Bisa saja saudara menafsir seperti itu karena kita mencoba merekonstruksi dan menafsirkannya. Tetapi intinya adalah di pasal 6:11 Paulus mengatakan “hai orang Korintus” lalu di pasal 7:8 Paulus bilang “suratku yang dulu itu kalimatnya keras, saya menyesal mengeluarkan kalimat seperti ini, tetapi sekarang saya tidak menyesal sebab terjadi perubahan dalam hidupmu…” sehingga banyak penafsir mengatakan sangat besar kemungkinan surat yang dia maksud itu sebenarnya surat yang ini (2Kor. 6:11-18), yang pada waktu dikumpulkan, surat ini bersatu dengan surat 2 Korintus yang membuat bagian yang nampaknya sedikit punya nada berbeda ini sebetulnya surat yang pertama. Melalui rekonstruksi ini kita menemukan problemanya selesai dijawab oleh Paulus.

Sekarang yang ingin kita tahu apa sebenarnya problema yang dialami jemaat Korintus dalam bagian ini? Surat yang pertama adalah surat Paulus yang sangat keras. Paulus bilang jangan hidup bergaul dengan immoral people. Apakah maksud Paulus di sini melarang jemaat mempunyai teman orang yang tidak percaya? Apakah Paulus melarang orang Kristen memiliki hubungan dagang dengan orang yang tidak percaya? Sama sekali tidak. Kata yang Paulus pakai, “Do not be yoked together with unbelievers” menaruh kuk bersama, di sini adalah dalam pengertian asosiasi hubungan yang sangat erat di dalam satu pernikahan, ataupun suatu pertemanan yang akhirnya seperti yang terjadi pada jemaat Korintus di mana mereka ikut ke kuil dan ikut menyembah berhala di sana. Jadi Paulus tidak melarang orang Kristen berteman dengan orang tidak percaya, tetapi Paulus mengingatkan jangan sampai asosiasi yang terjadi di antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya menyebabkan identitas mereka sebagai orang percaya akhirnya hilang. Kata yang dipakai di sini “jangan menaruh kuk bersama…” Paulus menggunakan satu lukisan yang dipakai di dalam Ul. 22:10 “janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.” Jadi bukan dalam pengertian tidak boleh berteman dan bergaul dengan orang yang tidak percaya melainkan satu asosiasi yang mendatangkan hubungan yang sangat dekat dalam 2 hal yang saya tafsirkan, yaitu bicara mengenai relationship yang terjadi di dalam pernikahan dan relationship yang timbul di dalam pertemanan di antara orang Kristen di Korintus yang tidak sensitif mengenai dosa.

Dalam surat 1Kor. Paulus menyelesaikan problema itu yakni mereka tidak sensitif di dalam hal makan makanan dari penyembahan berhala, khususnya mereka makan di kuil berhala.

Kalau ada kasus seseorang menyembah berhala di kuil dan sesudahnya dia datang membawa sebagian daging hasil penyembahan itu sebagai penghormatan kepada teman yang Kristen, apakah dia boleh makan daging itu? Buat saya, dia boleh makan daging itu. Tetapi kalau waktu dia sedang makan, kemudian ada anggota keluarganya yang tidak setuju, berikan penjelasan bahwa dia tidak ikut menyembah berhala. Tetapi kata Paulus katakan kalau ada orang yang lemah imannya, tidak usah makan. Namun yang terjadi pada jemaat Korintus ialah mereka datang ke kuil dan makan sama-sama dengan orang tidak percaya. Artinya, mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah orang Kristen dan mereka dijebak dengan konsep bahwa berhala itu tidak ada apa-apanya. Dengan konsep ini maka mereka telah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan yang kedua Paulus memberi prinsip: makan tidak untung apa-apa, tidak makan juga tidak rugi apa-apa. Tetapi akibat tindakan mereka, orang Kristen di Korintus telah memberi kesan bahwa anak-anak terang bisa hidup berasosiasi dengan mentolerir kehidupan di dalam kegelapan orang itu sehingga perbedaan kita sebagai anak Tuhan menjadi kabur. Itu adalah hal yang pertama.

Sekarang saya akan bicara lebih dalam mengenai hal yang kedua, bagaimana pandangan kita mengenai pernikahan antara orang percaya dan yang tidak percaya. Apakah Alkitab melarang orang percaya menikah dengan orang tidak percaya? Ini menjadi kesulitan yang luar biasa besarSebelumnya mari kita lihat 2 ayat terlebih dahulu.

Pertama, di dalam 2Kor. 6:14, di sini Paulus memang tidak bicara soal pernikahan, tetapi hampir seluruh penafsir mengatakan, dengan menggunakan kata “yoke” itu sebagai kuk yang dipasangkan kepada 2 ekor hewan yang hendak membajak, maka yang Paulus maksudkan adalah hubungan yang bukan sekadar hubungan biasa, tetapi satu hubungan yang diikatkan dengan sesuatu. Karena itu para penafsir kaum Injili setuju Paulus di sini sedang bicara melarang pernikahan antara orang percaya dengan tidak percaya.

Kemudian satu ayat lagi dalam 1Kor. 7:12. Paulus berbicara mengenai satu realita yang terjadi di dalam jemaat Korintus. Semua yang Paulus bicarakan dalam bagian ini apakah di dalam konteks di mana Paulus sudah melarang mereka tidak boleh menikah dengan orang tidak percaya, tetapi kemudian ada di antara mereka yang tidak taat, ataukah ini dalam konteks dua orang tidak percaya menikah lalu salah satu di antaranya kemudian menjadi Kristenkah? Saya lebih setuju dengan konteks yang kedua ini. Tadinya waktu menikah dua-dua bukan orang Kristen, lalu kemudian melalui pemberitaan Injil salah satu kemudian menjadi Kristen. Setelah dia menjadi Kristen, terjadi persoalan dillema etis dan moral. Bagaimana decision making-nya? Apakah dia tetap stay dengan pasangannya yang tidak percaya? Maka menghadapi kebingungan ini Paulus bilang tidak perlu bercerai. Bagaimana dengan anak-anak hasil pernikahan mereka? Di ayat 14 Paulus bilang anak-anaknya langsung dikuduskan oleh Tuhan. Selama masing-masing masih mau tetap hidup bersama, jangan menceraikannya. Jadi sekali lagi ini di dalam konteks tadinya sewaktu menikah dua-dua belum Kristen, tetapi setelah itu salah satu menjadi percaya. Dalam hal ini Paulus mengatakan orang percaya itu harus tetap stay dengan pasangannya yang tidak percaya.

Tetapi bagaimana dengan pasangan yang belum menikah? Saya harap saudara melihat ayat-ayat ini dengan baik-baik. Pada waktu Tuhan mengatakan tidak boleh menaruh kuk di atas keledai dan sapi, saudara dan saya harus mengakui dan setuju bahwa nilai-nilai kepercayaan dan konsep agama, dsb tetap merupakan nilai yang harus kita hargai dan hormati. Dan kita harus terima fakta dengan jujur bahwa ini merupakan nilai-nilai yang begitu penting di dalam hidup saudara. Tuhan bilang jangan mempersatukan keledai dan sapi dengan kuk yang sama, kenapa? Karena dari naturnya kita sendiri tahu ada hal-hal yang tidak compatible dan tidak cocok.

Istri dari Arief Budiman, yaitu Leila Ch. Budiman, pengasuh kolom tanya-jawab di Kompas, saya pernah baca ada seorang wanita Kristen mengatakan kenapa banyak orang mempersoalkan perbedaan agama menjadi penyebab kericuhan di dalam keluarga? Saya sudah menikah dengan suami saya yang berbeda agama selama 5 tahun tetapi kami hidup baik-baik saja. Saya tidak merasakan bahwa perbedaan agama itu merupakan hal yang perlu dibicarakan di dalam keluarga. Bagaimana jawaban Leila? Leila sendiri beragama Islam. Dia menjawab bagus sekali, tidak ada persoalan perbedaan agama di dalam keluargamu sebab engkau tidak pernah membahas dan membicarakannya. Tetapi pada waktu membicarakannya, barulah kalian menyadari memang ada perbedaan.

Kalau saudara bertanya kepada saya, bolehkah saya berpacaran dengan orang tidak percaya dengan tujuan penginjilan? Ada agama lain juga menggunakan cara seperti itu, bukan? Saya akan menjawab beberapa hal. Saudara dan saya harus mengakui dan setuju cinta itu tidak bisa dipaksakan. Saudara jatuh cinta dengan seseorang, terjadi begitu saja sebelum terpikir si dia itu agamanya apa. Kemudian saudara juga bisa merasionalisasi, bahwa chance untuk mendapat pasangan di gereja itu begitu kecil dan jumlahnya tidak balance.

Saya hari ini berbicara sebagai gembalamu memberi beberapa prinsip. Pertama, Tuhan melarang orang percaya untuk menikah dengan orang yang tidak percaya. Gereja-gereja Injili tidak akan menikahkan pasangan seperti ini di depan altar memberkati pernikahan yang berbeda agama. Itu juga tidak akan saya lakukan di sini, sebab pada waktu dua orang menikah di depan altar, mereka sedang mengaku dipersatukan oleh Tuhan yang sama. Jadi saya mengambil pemikiran ini, entah saudara setuju dengan saya atau tidak, Tuhan memang melarang kita menikah dengan orang percaya tetapi Tuhan tidak melarang kita berpacaran dengan orang yang tidak percaya. Tetapi di dalam proses pacaran itu, saudara pasti berbicara mengenai feeling, mengenai value dan mau tidak mau juga bicara mengenai imanmu. Coba melalui relasi itu bikin dia mengerti mengenai iman kepercayaanmu kepada Kristus, bawa dia ke gereja, dsb. Maka sebelum saudara mengambil keputusan untuk menikah dengan dia, saudara harus yakin sungguh-sungguh dia sudah menjadi orang percaya juga. Dan yang terpenting saudara harus menaruh Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidupmu. Kalau akhirnya setelah beberapa lama dia tetap tidak terbuka hatinya untuk Tuhan, jangan berpikir setelah menikah suatu waktu mungkin dia akan menjadi percaya karena sulit untuk gambling seperti itu. Saudara harus terima fakta realita mungkin relationship itu tidak bisa jalan. Intinya pada waktu saudara memutuskan mau menikah, saudara yakin dan percaya pasanganmu sudah menjadi milik Tuhan. Kenapa hal itu penting? Saudara dan saya akhirnya harus mengakui – seperti yang Tuhan katakan- begitu kita masuk ke dalam satu pernikahan kita bersatu di dalam satu relasi yang begitu close, nilai-nilai kesamaan prinsip, agama, kepercayaan, itu merupakan faktor yang penting sekali. Kembali lagi saya ingatkan kalimat dari Leila Budiman, itu semua tidak menjadi persoalan selama tidak dibicarakan. Banyak orang mengambil sikap seperti itu. Melempar batu bukan lempar ke belakang tetapi lempar ke depan, dan someday dia akan menghadapi problem itu. Saudara dan dia punya problem di dalam pernikahan, istri pergi berdoa kepada Tuhan, suami pergi berdoa kepada dewanya. Saudara akan mengalami kesulitan-kesulitan bagaimana menyelesaikan problema di dalam kehidupan keluargamu. Saudara akan setuju bahwa cinta saja belum terlalu cukup untuk men-sustain relasi di dalam satu pernikahan. Tetapi kebanyakan orang waktu pacaran berpikir cinta romantik itu adalah hal yang terpenting. Tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, tidak masalah. Makan nasi dengan garampun cukup, tidur beralaskan koran tak apa asal cinta yang menaungi kita berdua. Saudara dan saya akan setuju, belajarlah dari orang-orang yang sudah menikah, mereka akan mengatakan begitu banyak aspek yang lain selain cinta. Salah satunya adalah sistem nilai kepercayaan kita merupakan faktor penopang yang penting. Itu sebab saya sangat rindu dan sangat mengharapkan mulai dari pacaran jangan lupa selalu bagaimana mempersiapkan diri memiliki kesamaan di dalam value. Pergi berbakti bersama, menyelesaikan persoalan dengan melihat prinsip kebenaran firman Tuhan merupakan faktor yang penting sekali.

Maka Paulus bicara keras di sini sebab banyak di antara jemaat Korintus yang tidak sensitif di dalam hal seperti ini. Jadi ini adalah section yang penting sekali. Kadang ada orang yang tidak taat, ini adalah fakta di dalam realita hidup. Cinta mungkin lebih besar dan kalau sampai tidak jadi dengan dia, tidak bisa dapat yang lain.

Banyak saudara yang di gereja juga tidak mau membuka kesempatan untuk satu relationship dengan sesama orang percaya. Kenapa? Kurang ganteng, kurang cantik? Saya meng-encourage saudara untuk membuka kesempatan itu. Kecantikan dan kegantengan itu sesuatu hal yang sangat relatif sekali. Kembali kepada firman Tuhan, saudara akan menemukan inner beauty kecantikan rohani itu yang lebih indah daripada kecantikan lahiriah. Bukankah suami istri yang menikah lebih dari 20 tahun akan mengakui bahwa pasangannya lebih cantik dan lebih ganteng daripada waktu baru kenal dulu? Tetapi bukankah itu melawan realita alam? Tetapi itulah kebenaran paradoks. Karena sering lihat, makin dilihat makin indah. Saudara melihat waktu dia melayani di gereja, waktu dia menmbimbing anak-anak sekolah minggu, saudara menemukan the other aspect of beauty. Jadi jangan terlalu cepat mematok sesuatu di dalam pikiran, cuma mau yang seperti apa, akhirnya tidak melihat yang lain. Lihat aspek tanggung jawabnya, kesungguhannya, dari cara berbicaranya, saudara akan menemukan keindahan yang luar biasa di dalam diri seseorang.

Yang kedua, jujur jawab pertanyaan saya ini, cantik itu sebenarnya ada di mana? Cantik itu ada di mata seseorang. Mata yang bersinar, mata yagn memancarkan semangat, mata yang memancarkan keteduhan, itu semua adalah kecantikan yang sangat menarik. Intinya, kecantikan itu punya aspek yang beragam. Alkitab mengatakan betapa indahnya wanita yang takut akan Tuhan, dia lebih berharga daripada permata. Setelah menikah lihat istri atau suami makin dekat bergaul kita akan menemukan aspek beauty yang lain di situ. Itu akan menjadi satu perekat dalam relasi sampai tua. Saudara akan menemukan kecantikan dan kegantengan itu merupakan aspek yang begitu kompleks. Pada waktu saudara ingin memulai satu hubungan yang serius di dalam pernikahan, kita taruh kriteria ini menjadi prinsip yang penting, Tuhan, aku mau mencari orang yang takut akan Tuhan, yagn mencintai Tuhan, yang melayani Tuhan dengan lebih baik, yang mengutamakan Tuhan lebih dari segala-galanya di dalam hidup ini. Saya percaya kalau saudara meletakkan prinsip ini lebih utama daripada yang lain, saudara akan menemukan keindahan dan kebahagiaan.

Maka Paulus menyadari hal ini dan memberikan firman Tuhan ini sebagai satu bijaksana alam, jangan menaruh kuk yang sama karena memang tidak compatible. Maka Paulus agak keras berbicara akan hal ini: bagaimana terang bisa bersatu dengan gelap? Bagaimana bait Allah bersatu dengan Belial? Saya percaya ini bagian yang sangat keras dari Paulus. Tetapi kita melihat aspek selanjutnya di pasal 7 Paulus mengatakan dia bersyukur melalui tegurannya yang sangat keras ini, jemaat Korintus akhirnya menjadi sadar.

Maka saya sebagai gembalamu berharap saudara berpikir seperti ini. Bagi para wanita, saudari mungkin takut untuk memulai untuk memperoleh pria yang serius, karena banyak wanita memiliki pria ideal di dalam pikirannya. Idealnya, you mau yang punya tanggung jawab, lucu, ganteng, dsb. Tetapi kalau saudara lihat di gereja ini ada pria yang mencintai Tuhan, rajin melayani, dsb, belajarlah untuk membuka relationship itu. Bagi orang tua yang karena di dalam masyarakat konsep wanita tidak menikah itu menjadi sesuatu yang tidak baik atau membuat malu, akhirnya memaksakan anaknya untuk menikah dengan siapa saja, saya harap jangan lagi menaruh konsep seperti ini. Prinsip yang harus kita pegang, Tuhan adalah yang terutama di dalam hidup kita. Kalau akhirnya tidak dapat dan tidak bisa ketemu dengan yang seiman, saudara akhirnya memutuskan tidak menikah, saya menghargai keputusan itu, daripada saudara akhirnya menikah dengan siapa saja. Menikah atau tidak menikah itu merupakan keputusan yang sangat penting. Tetapi sekali lagi melalui prinsip-prinsip ini saya harap saudara mencari yang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi Tuhan dan menjadikan dalam relasi saudara Tuhan menjadi yang terutama dan terpenting di dalam hidup ini

Sumber : http://www.griisydney.org





Apakah Soulmate Benar-Benar Ada?

1 10 2008

“Pernikahan yang baik bukanlah saat 2 orang yang sempurna tinggal bersama, tapi saat 2 orang yang tidak sempurna belajar menikmati perbedaan mereka.” -Dave Meurer.

Sayangnya, banyak orang mempunyai kriteria yang aneh dalam memutuskan siapa yang akan mereka nikahi. Mereka mempunyai beberapa kriteria karakter tentang Mr. atau Miss. Right. berapa sering Anda mendengar seseorang berkata, “Aku menikah karena aku telah menemukan pasangan jiwaku”?

Dia mengenal kepribadianku
Meskipun tidak pernah didefinisikan secara resmi dalam buku manapun, istilah “soulmate” digunakan oleh banyak orang seolah-olah kita semua memiliki pengertian yang sama. Beberapa definisi dari “soulmate” adalah seseorang yang…
Mempunyai latar belakang yang sama dengan Anda.
Berpikir seperti Anda.
Mengerti tentang Anda.
Mengenal Anda bahkan sebelum dia benar-benar mengenali Anda.
Mengenal Anda lebih baik daripada Anda sendiri.
Anda sudah bisa berbicara panjang lebar dengannya bahkan saat pertemuan pertama.
Mempunyai ketertarikan dan hobi yang sama dengan Anda.

Yang lain mengatakan bahwa “soulmate” itu…
Dapat melihat sampai ke hati Anda yang paling dalam.
Seperti setengah dari bagian diri Anda.
Pasangan yang sangat cocok untuk Anda.
Seperti kembaran Anda atau lawan Anda.
Adalah satu-satunya pasangan yang paling tepat untuk Anda.
Dengan cepat bisa terhubung dengan Anda.

Jika Anda berpikir bahwa hanya ada 1 orang di luar sana yang benar-benar tepat bagi Anda, Anda akan lebih tergoda untuk cepat-cepat menikah saat Anda mengira Anda telah menemukan orang itu. Ada banyak bukti bahwa kenyataannya ada beberapa orang di dunia ini yang dapat menjadi pasangan yang tepat bagi Anda. Resiko dari berpikir sebaliknya adalah, saat Anda yakin Anda telah menemukan sang pasangan jiwa, Anda mengabaikan semua kepekaan dan akal sehat, serta termotivasi untuk segera menikahi orang itu. Beberapa orang percaya akan adanya pasangan jiwa karena pengalaman masa lalu mereka, “Hubunganku dengan mantanku tidak berhasil karena dia bukan soulmate-ku… sekarang aku akan berusaha menemukan pasangan jiwaku yang sesungguhnya…”

Karena Anda percaya bahwa ada yang namanya pasangan jiwa di dalam “dunia” Anda, Anda mempunyai beberapa dugaan dalam pikiran Anda. Beberapa orang mencari lawan jenis yang mirip dengan mereka. Yang lain percaya bahwa seseorang itu adalah pasangan jiwanya jika si lawan jenis mempunyai kesamaan latar belakang, pemikiran, dan sudut pandang. Yang lain lagi masih percaya bahwa mereka akan secara intuitif mengenali pasangan jiwa mereka melalui “ketersambungan” mereka dengan lawan jenis mereka. Kenyataannya, mempunyai banyak kesamaan atau kemiripan memang sangat relevan dalam sebuah pernikahan yang sukses. Namun masalahnya muncul ketika Anda menjalankan misi untuk menemukan seseorang yang mempunyai satu atau beberapa kemiripan atau karakter tertentu, dan Anda menganggapnya sebagai tanda untuk menikah.

Berusaha menemukan pasangan yang tepat adalah permulaan yang bagus, tapi seseorang itu mempunyai banyak sisi. Anda tidak bisa menilai seseorang itu tepat untuk Anda hanya karena dia mempunyai beberapa kesamaan atau kelihatannya begitu “tersambung” dengan Anda. Anda membutuhkan waktu untuk mempelajari dan mengenali semua aspek lainnya, seperti perbedaan-perbedaan di antara Anda, kebiasaan dan keunikan yang dimilikinya, nilai-nilai hidupnya, mimpi dan tujuannya, pendapatnya, kecocokannya dengan Anda dalam area-area tertentu, dan lain-lain. Jangan terjatuh dalam jebakan “mentalitas soulmate” dan mengira bahwa seseorang adalah pasangan jiwa Anda hanya berdasarkan kesan-kesan semata.

Pandangan bahwa dua orang yang hanya mempunyai setengah (masing-masing belum utuh) akan menjadi utuh setelah mereka bersatu, juga banyak menipu orang. Bayangkan saja seperti 2 gelas yang masing-masing hanya berisi air setengahnya. Untuk membuat 1 gelas penuh, 1 gelas lainnya harus menjadi kosong. Mereka tidak menjadi utuh. Hanya 2 orang yang utuh-lah yang akan tetap utuh saat mereka bersatu. “Utuh” di sini dapat meliputi: sehat secara mental, sudah menutup lembaran hubungan sebelumnya dan siap membuka lembaran baru, sudah pulih dari luka-luka batin masa lalu dan masalah emosional yang berat, dan lainnya. Intinya, seseorang yang utuh mengetahui siapa dirinya di dalam Kristus, mengetahui bahwa dia ada di dunia ini untuk suatu tujuan, dan menempatkan Tuhan sebagai Sumber utama dalam hidupnya.

Sumber : jawaban





Cinta Pertama Tak Kunjung Sirna

26 09 2008

Seorang ibu akan langsung menutup mulut anaknya ketika buah hatinya itu mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh, misalnya “begundal”, atau menyebut sesama temannya bermain sebagai binatang melata.

“Jangan ulangi kata itu lagi, Nak,” kata sang ibu singkat dan bernas.

Lain halnya ketika seorang pemuda menyatakan bahwa cinta pertama tidak akan kunjung sirna, maka perempuan kekasihnya merespons dengan senyum di bibir, wajah kemerahan, dan kedua belah mata berbinar.

“Aku ingin mendengar kata itu lagi darimu,” kata perempuan kepada pasangannya itu.

Baik ibu maupun sepasang kekasih itu melahirkan pembedaan antara orang yang bernalar logis dengan orang yang berpikir dialektis.

Ibu langsung melarang anaknya agar tidak mengucapkan kata-kata yang tidak patut itu dan menjatuhkan pilihan pada “tidak” kepada kosa kata buah hatinya itu. Sedangkan, pria yang sedang kesengsem itu boleh jadi merayu, bukan mengungkapkan perasaan hati sesungguhnya. Pria ini sedang memainkan pola “ya” serentak “tidak”.

Orang yang hanya bernalar logis akan menjawab semua pertanyaan dengan “ya” dan “tidak”, sedangkan orang yang bernalar dialektis sadar bahwa kadangkala sebuah pertanyaan perlu direspons baik dengan “ya” maupun “tidak”.

Kolumnis MAW Brouwer (alm) memiliki pengungkapan yang jenaka ketika menjelaskan perbedaan antara orang yang berpikir logis dengan dialektis. Ia menggunakan khasanah dunia percintaan di kalangan muda-mudi semasanya.

Ia merangkum persoalan percintaan kala itu dengan mengajukan sejumlah pertanyaan antara lain, apakah memang benar cinta pertama tak kunjung sirna? Apakah berdosa mencium pacar ketika melakukan kencan?

Dengan pengalamannya yang terbatas – karena memang ia seorang pastor- Brouwer yang juga seorang psikolog menjawab bahwa mengucapkan saja tidak lantas mendorong seseorang untuk melakukan tindakan.

Sebagai seorang yang pernah belajar filsafat, Brouwer memahami kredo bahwa “pikiran haruslah menjadi praktis”.

Di bawah bendera tuntutan untuk menjadikan pikiran agar menjadi praktis itulah, pemikir Tan Malaka coba mengajak masyarakat keluar dari kungkungan pola pemikiran serba mitos, dan memandang realitas sebagai sumber dari segala sumber.

Lewat karyanya “Madilog”, Tan Malaka menyarikan dialektika sebagai “cara berpikir yang berlainan”, atau cara berpikir timbal balik.

Bagi dia, semua masalah mempunyai dua sudut yang menurut pandangan yang tidak dialektis tampak saling bertentangan. Meski bagi pandangan dialektis sendiri, pertentangan atau konflik justru bahan bakar bagi kemajuan.

Di dunia percintaan, konflik kerapkali menyuburkan perjalanan sepasang kekasih. Mereka belum cukup mengandalkan jargon “cinta pertama tak kunjung sirna”. Mereka ingin cinta yang dibangun dapat juga memuat saling timbal balik. Ungkapan yang agaknya pas yakni “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji”.

Dalam pembacaan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Frans Magnis Suseno SJ, karya Madilog menyentuh sisi bahwa berpikir secara dialektis tidak boleh melepaskan logika. Logika sebagai tertib cara berpikir yang masuk akal masih tetap berlaku.

Menurut pakar etika sosial itu, berpikir logis secara sederhana berarti bahwa persoalan pasti dijawab dengan pasti pula.

Kalau pikiran harus menjadi praktis dan logis, maka adanya persoalan yang dialami masyarakat belakangan ini memerlukan jawaban pasti pula. Anggota masyarakat ingin tampil sebagai merpati yang selalu menepati janji.

Lihat saja animo masyarakat ketika memberi sumbangan dana setelah melihat tayangan keprihatinan dari sesama saudaranya setanah air yang tertimpa musibah atau bencana.

Ratusan juta terkumpul, ketika tayangan Republik Mimpi disiarkan oleh sebuah televisi swasta yang sebelumnya menampilkan kerusakan sejumlah sekolah di propinsi Jawa Barat.

Publik tersentak oleh sihir “cinta pertama tak kunjung sirna” kemudian tindakan yang diambil mereka merogoh koceknya untuk memberi sumbangan yang digunakan bagi perbaikan dan pembangunan sekolah.

Publik tersentuh sebuah dialektika, bahwa ratusan ribu ruang kelas nyatanya mengalami kerusakan. Tindakan yang diambil yakni langsung menyumbang, bukan justru menuding penyebabnya. Publik ingin keluar dari mitos dengan mengajukan jawaban yang pasti, bukan melempar wacana yang serba logis, meski hampa dalam kenyataan.

Publik tersentak. Ratusan ribu ruang kelas, khususnya di sekolah dasar atau SD, kini dalam kondisi rusak berat. Data yang dihimpun pekan lalu dari sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan saja menunjukkan setidaknya 88.000 ruang kelas dalam kondisi rusak.

Di Jawa Barat, misalnya, terdapat 58.511 ruang kelas yang rusak dan perlu diperbaiki. Jika seluruhnya diperbaiki, setidaknya diperlukan biaya Rp 2,8 triliun.

Di Jawa Tengah, kondisinya tidak jauh berbeda. Puluhan ribu ruang kelas dalam kondisi rusak. Di Kabupaten Pati, misalnya, 50 persen dari gedung SD yang jumlahnya 702 kini rusak berat. Jika satu sekolah terdiri enam kelas, ruang kelas yang rusak lebih dari 2.000. Kondisi yang hampir sama juga ditemukan di Brebes.

Menurut harian Kompas, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Gatot Bambang Hastowo yakin pada akhir tahun 2008 tidak akan ada lagi sekolah rusak.

“Sekolah-sekolah yang rusak itu akan diperbaiki dengan dana 50 persen dari pusat, 30 persen dari provinsi, dan 20 persen pemerintah/kota,” kata Gatot.

Di Jawa Barat, umpamanya, tahun lalu, para bupati/wali kota bersama gubernur dan Menteri Pendidikan Nasional telah membuat nota kesepahaman pembagian peran (role sharing) dalam pembangunan sekolah.

Dalam kesepakatan itu, pemerintah pusat akan menganggarkan Rp1,42 triliun, provinsi Rp851,6 miliar, dan kabupaten/kota Rp567,8 miliar.

“Tapi sekitar dua bulan lalu kami mendapat kabar bahwa dana role sharing dari pusat belum jelas,” kata anggota Komisi D Bidang Pendidikan DPRD Kabupaten Bandung, Dadang Rusdiana. Kabupaten Bandung merupakan kabupaten di Jabar dengan jumlah ruang rusak paling banyak, 6.285 ruang.

Sementara itu, sedikit-dikitnya ada tiga kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yakni Serangbaru, Cibarusah, dan Bojong Mangu, mulai dilanda kekeringan. Kekeringan juga memaksa petani di Kecamatan Bojong Mangu memanen padi mereka lebih awal.

Kekeringan juga terpantau di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, dan Desa Nagasari, Kecamatan Serangbaru. Selain ketiga kecamatan di wilayah selatan itu, Kecamatan Babelan yang berada di wilayah utara Kabupaten Bekasi juga kekeringan.

Sedangkan, PT Thames PAM Jaya (TPJ) mengumumkan adanya penurunan produksi air berkenaan dengan pekerjaan perbaikan penyaring air baku di Instalasi Produksi Air (IPA) Buaran.

Ketika publik tersedak oleh soal kerusakan sekolah, kekeringan, dan ketiadaan fasilitas air bersih, maka yang dilakukan justru mempertahankan kredo bahwa “pikiran haruslah menjadi praktis”.

Menurut nalar publik, berpikir logis secara sederhana berarti bahwa persoalan pasti dijawab dengan pasti pula. Publik belum cukup kenyang dengan berbagai wacana yang “njlimet”. Sementara elite terkesan asyik dengan istilah-istilah yang tidak membumi.

Apakah memang publik perlu menempuh upaya memblokir jalan seperti dilakukan oleh warga empat desa di Kecamatan Parung Panjang dan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mereka keluar dari pikiran yang tidak membebaskan untuk memilih langkah praktis.

Aksi massa menjadi langkah praktis ketika logika kekuasaan tidak mampu menyejahterakan dan menyediakan fasilitas mendasar antara lain pendidikan, sarana air bersih, dan didera kekeringan.

Publik ingin menjadi merpati yang setia pada janjinya. Publik ingin cintanya yang pertama tidak menemui kekecewaan menjadi kisah kasih tak sempurna.





Cinta Dan Perkawinan

23 09 2008

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.

Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.

Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia – sialah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.





Mampukan Kita Mencintai Tanpa Syarat

23 09 2008

Buat para suami baca ya…

Istri dan calon istri juga boleh…

Based on True Story.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi. Usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikaruniai 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba – tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, Dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa – apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka, sekarang anak – anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing – masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati – hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata – katanya “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak – anak mereka. “Anak – anakku… Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian… Semenjak kerongkongannya tersekat… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?”

Sejenak meledaklah tangis anak – anak pak Suyatno merekapun melihat butiran – butiran kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno… dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa – apa.

Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru di situlah Pak Suyatno bercerita, “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu – lucu.

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit…”