Menghadapi Kematian

28 12 2008

Tidak ada seorangpun di antara kita yang ingin menghadapi atau mengalami kepahitan dalam hidup ini. Namun kenyataan memberitahu kita bahwa kepahitan sering singgah dalam hidup kita sekalipun tanpa diundang atau dicari seperti yang dialami oleh umat Israel dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian. Demikian tercatat dalam Kitab Keluaran 15:22-27:

“Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan- peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.”

Kepahitan dalam hidup ini dapat berbentuk sakit penyakit yang parah dan mematikan yang tidak hanya diderita oleh anggota keluarga yang kita kasihi tetapi juga pada diri kita sendiri. Kematian anggota keluarga yang kita anggap belum waktunya ataupun yang belum dipastikan keselamatan jiwa-rohnya. Musibah yang mengakibatkan kerugian materi yang menyebabkan kita kehilangan segala-galanya ataupun cacat fisik yang tak tersembuhkan. Kepahitan dapat juga berupa masa depan yang tidak menentu seperti yang banyak dialami oleh WNI pria yang berusia diatas 16 tahun dan saat ini ´over stay´ di Amerika Serikat. Tinggal tanpa melapor sulit, melapor juga sulit, bagaikan makan buah simalakama — dimakan ayah mati tidak dimakan ibu mati. Khususnya bagi mereka yang telah belasan tahun di Amerika dan mempunyai anak.

Kalau harus kembali ke Indonesia, di Indonesia pun keadaan ekonomi tidak lebih baik daripada Amerika kalau tidak mau dikatakan lebih parah. Pengangguran yang terus meningkat, keamanan yang tidak menentu, politik yang tidak stabil khususnya menjelang Pemilu, dan diskriminasi terhadap kaum minoritas yang masih dipertahankan. Selain itu merajelalanya korupsi telah merasuk ke tulang sumsum bangsa yang tidak terobati dan penanganan hak azasi manusia yang masih amburadul. Semua itu hanya sebagian kecil dari kondisi di Indonesia dimana sangat sulit bagi orang-orang percaya untuk membesarkan anak-anak mereka di dalam iman dan moral kristiani jika tidak mau berkompromi. Menghadapi semuanya itu bagaimanakah seharusnya kita bersikap sebagai orang-orang percaya?

Dunia yang Tidak Ideal.

Kita tahu bahwa kepahitan yang dihadapi oleh umat Israel dengan mata air Mara tersebut bukanlah sesuatu yang direncanakan ataupun yang sengaja ingin ditemukan oleh mereka. Kita juga tahu bahwa mereka dipimpin oleh Musa, seorang pemimpin yang beriman dan dekat dengan Allah. Kita percaya bahwa tentu dalam memimpin umat Israel Musa juga sudah berdoa dan memohon pimpinan Allah agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak menggembirakan. Sudah pasti Musa tidak meminta untuk melewati mata air yang pahit atau merencanakan untuk memimpin bangsanya ke dalam situasi yang pahit sebab ia tahu betul tipe yang bagaimana umat Israel itu, yaitu bangsa yang tegar tengkuknya: kalau senang, tidak tahu berterima kasih; kalau susah sedikit saja langsung memaki-maki.

Semua itu terjadi bukan karena Musa salah memimpin mereka dan bukan pula karena Allah tidak tahu apa yang akan mereka tempuh atau Allah tidak sanggup menghindarkan mereka dari kepahitan tersebut. Semua itu terjadi karena memang dunia ini bukan dunia yang ideal. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa, dunia yang sudah terkutuk dan dikutuk. Sekalipun kita beriman, percaya bahkan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, setia, dan tulus, tidak menjamin bahwa kita terluput dari kepahitan sebab kepahitan itu tidak pandang bulu.

Sehingga tidak heran ada yang bertanya “Why good people suffer?” bahkan pemazmurpun bisa berkata:

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sia-sia sama sekali Aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari, aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:1-2, 13-14)

Dalam Mazmur tersebut si pemazmur mengakui bahwa sekalipun ia tahu bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya, ini adalah pengetahuan yang benar tentang Allah, namun tidak menjamin bahwa ia terhindar dari penderitaan dan kepahitan yang membuatnya kecewa bahkan hampir tergelincir imannya. Ini adalah suatu akibat yang wajar dan normal. Janganlah kita langsung menunjuk jari bahwa pemazmur adalah orang yang lemah imannya. Karena tanpa sadar tiga jari kita menunjuk kepada diri kita sendiri.

Adakah saudara saat ini dalam kepahitan? Ketahuilah bahwa semua itu adalah wajar dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini. Dunia ini memang tidak ideal. Melalui kepahitan ini iman kita kepada Allah yang kita percaya diuji. Reaksi kita terhadap kepahitan tersebut akan merefleksikan iman kita kepada Allah yang kita percayai, yaitu Allah yang telah menyelamatkan kita dari dosa.

Jangan bersungut-sungut

Menghadapi mata air yang pahit di Mara, kita melihat ada dua reaksi yang berbeda sebagai refleksi iman. Pertama adalah bersungut-sungut, “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa”. Siapakah mereka yang bersungut-sungut itu? Mereka adalah umat Israel yang telah mengalami berbagai macam kuat kuasa Allah. Mereka yang dahulunya menjadi budak dan menderita di Mesir dengan kuat kuasa Allah melalui berbagai mujizat telah dilepaskan dari perbudakan. Kuat kuasa Allah yang terakhir adalah kelepasan mereka dari malaikat maut melalui pengorbanan anak domba yang disembelih dan yang darahnya dibubuhkan di kedua ambang pintu serta terbelahnya Laut Merah sehingga mereka selamat dari kejaran Firaun serta bala-tentaranya. Mujizat-mujizat yang mereka alami sungguh luar biasa. Namun demikian mujizat-mujizat yang luar biasa tersebut tidak menjamin untuk mencegah mereka tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan. Banyak orang kristen yang gandrung akan mujizat dan menganggap mujizat itu dapat menguatkan iman mereka. Tetapi kenyataan memberitahu bahwa mujizat bukan jaminan untuk iman yang teguh. Iman kita tidak boleh dilandaskan pada pengalaman akan mujizat karena mujizat adalah landasan yang sangat lemah. Landasan iman kita haruslah Firman Kristus,

“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Mereka bukan saja mempunyai pengalaman luar biasa dengan mujizat, mereka juga mempunyai pengenalan yang benar tentang Allah atau boleh dikatakan teologia yang benar tentang Allah. Seperti yang terungkap ketika mereka memuji Allah setelah dilepaskan dari kejaran Firaun:

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban? … Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus” (Keluaran 15:11,l3).

Namun semua itu tak dapat mencegah mereka untuk tidak bersungut- sungut!

Untuk tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan baiklah kita mengikuti teladan Daud yang berkata,

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:1-2)

Itulah kiat mujarab agar kita tidak bersungut-sungut bahkan sanggup memuji TUHAN dalam segala keadaan. Menghitung semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, terutama keselamatan yang dianugerahkan kepada kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib di Golgota.

Berseru-seru kepada TUHAN.

Berbeda dengan umat Israel yang bersungut-sungut, maka reaksi Musa terhadap kepahitan itu adalah “berseru-seru kepada TUHAN”. Inilah refleksi iman yang harus ada pada kita tatkala menghadapi kepahitan dalam hidup ini. Berseru-seru kepada TUHAN adalah pernyataan iman Musa yang percaya bahwa TUHAN mempunyai cara-Nya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan juga iman yang mau melakukan apa yang diperintahkan TUHAN, iman yang ´trust and obey´. Dengan tanpa bertanya apa jenis kayu tersebut dan ragu bagaimana hal itu bisa terjadi “Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis.”

Apakah Anda saat ini dalam kepahitan hidup? Berdoalah, berseru- serulah kepada TUHAN, dan nantikanlah jawaban-Nya. Pekalah terhadap jawaban TUHAN. Memang ada yang mengatakan bahwa jawaban doa kita biasanya “Ya”, “Tidak”, atau “Tunggu”; namun jangan kita tertutup dengan jawaban lainnya dari TUHAN. Yakinlah jika dengan sungguh- sungguh kita mau ´trust and obey´, maka pada waktunya — karena segala sesuatu ada waktunya — kepahitan itu akan berubah menjadi manis. TUHAN sanggup “membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkotbah 3:11) dan percayalah semua kepahitan itu akan berlalu oleh kuasa TUHAN. Semoga TUHAN menolong kita semua menghadapi kepahitan hidup ini dengan sikap yang benar, merefleksikan iman kita kepada TUHAN agar mereka yang belum percaya mau mengenal-Nya.

Setelah semuanya itu berlalu mereka melanjutkan perjalanan dan “Sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma” suatu tempat yang kontras dengan Mara, suatu tempat yang lebih nyaman daripada Mara yang pahit itu. Namun mereka tidak boleh berkemah seterusnya di sana sebab tujuan akhir mereka bukanlah Elim, tetapi tanah perjanjian. Demikian juga dalam perjalanan iman kita. Kepahitan dan kenyamanan bukanlah tujuan akhir dari hidup kita. Oleh karena itu apapun yang kita hadapi dalam hidup ini janganlah kita berhenti tetapi teruskanlah perjalanan iman kita.

Viktor Frankl, seorang ahli ilmu jiwa asal Austria yang dipenjara oleh Nazi pada Perang Dunia II, setelah dibebaskan, menulis buku berjudul ´Man´s Search For Meaning´ (Pencarian Manusia akan Makna Hidup), yang menjadi buku laris sepanjang masa. Dalam buku ini, Frankl membagikan semua pelajaran penting yang ia petik dari penderitaannya:

“Saya berani berkata bahwa di dunia ini tak ada yang dapat benar- benar menolong seseorang untuk terus bertahan hidup, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, selain pemahaman bahwa sesungguhnya hidup seseorang itu berarti.”

Semoga dalam kepahitan hidup, Tuhan menguatkan kita untuk terus mempertahankan hidup ini. Karena hidup yang telah ditebus Kristus ini sangat berarti untuk memuliakan TUHAN. Amin..

Advertisements




Berserulah KepadaKu

24 11 2008

Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Yer 33:3)

Kepuasan sejati tidak tergantung dari apa yang kita pikirkan atau rasakan.

Kepuasan sejati atau kebahagiaan sejati dalam hidup ini hanya dapat ditemukan di satu tempat

Tidaklah mengherankan, apabila saat ini banyak buku-buku yang mengangkat tema mencapai kepuasaan atau kebahagiaan sejati. Salah satu yang terkenal dan mengundang kontroversi adalah “The Secret”. Sudah jutaan kopi terjual di seluruh dunia dan yang mengejutkan adalah buku ini juga menganut prinsip-prinsip alkitabiah.

Kebenaran sesungguhnya tidak terdapat pada filosofi. Rahasia atai kebenaran sesungguhnya adalah ada dia dalam Dia

Hanya di dalam Dia, kita dapat menemukan segala macam rahasia, segala jawaban terhadap masalah atau persoalan kita hari ini

Ketika masalah menghampiri, kemana kita mencari jawabannya ? Apakah kita mengandalkan Dia atau mencari cara dengan mengandalkan akal kita yang terbatas?

Mari kita belajar mengandalakan Allah kita yang tak terbatas yang menjawab doa Elia ketika ia meminta hujan turun, yang menjawab doa Paulus dan Silas dan membebaskan mereka dari penjara, dan yang membangkitkan Yesus dari kubur

Ingatlah, doa kita mengubah sesuatu, dapat mengubah situasi di sekeliling kita, bahkan mengubah sejarah, Ketika situasi dan tekanan datang, janganlah bergantung kepada diri kita yang terbatas, tetapi andalkan Dia yang tak terbatas!

Ketika kau berdoa, sabarlah dalam menunggu waktu Tuhan. Dia Allah yang berjanji akan memberi kekuatan dan damai yang kau perlukan selama masa penantianmu.

“Jangan katakan kepada Allahmu betapa besar masalahmu, tetapi katakanlah kepada masalahmu betapa besar Allahmu”





Puasa Kristen

20 11 2008

Pada umumnya menjelang bulan Puasa selalu timbul pertanyaan; apakah bagi orang Kristen juga ada kewajiban puasa seperti para penganut agama lainnya? Bagaimana puasanya orang Kristen dan berapa lama?

Pertama perlu diketahui bahwa Puasa umat Kristen itu bukan hanya sekedar diet seperti juga untuk melangsingkan tubuh ataupun detoksifikasi, jadi bukan hanya sekedar pantang makan dan minum saja. Diet dan puasa itu beda.

Diet hanya puasa jasmani lahiriah saja, sedangkan puasa adalah untuk “Jiwa dan Raga”. Jadi bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja melainkan juga menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang Allah. Menahan diri dari gempuran dari segala macam godaan maksiat. Entah ini nyolong pulsa pada saat jam kantor ataupun berselingkuh. Dan perlu diketahui juga bahwa puasa bukan untuk menghukum tubuh Anda, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan.

Mulai dari Musa (Kel 34:28), Elia (1 Raj 19:8) maupun Tuhan Yesus (Mat 4:2) sendiri; mereka melakukan puasa selama 40 hari. Berpuasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu, jadi bukannya hanya menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu saja (Est 4:16; Kel. 34:28). Umat Kristen pada umumnya melakukan puasa menjelang Paskah atau dilakukan dengan cara berpantang.

Kenapa puasa 40 hari ? Ini mengingatkan Tuhan Yesus yang berpuasa 40 hari (Mat. 4:2) dan juga bangsa Israel 40 tahun dipadang gurun hidup sengsara. Sedangkan puasa Senin – Kamis merupakan tradisi orang Farisi (Luk 18:21). Puasa tidak selalu harus 40 hari, lihat jenis macam puasa yang terlampir dibawah ini.

Agama Kristen Protestan tidak mewajibkan untuk berpuasa, sedangkan Kristen Katolik mewajibkan untuk berpuasa pada masa pra-paskah.

Yesaya dengan jelas memberitahukan umat Israel (Yes. 58) bahwa orang bisa saja tidak melakukan puasa lahir, tetapi yang harus dilakukan adalah melakukan puasa batin, yaitu berpuasa dari kelaliman, menganiaya dan memperbudak orang. Berpuasa dari mengenyangkan diri sendiri menjadi memberi makan orang lapar, tidak punya rumah, dan yang telanjang (Mat. 25:31-46). Jadi, puasa itu pada dirinya sendiri tidak memiliki arti bila bukan merupakan ungkapan hati yang bertobat dan merendahkan diri di hadapan Allah.

Yesus menekankan bahwa Puasa harus dilakukan demi kemuliaan Tuhan semata-mata dan bukan untuk mendapat pujian, pamer atau perhatian manusia ataupun untuk kepentingan pribadi misalnya agar bisa naik pangkat, ataupun ingin lulus ujian.

Masalahnya banyak orang menyalahartikan dengan apa yang tercantum dalam Alkitab Matius 17:21 seakan-akan apabila kita hanya berdoa saja, doa kita itu kurang afdol dan kurang di dengar oleh Allah. Banyak orang berpikir melalui tindakan berpuasa dengan sendirinya menjamin bahwa Allah akan mendengar dan mengabulkan seluruh doa kita (Yes 58:3-4) Untuk menentang ini para nabi menyatakan, bahwa tanpa kelakuan yang benar, tindakan berpuasa adalah sia-sia (Yes 58:5-12; Yer 14:11; Za 7)

Puasa merupakan suatu ibadah, maka pelaksanaannya tidaklah dapat dipaksakan. Relasi dengan Allah adalah soal keyakinan pribadi dan tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu gugat hal itu. Namun permasalahannya adalah, jika puasa itu adalah ibadah apakah puasa perlu dilegalkan atau diwajibkan dalam hukum agama? Jika demikian kenyataannya, berarti relasi manusia dengan Allah adalah sesuatu yang dapat (bahkan harus) dipaksakan.

Puasa berkaitan dengan komitmen. Maka jenis dan bentuk berpuasa (mis. Pantang makanan; minum; dan berapa lamanya seseorang harus berpuasa) ditentukan oleh orang yang hendak berpuasa berdasarkan komitmen pribadinya dengan Tuhan; bukan ditentukan oleh aturan agama.

Puasa adalah panggilan, bukan kewajiban. Karena itu puasa harus dilakukan dengan sukacita bukan karena terpaksa. Puasa bukan pula ukuran kesalehan atau kerohanian seseorang. Orang yang menjalankan puasa tidak berarti dia lebih saleh atau lebih beriman dari mereka yang tidak berpuasa.

Perlu disadari bahwa penebusan Yesus di atas kayu salib telah menggenapi Hukum Taurat (PL) yang bergantung pada usaha manusia menyelamatkan diri sendiri dengan melakukan hukum agama secara ketat (sunat, korban, sabat, puasa, halal-haram dll), menjadi kasih karunia Allah yang diberikan kepada setiap orang yang percaya dan bertobat (Yoh. 3:16; Ef. 2:8-10).

Terlampir dibawah ini jenis macam Puasa berdasarkan Alkitab:

1. Puasa Musa, 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum (Kel 24:16 dan Kel 34:28)

2. Puasa Daud, tidak makan dan semalaman berbaring di tanah (2 Sam 12:16)

3. Puasa Elia, 40 hari 40 malam berjalan kaki (1 Raj 19:8)

4. Puasa Ester, 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Est 4:16)

5. Puasa Ayub, 7 hari 7 malam tidak bersuara (2:13)

6. Puasa Daniel, 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih (Dan 1:12), doa dan puasa (Dan 9:3), berkabung selama 21 hari (Dan 10:2)

7. Puasa Yunus, 3 hari 3 malam dalam perut ikan (Yunus 1:17)

8. Puasa Niniwe, 40 hari 40 malam tidak makan, tidak minum dan tidak berbuat jahat (Yunus 3:7)

Apakah tujuannya kita berpuasa?

1. Untuk merendahkan diri di hadapan Allah

2. Untuk menyatakan rasa kasih kita kepada Tuhan Yesus

3. Untuk mendisiplinkan tubuh kita dari keinginan duniawi, salah satu cara untuk menyangkal diri.

4. Untuk menambah rasa simpati kepada sesama, agar bisa merasakan penderitaan orang lain.

5. Untuk meminta jawaban Tuhan atas permasalahan kita.

6. Untuk mengusir jenis setan tertentu yang hanya bisa diusir dengan doa puasa.

Apakah dalam Agama Kristen ada yang namanya Puasa?

Agama Kristen Protestan tidak mewajibkan untuk berpuasa, sedangkan Kristen Katolik mewajibkan untuk berpuasa pada masa pra-paskah.

Bagaimana cara kita berpuasa?

Terserah pribadi masing-masing. Tentukan sendiri jangka waktunya: 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, 40 hari, dst. Tentukan jenis puasanya: hanya makan sayur, tidak makan, tidak makan dan tidak minum, atau puasa kebiasaan jelek seperti ; tidak merokok, tidak berjudi, dll. Perbanyak jam doa, pujian penyembahan dan baca Alkitab supaya lebih efektif.

Apakah Tuhan Yesus mengajarkan agar kita berpuasa?

Ya, Yesus mengajarkan agar murid-muridNya untuk berpuasa. Tuhan Yesus berkata: “Dan apabila kamu berpuasa,…” (Mat 6:16). Kata apabila artinya adalah sebagai orang Kristen, pada suatu saat kita akan berpuasa. Hanya waktunya sebaiknya tidak diwajibkan oleh agama, karena niat berpuasa timbul dari masing-masing pribadi.

Apa yang Yesus ajarkan ketika kita berpuasa?

Sedapat mungkin agar tidak ada orang lain yang tahu jika kita berpuasa. Biar hanya Tuhan yang tahu dan memberi upah kepada kita. Oleh karena itu agama Kristen tidak mewajibkan waktu puasa.

Mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa ketika Ia bersama mereka?

Karena puasa adalah untuk menunjukkan kepada Allah, sedangkan Yesus adalah Imanuel (=Allah beserta kita).

Untuk apa berpuasa jika Allah sudah ada di tengah-tengah mereka?

Yesus telah menjelaskan dalam Mat 9:15. Yesus juga menerangkan lewat perumpamaan bahwa puasa dalam Perjanjian Lama berbeda dengan puasa dalam Perjanjian Baru (Mat 9:16-17).

Apakah bedanya puasa dalam PL dan PB?

Puasa dalam PL yang dilakukan secara rutin oleh bangsa Israel adalah untuk menantikan kedatangan Mesias, Penyelamat bangsa Israel yang dijanjikan dalam kitab Taurat dan kitab para nabi. Sedangkan dalam PB, Mesias telah datang dan berkarya. Artinya Keselamatan sudah datang, dan kita berpuasa untuk menjaga keselamatan yang sudah kita miliki.

Apakah ada niat puasa selain jawaban diatas?

Ya, seperti Musa dan Elia, mereka berpuasa karena memang Tuhan memberikan kekuatan untuk bersekutu secara intim dengan Tuhan, sehingga mereka tidak merasa lapar dan haus, seperti keadaan di sorga. Lainnya untuk situasi yang mendesak, untuk meminta belas kasihan dati Tuhan, untuk meminta agar Tuhan bertindak dalam masalah kehidupan kita, untuk meminta kekuatan Allah dalam pelayanan.

Apa saja puasa yang tercatat dalam PL?

1. Puasa Musa, 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum (Kel 24:16 dan Kel 34:28)

2. Puasa Daud, tidak makan dan semalaman berbaring di tanah (2 Sam 12:16)

3. Puasa Elia, 40 hari 40 malam berjalan kaki (1 Raj 19:8)

4. Puasa Ester, 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Est 4:16)

5. Puasa Ayub, 7 hari 7 malam tidak bersuara (2:13)

6. Puasa Daniel, 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih (Dan 1:12), doa dan puasa (Dan 9:3), berkabung selama 21 hari (Dan 10:2)

7. Puasa Yunus, 3 hari 3 malam dalam perut ikan (Yunus 1:17)

8. Puasa Niniwe, 40 hari 40 malam tidak makan, tidak minum dan tidak berbuat jahat (Yunus 3:7)

Apa saja puasa yang tercatat dalam PB?

1. Puasa Yesus, 40 hari 40 malam tidak makan (Mat 4:2)

2. Puasa Yohanes pembabtis, tidak makan dan tidak minum (Mat 11:18)

3. Puasa Paulus, 3 hari 3 malam tidak makan, tidak minum dan tidak melihat (Kis 9:9)

4. Puasa Jemaat mula-mula, untuk menguatkan Paulus dan Barnabas dalam pelayanan (Kis 13:2-3)

Alkitab tidak memerintahkan orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah sesuatu yang dituntut atau diminta Allah dari orang-orang Kristen. Pada saat yang sama, Alkitab memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik, berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Rasul mencatat tentang orang-orang percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-keputusan penting (Kisah Rasul 13:4; 14:23). Doa dan puasa sering dihubungkan bersama (Lukas 2:37; 5:33). Terlalu sering fokus dari puasa adalah tidak makan. Seharusnya tujuan dari puasa adalah melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Puasa menolong Anda untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan pada Tuhan.

Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apapun yang dapat Anda tinggalkan untuk sementara demi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan dengan cara yang lebih baik dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5). Puasa perlu dibatasi waktunya, khususnya puasa makanan. Tidak makan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak tubuh. Puasa bukan untuk menghukum tubuh Anda, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan. Puasa tidak boleh dianggap sebagai salah satu “metode diet.” Jangan berpuasa untuk menghilangkan berat badan, tapi untuk memperoleh persekutuan yang lebih dalam dengan Allah. Benar, siapa saja bisa berpuasa. Ada orang-orang yang tidak bisa puasa makan (penderita diabetes misalnya), tapi setiap orang dapat untuk sementara meninggalkan sesuatu demi untuk memfokuskan diri pada Tuhan.

Dengan mengalihkan mata dari hal-hal dunia ini, kita dapat memusatkan diri pada Kristus dengan lebih baik. Puasa bukanlah cara untuk membuat Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Puasa mengubah kita, bukan Tuhan. Puasa bukanlah cara untuk kelihatan lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam kerendahan hati dan dengan penuh sukacita. Matius 6:16-18 mengatakan, “”Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Berbagai sumber





Memilih Jodoh Menurut Agama Kristen

15 11 2008

Allah memiliki prinsip-prinsip yang mutlak dalam memilih jodoh/pasangan hidup untuk anak-anak yang dikasihiNya. Dan Allah memiliki cara-cara yang indah untuk mempertemukan seorang pria dan wanita yang akan disatukan dalam satu kesatuan yang sempurna.

Banyak pemuda remaja yang salah dalam menemukan pasangan hidup karena tidak mengerti tentang prinsip-prinsip firman Allah yang sesungguhnya. Cara yang salah tersebut diakibatkan karena banyak pemuda remaja yang mempelajarinya melalui novel, film atau contoh di sekitarnya; yang biasa disebut ‘romantik’ , ‘asmara’, ‘buku-buku’, dll.

Sebelumnya kita perlu mengetahui tujuan Allah dan dasar yang mempersatukan pria dan wanita :

a. Tujuan pernikahan

1. Mengambil alih kekuasaan di bumi (memenangkan dunia melalui keluarga yang harmonis)

2. Menggenapi rencana Allah yang sempurna

3. Melahirkan keturunan Illahi.

b. Dasar yang mempersatukan adalah ‘Cinta Sejati’ (agape)

Cinta sejati/agape Vs Cinta Asmara

Cinta Sejati

1. Butuh waktu untk tumbuh dan berkembang

2. Sifatnya kekal (Kidung 8:6-7)

3. Selalu memikirkan kebaikan orang yang dicintai karena dasar cintanya adalah kasih Allah. ( I Kor 13:4-7 )

4. Didasari oleh komitmen/janji kekudusan ( I Ptr 1:16 ) dalam pernikahan = covenant.

5. Subyeknya : orang yang dikasihi

Cinta Asmara

1. Datangnya tiba-tiba dan berangsur memudar (karena hanya perasaan/roman/khayalan)

2. Sifatnya sementara

3. Berpusat pada kepentingan diri sendiri

4. Didasari oleh daya tarik fisik saja.

5. Subyeknya kepada diri sendiri

Bagaimana Menemukan Pasangan Hidup Dari Allah ?

a. Perbedaan Antara Metode Allah dengan Metode Dunia

Metode Allah

1. Inisiatif dari Allah (Kej 2:18 )

2. Mendengar suara Tuhan/konfirmasi (Kej 2:28) dan menguji suara tersebut dengan firman Allah.

3. Mengetahui kehendak Tuhan (Rm 12:2).

4. Percaya kepada Tuhan dan tidak khawatir (Ams 3:5)

5. Bergaul sampai dipertemukan Tuhan

Metode Dunia

1. Inisiatif sendiri/dijodohkan

2. Hanya tertarik dengan pandangan mata saja (fisik dan materi)

3. Cenderung dipaksakan / dicocokkan

4. Memakai usaha sendiri dan khawatir.

5. Mencari-cari dan memilih-milih sendiri.

b. Syarat-syarat Penting Dalam Menemukan Pasangan Hidup

1. Seiman (II Kor 6:14-17:1), harus sepadan/seimbang,sudah lahir baru,mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan

2. Ada penjelasan

3. Kasih agape

4. Kedewasaan

a) Dewasa jasmani

Usia : Dewasa

Mental :

– Apakah siap untuk berdiri sendiri baik secara finansial maupun Secara tanggung jawab ?

– Apakah siap untuk menghadapi gesekan-gesekan yang terjadi karena perbedaan temperamen, latar belakang, budaya, kebiasaan,dsb ?

– Apakah dengan memperoleh pasangan hidup akan dapat membantu saya mencapai keberhasilan atau sebaliknya (dalam kuliah, pekerjaan, dan pelayanan)

b) Dewasa Rohani :

– Memiliki roh yang takut akan Tuhan serta bertumbuh secara rohani (jika tidak, sulit untuk hidup kudus)

– Sudah mengalami pemulihan hati dan gambar diri

– Memiliki karakter yang baik.

– Pria harus bertanggung jawab dan dapat memimpin

– Wanita harus ada penundukan diri serta hati yang lembut

5. Waktu Tuhan (Pkh 3:11)

6. Pribadi yang bersangkutan harus yakin bahwa pasangannya dari Tuhan

7. Konfirmasi dari :

– Tuhan dengan berdoa

– Pemimpin rohani yang berwenang (Ef 4:11-12)

– Orang tua (Ef 6:1-3)

c. Syarat-Syarat Lain Yang Perlu Diperhatikan

1. Pendidikan

2. Status Sosial

3. Latar belakang

4. Kesatuan Visi

Penghalang-Penghalang menemukan jodoh/pasangan hidup dari Tuhan

a. Motivasi yang tidak benar. (Yak 4:3)

b. Tidak berserah kepada Tuhan (Mzm 37:5)

c. Tidak sabar

d. Tidak taat mengikuti langkah-langkah Firman Tuhan (Mzm 119:103)

We don’t have to see the way, if we follow The One who is the way





666 dan Teknologi

5 11 2008

Jauh-jauh hari sebelum ada perkembangan teknologi seperti sekarang ini, Tuhan telah menyampaikan pesan nubuatan melalui hamba-hambaNya. Bahwa akan ada satu penguasa yang akan memerintah dunia ini dengan kekuasaan sangat besar. Allah telah menyingkapkan kejadian masa depan ini supaya umat-Nya menjadi waspada dan sadar terhadap rencana-rencana iblis. Dia ingin semua umat-Nya diselamatkan dalam Yesus Kristus, luput dari aniaya besar yang akan terjadi. Gereja Tuhan hendaknya menggunakan hikmat Allah dalam bertindak, tekun dalam menuruti perintah Allah dan beriman teguh kepada Yesus. Itulah yang penting!

Teknologi yang berkembang dengan luar biasa ini sedang mempersiapkan munculnya satu tokoh baru yang akan memerintah dunia ini. Dia adalah antikristus. Alkitab menjelaskan dalam Wahyu 13:18, antikris mempunyai bilangan seorang manusia yang berjumlah 666. “… karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam”. Ia memiliki kekuasaan yang sangat besar di bumi dan menguasai perekonomian dunia. Ia akan menyebabkan semua orang besar dan kecil masuk dalam sistem keuangan yang ditetapkannya. Mereka yang tidak mau mengikuti aturan mainnya, tidak dapat melakukan bisnis apapun. Orang ini tidak bisa membeli barang-barang di supermarket, tidak bisa berbelanja, tidak bisa membeli ataupun menjual. Hanya yang memakai tanda 666 pada tangan atau dahinya saja yang bisa berbisnis, membeli dan menjual. “… Dan tidak ada seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya…” (Wahyu 13:16)

Nubuatan Alkitab sedang digenapi. Pemakaian tanda 666 yang ada di dalam microchip sudah mulai dipakai di beberapa negara. Di Hongkong telah dipromosikan microchip Mondex yang ditanamkan dalam tubuh manusia. Sekitar 120.000 orang Hongkong diberi tanda ini. Mereka yang mempunyai tanda ini mendapat fasilitas dan kelebihan khusus. Di bandara Belgia ada tempat lounge (ruang tunggu) yang istimewa, hanya orang yang menggunakan tanda 666 bisa masuk ke dalam ruangan ini.Cukup dengan menempelkan tanda pada scanner komputer, mereka mendapatkan fasilitas yang lebih.Sistem seperti Mondex dengan basis kode bar 666 ini sepertinya akan dipakai antikris dalam mengontrol dan menguasai keuangan perekonomian dunia.

Saudara bisa membayangkan apabila suatu hari ada satu bank besar di Indonesia yang mengumumkan untuk promosi penanaman microchip secara gratis dibatasi hanya 1.000.000 orang saja. Kira-kira apa yang terjadi? Sepertinya yang sudah Saudara ketahui di seluruh bank yang ada di Indonesia sekarang ini sedang gencar – gencarnya mempromosikan penggunaan kartu kredit dan kartu ATM. Mereka yang ingin memiliki kartu ATM bisa mendaftarkan diri dan mengajukan permohonan tanpa dipungut biaya sama sekali asal menabung di bank tersebut. Kemudahan dalam transaksi bisnis karena adanya perkembangan teknologi smart card ini menarik minat semua orang. Apalagi untuk mendapatkannya gratis. Bagaimana jika yang gratis itu adalah penanaman microchip Mondex ini? Mereka yang memakai tanda 666 di dahinya atau di tangannya memang akan mendapat fasilitas yang lebih. Itulah yang Alkitab katakan bahwa “… tidak ada seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya”.

Mondex adalah nama sebuah perusahaan yang menyediakan sistem pembayaran tanpa uang tunai. Sistem ini telah dibeli oleh lebih 20 negara besar. Sistem ini diciptakan pada tahun 1990 oleh seorang bankir London bernama Tim Jones yang bekerja sama dengan Graham Higgins dari Natwest Coutts, sebuah bank pribadi dari keluarga Kerajaan Inggris. Sistem ini didasarkan atas teknologi Smart Card (teknologi yang dipakai oleh SIM Card pada handphone) yang memanfaatkan microchip yang dilekatkan pada kartu plastik (kartu kredit) dan mampu menyimpan informasi elektronik seperti pembayaran, identifikasi maupun bermacam-macam informasi penting lainnya.

Semua transaksi dimungkinkan melalui penerapan SET (Secure Electronic Transaction / Transaksi Elektronik yang Aman). Mondex singkatan dari Monetary and Dexter. Berdasarkan Webster’s Dictionary Encylopedia (kamus Webster), arti kata-kata tersebut adalah: Money: Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang… Dexter: Menunjukkan lokasi yang ada di tangan kanan manusia. Microchip yang ada dalam “card Mondex” mengandung lambang angka (bar code). Lambang atau kode garis ini mewakili angka antikris yaitu 666 (GIA WebMaster: untuk penjelasan bar code dapat dibaca pada artikel “Tanda binatang ada di kehidupan kita”). Sistem Mondex akan menjadi solusi yang tepat untuk perekonomian dunia yang sedang dilanda krisis mata uang.

Mondex merupakan satu sistem yang mendukung terciptanya satu mata uang dunia tanpa uang tunai. Mungkin sistem ini pula yang akan mewujudkan penguasaan antrikris atas dunia ekonomi di masa akan datang. Microchip Mondex yang tertanam dalam tubuh manusia menyimpan kode 666. Mereka yang memakai microchip ini mendapat fasilitas khusus. Mereka tinggal meletakkan tangan mereka di atas scanner komputer dan semua transaksi jual beli dapat dilakukan dengan otomatis tanpa menggunakan uang tunai. Di masa yang akan datang, untuk melakukan kegiatan transaksi jual beli, setiap orang harus mempunyai tanda ini. Di kepala (dahi) atau di tangan kanannya.

Kata bahasa Yunani dalam Alkitab untuk “tanda” binatang tersebut adalah “Charagma” yang berarti cap (stempel), lencana atau tanda perbudakan, perhambaan atau kerja paksa. Bilangan 666 adalah ungkapan Yunani untuk “stigma” yang berarti menusuk atau menggores sebuah tanda sebagai tanda kepemilikan. Jadi mereka yang menggunakan tanda 666 secara tidak langsung dicap sebagai budak antikris.
Pada tahun 1996 dihasilkan sebuah perjanjian yang dibuat oleh “Gemplus” untuk memproduksi smart card dengan implementasi sistem Mondex untuk dipakai di seluruh dunia. AT&T / Lucent Technologies membeli ijin pengoperasian Mondex di Amerika Serikat. Logo perusahaan ini memakai simbol dari Ular Naga Matahari atau Naga Merah yang adalah iblis sendiri. Lucent sendiri adalah singkatan dari Lucifer Enterprises (perusahaan milik Lucifer), yang singkatan tersebut dibantah oleh mereka, namun mereka tetap memakai nama tersebut meskipun mereka tahu arti singkatan yang dikatakan oleh banyak orang. Jika mereka adalah seorang Kristen, pastilah mereka mengganti nama Lucent jika banyak orang mengartikan singkatannya seperti diatas. Disamping itu, perusahaan ini begitu mencolok dalam memberikan nama untuk produk-produk mereka seperti: Styx (sungai di Hades), Janus (illah berwajah dua) dan Inferno. Yang dipromosikan dari Inferno adalah sebuah cerita tentang iblis di neraka, lingkaran api yang menandakan dewa kuno. Perusahaaan ini memilih untuk memindahkan kantor mereka ke Fifth Avenue 666 di Manhattan. Salah satu penemuan mereka yang paling dibanggakan adalah TSS (Text to Speech). Dimana mereka memberikan kehidupan pada benda mati untuk berbicara seperti layaknya manusia hidup. Ini adalah salah satu arah yang akan menuju kepada Firman Tuhan dalam Alkitab. “Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga dan bertindak begitu rupa sehingga semua orang yang tidak menyembah patung binatang itu akan dibunuh”. (Wahyu 13:15)Perkembangan teknologi selalu bertujuan untuk membangun kehidupan manusia namun dalam perkembangannya belum tentu teknologi itu digunakan untuk menunjang dan membangun iman kepada Tuhan Yesus. Karena itulah Tuhan menyatakan lebih dahulu akan siasat dan rencana iblis atas dunia ini.
Tujuan iblis selalu sama yaitu mencuri, membunuh dan membinasakan. Ketika iblis berhasil mencuri teknologi, dia akan berusaha menggunakannya menjadi alat untuk membunuh dan membinasakan manusia. Waspada dan berjaga-jagalah karena hari Tuhan sudah semakin dekat, lebih dekat dari hari kemarin.

“Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat”. (Efesus 5:15-16)





The Act of Grace, Faithful and Fruitful

2 10 2008

Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus memuji mereka karena di dalam pelayanan firman, jemaat Korintus memiliki ketaatan. “They praise God for your confession of the gospel of Jesus Christ which is faithful…” (2 Kor. 9:13). Ini hal yang terpenting. Tetapi pelayanan hidup Kekristenan kita bukan saja perlu kesetiaan, tetapi juga perlu hidup yang berbuah. Not only faithful but also fruitful. Kita tidak hanya membuktikan kesetiaan kita, tetapi kita juga dipanggil untuk menyatakan satu hidup yang berkelimpahan. Paulus memuji jemaat Korintus di dalam pelayanan Injil, di dalam hidup mengikut Tuhan, mereka sudah menyatakan ketaatan terhadap pengakuan akan Injil Kristus. Tetapi bukan itu saja, sekarang Paulus ingin mendesak satu hal yaitu apakah mereka juga menyatakan hidup Kristen mereka adalah hidup Kristen yang berbuah dengan melimpah.

Titus diutus oleh Paulus ke Korintus untuk membereskan persoalan yang berat yang terjadi di sana. Paulus kemudian mendengar beberapa kabar melalui Titus, ada good news tetapi ada juga bad news. Kabar baiknya ialah teguran Paulus yang keras melalui suratnya telah memberikan perubahan di dalam jemaat Korintus. Maka Paulus bersyukur untuk perkembangan baik ini. Dulu dia merasa menyesal karena teguran itu telah mendukakan hati mereka. Tetapi sekarang dia bersyukur karena ada hasil yang baik melalui berita yang disampaikan oleh Titus terjadi transformasi hidup, terjadi pertobatan, terjadi perubahan hidup.

Tetapi ada kabar kurang baik yang disampaikan Titus. Kita akan melihat konteksnya terlebih dahulu di pasal 8 dan 9. Di pasal 9:1-2 kita melihat Korintus adalah ibukota dari negara bagian Akhaya, satu kota yang makmur dan jemaatnya rata-rata orang kaya. Sedangkan tidak jauh dari sana ada negara bagian Makedonia, dimana jemaatnya terdiri dari orang-orang yang sederhana. Jemaat Korintus yang kaya itu telah memulai satu proyek untuk mengirim bantuan uang kepada gereja di Yerusalem. Paulus mengatakan dengan bangga kepada jemaat di Makedonia dan daerah-daerah yang lain, “Akhaya sudah siap sejak tahun yang lalu…” Tetapi sekarang dia menjadi malu karena jemaat Korintus tidak lagi mengumpulkan uang untuk jemaat Yerusalem. Kita tidak tahu apa sebabnya. Maka dengan latar belakang ini, di pasal 8 dan 9 ini Paulus bicara mengenai konsep apa artinya kita memberi. Jadi sudah ada kerinduan, sudah ada hal yang baik untuk memulai karena mereka sadar mereka sudah mendapat berkat karena gereja Yerusalem mengutus misionari pergi sampai akhirnya mereka bangsa kafir bisa mendengar Injil. Tetapi ada perbedaan status sosial. Orang-orang Kristen non Yahudi ini jauh lebih kaya daripada orang-orang Kristen Yahudi. Maka jemaat Korintus yang merasa berhutang budi dan berhutang Injil kepada jemaat Yerusalem memutuskan untuk mengirim uang kepada mereka. Ini yang membuat Paulus begitu bangga kepada mereka. Kerinduan ini lalu Paulus sampaikan juga ke daerah-daerah yang lain. Cuma akhirnya terjadi hal ini, Makedonia gereja yang begitu sederhana dan miskin justru bereaksi dengan sukacita dan merealisasikan proyek ini dengan baik. Mereka mengumpulkan uang, tetapi gereja Korintus justru tidak melakukannya. Maka Paulus bilang kepada mereka, jangan sampai kebanggaanku kepadamu menjadi luntur. Sebagai jemaat yang begitu berlimpah dengan kekayaan dan juga telah berinisiatif untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak boleh berhenti sampai di angan-angan, cita-cita dan ide saja. Jadi seorang Kristen jangan hanya suka melontarkan ide, tetapi harus juga diselesaikan, dijalankan dan dilakukan.

Maka di pasal 8 dan 9 ini Paulus khusus bicara mengenai “persembahan kasih”, the act of grace. Jadi dari konteksnya ini bukan bicara mengenai persembahan syukur yang rutin dijalankan, tetapi persembahan bantuan kepada jemaat di Yerusalem. Paulus menyebutnya sebagai ‘the act of grace,’ istilah ini menjadi satu hal yang penting sekali. Pertama, pemberian kasih kita tidak mungkin keluar dari hidup kita kalau tidak didorong dengan satu perasaan bahwa kita terlebih dahulu sudah mendapatkan anugerah Allah. Yang kedua, semakin sadar kita betapa besar anugerah yang datang kepada kita itu maka kita akan merasa apapun yang kita beri tidak bisa melampaui anugerah yang kita sudah terima itu. Itu sebab di pasal 9:15 Paulus menutup dengan satu kalimat yang sdr dan saya harus akui sampai kapanpun tetap berhutang kepada Tuhan. Paulus mengatakan, “thanks to the Lord for His unspeakable gift…” Syukur kepada Allah oleh karena kasih karuniaNya yang tak terkatakan itu. Apakah ‘the unspeakable gift’ itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus Kristus. Dia adalah the unspeakable gift dari Allah. Paulus sadar sesungguh-sungguhnya, ini adalah anugerah Tuhan yang tidak sanggup kita ungkapkan dengan kata-kata, yang hanya bisa melahirkan rasa syukur kita kepada Tuhan. Hidup kita sebagai orang Kristen dilandasi dengan pemahaman seperti itu. Sehingga pada waktu kita memberi sesuatu, itu adalah ‘the act of grace’ karena kesanggupan untuk memberi itu bukan datang dari kita. Kita sanggup untuk memberi sebab kita terlebih dahulu sudah diberi. Dan berapa besar hati kita untuk bisa memberi itu depends on berapa besar kita menilai dan menghargai anugerah itu. Maka Paulus mengingatkan kita, that grace is the unspeakable gift.

Jemaat Korintus merupakan jemaat yang jauh berbeda dibandingkan dengan jemaat Makedonia. Paulus bukan ingin mempermalukan jemaat Korintus, tetapi dia ingin komparasi dengan jemaat Makedonia itu boleh menjadi cambukan kepada jemaat Korintus. Pertama, jemaat Korintus yang sudah memulai tetapi malah yang lain yang menyelesaikannya. Kedua, di pasal 8:7 Paulus jelas-jelas mengatakan jemaat Korintus ini adalah jemaat yang kaya dibandingkan jemaat yang lain. Mereka kaya di dalam segala sesuatu, di dalam iman, di dalam perkataan, di dalam pengetahuan, di dalam kesungguhan dan di dalam kasih. Dan sekarang hendaklah juga mereka kaya di dalam pelayanan kasih itu. Kalau kita membaca surat-surat Paulus kepada jemaat yang lain, sdr dansaya akan melihat jelas jemaat Korintus memang adalah jemaat yang penuh dengan karunia. Mereka adalah jemaat yang ‘high class,’ jemaat yang memiliki pendidikan yang tinggi. Maka sekarang Paulus katakan, mari engkau juga kaya di dalam hidup yang memiliki generosity. Hidup yang sanggup bisa memberi kepada orang lain. Paulus membandingkan mereka dengan jemaat Makedonia, yang Paulus begitu sungkan karena mereka jemaat yang sangat sederhana dan miskin. Tetapi Paulus bersaksi kepada Korintus bahwa jemaat Makedonia ini memberi melampaui apa yang mereka punya. Itu sebab di sini kita bisa belajar sebagaimana kesadaran gereja Makedonia di dalam dua hal ini. Pertama, saya bisa memberi bukan karena saya punya, tetapi karena saya sudah terlebih dahulu menerima. Kedua, saya bisa memberi berlebih karena saya menghargai anugerah itu begitu indah di dalam hidupku.

Immanuel Kant, seorang filsuf yang mengajarkan “Imperative Ethics” bagi saya merupakan salah satu etika yang tinggi sekali, mengatakan, “Kalau engkau melakukan satu kebaikan for the goodness itself, itu baru suatu kebaikan yang benar. Sebab jikalau engkau melakukan satu kebaikan “karena”, kebaikanmu itu belum merupakan satu kebaikan tertinggi.” Ini adalah konsep yang luar biasa. Kalau engkau baik kepada seseorang “karena” dia sudah baik kepadamu, itu belum merupakan kebaikan yang tertinggi. Yang lebih rendah lagi adalah kalau engkau baik kepada seseorang “supaya” dia berbuat baik kepadamu. Kalau engkau memberi karena memberi itu sendiri , itu baru satu kebaikan tertinggi. Tuhan Yesus pernah mengatakan, kalau tangan kananmu memberi, janganlah tangan kirimu mengetahuinya (Mat.6:3). Maksudnya apa? Mana ada tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri? Maksud Tuhan Yesus di sini, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh meminta balas. Jadi kalau kita memberi untuk mendapat balasan, itu bukan satu pemberian yang indah.

Maka Paulus mengatakan, pemberianmu adalah the act of grace. Kita memberi karena kita sudah mendapatkan anugerah yang kaya dan melimpah dari Tuhan. Jemaat Makedonia walaupun di dalam kesulitan dan kemiskinan bisa melakukan sesuatu melampaui apa yang ada di dalam hidup mereka. Itu adalah suatu hal yang sangat indah. Paulus memberikan beberapa prinsip dimana hidup kita adalah hidup karena sudah ditopang oleh anugerah Allah yang tak terkatakan itu, yang hanya bisa melahirkan hati yang bersyukur. Tetapi kita tidak boleh hanya sampai kepada satu sensasi syukur atas apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, tetapi kita belajar menyatakan secara nyata bagaimana menjadi orang Kristen yang lebih murah hati.

Paulus mengatakan beberapa hal yang penting. Pertama, Tuhan tidak pernah menuntut orang untuk memberi melampaui apa yang dia tidak punya. Belajar memberi dari apa yang engkau punya (8:12). Kedua, belajar memberi karena engkau rela (9:7). Kata “rela” adalah kata yang tidak mudah. Rela itu merupakan kunci yang paling penting di dalam hidup kita yang membuat segala sesuatu menjadi enteng dan ringan. Kalau tidak rela, barang 1 kilopun di tangan terasa berat bukan main. Jadi bukan berapa besar dan beratnya yang menentukan sesuatu tetapi berapa besar perasaan hati kita rela itu yang membuat keringanannya. Paulus bilang, kalau engkau punya hati yang rela, engkau memberi dengan sukacita. Kemudian Paulus memberikan prinsip bagaimana menjadi orang Kristen yang generous di pasal 9:6-15. Pertama, “camkanlah ini: orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit, orang yang menabur banyak akan menuai banyak.” Artinya apa? Artinya, orang yang memberi tidak akan pernah kehilangan daripada apa yang dia sudah beri. Jadi pada waktu sdr memberi, sdr jangan berpikir ada sesuatu yang terhilang dari hidupmu. Prinsip ini memberitahukan kita, apa yang kita beri itu tidak akan pernah terhilang dari hidupmu. Sehingga the giver is never become the loser. Seorang yang memberi tidak akan pernah menjadi loser. Barangsiapa yang menabur banyak, dia akan menuai banyak. Barangsiapa menabur sedikit, dia akan menuai sedikit. Secara prinsip sederhana, logisnya kalau sdr tabur 10 benih padi, benih itu akan mengeluarkan 10 batang padi yang akan menghasilkan lebih banyak dari 10 benih yang tadi sdr tabur. Tetapi kalau yang kita tabur itu sesuatu yang abstrak, analogi tadi akan sulit untuk kita pahami.

Banyak hamba Tuhan dari Prosperity Theology memakai ayat ini mengatakan, “Kalau sdr memberi $100, maka Tuhan akan memberkatimu $1000.” Itu penafsiran yang keliru, karena kalau kita membaca dengan teliti bagian ini Paulus tidak bicara seperti itu. Maksud ayat ini adalah apa yang engkau tabur itu tidak akan pernah hilang. Dia pasti akan menghasilkan buah. Buahnya adalah, pada waktu kita memberi sesuatu pasti akan mendapatkannya dengan berkelimpahan. Tetapi yang kita akan dapat itu tidak boleh dipersempit pengertiannya. Kalau sdr memberi perhatian dan waktu kepada orang, maka sdr mungkin akan mendapat bukan sekedar perhatian saja, tetapi hal-hal yang lain. Kalau sdr memberi bantuan uang kepada orang lain, sdr tidak hanya mendapat balik uang tetapi juga akan mendapatkan lebih daripada itu. Ayat 10, “engkau akan menghasilkan buah-buah kebenaran..” Dengan memberi sesuatu, the act of grace itu akan membuatmu lebih fruitful. Ada buah-buah kebenaran yang dihasilkan. Engkau menjadi orang yang kaya.

Rockefeller sendiri mengatakan, “Orang yang paling miskin di dalam dunia ini adalah orang yang tidak punya apa-apa selain uangnya.” Kekayaan kita tidak boleh hanya diukur dari satu aspek saja. Maka Paulus bilang, engkau akan melipat-gandakan dan menumpukkan buah-buah kebenaran. Engkau akan menjadi kaya. Dalam hal apa? Melalui the act of grace itu, melalui perhatian, waktu, doa dan pelayanan, sdr memberi uangmu untuk membantu orang, semua itu tidak pulang dengan sia-sia tetapi akan menghasilkan begitu banyak buah-buah kebenaran. Engkau akan menjadi seorang Kristen yang kaya, kaya di dalam kasih dan generosity, kaya di dalam kemurahan hati, kaya di dalam hal membangkitkan syukur kepada Allah (ayat 11). Pelayanan kasihmu itu bukan saja mencukupkan keperluan orang tetapi melimpahkan ucapan syukur orang itu kepada Tuhan. Engkau akan berlimpah dengan begitu banyak teman yang berdoa bagimu (ayat 14). Kaya dengan orang-orang yang banyak mendoakanmu. Betapa besar kekayaan ini, kalau sdr memiliki banyak teman-teman yang mendukung dan mendoakanmu, bukan? Betapa kayanya kalau sdr bukan hanya merupakan orang yang berlimpah dengan kemurahan hati memberi kepada orang lain tetapi berlimpah karena kebesaran hatimu. Betapa kayanya kalau melalui hidup yang memberi kepada orang, begitu banyak orang mengucap syukur kepada Tuhan. Apa lagi yang kita butuhkan selain hasil dan buah yang indah seperti itu?

Prinsip yang kedua, ayat 8 dan 10 “Dia yang menyediakan benih itu dan yang memberi roti untuk dimakan…” Prinsipnya, saya memberi sebab Tuhan yang provide terlebih dulu. Menjadi seorang Kristen adalah saya bersyukur kepada Tuhan. Saya memberi bukan karena saya berkelimpahan saja. Saya memberi oleh sebab Tuhan memberi dan menyediakannya kepada saya. Prinsip yang kedua, belajar menjadi seorang jurukunci yang setia terhadap apa yang Tuhan kasih kepada kita. Kenapa kita memberi? Sebab memang ini bukan punya kita, ini bukan milik saya selama-lamanya. Kita datang tidak membawa apa-apa, kita kembali kepada Tuhan kita juga tidak membawa apa yang kita punya selama di dunia. Kita datang dengan telanjang, waktu kita pergi kita hanya memakai stelan jas yang cukup baik. Paulus mengingatkan, semua yang kita punya itu Tuhan yang sediakan. Artinya, Tuhan memberi kepada kita, berarti kita hanya penatalayan Tuhan, orang yang belajar setia mengelola dan memakai apa yang sudah Tuhan beri kepada kita. Prinsip ini penting, prinsip ini menjadikan hidup orang Kristen menjadi hidup yang indah. Tuhan memberi kita anak, ini bukan anak kita. Tuhan memberi kita pekerjaan dan karir, ini bukan milik saya. Tuhan memberi kita keluarga, kita harus selalu berpikir ini semua adalah dari Tuhan dan saya mau kelak ini semua menjadi alat yang Tuhan pakai dan menjadi berkat bagi orang lain. Jiwa memberi selalu keluar dari hati seorang yang menyadari bahwa dia dipanggil Tuhan sebagai penatalayan yang setia terhadap apa yang Tuhan kasih.

Prinsip yang ketiga, ayat 8 “Allahku sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelimpahan di dalam berbagai kebajikan.” Dalam Fil.4:19 Paulus mengatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu…” Ingat akan hal ini, Allah kita itu kaya dan mulia. Artinya, Dia punya unlimited resources dan Dia sanggup mencukupkan segala keperluanmu, tetapi bukan keinginanmu. Tuhan tidak berjanji untuk mencukupkan segalanya. Orang sering bilang, bukankah Dia Allah yang kaya berarti Dia bisa memberi sebanyak yang saya mau, bukan? Sdr perhatikan, kalau Allah hanya memberimu $100, bukan berarti uangNya cekak. Tetapi Dia berjanji memberikan dan memenuhi apa yang kau perlukan. Dia Allah yang kaya, yang sanggup mencukupkan segala sesuatu, sehingga engkau hidup di dalam berkecukupan. Jadi Paulus menggabungkan dua hal, Tuhan berjanji Tuhan tidak pernah lalai di dalam mem-provide anak-anakNya yang berada di dalam pemeliharaanNya. Jangan berpikir bahwa Tuhan itu careless. Dia berjanji akan memberikan danmencukupkan apa yang kau perlukan. Itu sebab kenapa menjadi orang Kristen yang selalu kuatir dan merasa harus menyimpan sesuatu karena takut tidak punya? Tetapi muncul hal kedua, Allah juga adalah Allah memberi supaya kita berkecukupan. Kata ‘berkecukupan’ di dalam bahasa aslinya ‘autarke’, mungkin diterjemahkan: kesanggupan untuk hidup cukup dan puas dari apa yang ada. Sanggup untuk bisa hidup dari apa yang ada di tangan kita. Kita kadang-kadang sudah pikir lebih dahulu, kita tidak bisa hidup kalau tidak punya ini dan itu di tangan kita.

Berapa banyak sebenarnya yang kita rasa cukup untuk hidup satu hari? Orang sering berpikir bahwa yang dia perlu untuk hidup itu banyak sekali dan dia tidak bisa hidup kalau tidak punya semua itu. Coba kalau kita berada di dalam satu situasi dimana kita cuma punya satu potong roti untuk satu hari, kita baru sadar ternyata sepotong roti itu cukup untuk kebutuhan kita. Orang yang tersesat di hutan membuktikan dia bisa survive beberapa hari dengan dua potong permen di tasnya. Itu artinya bagaimana kita belajar hidup mencukupkan diri dengan yang kita perlu, itu artinya autarke. Tidak ada gunanya Tuhan kasih banyak kalau tidak ada hati yang berkecukupan. Hati yang berkecukupan itu membuat hati kita punya dasar dan alas. Kalau tidak, dia akan bocor terus, tidak pernah merasa cukup dikasih berapa banyakpun tidak akan penuh. Maka ayat ini menjadi indah sekali, Tuhan sanggup memenuhi segala sesuatu, namun engkau perlu belajar hidup berkecukupan. Bukan itu saja, engkau akan berlimpah di dalam kebajikan. Tanpa memiliki hati yang berkecukupan ini, maka prinsip untuk hidup menjadi berkat bagi orang lain menjadi tidak ada di dalam hidup kita. Itu sebab saya selalu mendefinisikan kata ‘cukup’ bukan kalau kita sudah mencapai satu standar tertentu sebab standar itu tidak akan pernah statis dan standar itu bersifat relatif pada setiap orang. Maka saya lebih setuju melihat cukup itu bukan berdasarkan apa yang saya bisa capai dan raih tetapi cukup itu ditandai dengan apa yang bisa keluar dari hidup seseorang. Kalau ada sesuatu mengalir dari hidup sdr, itu berarti sdr cukup dan puas dengan apa yang kau punya sehingga itu bisa mengalir keluar dari hidupmu.

Bukan Allah tidak sanggup mencukupkanmu. Dia memberi kasih karunia yang membuatmu bisa hidup berkecukupan, bahkan hidup berkelimpahan. Kelimpahan itu keluar dari kecukupan. Itu rahasianya. Kelimpahan tidak akan keluar kalau orang berpikir dia dapat yang banyak dulu baru berlimpah keluar. Kalau hatimu tidak dipenuhi dengan hati yang puas, you tidak akan pernah merasa cukup. Kelimpahan mengalir dari kecukupan. Jadilah seorang Kristen yang setia dan jadilah seorang Kristen yang berbuah. Hidup sebagai orang Kristen yang faithful dan hidup sebagai orang Kristen yang fruitful.

Sumber : http://www.griisydney.org





Menjadi Ikhlas Saat Hati Tidak Bisa Ikhlas

1 10 2008

Mencoba Ikhlas dengan keadaan yang tidak bisa membuat kita ikhlas adalah suatu yang sulit, tapi ternyata dengan Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna, dan kemarin saat meminta istri untuk iklhas saat kehilangan tas di meja kerja dikantornya, memang agak sedikit susah, tetapi Saya memintanya untuk bermunajad dan mengikhlaskan atas ketidak iklasan yang terjadi pada apa yang terjadi, insya Allah pasti ada hikmah dibalik semua cobaan yang terjadi.

Rasa Ikhlas bisa berkaitan dengan kebahagiaan. Jadi jika kita bisa membuat dan mengkondisikan suasana hati kita pada posisi ikhlas maka kita akan merasa bahagia atau tenang. Pernahkan kita tiba-tiba hati kita merasa bahagia tanpa sebab apapun. Rasa itu sebenarnya diakibatkan oleh rasa Ikhlas atas apa yang kita terima baik saat karunia yang kita dapat atau musibah yang kita dapat.

Selain membuat diri merasa bahagia dan tentram, apa sih manfaatnya disaat kita ikhlas? Jika kita Ikhlas kita akan merasa kita menyerahkan semua masalah kita kepada Tuhan. Doa kita akan diterima jika kita merasa ikhlas. Jadi kita sebagai manusia adalah makhluk yang lemah ini akan berubah menjadi makhluk yang kuat se alam semesta jika kita pada zona Ikhlas atau berserah diri kepada Tuhan, karena segala keinginan kita mungkin akan di kabulkan. Yang lebih kuat dari gunung adalah besi, yang lebih kuat dari besi adalah api, yang lebih kuat dari api adalah air yang lebih kuat dari air adalah angin. Yang lebih kuat dari angin adalah manusia yang ikhlas.

Perlu diingat saat ditimpa suatu musibah pasti akan sulit kita ikhlas menerima apa yang terjadi kepada kita, tapi coba lag ingat dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, Setiap tangisan pasti akan ada ada sebuah senyuman. Seorang  yang ikhlas akan memiliki kekuatan  yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya yang selalu tenang dan damai.

Seseorang yang selalu meratapi apa yang terjadi, menyesali kesalahan atau kekeliruan yang dibuat dan terpaku pada waktu mereka yang terbatas hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan dan dan keputusasaan dengan sebuah keikhlasan menerima apa yang terjadi, akan membuat kita kembali menatap sesuatu kejadian dengan penuh pesona, terima dengan ikhlas apa yang kita miliki, apa yang terjadi, dan apa yang menimpa kita, maka tidak akan ada lagi sesuatu menjadi sebuah beban.

Janganlah pernah merasa terlau terhimpit, terkekang karena di dunia ini segala sesuatu pasti berubah, saat hati tidak bisa ikhlas, coba lah berdoa untuk bisa ikhlas atas ketidak ikhlasan kita. tataplah masa depan, jalani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, karena pasti dibalik sebuah permasalahan pasti akan muncul kemudahan. Satu hal ikhlas itu tidak berarti pasrah, ikhlas itu menerima dengan baik apa yang terjadi, dengan tetap berusaha mencapai apa yang kita inginkan.

Menjadi ikhlas saat hati tidak bisa menjadi ihklas adalah tetap yang terbaik, ujian atau cobaan pasti akan terus mengalir, ikhlas menerima dan sabar menjalani adalah sebuah kunci dalam menjalani semua yang ada.

“YA Tuhan ikhlaskan hamba atas ketidakihklasan hati, Asal Engkau terus bersama ku ya Tuhan”

Sumber : erwin A