Kapan Yesus Lahir?

25 12 2008

Sejak pertengahan bulan November, suasana Natal sudah mulai dihembuskan oleh pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Pada saat itu gereja sendiri mungkin baru membentuk panitia Natal. Seakan tidak mau kehilangan waktu, dunia bisnis, melalui dekorasi pohon cemara bersalju, rusa, dan kereta salju serta bingkisan hadiah memberikan dorongan psikologis kepada calon pembeli untuk segera berbelanja. Suasana serba putih yang diciptakan dari tahun ke tahun itu juga membentuk citra bahwa Kristus lahir di musim dingin yang bersalju di kota kecil bernama Betlehem.

Pemandangan demikian jelas tidak sesuai dengan gambaran yang dilukiskan oleh Lukas mengenai peristiwa besar itu. Injil ini menulis, “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Lukas 2:8). Sejak zaman Alkitab sampai sekarang, gembala di Betlehem meninggalkan padang penggembalaan di musim dingin dengan berlindung di gua-gua yang disebut Grotto yang banyak terdapat di sekitar Betlehem. Karena malam yang dingin itu, dalam bulan Desember, apalagi tanggal 25 tidak akan ada gembala-gembala yang berada di padang bersama domba- domba. Biasanya mereka menggiring kawanan domba mereka ke padang setelah hari raya Paskah sampai hujan pertama atau salju tipis di awal Oktober. Ini berarti peristiwa kelahiran Yesus terjadi dalam selang waktu di antara Paskah di awal April sampai awal Oktober. Usaha untuk mendapatkan tanggal dan bulan kelahiran-Nya yang tepat ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan, sehingga tanggal 25 Desember tetap dipakai sebagai patokan. Alasan yang dikemukakan biasanya, “Tidak ada seorang pun tahu kapan Ia lahir. Karena sudah ada yang menetapkan lebih dulu 25 Desember, maka kita pakai saja, yang penting kita memberikan satu hari dalam satu tahun untuk merayakan kelahiran-Nya.” Bagi orang yang memiliki sikap kritis dalam mencari kebenaran sejarah, jawaban ini tentu belum cukup memuaskan. Penyelidikan di lingkungan Kristen selama ini dilakukan dengan melupakan suatu prinsip penting dalam kehidupan Yesus bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat dan bukan meniadakannya (Matius 5:17). Hal ini berarti semua kejadian penting dalam kehidupan Kristus sudah dinubuatkan oleh Taurat Musa. Dalam hal ini, Hukum Taurat merupakan tolok ukur untuk menunjukkan siapa Mesias yang sesungguhnya akan datang.

Tujuh Hari Raya Tuhan

Hukum Taurat dalam Imamat 23 menetapkan 7 hari raya untuk diperingati dan dirayakan pada waktu tertentu setiap tahun. Hari- hari raya tersebut meliputi Paskah, Roti Tidak Beragi, Buah Sulung, Pentakosta, Sangkakala, Pendamaian, dan Tabernakel. Orang Kristen secara keliru menyangka bahwa semuanya itu adalah hari-hari raya Israel. Firman Tuhan mengatakan, “Hari-hari raya Tuhan yang kamu maklumkan untuk dikuduskan, semuanya itu adalah hari-hari raya-Ku” (KJV). Semuanya itu adalah hari-hari raya TUHAN. Setiap hari raya mengungkapkan satu segi kehidupan Yesus, yaitu Firman Tuhan yang untuk sementara waktu datang ke planet bumi dalam wujud manusia. Bahwa 7 hari raya tersebut merupakan nubuatan tentang Mesias yang semuanya digenapi secara utuh oleh Yesus dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Paskah (Pesach): Yesus adalah domba Paskah kita. Inilah hari kematian-Nya.

2. Roti tidak Beragi (Hag HaMatzah): Yesus adalah Roti Hidup, Roti tidak Beragi yang turun dari surga. Ia tidak berdosa karena ragi menyatakan dosa.

3. Buah Sulung (Sfirat Haomer): Yesus adalah Buah Sulung kebangkitan dari kematian.

4. Pentakosta (Shavuof): Yesus adalah Pembaptis dengan Roh Kudus.

5. Sangkakala (Rosh HaShanah): Yesus adalah Mempelai Pria yang menjemput Mempelai Perempuan (Gereja) dalam Pengangkatan Gereja (rapture).

6. Pendamaian (Yom Kippur): Yesus adalah Mesias orang Yahudi yang datang kedua kalinya.

7. Tabernakel (Sukot): Yesus akan memerintah sebagai Raja Damai dalam Kerajaan 1000 Tahun.

Dalam 7 hari raya tersebut, semua segi kehidupan Yesus yang penting sudah dan akan diungkapkan. Kematian dan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan dalam Taurat. Pengangkatan Gereja dan Kedatangan-Nya yang kedua telah dinubuatkan dalam 7 Hari Raya itu, tetapi adakah petunjuk tentang hari kelahiran-Nya? Tentu saja, pada hari raya yang ke-7 yaitu hari raya Tabernakel. Hal ini membentuk suatu pola, kalau hari raya pertama menunjuk pada kematian-Nya, maka hari raya terakhir menunjuk pada kelahiran-Nya; kalau hari raya ke-6 menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua, maka pada hari raya ke-7 menunjuk pada kedatangan-Nya yang pertama.

Hari raya Tabernakel merupakan hari raya yang paling meriah di antara ke-7 hari raya dan disebut juga sebagai Festival Cahaya. Saat itu Bait Suci bagaikan bermandikan cahaya, di Serambi Wanita dipasang 4 kandil pada empat penjuru seakan-akan ingin menerangi bangsa-bangsa. Ini merupakan petunjuk bahwa Terang Dunia itu sedang datang menerangi bangsa-bangsa yang masih berada dalam kegelapan dosa. Hari raya Tabernakel juga merupakan suatu masa raya yang penuh sukacita. Dalam suasana itulah, malaikat datang kepada para gembala di padang bersama kawanan domba mereka dan berkata, “Jangan takut karena sesungguhnya aku memberitakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa” (Lukas 2:10). Bagaimana perhitungan tanggalnya? Injil Lukas 1:5 mencatat bahwa Zakaria, suami Elisabet, kakak ipar Maria ibu Yesus, menjadi imam dari rombongan Abia. Menurut 1Tawarikh 24:10 rombongan Abia mendapat urutan ke-8 dalam tugas di Bait Suci. Tiap rombongan bertugas rutin satu minggu, dua kali dalam setahun.

Jadwal tugas imam ditetapkan menurut kalender keagamaan yang dimulai dengan bulan Nisan yaitu pertengahan Maret. Jadi Zakaria bertugas pada pertengahan Mei. Tetapi karena hari raya Shavuot (Pentakosta) jatuh pada akhir Mei dan semua imam diminta bertugas bersama, Zakaria harus menetap di Bait Suci untuk tambahan dua minggu. Akibatnya ia baru pulang ke rumah untuk menemui isterinya pada awal minggu kedua bulan Juni.

Elisabet mulai hamil pertengahan Juni (Lukas 1:24). Pada saat Elisabet hamil 6 bulan, malaikat Gabriel datang kepada Maria, yaitu pertengahan Desember. Maria mulai mengandung saat itu (Lukas 1:36). Walaupun Yesus dikandung dari Roh Kudus (Lukas 1:35), Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan hari raya Tabernakel (Honorof, R.A., 1997, “The Return of the Messiah”).

Hari raya Tabernakel setiap tahun pada tanggal 15 bulan Tishri dan dirayakan selama satu minggu. Ini berarti menurut ketentuan Taurat tanggal kelahiran Yeshua HaMashiach (Yesus Kristus) jatuh pada tanggal 15 Tishri menurut kalender Yahudi. Menurut kalender international (Gregorian), pada tahun 1998 tanggal 15 Tishri jatuh pada 5 Oktober; sedangkan pada tahun 1999 jatuh pada 25 September. Pada tahun 2000 jatuh pada 14 Oktober, sedangkan pada tahun 2001 jatuh pada 2 Oktober 2001 lalu.

Kalau begitu, mengapa dunia merayakan kelahiran Yesus pada 25 Desember? Kelahiran Yesus tidak pernah dirayakan sampai tahun 336. Kelahiran-Nya mulai dirayakan setelah kaisar Roma yang bernama Konstantin (285-337) menyatakan diri menjadi pemeluk agama Nasrani. Sudah menjadi tradisi setiap 25 Desember penduduk kota Roma merayakan pesta besar yang disebut Saturnalia Romawi untuk menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi utara setelah mencapai garis balik selatan. Ketika siang hari menjadi lebih panjang, dewa matahari dianggap telah lahir kembali dan mereka bergembira-ria sambil tukar-menukar hadiah.

Ketetapan untuk mengkonversikan 25 Desember menjadi hari raya Nasrani dengan menjadikannya sebagai hari kelahiran Yesus dilakukan oleh Paus Julius I pada pertengahan abad 4 di kota Roma (Worldwide Church of God, 1985 “The Plain Truth About Christmas”). Ketetapan tersebut tidak dapat diterima oleh gereja-gereja di Yerusalem yang menolaknya sampai abad 6 (Wagner, C. 1995 “Bridges for Peace”). Setelah itu secara tidak resmi umat Nasrani menerima 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, walaupun banyak yang mengetahui bahwa itu bukan tanggal yang sesungguhnya.

Bagaimana Perhitungan Tahunnya?

Kelahiran Yesus jelas harus terjadi sebelum kematian Raja Herodes Agung yang ingin membunuhnya dengan memerintahkan pembunuhan semua bayi berumur di bawah 2 tahun di Betlehem (Matius 2:16). Flavius Josephus (37-100), sejarawan Yahudi abad pertama, mengatakan bahwa sesaat sebelum Herodes meninggal telah terjadi gerhana bulan yang menurut para pakar perbintangan terjadi pada 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi (Antiquities of the Jews, XVII, vi, 167). Dengan mengacu pada taksiran Herodes bahwa bayi yang baru lahir itu tidak lebih dari 2 tahun usianya, maka taksiran intelektual tahun kelahiran Yesus sekitar tahun 4-5 sebelum Masehi.

Kekeliruan penetapan tahun 1 tarikh Masehi oleh imam Italia Dionysius Exiguus yang hidup di abad 6 mengakibatkan kelahiran Yesus tidak terjadi pada tahun 0 (nol) Masehi, Anno Domini (op cit, 1985). Ini berarti 2000 tahun sebelum Yesus lahir adalah tahun 1996; sedangkan tahun 2000 kemarin yang dihebohkan dengan “kutu mileniumnya” tidak lain adalah tahun 2004 setelah Kristus lahir.

Sumber diambil dari:

Judul Artikel: Kapan Yesus Lahir?

Penulis : Benyamin Obadyah (Gembala Sidang GBI Exousia Agape, Jakarta)

Situs : http://www.bahana-magazine.com/des2001/artikel1.htm





Bayi Yesus

24 12 2008

Bacaan
Matius 1, 2 dan Lukas 2

Cerita
Maria, seorang gadis muda yang lembut dan baik, tinggal di kota Nazaret. Dia akan segera menikah dengan seorang tukang kayu yang bernama Yusuf. Suatu hari, dia didatangi oleh malaikat Gabriel yang mengatakan kepadanya bahwa dia akan memiliki seorang anak dan anak itu dinamainya Yesus. Malaikat itu mengatakan bahwa Roh Kudus akan bersama dengannya dan anak itu akan menjadi Anak Allah.

Maria dan Yusuf menikah. Kemudian pada suatu hari mereka harus pergi ke Betlehem untuk mendaftarkan diri dalam sensus penduduk. Ini adalah perjalanan yang panjang. Ketika mereka sampai di Betlehem, tidak ada tempat bagi mereka untuk menginap. Mereka menghabiskan malam di kandang binatang. Malam itu Maria melahirkan bayinya. Mereka menamai bayi itu Yesus, seperti yang dikatakan oleh malaikat. Seorang malaikat menampakkan diri kepada para gembala yang ada di padang yang tak jauh dari tempat Maria tinggal. Cahaya terang menyinari mereka dan malaikat itu berkata kepada mereka, “Jangan takut. Seorang Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan telah lahir malam ini.” Para gembala itu kemudian mencari Bayi ini. Mereka menemukan-Nya di sebuah kandang.

Orang-orang Majus mengikuti bintang ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Raja Herodes mencoba menjebak orang-orang Majus ini supaya dia bisa tahu di manakah Anak yang disebut “Raja orang Yahudi” itu (Raja Herodes takut anak itu suatu hari nanti mengambil alih kekuasaannya.) Orang-orang Majus menemukan Yesus di Betlehem di sebuah rumah. Mereka menyembah Dia dan memberikan persembahan emas,kemenyan, dan mur.

Saat Yesus berusia dua belas tahun, Maria dan Yusuf membawa Yesus ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Dalam perjalanan pulang bersama-sama dengan orang-orang seperjalanan mereka, Maria dan Yusuf tidak tahu bahwa Yesus tidak bersama dengan mereka. Ketika kembali, mereka menemukan Yesus di Bait Allah sedang bercakap-cakap dengan ahli-ahli agama dan ahli taurat. Yesus berkata kepada Maria dan Yusuf, “Tidak tahukah kamu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku.” Ia kembali ke Nazaret dan taat kepada mereka. Yesus semakin bertumbuh dalam hikmat, besar-Nya, dan semakin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Pelajaran dari cerita ini

Saat Yesus masih anak-anak, Ia patuh pada Maria dan Yusuf dan menghormati kekuasaan mereka atas Dia. Pikirkan hal itu. Anak Allah, Pencipta alam semesta menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mereka seharusnya berperilaku!

Bagaimana kamu menghormati orang tuamu? Kamu mau mematuhi mereka, bekerja sama dengan mereka, dan selalu dapat dipercaya. Dengan melakukan hal-hal ini, kamu akan mendapatkan kepercayaan, dan keluargamu akan damai dan harmonis.

Ayat hafalan

“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2:10-12)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Garden of Praise

Judul asli artikel: Joseph the Carpenter and the Child Jesus

Penulis : Georges de la Tour

Alamat URL : http://gardenofpraise.com/bibl23s.htm





Mengikut Yesus

6 09 2008

oleh: Pdt. Rudie Gunawan, S.Th.

Nats: Mrk. 10:17-31

Tindakan ‘meminta’ jadi biasa, sejak kecil sampai mati, mulai dari minta makan dengan bahasa tangisan hingga meninggalkan pesan: ‘Kalau mati, dibakar saja supaya tak merepotkan.’ Ada beragam cara dan bentuk permintaan. Hidup akan jadi kaku dan dingin tanpa relasi tersebut. Sepanjang hidup, ia terlatih meminta. Kalau cara satu gagal, digunakan yang lain.

Permintaan kepada Tuhan tak sekadar minta seperti pada orangtua, guru, dosen, polisi atau yang berotoritas lebih kuat di mana sikap, perkataan dan mimik wajah harus diatur sehingga berkenan, disertai dengan kesediaan hati untuk bayar harga. Tapi manusia seringkali minta karena ada objek lebih tinggi.

Kepada Allah, ia seringkali tak bersikap demikian melainkan malah lebih kurang ajar daripada dengan orangtua. Ia mungkin minta dengan mengancam. Misal­nya, jikalau permintaan tak dikabulkan atau sakit penyakit tak disembuhkan maka ia tak lagi mau jadi Kristen apalagi mencariNya. Sebaliknya, Tuhan dipermalukan.

Padahal Allah lebih hebat, besar, tinggi, kuat, dan agung. Maka seharusnya sebelum masuk ke bait kudus-Nya, jemaat harus membuka sepatu, seperti yang pernah diajarkan pada Musa.

Banyak orang pindah dari Gereja karena minta kepada-Nya sangat melelahkan dan harus sabar. Cara berpikir seperti itu tak beda dengan orang kaya yang saleh di Mrk. 10:17-27. Mungkin ia cukup berumur, sekitar 40 tahun, sebab katanya di ayat 20, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku (+ 15-20 tahun).” Pada usia 40 tahun, manusia mulai memikirkan sakit dan kematian. Usaha juga harus mantap karena setelah masa tersebut takkan ada peluang lebih baik.

Tapi caranya tak beda dengan para murid. Ia berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk 10:17) Namun Tuhan menjawab, “Mengapa kau kata­kan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.” (ayat 18) Artinya , Ia menegur sekaligus membangun supaya orang tersebut tak basa-basi melainkan langsung mengatakan keinginannya. Sebenarnya Ia mengetahui hatinya yang menganggap diri sendiri baik lalu hendak mengadakan pengesahan. Tapi Ia tetap appreciate.

Ketika minta kepada Tuhan, seharusnya tak boleh menganggapNya sebagai sumber otoritas. Jika tidak, orang Kristen akan terus bermain drama karena kalau tak sesuai keinginan-Nya maka Ia takkan mengabulkan. Padahal di Mat 6:8 Kristus mengatakan, “… Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.” Maka di ayat 6 tercatat, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”

Selain itu juga tak boleh beranggapan Tuhan memberi tanpa resiko. Ketika minta kendaraan, anak tak memikirkan resiko. Juga tak terpikir andaikata harus beli dengan biaya sendiri. Orangtua bijaksana akan menjelaskan bahwa bukan karena sudah lulus SMA ia harus memperoleh SIM. Jikalau dikabulkan, ia harus menanggung resiko karena biaya pemeliharaan dan perbaikan tak murah. Nilainya jadi tak sekadar harga beli saja. Yesus mengatakan bahwa manusia boleh minta tapi sebelumnya harus melakukan beberapa syarat (Mrk. 10:19 & 21).

Banyak Pendeta menggunakan Mrk. 10:21 untuk memeras orang kaya dan membuat mereka ketakutan. Sesungguhnya ayat tersebut bukan untuk mereka melainkan orang yang merasa diri kaya atau mampu.

Tak seorang pun boleh menghina karena semua manusia sebenarnya kaya. Bahkan orang miskin pasti memiliki nilai kekayaan tersendiri diekspresikan dalam bentuk barang. Dan juga tak ada orang mau dihina sebab memiliki dignity/self- confidence yang membuatnya survive. Kalau ada kesempatan, ia pasti membalas orang yang menghinanya. Semakin merasa susah, ia makin menanamkan dalam diri bahwa masih memiliki kemampuan. Maka banyak cerita mengisahkan tentang orang kaya yang awal mulanya miskin sehingga harus melalui perjuangan berat. Tapi motivasi hanya Tuhan yang tahu.

Permintaan harus disertai reason (alasan) jelas, bukan untuk sekarang tapi kelak. Seharusnya para murid langsung pandai setelah mendengar khotbah Yesus. Namun mereka malah berpikir untuk gerakan yang masih baru, dibutuhkan orang kaya semacam itu karena belum ada di kelompok Tuhan. Orang tersebut sangat saleh, secara sosial terkenal, dan financially kuat.

Isi hati para murid tercatat di Mrk. 10:28 dan lebih jelas lagi di Mat. 19:27, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Itu merupakan ungkapan kekecewaan mereka. Sesungguhnya inti permasalahannya ialah perolehan yang mendorong mereka minta.

Biasanya orang tak mempermasalahkan cara, entah mengelabui, merampas, dll. Namun perikop tersebut menekankan tujuan. Misalnya, untuk memperlengkapi diri hingga hidup lebih nyaman atau menambah sesuatu yang sebenarnya telah ada. Namun yang kedua membuat seseorang diperbudak oleh keinginannya sendiri. Maka ia tak boleh berhenti hanya untuk sekadar fun karena itu berarti bermain dengan dosa.

Yesus tak menggugurkan keinginan orang tersebut. Ia juga tak mengurungkan niat memberi hidup kekal pada mereka yang minta. Ia sangat mengasihinya (Mrk. 10:21). Tapi ia pergi karena kecewa. Rupanya tak hanya orang kaya terhormat itu yang mengalami kendala dalam menerima Kristus. Para murid juga demikian.

Problem Kingdom terjadi sejak awal Injil ditulis untuk menunjukkan bahwa para nabi dan raja terkecoh tentang Allah karena sifatNya tak sesuai pemikiran mereka. Padahal Dialah Sang Penguasa dan Pencipta. Klimaksnya ketika Nabi Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel diutus untuk mengatakan bahwa mereka harus menyerahkan diri ke Babel (Yer. 25:11). Padahal saat itu mereka berjaya. Maka Yesaya dipasung sedangkan Yeremia diikat lalu dimasukkan ke sumur karena terjadi konflik dalam pikiran mereka. Berulangkali pula Yeremia mengalami konflik diri (Yer. 20:7-18). Tapi semua itu merupakan proses transforming di mana perubahan harus terjadi. Predestinasi dan kedaulatan-Nya sulit dimengerti kecuali pernah mengalaminya.

Tuhan sangat mengerti manusia. Maka Ia melayani pertanyaan seperti Mat. 19:27. Seharusnya para murid yang mengikuti-Nya selama 2,5 tahun tak boleh bertanya semacam itu sebab telah menyaksikan keajaiban dan kehebatan Anak Allah. Semestinya mereka langsung bersembah sujud dan mengucap syukur.

Petrus memang mantan orang besar yaitu bandar ikan dengan 3 perahu. Ikan yang ditangkapnya adalah kesukaan Kaisar. Ia juga yang tertua di antara para murid. Maka ia representatif ketika bertanya seperti di Mat. 19:27. Kenyataan tersebut merupakan permainan emosi, motivasi dan logika bagi mereka.

Setelah mendengar jawaban Yesus (Mrk. 10:29-31), Petrus baru menyadari, bukan karena Tuhan dan Injil ia meninggalkan semuanya. Kristus telah mengetahui bahwa kalkulasi masih terlalu kuat dan erat mengikat pikiran mereka. Sehingga berpikir akan mendapat posisi dan keuntungan. Konsep tersebut tak pernah berhenti hingga diselesaikan oleh tulisan para Rasul.

Seringkali manusia sulit memilih antara harta dan Yesus karena merasa masih hidup di dunia. Penyebab utama sebenarnya ialah karena Injil membongkar dan membuat hidupnya bertumbuh hingga timbul kerelaan untuk meninggalkan yang lama. Injil tak menghukum melainkan sangat revolusioner (mengembalikan pada yang asli) sekaligus memberitahukan berita yang sungguh membahagiakan tapi ia malah ketakutan hingga tak mudah menerimanya. Di Mat 6:24 Ia menegaskan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Perikop tersebut membicarakan prioritas.

Kemudian dilanjutkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu,…” (Mat. 6:25) Kalau pengajaran tersebut berhenti hanya di ayat ini, berarti Kristen gagal membangun kembali. Ayat tersebut sebenarnya mengatakan bahwa hendaklah rasa kuatir diarahkan secara tepat. Maka kebenaran harus dicari terlebih dulu. Ia tak menghapus perasaan tersebut melainkan membuat perbandingan (ayat 26-30) untuk menunjukkan bahwa sebenarnya tak perlu kuatir berlebihan. Kekuatiran itu natural karena mendorong manusia untuk mencari nafkah.

Para murid sebenarnya juga ragu menerima Tuhan karena lebih miskin daripada Yohanes Pembaptis yang berkharisma dan masih termasuk keturunan imam besar Zakaria. Kebanyakan pengikut Yohanes ialah soldiers. Tapi ia mati muda karena dimusuhi banyak orang. Sedangkan Yesus hanyalah keturunan tukang kayu dari Nazaret. Padahal Dialah Mesias. KehadiranNya secara fisik dan fenomenal sangat meragukan (Yes. 53:2-3). Tapi ketika mendekati, mendengar serta memperhatikan Firman dan kebesaran jiwaNya, manusia takkan ragu lagi untuk terus ikut Dia dalam suka duka.

Di Mrk. 11:28 tercatat para imam bertanya untuk menjebak-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadaMu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Sebab 3 partai politik Yahudi (Farisi, ahli Taurat dan Saduki) saling memperebutkan kekuasaan. Ketika Ia menjawab bahwa kuasa-Nya dari Allah, jawaban tersebut dianggap pelecehan. Padahal Ia berkata yang sebenarnya.

Mrk. 10:31 menegaskan bahwa para pengikut-Nya akan memperoleh semua dengan adil. Akan ada pembagian, perhatian dan pemeliharaan yang adil. Amin.





Pengikut Kristus Sejati

6 09 2008

Jose Carlos Meirelles Jr. dari Yayasan Indian Nasional menyampaikan keterangan bahwa, “Sekelompok orang anggota suku Indian yang tak dikenal terlihat di Brazil, tepatnya di barat rimba Amazon, dekat perbatasan dengan Peru. Anggota suku asing itu terlihat di area yang dilindungi di sepanjang Sungai Envira saat petugas-petugas yayasan terbang di atas wilayah Acre yang terpencil itu.” Menurut sumber AP (Associated Press), terdapat lebih dari 100 suku terasing di seluruh dunia, kebanyakan berada di Brazil dan Peru.

Sebagai pengikut Kristus sejati yang hidup dalam Kerajaan Allah, apa yang harus kita perbuat? Apakah kita masih memikirkan diri sendiri dan melupakan panggilan Allah? Kata Paulus, “Sebab aku telah mati … supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,”(Galatia 2:19-20).

Ciri khas sebagai pengikut Kristus sejati adalah:

1. Mati bagi diri sendiri Ciri khas pertama seorang pengikut Kristus adalah tidak memikirkan diri sendiri lagi. Mengapa? Karena masih ada ratusan suku terasing yang belum mendengar tentang kabar baik dalam Yesus. Mereka memiliki hak yang sama untuk mendengar janji-janji Allah dalam Yesus, “Supaya oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan, ”(Kis. 26:18). Apakah tugas seorang pengikut Kristus sejati ini sudah ditaati? Jika belum, apa yang harusnya menjadi respon kita?

2. Hidup untuk Allah Seharusnya seorang pengikut Kristus sejati berkata seperti Paulus, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Ingatlah bahwa langkah pertama yang perlu diambil oleh setiap orang yang masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah mengikuti Kristus. Jika kita belum menyadari tugas ini, mari kita membuka diri kepada Tuhan untuk menerima beban bagi ratusan suku terasing yang belum terjangkau.

Sumber : http://www.a2gcommunity.org/





Biografi Keduabelas Murid Tuhan Yesus

1 09 2008

Buat yang merasa bahwa hidupnya selalu menderita, cobalah simak biografi keduabelas murid Yesus ini. Ternyata penderitaan kita bukan apa-apa bila dibandingkan dengan penderitaan mereka. Percayalah bahwa Tuhan bersama kita. (Mohon maaf bagi yang sudah pernah menerima/ membaca sebelumnya.)

Salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus

Kehidupan Para Rasul

Apakah anda tahu bahwa Rasul Yohanes ketika di Roma ia pernah digoreng hidup-hidup di dalam minyak mendidih? Apakah ia takut menghadapi tantangan ini semua? Tidak ! Ternyata tidak satupun dari rasul yang memilih untuk hidup senang dan tentram dengan bersedia mengingkari dan tidak mengakui Tuhan Yesus. Sejarah tradisi gereja banyak sekali memberikan informasi mengenai kehidupan sampai dengan bagaimana wafatnya para rasul.

Satu penulis sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan tulisannya berdasarkan bukti-bukti nyata ialah Eusebius. Ia menulis buku mengenai cara meninggalnya para Rasul di tahun 325 yang berjudul : “Rasul dan murid dari Juruslamat telah menyebarkan dan mengkhotbahkan Injil ke seluruh dunia”. Tulisan dari Eusebius telah ditelusuri dan diselidiki ulang oleh penulis sejarah kondang Mr. Schumacher untuk membuktikan akan kebenaran dari tulisan tersebut.

1. Matius meninggal dunia, karena disiksa dan dibunuh dengan pedang di Ethiopia.
2. Markus meninggal dunia di Alexandria (Mesir), setelah badannya diseret hidup-hidup dengan kuda melalui jalan-jalan yang penuh batu sampai ia menemukan ajalnya.
3. Lukas mati digantung di Yunani, setelah berkhotbah di sana kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan.
4. Yohanes direbus atau lebih tepatnya digoreng di dalam bak minyak mendidih di Roma, tetapi karena Tuhan masih ingin memakai Yohanes lebih jauh, maka keajaiban terjadi sehingga walaupun ia telah digoreng hidup-hidup ia masih bisa hidup terus. Tetapi akhirnya ia dibuang dan diasingkan ke pulan Patmos untul bekerja paksa di tambang batubara di sana. Pada saat ia berada di sana, ia mendapatkan wahyu sehingga ia bisa menulis Kitab Wahyu. Kemudian ia dibebaskan dan akhirnya kembali dan menjadi
Uskup di Edessa (Turki). Ia adalah satu-satunya Rasul yang bisa mencapai usia lanjut dan bisa meninggal dunia dengan tenang.
5. Petrus telah disalib dengan kepala di bawah. Kayu salib untuk Petrus dipasangnya berbeda, ialah secara huruf X, karena itulah permohonan yang ia ajukan sebelum ia disalib, dimana ia memohon untuk disalib dengan cara demikian. Ia merasa tidak layak untuk mati dan disalib seperti Tuhan Yesus.
6. Yakobus saudara tiri dari Tuhan Yesus dan pemimpin gereja di Yerusalem, dilempar ke bawah dari puncak bubungan Bait Allah, di tempat yang sama dimana setan dahulu membawa Tuhan Yesus untuk digoda. Ia meninggal dunia setelah dilempar dari tempat yang tinggi tersebut.
7. Yakobus anak Zebedeus adalah seorang nelayan dan ia adalah murid pertama yang dipanggil untuk ikut Tuhan Yesus, ia dipenggal kepalanya di Yerusalem. Pada saat-saat disiksapun, ia tidak pernah menyangkal Tuhan Yesus, bahkan ia berusaha untuk berkhotbah terus, bukan hanya kepada para tawanan lainnya saja, bahkan kepada orang yang menghukum dan menyiksa dia dengan kejamnya. Sehingga akhirnya orang Romawi yang menjadi penjaga dan penyiksa dia, bisa turut bertobat. Penjaga Romawi itu mendampingi
Yakobus pada saat dia dihukum penggal, bukannya sekedar hanya turut menyaksikannya saja, melainkan juga turut dihukum dan dipenggal bersama Yakobus. Pada saat ia mau menjalani hukuman mati, ia berlutut bersama di samping Yakobus, sambil berdoa, itu adalah doanya yang terakhir, sebelum ia mati dipenggal bersama Yakobus sebagai orang Kristen
8. Bartolomeus yang lebih dikenal sebagai Natanael, ia menjadi misionaris di Asia, antara lain ia memberikan kesaksian di Turki. Ia meninggal dunia di Armenia setelah ia mendapat hukuman pukulan cambuk yang sedemikian kejamnya sehingga kulitnya menjadi hancur terlepas kebeset.
9. Andreas juga disalib seperti Petrus dengan cara X di Yunani. Sebelum ia meninggal, ia disiksa dengan hukum cambuk oleh tujuh tentara dan diikat di salib. Dengan cara demikian mereka memperpanjang masa sakit dan masa siksaannya. Seorang pengikut Anderas yang turut menyaksikan hukuman Andreas menceritakan perkataan yang telah diucapkan oleh Andreas sebelum ia meninggal dunia : “Ternyata keinginan dan cita-cita saya bisa terkabul dimana saya turut merasakan “happy hours” dengan disiksa dan
disalib seperti Tuhan Yesus. “Bahkan pada saat disiksa pun tiada henti-hentinya ia berkhotbah terus, ia berkhotbah terus dua hari sebelum ajalnya tiba. Berkhotbah sambil dihukum cambuk.”
10. Rasul Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.
11. Yudas saudaraNya Tuhan Yesus dihukum mati dengan panah, karena ia tidak bersedia mengingkari Tuhan Yesus.
12. Matias, rasul pengganti dari Yudas Iscariot mati dihukum rajam dan pada akhirnya dipenggal kepalanya.
13. Rasul Paulus disiksa dengan sangat kejam dan akhirnya dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero di Roma pada tahun 67. Rasul Paulus adalah rasul paling lama mengalami siksaan di penjara. Kebanyakan surat-suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.
14. Di samping kisah para rasul yang ditulis oleh ahli sejarah Eusebius, ia juga menceritakan tentang seorang penginjil yang matanya dibakar sampai buta dengan catatan bahwa kalau ia buta maka ia tidak akan bisa membaca Alkitab lagi dengan mana ia tidak akan bisa mengabarkan Injil lagi. Tetapi kenyatannya ia tetap mengabarkan Injil berdasarkan ayat-ayat yang telah dipelajari dan diingat sebelumnya.

(Dikumpulkan dari berbagai sumber)

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”. Roma 12:11