Wortel Menurunkan Resiko Stroke

20 04 2010

Wortel adalah sayuran, tumbuhan, atau bagian tanaman yang di makan bersamaan dengan makanan pokok. Sayur merupakan bagian dari makanan kita sehari-hari, yang dapat merangsang selera hingga makanan terasa enak. Lagipula sayur-sayuran adalah sumber vitamin yang dibutuhkan tubuh.

Semua sayur mengandung vitamin C. Sayuran mentah berisi kandungan vitamin C lebih baik daripada yang dimasak, karena sebagian vitamin telah hilang setelah dimasak. Namun jangan khawatir. Walaupun telah dimasak, sayuran tersebut masih mengandung lebih banyak vitamin C daripada sayuran yang dibekukan atau dikalengkan.

Sayuran juga merupakan sumber vitamin dan mineral penting yang membantu pencernaan. Selama dalam proses pertumbuhan, sayuran ini menyerap sejumlah mineral tertentu dari tanah.

Mineral terpenting yang dikandung sayuran adalah kalsium, fosfor, besi dan kalium. Kandungan kalium yang tertinggi terdapat dalam sayuran berwarna kuning. Kalsium terdapat dalam sawi, kubis hijau. Berbagai vitamin yang terkandung dalam sayuran diantaranya B, E dan K

Wortel, sudah lama terkenal berkhasiat memperbaiki penglihatan. Tumbuhan yang pertama kali ditanam di Afganistan pada abad ke VII ini kaya beta karoten. Jika didalam tubuh, zat ini diubah menjadi vitamin A, yaitu zat gizi yang penting untuk fungsi retina. Vitamin A ini tak akan mengobati kebutaan, tapi hanya dapat memperbaiki penglihatan bila masalah penglihatan tersebut tidak disebabkan oleh kekurangan vitamin A.

Selain berperan sebagai provitamin A, beta karoten dipercaya sebagai pelindung terhadap kanker, karena mengandung antioksidan. Wortel ini juga berkhasiat membantu menurunkan kolesterol dalam darah, menurunkan resiko stroke. Makan wortel paling sedikit lima kali setiap minggu dapat menurunkan resiko terkena stroke sebesar 68% daripada makan wortel satu kali.

Lantas, wortel seperti apa sih yang baik ? Pilihlah yang tampak segar, halus dan bentuknya baik serta warna yang menarik. Hindarkan wortel yang sudah retak atau berkerut. Ketika kamu membeli wortel, pastikan bagian atasnya yang hijau masih melekat, dan bagian itu masih tampak segar. Untuk mempertahankan gizi yang terkandung di dalam wortel secara maksimum, gosoklah wortel, jangan dikupas, kecuali kalau kulitnya amat keras atau telah rusak.

Advertisements




Wortel Super Kaya Kalsium

27 10 2008

Dengan rekayasa genetika, wortel kelak tidak hanya dikenal sebagai ikonnya sumber vitamin A, mungkin juga menjadi sumber kalsium. Para ilmuwan di AS telah membudidayakan wortel yang mengandung kadar kalsium tinggi.

Seseorang yang makan wortel super ini akan memperoleh kalsium 41% lebih banyak daripada wortel biasa. Para ilmuwan tersebut berharap konsumsi wortel secara teratur akan mencegah osteoporosis dan penyakit tulang sejenis.

“Wortel ini tumbuh di lingkungan yang dipantau terus dan diatur dengan perlakuan khusus,” ujar Profesor Kendal Hirschi, salah satu peneliti dari Sekolah Kedokteran Baylor di Texas, AS. Namun, untuk siap dan aman dikonsumsi publik masih perlu penelitian lebih lanjut.

Selama ini, asupan kalsium banyak ditemukan pada susu. Namun, tidak semua orang bisa minum susu karena alergi dan sebagian lainnya menolak karena kandungan lemaknya tinggi. Wortel yang lebih fleksibel diharapkan bisa menjadi alternatif.

Para ilmuwan merekayasa salah satu gen wortel agar kalsium lebih mudah diserap melalui membran-membran selnya. Meskipun kadar kalsiumnya tidak sampai 1000 miligram, rekayasa serupa pada jenis tanaman lain mungkin dapat terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh manusia.

Warna Oranye

Bukan kali ini saja wortel direkayasa. Warna oranye pada wortel saat ini merupakan hasil budidaya yang dilakukan ilmuwan Belanda pada abad 17. Wortel yang aslinya berwarna ungu direkayasa agar menjadi warna oranye sesuai warna kebanggaan Belanda.

Rekayasa genetika juga sudah dipakai untuk menghasilkan kentang yang lebih kering dan menyerap sedikit minyak saat digoreng sehingga lebih sehat dan renyah. Brokoli juga menjadi objek rekayasa agar menyimpan sulforaphane yang berkhasiat menggempur kanker.

“Banyak penolakan terhadap rekayasa genetika, namun secara bertahap kita sudah bergerak dari bentuk ‘makanan Frankenstein’ dan mulai menghargai manfaat kesehatan yang bisa dibawanya,” ujar Profesor Susan Fairweather-Tait dari East Anglia mengomentari hasil-hasil rekayasa pada tanaman konsumsi tersebut.